Dosen UPY Jelaskan Pentingnya Konsep Green Ergonomics untuk Manusia dan Bumi

Written by

in

Dalam penelitiannya, Ir. Hasti Hasanati Marfuah, S.T.,M.T, dosen Prodi Teknik Industi UPY, menyampaikan bahwasannya, perusahaan-perusahaan kini menghadapi tantangan besar dalam menciptakan lingkungan kerja yang produktif, nyaman, dan juga ramah lingkungan.

Ia menyampaikan salah satu solusi yang muncul adalah konsep Green Ergonomics, yang menggabungkan desain ruang kerja yang ergonomis dengan prinsip keberlanjutan lingkungan. Konsep ini semakin penting seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kesejahteraan pekerja dan keberlanjutan lingkungan yang menjadi perhatian global.

Menurut laporan BPJS Ketenagakerjaan, kasus kecelakaan kerja di Indonesia menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, dengan 298.000 kasus pada tahun 2022, meningkat menjadi 370.000 pada tahun 2023, dan 360.000 kasus tercatat hingga Oktober 2024. Banyak kecelakaan tersebut yang dapat dicegah dengan desain lingkungan kerja yang lebih ergonomis. Selain itu, tempat kerja sering kali menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar akibat penggunaan energi yang tidak efisien.

Hasti juga menerangkan Green Ergonomics hadir sebagai solusi yang mengintegrasikan kenyamanan pekerja dan keberlanjutan lingkungan. Desain ruang kerja yang mengutamakan pencahayaan alami, ventilasi udara yang baik, dan penggunaan material ramah lingkungan dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan meningkatkan produktivitas. Penelitian menunjukkan, ruang kerja yang dirancang dengan prinsip ramah lingkungan dapat meningkatkan konsentrasi pekerja hingga 15%, mengurangi stres, dan mencegah kelelahan.

“Dengan langkah-langkah yang tepat, masa depan dunia kerja yang lebih hijau dan produktif kini berada di tangan kita. Green Ergonomics hadir sebagai solusi dan sebuah langkah menuju dunia kerja yang tidak hanya lebih baik bagi pekerja, tetapi juga lebih baik bagi bumi.”Jelas Hasti Hasanati Marfuah, Dosen Prodi Teknik Industri Universitas PGRI Yogyakarta, saat ditemui di Kampus 1 UPY.

Sebagai contoh implementasi Green Ergonomics yang sukses dapat dilihat pada desain kantor Google, yang dikenal dengan penggunaan furnitur ramah lingkungan dan area hijau yang luas. Hasilnya, tingkat kepuasan dan kesejahteraan pekerja meningkat signifikan. Di Indonesia, meskipun Green Ergonomics masih relatif baru, penerapannya sudah menunjukkan potensi yang besar, terutama di sektor manufaktur, seperti pada industri tekstil. Pengaturan suhu yang ergonomis dapat mengurangi kebutuhan pendingin udara, sementara penggunaan mesin hemat energi mengurangi biaya operasional dan memberikan keuntungan jangka panjang.

“Green Ergonomics bukan hanya soal menciptakan tempat kerja yang nyaman, tetapi juga soal melindungi bumi untuk generasi mendatang, langkah kecil seperti menggunakan bahan ramah lingkungan atau mengurangi konsumsi energi bisa menciptakan dampak besar bagi keberlanjutan.”kata Hasti.

Namun, implementasi konsep ini memerlukan kolaborasi antara berbagai pihak. Pemerintah diharapkan dapat memberikan dukungan melalui regulasi dan insentif bagi perusahaan yang mengadopsi Green Ergonomics. Sementara itu, akademisi dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran dan edukasi mengenai pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan berkelanjutan.

“Implementasi ini tentunya memerlukan dukungan yang kuat yaitu kolaborasi antara berbagai pihak baik dari pemerintah, akademisi dan juga masyarakat dalam meningkatkan kesadaran dan edukasi tentang pentingnya lingkungan kerja yang sehat, nyaman dan berkelanjutan.”tuturnya.