Tim nasional futsal Indonesia tampil luar biasa dengan mengalahkan timnas futsal Malaysia dengan skor telak 6-0 dalam pertandingan persahabatan internasional yang digelar di GOR Amongrogo, Yogyakarta, pada Minggu, 13 Oktober 2024. Kemenangan ini menunjukkan dominasi Indonesia di atas lapangan sekaligus mempertegas status mereka sebagai salah satu kekuatan utama futsal Asia Tenggara.
Timnas Futsal Indonesia yang diperkuat oleh Guntur Sulistyo Ariwibowo yang merupakan mahasiswa Ilmu Keolahragaan Universitas PGRI Yogyakarta tampil cukup apik.
Sejak peluit babak pertama dibunyikan, Indonesia langsung mengambil inisiatif serangan dan mengurung pertahanan Malaysia.
Indonesia tidak memberikan kesempatan bagi Malaysia untuk bernapas. Hingga babak pertama berakhir, Malaysia terus tertekan dan kesulitan mengembangkan permainan mereka.
Memasuki babak kedua, Indonesia terus tampil menekan dan mendominasi permainan hingga peluit akhir dibunyikan. Timnas Futsal Indonesia sukses menyarangkan 6 gol ke gawang Malaysia.
Kemenangan telak ini disambut meriah oleh ribuan pendukung yang memadati GOR Amongrogo. Mereka terus memberikan dukungan penuh sepanjang pertandingan, menjadikan atmosfer pertandingan semakin semarak.
Laga persahabatan ini merupakan bagian dari persiapan timnas futsal Indonesia jelang Kejuaraan Futsal AFF 2024. Dengan hasil positif ini, Indonesia semakin percaya diri menghadapi kompetisi regional yang akan digelar pada akhir tahun nanti.
Mahasiswa zaman sekarang atau yang sering disebut “mahasiswa generasi milenial” atau “generasi Z” memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dalam era digital yang serba cepat, di mana teknologi dan internet memainkan peran besar dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa ciri khas dari mahasiswa zaman sekarang:
Melek Teknologi Mahasiswa saat ini sangat bergantung pada teknologi. Mereka terbiasa menggunakan gadget, media sosial, dan berbagai platform online untuk belajar, berkomunikasi, dan mencari informasi. Ini memudahkan mereka mengakses pengetahuan dari berbagai sumber, baik lokal maupun global.
Berpikir Kritis dan Kreatif Mahasiswa zaman sekarang cenderung lebih terbuka terhadap ide-ide baru dan inovatif. Mereka tidak hanya mengikuti tradisi, tetapi juga berani berpikir kritis, mempertanyakan status quo, dan mencari solusi kreatif untuk masalah yang mereka hadapi, baik di kampus maupun di masyarakat.
Multitasking Dengan banyaknya tugas, proyek, dan kegiatan ekstrakurikuler, mahasiswa kini terbiasa multitasking. Mereka bisa mengerjakan tugas kuliah sambil mengelola bisnis online atau aktif dalam kegiatan sosial. Meskipun ini sering dianggap sebagai kelebihan, terkadang juga bisa memicu stres jika tidak dikelola dengan baik.
Kepedulian terhadap Isu Sosial Mahasiswa zaman sekarang lebih sadar akan isu-isu sosial seperti perubahan iklim, kesetaraan gender, hak asasi manusia, dan lainnya. Mereka sering terlibat dalam gerakan sosial, baik secara online maupun offline, untuk memperjuangkan perubahan yang lebih baik.
Fleksibilitas dalam Pembelajaran Pandemi COVID-19 mempercepat adopsi pembelajaran jarak jauh atau hybrid. Mahasiswa generasi ini lebih fleksibel dalam belajar, baik di kelas fisik maupun virtual. Mereka juga lebih mandiri dalam mengatur waktu dan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Mahasiswa zaman sekarang adalah individu yang dinamis, inovatif, dan adaptif dengan perkembangan zaman. Namun, tantangan yang mereka hadapi juga semakin kompleks, baik dari sisi akademis maupun tekanan sosial. Meskipun demikian, mereka memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif di masa depan.
Selamat Bertanding Guntur Sulistyo Ariwibowo, Pemain Timnas Futsal Indonesia yang juga merupakan mahasiswa Prodi Ilmu Keolahragaan UPY, dalam International Friendly Match Indonesia vs Malaysia.
Dalam rangka menggali dan mengenang peristiwa bersejarah yang menjadi bagian penting dari perjuangan bangsa Indonesia, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, mengadakan dialog sejarah bertajuk “ Dibawah Langit Ngoto: Menggali Kisah Dakota VT-CLA dan Perlawanan Rakyat Untuk Kemerdekaan ”. Acara ini dilaksanakan di Auditorium Universitas PGRI Yogyakarta dan dihadiri oleh mahasiswa Pendidikan Sejarah serta masyarakat umum.
Dialog sejarah ini bertujuan untuk menelusuri kembali salah satu episode penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, yakni insiden jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA di Ngoto, yang membawa serta tokoh penting Angkatan Udara, di antaranya adalah Komodor Muda Udara Abdulrachman Saleh, serta peran rakyat dalam melawan penjajahan untuk memperjuangkan kemerdekaan. Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Seksi Sejarah Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala Lembaga Kemahasiswaan dan Alumni Universitas PGRI Yogyakarta, serta Kaprodi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta. Para undangan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan dialog sejarah ini, yang dianggap sebagai langkah penting dalam memperkuat kesadaran sejarah di kalangan mahasiswa dan masyarakat.
Dalam acara yang penuh semangat nasionalisme ini, hadir sebagai narasumber Julianto Ibrahim, S.S., M.Hum, dosen Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada, yang memaparkan konteks sejarah dan pentingnya peristiwa jatuhnya Dakota VT-CLA dalam perjalanan panjang kemerdekaan Indonesia. Julianto menekankan bahwa peristiwa Ngoto merupakan simbol dari pengorbanan besar yang dilakukan oleh rakyat dan TNI dalam mempertahankan kedaulatan negara.
”Insiden Dakota VT-CLA di Ngoto bukan hanya sekadar tragedi penerbangan, tetapi juga menjadi simbol betapa besar harga yang harus dibayar bangsa ini untuk mencapai kemerdekaan. Tokoh-tokoh seperti Abdulrachman Saleh dan Adisucipto adalah pahlawan yang memberikan segalanya untuk tanah air “ungkap Julianto.
Selain itu, narasumber lain, Kolonel Sus Komaruddin, S.Pd, dari Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, memberikan paparan mendalam mengenai peran Angkatan Udara dalam perjuangan kemerdekaan, termasuk peristiwa tragis Dakota VT-CLA yang menandai pengorbanan besar dari prajurit-prajurit Angkatan Udara. Komaruddin mengajak audiens untuk mengenang jasa-jasa besar para pahlawan bangsa yang gugur di medan tugas.
” Perjuangan yang dilakukan oleh Angkatan Udara pada masa itu adalah cermin keberanian dan dedikasi total kepada negara. Tragedi Dakota VT-CLA adalah contoh nyata dari komitmen tersebut, di mana para pahlawan kita mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya kemerdekaan Indonesia “ jelas Komaruddin.
Sementara itu, Darsono, M.Pd, dosen Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta, menyoroti pentingnya pendidikan sejarah dalam menumbuhkan rasa cinta tanah air pada generasi muda. Ia menekankan bahwa dialog sejarah seperti ini merupakan salah satu upaya untuk mengajak generasi muda tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah untuk masa depan bangsa yang lebih baik.
“Generasi muda harus terus belajar dari sejarah agar tidak melupakan perjuangan yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Dialog sejarah seperti ini menjadi sarana penting untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme pada mahasiswa dan masyarakat luas “ ujar Darsono.
Kegiatan dialog ini mendapatkan antusiasme tinggi dari para peserta yang mayoritas merupakan mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta. Mereka aktif berdiskusi dan menggali lebih dalam mengenai peran Angkatan Udara dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, serta bagaimana peristiwa tersebut memberikan dampak signifikan dalam sejarah bangsa.
Selain menjadi ajang diskusi ilmiah, kegiatan ini juga menjadi momentum penting dalam membangun kesadaran sejarah di kalangan generasi muda dan masyarakat umum. Dialog ini tidak hanya menjadi ajang refleksi sejarah tetapi juga sebagai upaya menghidupkan kembali nilai-nilai nasionalisme di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Penyelenggaraan acara seperti ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran sejarah dan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda.
Kolaborasi antara Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melalui kegiatan pembinaan komunitas ini menunjukkan sinergi yang kuat dalam upaya menjaga dan melestarikan warisan sejarah bangsa. Dialog yang berlangsung selama hampir tiga jam ini ditutup dengan pesan dari para narasumber untuk selalu menjaga semangat kebangsaan dan terus menghargai perjuangan para pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya sekadar catatan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi dan semangat untuk masa depan.
Dengan keberhasilan acara ini, diharapkan akan semakin banyak kegiatan serupa yang digelar, agar masyarakat, khususnya generasi muda, dapat terus mengenang dan belajar dari peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menerima kunjungan silaturahmi dari Universitas Setia Budhi Rangkasbitung pada, 10 Juni 2024. Kunjungan ini berlangsung dengan penuh keakraban dan diikuti oleh para dosen serta mahasiswa dari kedua universitas.
Dekan FKIP UPY, Dr. Esti Setiawati, M.Pd., menyambut baik kunjungan ini sebagai kesempatan untuk mempererat hubungan kerja sama di bidang pendidikan. “Kami sangat berterima kasih atas kunjungan dari Universitas Setia Budhi. Semoga pertemuan ini menjadi titik awal sinergi untuk mengembangkan program akademik yang berkualitas, terutama di bidang pendidikan dasar,” ujar Dr. Esti dalam sambutannya
Acara kunjungan ini dirangkaikan dengan seminar nasional dalam rangka meningkatkan kualitas Pendidikan Dasar di Era Digital. Seminar ini menghadirkan sejumlah pembicara dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan, yang membahas berbagai topik mengenai tantangan dan strategi peningkatan kualitas pendidikan dasar di tengah kemajuan teknologi digital.
Melalui kunjungan dan seminar ini, Prodi PGSD UPY dan Universitas Setia Budhi Rangkasbitung berkomitmen untuk terus bekerja sama dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar. Kedua institusi berharap acara ini menjadi awal dari kolaborasi yang lebih intensif, baik dalam bidang pengajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Banyak mahasiswa merasa bimbang atau bahkan menyesal setelah beberapa waktu menjalani studi di program studi (prodi) yang mereka pilih. Mereka mulai merasa bahwa prodi tersebut bukanlah yang terbaik untuk mereka, atau tidak sesuai dengan harapan dan minat awal. Jika Anda mengalami hal ini, jangan khawatir—Anda tidak sendirian. Ini adalah perasaan yang umum di kalangan mahasiswa. Yang terpenting adalah bagaimana Anda menyikapinya agar tetap dapat menjalani kuliah dengan baik, atau bahkan menemukan solusi yang lebih tepat.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan ketika merasa salah memilih prodi:
1. Evaluasi Penyebabnya
Langkah pertama adalah mengevaluasi alasan mengapa Anda merasa salah memilih prodi. Apakah karena materi kuliah yang dirasa terlalu sulit? Apakah Anda tidak memiliki minat dalam mata kuliah yang diajarkan? Atau mungkin karena pengaruh luar seperti tekanan dari keluarga atau lingkungan? Mengetahui akar permasalahan akan membantu Anda memutuskan apakah masalah ini sementara atau merupakan hal yang serius.
2. Bicarakan dengan Konselor atau Dosen Pembimbing
Setiap universitas biasanya memiliki konselor akademik atau dosen pembimbing yang dapat membantu mahasiswa dalam menghadapi masalah akademik atau perasaan ragu terkait prodi. Mereka dapat memberikan panduan objektif mengenai langkah yang bisa Anda ambil, apakah Anda perlu mencari pendekatan belajar yang berbeda, memperdalam minat dalam mata kuliah tertentu, atau bahkan mempertimbangkan pindah prodi.
3. Jelajahi Minat dan Kemampuan Anda
Jika merasa tidak cocok dengan prodi yang dipilih, ini saatnya untuk mengeksplorasi kembali minat dan kemampuan Anda. Ikuti berbagai kegiatan di luar kuliah, seperti organisasi mahasiswa, magang, atau proyek-proyek yang berkaitan dengan minat baru Anda. Dengan begitu, Anda bisa lebih memahami bidang apa yang sebenarnya Anda sukai dan apakah bidang tersebut dapat mendukung masa depan karier Anda.
4. Pertimbangkan Perubahan Prodi
Jika setelah evaluasi dan konsultasi Anda tetap merasa tidak cocok dengan prodi yang sekarang, pindah prodi mungkin menjadi solusi terbaik. Proses ini memang memerlukan waktu dan penyesuaian, tetapi jika Anda merasa bahwa prodi lain lebih sesuai dengan minat dan potensi Anda, maka mengambil keputusan ini bisa menjadi langkah yang tepat untuk jangka panjang. Sebelum memutuskan, pastikan Anda memeriksa prosedur pindah prodi di universitas Anda dan mempertimbangkan konsekuensi akademik serta finansialnya.
5. Tetap Tenang dan Fokus pada Pengembangan Diri
Rasa bimbang adalah bagian dari proses pendewasaan. Apapun keputusan Anda, yang terpenting adalah tetap tenang dan tidak terburu-buru. Ingat bahwa kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tapi juga tentang pengembangan diri. Jangan takut untuk menghadapi tantangan dan terus belajar, baik dari prodi yang Anda pilih sekarang atau dari pengalaman-pengalaman lain di luar kampus.
6. Tetap Berkomitmen Jika Memutuskan Bertahan
Jika setelah evaluasi Anda memutuskan untuk tetap melanjutkan studi di prodi yang sekarang, penting untuk mengubah pola pikir Anda. Carilah cara untuk menemukan aspek-aspek yang Anda sukai dari prodi tersebut dan berfokuslah pada pengembangan keterampilan yang bisa bermanfaat untuk masa depan. Komitmen dan ketekunan sering kali menjadi kunci keberhasilan, meskipun awalnya terasa berat.
Merasa salah memilih prodi bukan akhir dari segalanya. Setiap mahasiswa berhak untuk merasakan keraguan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi rasa tersebut. Apakah dengan menyesuaikan diri, memperdalam minat baru, atau bahkan memilih jalan yang berbeda, langkah yang diambil harus didasarkan pada pemahaman diri yang lebih baik. Ingat, ini adalah perjalanan menuju masa depan yang Anda inginkan, jadi pilihlah jalan yang membuat Anda berkembang dan merasa puas dengan keputusan Anda.
Dengan sikap yang terbuka dan evaluasi yang matang, Anda akan bisa menemukan solusi yang tepat untuk situasi ini.
Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dengan menambah jumlah dosen bergelar doktor di berbagai program studinya. Penambahan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas penelitian dan pengajaran, serta mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di lingkungan kampus.
Rektor UPY, Dr.Ir Paiman, M.P dalam sebuah pernyataan resmi, menyampaikan bahwa penambahan dosen bergelar doktor merupakan bagian dari komitmen universitas dalam menyediakan pendidikan yang unggul dan berdaya saing. “Kami berupaya untuk meningkatkan kualitas tenaga pengajar, karena dosen dengan kualifikasi doktor memiliki peran penting dalam menciptakan atmosfer akademik yang lebih inovatif dan kreatif,” ujarnya.
Langkah ini juga sejalan dengan visi UPY untuk menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia dalam hal penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan bertambahnya dosen bergelar doktor, diharapkan mahasiswa mendapatkan bimbingan yang lebih mendalam, serta kesempatan untuk terlibat dalam penelitian-penelitian berkualitas tinggi.
Selain itu, para dosen yang baru bergelar doktor juga diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkuat kerjasama universitas dengan berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang bagi mahasiswa dan dosen untuk terlibat dalam penelitian kolaboratif dan pertukaran akademik dengan universitas lain.
Dengan penambahan dosen bergelar doktor ini, UPY optimis akan terus mencetak lulusan yang kompeten dan mampu bersaing di dunia kerja, serta berkontribusi secara nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.
Universitas PGRI Yogyakarta membuka kesempatan kepada Anda yang bertalenta pendidik untuk berkarya sebagai Dosen pada Program Sarjana Bimbingan dan Konseling (Kode BK) untuk pendaftaran dan persyaratan bisa di download melalui link
Yogyakarta – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) berhasil meraih pendanaan hibah dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristekdikti) tahun 2024. Proposal dengan judul “Peran Remaja sebagai Agen Perubahan untuk Pencegahan Stunting” ini bertujuan meningkatkan peran aktif remaja dalam mitigasi stunting di daerah Karanganyar, Gadingharjo, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul.
Tim dosen pengabdi yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri dari:
Rosmauli Jerimia Fitriani, S.Gz., M.Gz dari Program Studi Gizi,
Dra. Rosalia Indriyati Saptatiningsih dari Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), serta
Dr. Danuri, M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
Program pengabdian ini berkolaborasi dengan Posyandu Remaja Manunggal Lestari di Gadingharjo sebagai mitra, dengan fokus pada pemberdayaan remaja untuk menjadi agen perubahan dalam pencegahan stunting. Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan serius yang perlu ditangani secara komprehensif, terutama di kalangan masyarakat pedesaan. Dengan melibatkan para remaja, tim berharap dapat memberikan edukasi serta membangun kesadaran pentingnya gizi dan pola hidup sehat guna mencegah terjadinya stunting pada anak-anak.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi UPY dalam memajukan kesehatan masyarakat serta mendukung program nasional dalam menurunkan angka stunting di Indonesia.
Menjadi mahasiswa baru adalah awal dari perjalanan yang penuh tantangan dan peluang. Salah satu cara untuk memaksimalkan pengalaman ini adalah dengan terlibat aktif dalam kegiatan kampus. Berikut beberapa tips untuk memaksimalkannya:
Eksplorasi Organisasi Mahasiswa Setiap kampus menawarkan berbagai unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan organisasi. Bergabung dengan organisasi yang sesuai dengan minat akan membantu meningkatkan soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama tim.
Manfaatkan Fasilitas Kampus Kampus biasanya memiliki fasilitas seperti perpustakaan, pusat olahraga, dan laboratorium. Mahasiswa baru sebaiknya memanfaatkan fasilitas ini untuk mendukung kegiatan akademik dan pengembangan diri.
Ikuti Seminar dan Workshop Acara-acara kampus seperti seminar dan workshop adalah kesempatan untuk memperluas wawasan, membangun jaringan, dan memperkaya pengalaman di luar kelas.
Atur Waktu dengan Baik Keseimbangan antara akademik dan organisasi adalah kunci. Manajemen waktu yang baik akan membantu mahasiswa tetap produktif tanpa mengorbankan prestasi akademik.
Dengan mengikuti berbagai kegiatan kampus, mahasiswa baru dapat memperluas jaringan, mengembangkan keterampilan, dan mempersiapkan diri untuk dunia kerja.