Kategori: Berita Utama

  • UPY Peduli Salurkan Bantuan kepada 44 Mahasiswa Terdampak Gempa Bumi di NTT

    UPY Peduli Salurkan Bantuan kepada 44 Mahasiswa Terdampak Gempa Bumi di NTT

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) melalui program UPY Peduli menyalurkan bantuan kepada 44 mahasiswa yang terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (28/10/2026). Penyaluran bantuan ini menjadi wujud kepedulian dan solidaritas keluarga besar UPY dalam mendampingi mahasiswa yang tengah menghadapi situasi sulit akibat bencana.

    Bantuan diserahkan secara langsung oleh Ketua Pengurus Yayasan Pembina, Wakil Rektor III UPY, Kepala Lembaga Kemahasiswaan dan Alumni (LKA), serta penanggung jawab bantuan UPY Peduli. Kehadiran jajaran pimpinan dan pengelola program tersebut mencerminkan komitmen universitas untuk memberikan perhatian kepada mahasiswa, tidak hanya dalam kegiatan akademik, tetapi juga ketika mereka menghadapi kondisi darurat dan membutuhkan dukungan.

    Melalui UPY Peduli, universitas berupaya menghadirkan bantuan sebagai bentuk kepedulian terhadap mahasiswa yang terdampak bencana. Bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban mahasiswa beserta keluarga, terutama dalam menghadapi kebutuhan setelah terjadinya gempa bumi.

    Bencana alam tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan dan tempat tinggal, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, serta keberlangsungan aktivitas pendidikan para penyintas. Bagi mahasiswa yang terdampak, dukungan dari lingkungan kampus menjadi salah satu bentuk perhatian yang berarti di tengah proses pemulihan.

    Melalui penyaluran bantuan kepada 44 mahasiswa asal NTT tersebut, UPY ingin menegaskan bahwa hubungan antara universitas dan mahasiswa tidak terbatas pada ruang perkuliahan. Semangat kebersamaan dan kepedulian menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang saling mendukung.

    Program UPY Peduli juga menjadi ruang partisipasi bagi seluruh keluarga besar universitas untuk bersama-sama menunjukkan empati dan membantu sesama. Kontribusi berbagai pihak dalam gerakan ini memperlihatkan bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dan semangat gotong royong.

    UPY berharap bantuan yang telah disalurkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dan keluarga yang terdampak, sekaligus menjadi penyemangat dalam menghadapi masa pemulihan. Universitas juga berharap para mahasiswa tetap memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita meskipun harus melalui situasi yang tidak mudah.

    Keluarga besar Universitas PGRI Yogyakarta menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam gerakan UPY Peduli. Dukungan dan kepedulian yang diberikan menjadi bukti bahwa solidaritas merupakan kekuatan penting dalam menghadapi berbagai tantangan.

    Melalui program ini, UPY terus berupaya menumbuhkan nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan gotong royong di lingkungan kampus. Sebab, pendidikan tidak hanya tentang membangun pengetahuan dan kompetensi, tetapi juga menanamkan kepedulian serta kepekaan terhadap sesama.

    UPY Peduli, bersama menguatkan dan hadir untuk sesama.

  • Lepas 563 Wisudawan, UPY Dorong Lulusan Siap Berkarya dan Bersaing di Era Global

    Lepas 563 Wisudawan, UPY Dorong Lulusan Siap Berkarya dan Bersaing di Era Global

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menyelenggarakan Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Periode I Tahun Akademik 2026/2027 pada Sabtu (24/10/2026), bertempat di Auditorium UPY. Sebanyak 563 wisudawan dan wisudawati resmi menyelesaikan pendidikan tinggi dan bersiap memasuki babak baru untuk mengembangkan potensi, membangun karier, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat.

    Wisuda menjadi momen penting yang menandai keberhasilan mahasiswa dalam menuntaskan perjalanan akademik. Namun, pencapaian tersebut bukanlah titik akhir dari proses belajar. Sebaliknya, kelulusan merupakan awal dari perjalanan baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan, mengembangkan kompetensi, dan mengambil peran di tengah dinamika kehidupan masyarakat.

    Sebanyak 563 lulusan yang diwisuda diharapkan mampu membawa bekal akademik, pengalaman, serta nilai-nilai karakter yang telah dibangun selama menempuh pendidikan di UPY. Bekal tersebut menjadi fondasi untuk menghadapi tantangan dunia kerja, beradaptasi dengan perubahan, dan bersaing di tengah perkembangan global yang semakin dinamis.

    Perjalanan pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya membentuk kemampuan intelektual, tetapi juga mengembangkan sikap, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepekaan sosial. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting yang perlu dibawa lulusan ketika memasuki lingkungan profesional maupun kehidupan bermasyarakat.

    Di tengah perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi, lulusan perguruan tinggi dituntut untuk terus belajar, terbuka terhadap pengalaman baru, serta mampu mengembangkan keterampilan sesuai kebutuhan zaman. Gelar akademik yang diperoleh menjadi modal awal, sementara kemauan untuk terus bertumbuh menjadi bekal penting dalam perjalanan selanjutnya.

    Karena itu, para lulusan diharapkan tidak hanya berorientasi pada pencapaian pribadi, tetapi juga mampu memanfaatkan pengetahuan dan kompetensi yang dimiliki untuk menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

    Pengalaman akademik dan nonakademik selama menempuh pendidikan di UPY menjadi bagian dari proses pembentukan lulusan yang siap menghadapi berbagai tantangan. Kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, serta mengembangkan kreativitas merupakan bekal yang perlu terus diasah setelah menyelesaikan studi.

    Dunia profesional membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai bidang keilmuan, tetapi juga memiliki integritas, etos kerja, dan kemampuan menghadapi perubahan. Oleh sebab itu, lulusan diharapkan terus meningkatkan kapasitas diri dan berani mengambil peluang untuk berkarya di berbagai bidang.

    Dengan bekal tersebut, 563 lulusan UPY diharapkan mampu melangkah dengan percaya diri, menunjukkan potensi terbaik, serta berkontribusi dalam pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara.

    Wisuda Periode I Tahun Akademik 2026/2027 menjadi momen kebanggaan bagi para lulusan, keluarga, dan seluruh keluarga besar Universitas PGRI Yogyakarta. Keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan ketekunan mahasiswa, dukungan keluarga, serta pendampingan dan dedikasi sivitas akademika.

    Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P menyampaikan selamat kepada seluruh 563 wisudawan dan wisudawati atas pencapaian yang telah diraih. Semoga ilmu dan pengalaman selama menempuh pendidikan dapat menjadi bekal untuk menapaki masa depan dengan penuh keyakinan dan tanggung jawab.

    “Bawalah ilmu dengan rendah hati, hadapi setiap tantangan dengan percaya diri, dan jadilah bagian dari perubahan yang membawa manfaat bagi sesama.”kata Prof. Paiman saat menyampaikan sambutan.

    Dari UPY, melangkah pasti menuju masa depan. Saatnya berkarya, mengembangkan potensi, dan menunjukkan kontribusi terbaik bagi Indonesia.

  • UPY Hadiri Forum SEA-Teacher di Filipina, Perkuat Kolaborasi Pendidikan Calon Guru ASEAN

    UPY Hadiri Forum SEA-Teacher di Filipina, Perkuat Kolaborasi Pendidikan Calon Guru ASEAN

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) turut berpartisipasi dalam SEA-Teacher Evaluation Meeting and Seminar for Pre-Service Teacher Quality Improvement in ASEAN yang diselenggarakan pada 20–21 Oktober 2026 di Seda Manila Bay Hotel, Aseana City, Manila, Filipina. Kehadiran UPY diwakili oleh Taufik Muhtarom, M.Pd., Ph.D., Kepala Divisi Kerja Sama Urusan Internasional UPY, sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring kemitraan dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan calon guru di kawasan ASEAN.

    Forum ini menjadi ruang evaluasi pelaksanaan program SEA-Teacher sekaligus wadah pertukaran gagasan untuk merumuskan langkah perbaikan bagi penyelenggaraan program pada tahun mendatang. Pertemuan tersebut juga diarahkan untuk membahas strategi dan kebijakan yang dapat mendukung penguatan kualitas pendidikan calon guru di tingkat regional.

    Kegiatan ini diikuti lebih dari 200 peserta yang terdiri atas pengelola program SEA-Teacher dari berbagai perguruan tinggi dan pemangku kepentingan pendidikan. Para peserta berasal dari sejumlah negara, antara lain Indonesia, Kamboja, Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Laos, serta Jepang. Forum ini juga melibatkan perwakilan Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) dan UNESCO.

    Partisipasi UPY dalam forum internasional tersebut menjadi kesempatan untuk mengikuti perkembangan program, berbagi perspektif, serta memperkuat komunikasi dengan berbagai institusi yang memiliki perhatian terhadap pengembangan pendidikan calon guru.

    Program SEA-Teacher membuka kesempatan bagi mahasiswa calon guru untuk memperoleh pengalaman akademik dan praktik mengajar lintas negara. Melalui interaksi dengan lingkungan pendidikan yang berbeda, peserta dapat memperluas wawasan, mengenal keragaman budaya pembelajaran, serta mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan sebagai calon pendidik.

    Dalam konteks tersebut, evaluasi program menjadi langkah penting untuk memastikan pelaksanaannya terus berkembang sesuai kebutuhan. Pertemuan di Manila dimanfaatkan untuk meninjau pelaksanaan SEA-Teacher, mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperbaiki, serta merumuskan berbagai upaya pengembangan untuk periode berikutnya.

    Bagi perguruan tinggi peserta, forum ini juga menjadi ruang untuk bertukar pengalaman mengenai pengelolaan program, memperkuat dukungan institusi, dan membangun pendekatan kolaboratif dalam meningkatkan kualitas pengalaman belajar mahasiswa calon guru.

    Melalui evaluasi yang berkelanjutan, SEA-Teacher diharapkan dapat semakin optimal dalam mendukung pengembangan kompetensi calon pendidik, baik dalam penguasaan akademik maupun kemampuan beradaptasi dengan lingkungan pendidikan yang beragam.

    Kehadiran Taufik Muhtarom, M.Pd., Ph.D., mewakili UPY dalam forum tersebut menegaskan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam jejaring pendidikan internasional. Partisipasi ini membuka ruang bagi UPY untuk mengikuti diskusi regional, memperluas komunikasi dengan institusi mitra, serta memperoleh perspektif mengenai pengembangan program pendidikan calon guru di tingkat ASEAN.

    Keterlibatan berbagai negara dan organisasi pendidikan internasional dalam forum ini juga memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas calon guru memerlukan sinergi lintas institusi. Pertukaran pengalaman dan gagasan dapat menjadi bekal untuk mengembangkan kerja sama yang relevan dengan kebutuhan perguruan tinggi dan perkembangan dunia pendidikan.

    Bagi UPY, penguatan kerja sama internasional merupakan bagian dari upaya memperluas kesempatan pembelajaran dan pengembangan akademik. Jejaring yang terbangun diharapkan dapat mendukung pertukaran pengetahuan, pengembangan program bersama, serta peningkatan kualitas pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan masa depan.

    Selain mengevaluasi pelaksanaan SEA-Teacher, forum ini menjadi ruang untuk membahas arah penguatan pendidikan calon guru di kawasan ASEAN. Kehadiran perwakilan SEAMEO dan UNESCO turut memperluas dialog mengenai pentingnya kolaborasi dalam pengembangan pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan.

    Guru masa depan dituntut tidak hanya memiliki penguasaan materi pembelajaran, tetapi juga kemampuan beradaptasi, memahami keberagaman, serta menerapkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pengalaman internasional menjadi salah satu sarana untuk memperkaya perspektif calon pendidik dalam menghadapi tantangan tersebut.

    Penyelenggaraan pertemuan pada 20–21 Oktober 2026 ini berlangsung dengan sukses dan melibatkan lebih dari 200 peserta dari negara-negara ASEAN, Jepang, serta perwakilan UNESCO. Hasil evaluasi dan pertukaran gagasan dalam forum tersebut diharapkan menjadi landasan bagi penyempurnaan program SEA-Teacher pada tahun mendatang.

    Melalui partisipasi dalam forum internasional ini, UPY terus mengambil bagian dalam penguatan jejaring pendidikan dan kolaborasi lintas negara. Sinergi yang berkelanjutan diharapkan mampu membuka lebih banyak ruang bagi pengembangan kompetensi calon guru, memperkaya pengalaman akademik mahasiswa, dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan di kawasan ASEAN.

  • Mahasiswa UPY Raih Medali Perak dan Perunggu di POMDA DIY Cabang Pencak Silat

    Mahasiswa UPY Raih Medali Perak dan Perunggu di POMDA DIY Cabang Pencak Silat

    Mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menorehkan prestasi di bidang olahraga. Dua mahasiswa UPY berhasil meraih medali dalam ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) cabang olahraga pencak silat.

    Prestasi tersebut diraih oleh Nesyaila Zahra dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang berhasil memperoleh medali perunggu, serta Wijank Hastungkoro dari Program Studi Ilmu Keolahragaan (IKOR) yang meraih medali perak.

    Capaian ini menjadi kebanggaan bagi keluarga besar UPY sekaligus menunjukkan semangat juang, kedisiplinan, dan dedikasi mahasiswa dalam mengembangkan potensi diri di bidang olahraga. Keberhasilan tersebut juga mencerminkan bahwa mahasiswa memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan berprestasi melalui berbagai bidang, baik akademik maupun nonakademik.

    Pencak silat sebagai salah satu cabang olahraga yang mengedepankan keterampilan, ketahanan fisik, konsentrasi, dan pengendalian diri menuntut proses latihan yang konsisten serta kesiapan mental dalam menghadapi kompetisi. Raihan medali yang diperoleh Nesyaila dan Wijank menjadi hasil yang patut diapresiasi atas usaha dan perjuangan mereka dalam mengikuti ajang olahraga mahasiswa tingkat daerah tersebut.

    Bagi Universitas PGRI Yogyakarta, prestasi mahasiswa merupakan bagian penting dari pengembangan potensi generasi muda secara menyeluruh. UPY terus mendorong mahasiswa untuk berani mengambil peluang, mengasah kemampuan, dan mengembangkan minat serta bakat agar mampu meraih pencapaian terbaik.

    Keluarga besar Universitas PGRI Yogyakarta menyampaikan selamat dan apresiasi kepada Nesyaila Zahra dan Wijank Hastungkoro atas prestasi yang diraih. Semoga pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus berkembang, meningkatkan kemampuan, dan meraih prestasi yang lebih tinggi pada kompetisi berikutnya.

  • UPY dan UNISKA Perkuat Kolaborasi, Perluas Peluang Karier dan Studi Lanjut Alumni

    UPY dan UNISKA Perkuat Kolaborasi, Perluas Peluang Karier dan Studi Lanjut Alumni

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) dan Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) memperkuat kemitraan ant perguruan tinggi dengan mengarahkan kerja sama pada program-program yang memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa dan alumni. Kolaborasi ini tidak hanya berorientasi pada penguatan kelembagaan, tetapi juga pada perluasan akses dunia kerja, pengembangan karier, penciptaan lingkungan kampus yang aman, serta kesempatan melanjutkan studi ke luar negeri.

    Kerja sama kedua perguruan tinggi tersebut diwakili oleh Wakil Rektor III UPY, Dr. Septian Aji Permana, M.Pd., dan Wakil Rektor III UNISKA, Assoc. Prof. Dr. Didi Susanto, S.Sos., M.I.Kom., M.Pd. Sinergi ini menjadi langkah untuk mendorong kemitraan yang lebih aplikatif melalui pengembangan program bersama sesuai kebutuhan mahasiswa dan lulusan.

    Fokus kolaborasi mencakup penguatan job fair dan career center untuk mendukung kesiapan mahasiswa memasuki dunia profesional, penguatan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT), serta perluasan kesempatan bagi alumni untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

    Kerja sama antarkampus memiliki makna lebih luas ketika mampu membuka akses dan kesempatan bagi mahasiswa untuk berkembang. Melalui penguatan job fair dan career center, UPY dan UNISKA berupaya mendorong kesiapan mahasiswa dalam menghadapi persaingan dunia kerja, sekaligus mendukung lulusan dalam merencanakan dan mengembangkan karier.

    Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademik, tetapi juga perlu mendorong penguasaan keterampilan, kesiapan profesional, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan kebutuhan industri. Karena itu, kolaborasi lintas institusi diharapkan dapat menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, mengembangkan program yang relevan, serta memperluas akses terhadap informasi dan peluang karier.

    Upaya tersebut juga menegaskan pentingnya pendampingan yang berkelanjutan bagi mahasiswa, mulai dari masa perkuliahan hingga memasuki dunia kerja. Dengan dukungan program yang tepat, lulusan diharapkan memiliki bekal yang lebih kuat untuk mengembangkan potensi dan berkontribusi di berbagai bidang profesi.

    Selain pengembangan karier, penguatan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) menjadi salah satu perhatian dalam kolaborasi UPY dan UNISKA. Lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan merupakan bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran serta pengembangan potensi mahasiswa.

    Komitmen terhadap PPKPT perlu berjalan seiring dengan peningkatan mutu pendidikan. Mahasiswa berhak memperoleh lingkungan yang mendukung pertumbuhan akademik maupun personal, sehingga mereka dapat belajar, berinteraksi, dan mengembangkan diri dengan rasa aman.

    Melalui pertukaran pengalaman dan penguatan kerja sama, kedua perguruan tinggi diharapkan dapat memperluas wawasan serta mendukung upaya pencegahan dan penanganan kekerasan secara berkelanjutan di lingkungan kampus.

    Kolaborasi UPY dan UNISKA juga diarahkan untuk membuka wawasan dan kesempatan bagi alumni yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Studi lanjut menjadi salah satu jalur untuk meningkatkan kualifikasi akademik, memperluas jejaring internasional, serta mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan global.

    Akses terhadap informasi dan peluang pendidikan internasional diharapkan dapat membantu alumni merencanakan langkah akademik berikutnya secara lebih terarah. Dengan cakrawala pendidikan yang semakin luas, lulusan memiliki kesempatan untuk memperkaya pengalaman, membangun jaringan lintas negara, dan meningkatkan daya saing di tingkat internasional.

    Wakil Rektor III UNISKA, Assoc. Prof. Dr. Didi Susanto, S.Sos., M.I.Kom., M.Pd., menilai bahwa perluasan jejaring ant perguruan tinggi merupakan modal penting untuk menghadirkan lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa dan alumni.

    Pandangan tersebut menegaskan bahwa kemitraan perguruan tinggi perlu dikembangkan melalui langkah nyata yang menjawab kebutuhan sivitas akademika. Kerja sama tidak cukup berhenti pada kesepakatan formal, tetapi perlu ditindaklanjuti melalui pertukaran pengalaman, pengembangan program bersama, dan kegiatan berkelanjutan yang memberikan manfaat langsung.

    Melalui kolaborasi ini, UPY dan UNISKA berupaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendampingi mahasiswa sejak menempuh pendidikan hingga memasuki dunia kerja dan mengembangkan karier. Sinergi tersebut juga diharapkan dapat memperkuat dukungan bagi alumni yang ingin meningkatkan kompetensi melalui pendidikan lanjutan.

    Bagi UPY, pengembangan kemitraan menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring dan menghadirkan kesempatan yang semakin relevan dengan kebutuhan mahasiswa serta lulusan. Kolaborasi lintas perguruan tinggi membuka ruang untuk saling belajar, menyelaraskan program, dan mengembangkan inovasi dalam layanan kemahasiswaan serta alumni.

    Pada akhirnya, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya tercermin dari proses pendidikan dan jumlah lulusan yang dihasilkan, tetapi juga dari dukungan yang diberikan agar lulusan mampu mengembangkan potensi, meraih peluang, dan beradaptasi dengan tantangan zaman.

    Melalui semangat kemitraan yang berorientasi pada manfaat nyata, UPY dan UNISKA berharap dapat terus memperkuat kontribusi pendidikan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten, berdaya saing, dan siap berkembang di tingkat nasional maupun internasional.

  • Dekan FBH UPY Hadiri Kongres I AFEBSI, Perkuat Kolaborasi Pendidikan Tinggi Swasta

    Dekan FBH UPY Hadiri Kongres I AFEBSI, Perkuat Kolaborasi Pendidikan Tinggi Swasta

    Dekan Fakultas Bisnis dan Hukum (FBH) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), Dr. Tri Siwi Nugrahani, M.Si., Ak., CA., menghadiri Kongres I Aliansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Swasta Indonesia (AFEBSI) yang berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 di Jakarta. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring akademik dan memperkuat kolaborasi ant perguruan tinggi swasta (PTS) dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.

    Kongres I AFEBSI dibuka secara resmi oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Selasa (13/10/2026). Mengusung tema “Penguatan Kolaborasi Nasional AFEBSI Menuju Indonesia Emas 2045 dan Daya Saing Global Berkelanjutan”, kegiatan ini dihadiri sekitar 200 peserta yang terdiri atas perwakilan institusi anggota, anggota perorangan, serta jajaran pengurus pusat dan daerah AFEBSI dari berbagai wilayah Indonesia.

    Partisipasi Dekan FBH UPY dalam forum nasional ini menjadi kesempatan untuk mengikuti perkembangan arah kebijakan dan kolaborasi pendidikan tinggi, khususnya di bidang ekonomi dan bisnis. Forum tersebut juga menjadi ruang bertukar gagasan mengenai penguatan kelembagaan, peningkatan mutu akademik, serta pengembangan kerja sama yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.

    AFEBSI merupakan wadah yang menghimpun para dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dari perguruan tinggi swasta di seluruh Indonesia. Hingga pelaksanaan kongres, organisasi ini memiliki 1.008 anggota perorangan dan 143 institusi. Jaringan tersebut menjadi modal untuk memperluas kemitraan dan mendorong peningkatan kualitas pendidikan tinggi swasta secara berkelanjutan.

    Melalui semangat kolaborasi, AFEBSI berfokus pada penguatan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sinergi antarkampus diharapkan mampu mendorong pertukaran pengetahuan, memperluas kesempatan kerja sama, serta menghasilkan kontribusi akademik yang berdampak bagi pembangunan nasional.

    Dalam sambutan pembukaan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda.

    “Pendidikan merupakan instrumen penting untuk memutus rantai kemiskinan dan memperluas kesempatan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Pramono.

    Ia juga menyampaikan gagasan pengembangan program beasiswa di Jakarta dengan mengadopsi semangat Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas. Menurutnya, pendidikan bukan hanya sarana meningkatkan pengetahuan, melainkan juga fondasi bagi mobilitas sosial, penguatan kompetensi, dan terbukanya peluang memperoleh pekerjaan yang layak.

    Tantangan tersebut menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja dan dinamika perekonomian. Oleh karena itu, pengembangan pendidikan tinggi perlu disertai peningkatan relevansi pembelajaran, penguatan kompetensi lulusan, serta kemitraan yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

    Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional (DPN) AFEBSI, Achmad Rozi, menyampaikan apresiasi kepada Gubernur DKI Jakarta dan jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas dukungan terhadap penyelenggaraan kongres.

    AFEBSI berharap dukungan tersebut dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Organisasi ini juga berkomitmen membantu anggotanya membangun jejaring dengan perguruan tinggi dalam dan luar negeri serta dunia usaha.

    Sementara itu, Ketua Panitia Kongres I AFEBSI, Arif Murti Rozamuri, menekankan pentingnya kontribusi fakultas ekonomi dan bisnis serta STIE dalam mendukung pembangunan nasional dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs).

    Menurut Arif, kapasitas akademik dan penelitian perguruan tinggi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mengembangkan kewirausahaan, meningkatkan literasi keuangan, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong praktik bisnis berkelanjutan.

    Gagasan tersebut sejalan dengan pentingnya membangun hubungan yang lebih erat antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Melalui kerja sama lintas sektor, perguruan tinggi diharapkan mampu memperluas manfaat ilmu pengetahuan sekaligus berkontribusi dalam menjawab tantangan pembangunan.

    Dalam rangkaian kongres, Achmad Rozi kembali terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum DPN AFEBSI periode 2026–2031. Kepemimpinan tersebut diharapkan dapat melanjutkan pengembangan organisasi, menjaga kesinambungan program, dan memperkuat kolaborasi di antara institusi anggota.

    Ketua DPD AFEBSI Yogyakarta, Johan Arifin, menilai keberlanjutan kepemimpinan penting untuk mendukung pengembangan organisasi pada masa mendatang. Delegasi Yogyakarta yang mengikuti kongres antara lain Johan Arifin, Edy Suandi Hamid, Hasim As’ari, Jumadi, Tri Siwi Nugrahani, Wisnu Prajoga, Audita Nuvriasari, Nur Widiastuti, Lilik Ambarwati, Handoko Arwi Hasthoro, dan Y. Sri Susilo.

    Sekretaris DPD AFEBSI Yogyakarta, Y. Sri Susilo, menjelaskan bahwa agenda hari kedua dan ketiga kongres mencakup kegiatan pengabdian kepada masyarakat serta penguatan kapasitas anggota. Rangkaian tersebut diharapkan memperluas kontribusi AFEBSI dalam pengembangan pendidikan tinggi dan pembangunan.

    Bagi UPY, partisipasi dalam forum akademik nasional seperti Kongres I AFEBSI menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan, membangun jejaring, dan membuka peluang kolaborasi yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi. Melalui sinergi antarinstitusi, perguruan tinggi swasta diharapkan terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang adaptif, berkualitas, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat serta memiliki daya saing di tingkat global.

  • Dr. Marti Widya Sari Raih Rekognisi Internasional sebagai ASEAN Engineer dan Medali Kehormatan dari AFEO

    Dr. Marti Widya Sari Raih Rekognisi Internasional sebagai ASEAN Engineer dan Medali Kehormatan dari AFEO

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) mengucapkan selamat dan apresiasi kepada Dr. Ir. Marti Widya Sari, S.T., M.Eng., IPM., ASEAN Eng. atas keberhasilannya memperoleh rekognisi internasional sebagai ASEAN Engineer (ASEAN Eng.) sekaligus meraih Medali Kehormatan ASEAN Engineer dari The ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO).

    Pencapaian ini menjadi bentuk pengakuan atas kompetensi, pengalaman profesional, integritas, serta komitmen dalam menjunjung tinggi etika profesi keinsinyuran sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh AFEO. Rekognisi tersebut juga menjadi bagian penting dari perjalanan profesional dalam mengembangkan keahlian dan memperkuat peran insinyur di tingkat regional ASEAN.

    Bagi Universitas PGRI Yogyakarta, pencapaian ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus mendorong pengembangan kompetensi, profesionalisme, dan daya saing sivitas akademika di tingkat internasional. Prestasi tersebut menunjukkan pentingnya konsistensi dalam mengembangkan keilmuan, menjaga integritas profesi, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

    UPY berharap rekognisi internasional yang diraih Dr. Marti Widya Sari dapat semakin memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan profesi keinsinyuran. Pencapaian ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi sivitas akademika UPY untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan berani melangkah menuju prestasi yang lebih luas di tingkat internasional.

    Selamat atas pencapaian yang membanggakan. Semoga rekognisi ini menjadi langkah berkelanjutan untuk memperluas kontribusi, memperkuat profesionalisme, dan membawa manfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan serta masyarakat.

  • Sumpah Pemuda 2026: Patriotik, Gigih, Berempati—Pemuda untuk Indonesia

    Sumpah Pemuda 2026: Patriotik, Gigih, Berempati—Pemuda untuk Indonesia

    Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober menjadi momentum untuk mengenang semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 sekaligus merefleksikan peran generasi muda dalam menjawab tantangan zaman. Dengan tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, peringatan tahun ini mengajak pemuda untuk tidak hanya mencintai bangsa, tetapi juga memiliki ketangguhan dalam berjuang dan kepedulian terhadap sesama.

    Sumpah Pemuda merupakan tonggak penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia menegaskan bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun masa depan bersama.

    Kini, semangat tersebut perlu diterjemahkan dalam tindakan nyata. Di tengah perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan persaingan global, generasi muda dituntut untuk memiliki karakter kuat, terus belajar, serta mampu menjaga nilai kemanusiaan dalam setiap langkahnya.

    Cinta tanah air tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar. Semangat patriotik juga dapat tumbuh dari hal-hal sederhana, seperti menghargai keberagaman, menjaga lingkungan, menggunakan produk lokal, menaati aturan, serta berkontribusi bagi masyarakat sesuai kemampuan masing-masing.

    Bagi mahasiswa, semangat patriotisme dapat diwujudkan melalui kesungguhan dalam menempuh pendidikan, menjaga integritas akademik, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menggunakan keterampilan untuk menjawab persoalan di lingkungan sekitar.

    Mencintai Indonesia juga berarti memiliki keberanian untuk melihat persoalan bangsa secara kritis dan ikut mencari jalan keluarnya. Rasa bangga terhadap tanah air perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk terus memperbaiki keadaan.

    Dengan demikian, patriotisme bukan hanya tentang bagaimana seseorang berbicara mengenai Indonesia, tetapi juga tentang apa yang dilakukan untuk memberikan manfaat bagi bangsa.

    Perjalanan menuju masa depan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Generasi muda menghadapi beragam tantangan, mulai dari tuntutan pendidikan, perubahan dunia kerja, perkembangan teknologi, hingga kebutuhan untuk terus meningkatkan kompetensi.

    Dalam situasi tersebut, kegigihan menjadi karakter penting. Gigih bukan berarti tidak pernah gagal, melainkan memiliki kemauan untuk belajar dari kesalahan, bangkit setelah mengalami kesulitan, dan mencoba kembali dengan cara yang lebih baik.

    Di lingkungan perguruan tinggi, kegigihan dapat terlihat ketika mahasiswa tetap berusaha memahami materi yang sulit, menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab, mengembangkan penelitian, atau mengasah keterampilan yang dibutuhkan untuk masa depan.

    Namun, kegigihan juga perlu disertai kemampuan mengenali batas diri dan kesediaan meminta bantuan ketika diperlukan. Beristirahat bukan berarti menyerah, sebagaimana meminta dukungan bukan berarti kehilangan kemandirian.

    Pemuda yang gigih adalah mereka yang terus bergerak, terbuka terhadap pembelajaran, dan tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi tantangan.

    Di tengah tuntutan untuk berprestasi dan bersaing, generasi muda juga perlu menjaga kepekaan terhadap lingkungan sosial. Keberhasilan tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari kemampuan seseorang untuk menghargai dan membantu orang lain.

    Empati mengajarkan kita untuk mendengarkan sebelum menghakimi, memahami sebelum menyimpulkan, dan menghormati perbedaan tanpa harus kehilangan pendirian.

    Di kampus, empati dapat diwujudkan melalui kesediaan membantu teman yang mengalami kesulitan belajar, menghargai perbedaan latar belakang, mencegah perundungan, serta menciptakan lingkungan akademik yang aman dan inklusif.

    Dalam kehidupan digital, empati juga berarti menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, tidak merendahkan orang lain ketika berbeda pendapat, dan tidak menjadikan kesulitan seseorang sebagai bahan olok-olok merupakan bentuk kepedulian yang semakin penting pada era digital.

    Pemuda yang berempati memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan tantangannya masing-masing. Karena itu, kemajuan seharusnya tidak dibangun dengan menjatuhkan orang lain, melainkan melalui kolaborasi dan sikap saling menguatkan.

    Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang berpengetahuan, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial. Pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi juga tentang membangun cara berpikir, mengembangkan kemampuan, serta menumbuhkan tanggung jawab terhadap masyarakat.

    Bagi mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), momentum Hari Sumpah Pemuda dapat menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali kontribusi yang dapat diberikan bagi lingkungan dan bangsa.

    Semangat tersebut dapat dimulai melalui kegiatan akademik yang menjunjung kejujuran, partisipasi dalam organisasi, keterlibatan dalam kegiatan sosial, pengembangan inovasi, hingga pemanfaatan teknologi untuk menyebarkan pengetahuan dan menyelesaikan persoalan masyarakat.

    Mahasiswa juga dapat mengambil peran sebagai penghubung di tengah perbedaan, membangun ruang dialog yang sehat, serta mengajak lingkungan sekitarnya untuk lebih terbuka terhadap gagasan dan perubahan positif.

    Tidak semua kontribusi harus dimulai dari panggung besar. Ada kalanya perubahan berawal dari satu gagasan yang dikerjakan dengan tekun, satu tindakan baik yang menginspirasi orang lain, atau satu keberanian untuk mengambil tanggung jawab.

    Melalui langkah-langkah tersebut, semangat patriotik, gigih, dan berempati dapat tumbuh menjadi karakter yang nyata dalam kehidupan generasi muda.

    Semangat Sumpah Pemuda pada 1928 mengajarkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membangun persatuan dan menentukan arah perjalanan bangsa. Tantangan zaman boleh berubah, tetapi kebutuhan akan pemuda yang mencintai tanah air, pantang menyerah, dan peduli terhadap sesama tetap relevan.

    Patriotik memberikan arah tentang apa yang diperjuangkan. Gigih memberikan kekuatan untuk terus melangkah. Sementara itu, empati menjaga agar setiap perjuangan tetap berpihak pada nilai kemanusiaan.

    Ketiganya menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi masa depan Indonesia. Bukan hanya menjadi generasi yang mampu bersaing, tetapi juga generasi yang dapat bekerja sama, menghargai keberagaman, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

    Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.

    Mari menjadi pemuda yang patriotik dalam mencintai Indonesia, gigih dalam memperjuangkan cita-cita, dan berempati dalam memperlakukan sesama.

    Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia.

    Universitas PGRI Yogyakarta
    Menumbuhkan Generasi Berkarakter, Menguatkan Persatuan, dan Membangun Masa Depan Indonesia.

  • Belajar Sejarah Lebih Menyenangkan, Siswa SD Negeri Rejodadi Kunjungi Museorium UPY

    Belajar Sejarah Lebih Menyenangkan, Siswa SD Negeri Rejodadi Kunjungi Museorium UPY

    Belajar sejarah tidak harus selalu dilakukan melalui buku pelajaran dan hafalan di dalam kelas. Melalui kunjungan ke museum, siswa dapat mengenal tokoh, peristiwa, dan perjalanan bangsa secara lebih nyata. Pengalaman inilah yang diperoleh siswa SD Negeri Rejodadi saat mengunjungi Museum Laboratorium Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta (Museorium Sejarah UPY) pada Rabu, 19 Agustus 2026.

    Kunjungan ini menjadi bagian dari pembelajaran sejarah di luar kelas yang dirancang secara edukatif dan interaktif. Siswa diajak mengenal sejarah melalui beragam koleksi, diorama, serta media pembelajaran yang tersedia di Museorium Sejarah UPY. Dengan pendekatan tersebut, museum menjadi ruang belajar yang memungkinkan siswa melihat, mengamati, bertanya, dan berinteraksi langsung dengan materi sejarah.

    Selama kunjungan, siswa berkesempatan mengamati berbagai koleksi dan diorama yang menggambarkan tokoh, peninggalan, serta peristiwa sejarah. Pengalaman visual ini membantu siswa menghubungkan materi yang dipelajari di sekolah dengan gambaran yang lebih konkret.

    Sejarah pun tidak lagi sekadar tentang mengingat nama tokoh atau menghafal tahun kejadian. Di balik setiap koleksi dan peristiwa, terdapat cerita mengenai kehidupan manusia, perjuangan, pilihan, serta nilai-nilai yang turut membentuk perjalanan bangsa Indonesia.

    Suasana belajar semakin menarik melalui permainan mengenali tokoh sejarah menggunakan tiga kata kunci. Dalam aktivitas ini, siswa diperlihatkan gambar seorang tokoh sejarah, kemudian diminta menentukan tiga kata yang dianggap paling tepat untuk menggambarkan tokoh tersebut berdasarkan pengetahuan dan hasil pengamatan mereka.

    Permainan sederhana ini mengajak siswa mengingat kembali informasi sejarah yang telah dipelajari, menghubungkan berbagai fakta, serta mengungkapkan pemahaman melalui kata-kata mereka sendiri. Siswa juga mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan berpartisipasi aktif dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan.

    Lebih dari sekadar permainan, kegiatan ini dirancang untuk melatih kemampuan mengamati, mengidentifikasi informasi, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan secara sederhana sesuai dengan tahap perkembangan siswa sekolah dasar.

    Penggunaan gambar tokoh sebagai stimulus juga membantu mendekatkan materi sejarah kepada siswa. Mereka diajak menemukan hubungan antara seorang tokoh dengan peran, perjuangan, maupun peristiwa yang melatarbelakangi kiprahnya. Dengan demikian, pembelajaran berlangsung secara lebih aktif karena siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat dalam proses memahami sejarah.

    Kunjungan SD Negeri Rejodadi menunjukkan bahwa museum dapat menjadi mitra pembelajaran yang memperkaya pengalaman siswa. Koleksi dan diorama memberikan konteks visual, sementara aktivitas interaktif membantu siswa mengolah informasi menjadi pemahaman yang lebih bermakna.

    Pengalaman belajar semacam ini juga membuka ruang bagi siswa untuk mengenal nilai perjuangan dan keteladanan tokoh sejarah Indonesia. Melalui cerita di balik setiap tokoh dan peristiwa, siswa diharapkan dapat belajar mengenai keberanian, tanggung jawab, semangat persatuan, serta kontribusi individu dalam perjalanan bangsa.

    Bagi Museorium Sejarah UPY, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan edukasi sejarah yang kontekstual, menarik, dan mudah dipahami oleh generasi muda. Museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan memamerkan koleksi, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kedekatan masyarakat dengan sejarah melalui pengalaman belajar secara langsung.

    Melalui kunjungan dan kegiatan interaktif tersebut, Museorium Sejarah UPY berharap siswa semakin tertarik mempelajari sejarah Indonesia serta mampu melihat relevansi nilai-nilai masa lalu dalam kehidupan masa kini.

    Sebab, mengenal sejarah bukan hanya tentang mengetahui apa yang telah terjadi, melainkan juga memahami pelajaran yang dapat dibawa untuk masa depan. Dari kunjungan sederhana ke museum, tumbuh kesempatan bagi generasi muda untuk belajar menghargai perjuangan, mengenali identitas bangsa, dan menjaga ingatan sejarah agar tetap hidup lintas generasi.

  • PPG UPY Gelar Workshop Ecoprint di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini

    PPG UPY Gelar Workshop Ecoprint di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini

    Menanamkan kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Semangat tersebut diwujudkan Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Workshop Ecoprint untuk Meningkatkan Keterampilan Ekologi Siswa Sekolah Dasar” di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sabah, Malaysia, pada 18 Agustus 2026.

    Kegiatan ini diikuti siswa kelas IV, V, dan VI SIKK. Melalui workshop tersebut, siswa diajak mengenal pentingnya menjaga lingkungan sekaligus mengembangkan kreativitas dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar mereka.

    Program ini dirancang untuk mendukung misi kelima SIKK, yaitu membentuk peserta didik yang berkarakter, menghargai keberagaman, dan mencintai lingkungan. Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) diterapkan agar siswa tidak hanya memahami konsep pelestarian lingkungan secara teoritis, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.

    Tim pengabdian UPY dipimpin oleh Ketua Program Studi PPG FKIP UPY sekaligus Ketua Pengabdian, Dr. Dhiniaty Gularso, S.Si., M.Pd., bersama anggota tim dosen Rian Nurizka, M.Pd. dan Dr. Muhardila Fauziah, M.Pd. Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa PPG UPY, yakni Surya Dwi Armada, Wida Dien Ramadhan, Fania Nuranisa, Syintia Zahra Oktaviani, dan M. Rifki Ardiansyah.

    Pelaksanaan kegiatan mendapat sambutan dan dukungan dari Kepala Sekolah SIKK, Sahyuddin, S.Pd., MA TESOL, sebagai bagian dari upaya bersama membangun pembelajaran yang bermakna dan menumbuhkan karakter peduli lingkungan pada peserta didik.

    Salah satu kegiatan utama dalam workshop ini adalah praktik pembuatan ecoprint, yakni teknik menghasilkan motif pada kain dengan memanfaatkan bentuk dan karakter alami tumbuhan. Dalam kegiatan tersebut, siswa menggunakan kaos polos bekas sebagai media berkarya serta memanfaatkan beragam tumbuhan yang tersedia di sekitar lingkungan sekolah.

    Beberapa jenis tumbuhan yang digunakan antara lain kitolod, meniran, anting-anting, rumput mutiara, bayam duri, rumput teki, dan tapak liman. Tumbuhan tersebut dimanfaatkan sebagai sumber motif untuk menghasilkan karya yang memiliki karakter unik.

    Pemanfaatan kaos bekas menjadi bagian penting dari pembelajaran. Siswa diajak memahami bahwa barang yang sudah tidak digunakan tidak selalu harus berakhir sebagai sampah. Dengan kreativitas dan pengolahan yang tepat, barang tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang bernilai.

    Pesan tersebut sejalan dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yaitu mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, dan mendaur ulang material menjadi produk yang bermanfaat.

    Dalam proses pembuatan motif, siswa menggunakan teknik penyemprotan cairan pemutih pakaian secara terarah. Pelaksanaannya memperhatikan prosedur keselamatan kerja, termasuk penggunaan sarung tangan plastik dan masker pelindung, dengan pendampingan selama kegiatan berlangsung.

    Melalui praktik tersebut, siswa memperoleh pengalaman belajar yang memadukan kreativitas, keterampilan motorik, pemanfaatan sumber daya, dan kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

    Workshop ecoprint tidak hanya berorientasi pada hasil karya, tetapi juga pada proses pembelajaran yang menyertainya. Ketika memilih tumbuhan, menata motif, dan memanfaatkan kembali kaos bekas, siswa mendapatkan kesempatan untuk memahami hubungan antara aktivitas manusia dan lingkungan di sekitarnya.

    Pendekatan experiential learning memberikan ruang bagi siswa untuk belajar melalui pengalaman, mengamati hasil, serta merefleksikan manfaat tindakan sederhana bagi lingkungan. Dengan cara ini, konsep kecerdasan ekologis diperkenalkan melalui aktivitas yang konkret dan sesuai dengan pengalaman belajar anak usia sekolah dasar.

    Kegiatan ini juga mendorong interaksi dan kerja sama antarsiswa. Proses berkarya bersama memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbagi ide, menghargai kreativitas teman, serta menyelesaikan tahapan kegiatan secara kolaboratif.

    Berdasarkan evaluasi melalui pre-test dan post-test, kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa mengenai konsep pelestarian lingkungan. Antusiasme siswa selama proses berkarya secara kolaboratif juga menjadi bagian dari pengalaman positif yang muncul dalam pelaksanaan workshop.

    Hasil tersebut menjadi indikasi bahwa pembelajaran lingkungan melalui praktik kreatif dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mendekatkan konsep ekologi kepada siswa sekolah dasar. Meski demikian, pembiasaan perilaku peduli lingkungan tetap memerlukan penguatan dan praktik berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

    Bagi Program Studi PPG FKIP UPY, kegiatan ini menjadi wujud pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan ilmu pendidikan yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.

    Keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam satu tim juga memberikan ruang pembelajaran bagi calon guru untuk mengembangkan pengalaman merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pendidikan secara langsung. Pengalaman tersebut diharapkan memperkuat kompetensi pedagogik sekaligus membangun kepekaan calon pendidik terhadap isu lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

    Pelaksanaan workshop di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu turut memperluas ruang kolaborasi pendidikan antara UPY dan satuan pendidikan Indonesia di luar negeri. Melalui kegiatan semacam ini, perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam menghadirkan inovasi pembelajaran sekaligus memperkuat nilai karakter yang relevan dengan kehidupan peserta didik.

    Melalui Workshop Ecoprint untuk Meningkatkan Keterampilan Ekologi Siswa Sekolah Dasar, PPG FKIP UPY berharap semangat mencintai lingkungan dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan sejak dini. Memanfaatkan kembali barang bekas, mengenali tumbuhan di sekitar, dan berkarya dengan bijak menjadi langkah kecil yang dapat membentuk cara pandang anak terhadap lingkungan.

    Sebab, pendidikan lingkungan tidak hanya tentang mengenalkan pentingnya menjaga alam, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap orang dapat mengambil bagian dalam merawatnya. Dari sebuah kaos bekas dan dedaunan di sekitar sekolah, siswa belajar bahwa kreativitas dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap bumi.