
Sehubungan dengan penerimaan pegawai program studi baru Universitas PGRI Yogyakarta tahun 2018, berikut diumumkan daftar nama pelamar yang dinyatakan Lolos Seleksi Administrasi dan jadwal test wawancara yang dapat di unduh melalui link DOWNLOAD

Sehubungan dengan penerimaan pegawai program studi baru Universitas PGRI Yogyakarta tahun 2018, berikut diumumkan daftar nama pelamar yang dinyatakan Lolos Seleksi Administrasi dan jadwal test wawancara yang dapat di unduh melalui link DOWNLOAD

Sehubungan dengan penerimaan pegawai Universitas PGRI Yogyakarta tahun 2018 Tahap 2, berikut ini diumumkan daftar nama pelamar yang dinyatakan Lolos Seleksi Tertulis dan tahapan selanjutnya yang bisa di unduh melalui link DOWNLOAD

Sejarah baru dan catatan manis berhasil ditorehkan tim futsal Koperasi Mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta. Tepatnya hari ini Kopma UPY baru saja selesai mengikuti kompetisi futsal yang diadakan oleh Himpunan Koperasi Mahasiswa Yogyakarta (HKMY)“KMY FUTSAL CHAMPIONSHIP #3”, bertempat di Lapangan Futsal 4R. Kompetisi ini diikuti sebanyak 21 tim yang merupakan Kopma di Seluruh Yogyakarta. Kompetisi yang berlangsung selama dua hari pada tanggal 8 – 9 Desember 2018 ini Kopma UPY berkesempatan untuk menunjukkan eksistensinya dengan mengirimkan sebanyak 2 tim futsal. Pertandingan “KMY FUTSAL CHAMPIONSHIP #3”berlansung ketat, namun pada akhirnya Tim 1 Kopma UPY memperoleh kemenangan 5-0 atas tim Kopma UGM, sertaTim 2 Kopma UPY memperoleh kemenangan 5-2 atas tim Kopma IST Akprind dan lolos ke babak 8 besar.
Alhamdulillah, berkat kegigihan yang luar biasa, Tim 2 Kopma UPY dapat meraih juara II dalam kompetisi ini dengan kalah skor 3-6 atas Kopma UNY pada babak final. Tidak hanya tim 2 Kopma UPY yang berhasil menunjukkan kemampuan luar biasanya, namun Tim 1 Kopma UPY juga patut diapresiasi, dengan berhasil lolos 8 besar babak penyisihan. Reni Bella Fitriana Dewi (PGSD / 2015), selaku Ketua Umum Kopma UPY 2018/2019 turut bangga dan mengucapkan terimakasih kepada Tim Futsal Kopma UPY baik Tim 1 maupun Tim 2 yang telah berjuang menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam kompetisi “KMY FUTSAL CHAMPIONSHIP #3, serta terimakasih kepada Pembina, Official, dan semua pihak yang ikut terlibat dalam mendukung kompetisi futsal Kopma UPY. Semoga prestasi yang diraih dapat menjadi motivasi untuk Kopma UPY menjadi lebih baik.

Universitas PGRI Yogyakarta membuka kesempatan bagi putra-putri bangsa bergabung bersama kami untuk formasi tenaga edukatif adapun persyaratan, tatacara melamar dan jadwal tahap penerimaan bisa di unduh melalui link DOWNLOAD

Sehubungan dengan penerimaan calon pegawai baru Universitas PGRI Yogyakarta tahun 2018 tahap dua, berikut ini diumumkan daftar nama pelamar yang dinyatakan Lolos Seleksi Administrasi , untuk melihat silahkan unduh pengumuman melalui Link DOWNLOAD

Kementrian PSDM BEM KM UPY menyelenggarakan kegiatan Kajian Isu dengan tema “Menyambut PERMENRISTEKDIKTI NO. 55 Tahun 2018” di Auditorium Universitas PGRI Yogyakarta yang bertepatan pada tanggal 21 November 2018, berlangsung dari pukul 14:30-17:30 WIB.
Diskusi tersebut di selenggarakan untuk mengkaji PERMENRISTEKDIKTI NO. 55 Tahun 2018 tentang Pembinaan Idieologi Bangsa dalam kegiatan kemahasiswaan di lingkungan kampus melalui UKM PIB, yang Sekaligus melegalkan kembali organisasi ekstra masuk dalam kehidupan kampus, permenristekdikti ini di keluarkan pada tanggal 28 Oktober 2018 bertepatan dengan hari sumpah pemuda yang ke-90 oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (bapak Muhamad Nasir)
Kegiatan itu terbuka untuk umum, di hadiri oleh beberapa mahasiswa delegasi dari berbagai organisasi Intra kampus dan mahasiswa umum Universitas PGRI Yogyakarta, juga menghadirkan tiga orang Pemateri yakni Dr Muhamad Ikbal Birsyada M.Pd, Rasyid ripamole, Muhamad Fairuzzabadi M.Kom.
Diskusi yang dipandu oleh saudara taufik hidayat tersebut diawali dari pemateri yang mengupas permenristekdikti tersebut dari berbagai sudut pandang (sejarah, hukum, hingga kemahasiswaan) kemudian di berikan waktu kepada masing-masing delegasi dari berbagai organisasi intra kmpus untuk menyampaikan pendapatnya, hingga sesi terakhir tanya jawab dari semua audiens yang hadir.
Diskusi yang cukup alot itupun sangat menarik karena berbagai pendapat di tuangkan dalam forum tersebut, yang mengupas sangat dalam terkait dampak positif maupun negative dari terbitnya permenristekdikti tersebut, baik terhadap organisasi intra, organisasi ekstra kampus itu sendiri, mahasiswa, Perguruan tinggi, hingga terhadap penguatan ideology bangsa (ideology pancasila). dari Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan sendiri (Muhamad fairuzzabadi, M.Kom) menyampaikan akan meleksanakan rapat internal di tataran rektorat juga menunggu surat edaran lanjutan Menrestekdikti terkait PERMENRSITEKDIKTI NO. 55 tahun 2018 tersebut untuk kemudian di tindaklanjuti.




Pekan Olahraga Mahasiswa tingkat Daerah (POMDA) DIY, Cabang Olahraga Pencak Silat, diselenggarakan oleh BAPOMI DIY, bertempat di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNYK).
3 Desember 2018 by UKM Pencak Silat UPY
Yogyakarta, 1-2 Desember 2018, UKM Pencak Silat Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) baru saja berlaga dalam Kompetisi POMDA Cabor Pencak Silat DIY. Kompetisi ini diikuti oleh ratusan Mahasiswa/i yang mewakili Perguruan Tinggi yang ada di DIY. Terdata, ada 19 PTN/PTS yang unjuk aksi dalam kompetisi ini. Sangat semarak dan meriah tentunya. Pertandingan pencak silat yang berlokasi di UPN Veteran Yogyakarta ini menyajikan berbagai kategori, dari Kategori Tanding Putra kelas A-F, Kategori Tanding Putri kelas A-F, Kategori Seni Tunggal, dan Kategori Seni Ganda.
Berkat kegigihan yang luar biasa, Alhamdulillah, Team Pencak Silat Universtas PGRI Yogyakarta berhasil membawa pulang 4 mendali dengan rincian 1 Medali Emas, 1 Medali Perak, dan 2 Medali Perunggu. Dari yang paling kiri, atas nama Panggah Santoso (TI) peraih medali perunggu kelas B Putra, Riyani (Manajemen) peraih medali perunggu kelas A Putri, Shofia Novianti (TI) medali emas kelas B Putri, dan Bachtiar Ar-rosyad (PGSD) medali perak kelas C Putra.
Nuryantono, selaku Manajer Team Pencak Silat UPY mengucapkan selamat kepada para pemenang, serta terimakasih yang amat sangat kepada Pembina, Pelatih, Atlet, Official, dan semua pihak yang selalu memberikan support kepada Team Pencak Silat UPY. “Pelaksanaan POMDA Cabor Pencak Silat ini tidak semata-mata hanya mengejar kemenangan. Namun yang paling penting adalah kita bisa memandang pertandingan ini sebagai ajang melestarikan budaya bangsa, persahabatan, silaturami antar peserta, supporter, dan juga panitia,” ujar Yantono saat ditemui dilokasi pertandingan.
Setelah 2 hari pertandingan berjalan dengan lancar, pertandingan selesai. Penutupan serta pembagian hadiah dilangsungkan pada Minggu sore. Gemuruh kemenangan pun semakin jelas terasa saat berlangsungnya penyerahan medali dan piala kepada para juara oleh pihak Bapomi dan UPN selaku penyelenggara.

Universitas PGRI Yogyakarta membuka kesempatan bagi putra-putri terbaik bangsa untuk formasi Tenaga Edukatif, Programmer, Staf Jurnalistik (Menguasai Fotografi), untuk persyaratan dan informasi selengkapnya bisa diunduh melalui link DOWNLOAD


Ketua Program Studi PIPS Dr. Gunawan Sridiyatmiko, M.Pd Memberikan Kenang-kenanagan kepada wakil pimpinan Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu
Dosen, Mahasiswa dan Suku Dayak Indramayu Foto bersama di Depan Padepokan Suku Dayak Bumi Segandu Indramayu, Jawa Barat
Jumat s/d Minggu, 13 dan 15 Juli 2018, 19 mahasiswa Program Pascasarjana (S2) Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas PGRI Yogyakarta Mengadakan Penelitian Lapangan di Suku Dayak, Indramayu, Jawa Barat, Dalam Penelitian ini di dampingi oleh Direktur PPs Dr. Sunarti, M.Pd, Kaprodi Dr. Gunawan Sridiyatmiko, M.Pd, Dr. Elsa Putri Ermisa Syafril, M.Pd dan Sumardi, S.Pd
Kegiatan ini adalah sebagai kegiatan kuliah lapangan untuk menerapkan pemahaman mahasiwa dalam bersosialisasi secara langsung pada masyarakat terutama pada Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu.
Menurut Panglima Perang Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu, Tarxim Bin Kalsim, bahwa Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan Suku Dayak yang ada di Kalimantan.
Berikut adalah penjelasannya:
Kata “suku” artinya kaki, yang mengandung makna bahwa setiap manusia berjalan dan berdiri di atas kaki masing- masing untuk mencapai tujuan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya masing- masing.
Kata “Dayak” berasal dari kata “ayak” atau “ngayak” yang artinya memilih atau menyaring. Makna kata “dayak” di sini adalah menyaring, memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.
Memilih mana yang benar dan mana yang salah. Kata “Hindu” artinya kandungan atau rahim. filosofinya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dari kandungan sang ibu (perempuan).
Sedangkan kata “Budha”, asal dari kata “wuda”, yang artinya telanjang. Makna filosofisnya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang.
Selanjutnya adalalah kata “Bumi Segandu Indramayu”. Bumi mengandung makna wujud, sedangkan “segandu” bermakna sekujur badan. Gabungan kedua kata ini, yakni “Bumi Segandu” mengandung makna filosofis sebagai kekuatan hidup.
Adapun kata “Indramayu”, mengandung pengertian : “In” maknanya adalah ‘inti ; “Darma” artinya orang tua, dan kata “Ayu”, maknanya perempuan. Makna filosofisnya adalah bahwa ibu (perempuan) merupakan sumber hidup, karena dari rahimnyalah kita semua dilahirkan. Itu sebabnya menghormati kaum perempuan, yang tercermin dalam ajaran dan kehidupan mereka sehari hari.
Suku Dayak Bumi Segandu adalah sekelompok komunitas lokal yang mempercayai suatu ajaran bersama dan menetap di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Anggota kelompok kepercayaan ini diklaim berjumlah ribuan yang anggotanya berasal dari berbagai macam daerah, seperti Subang, Cirebon, hingga Jawa Timur. Mereka murni terbentuk sebagai kelompok berbasis kepercayaan terhadap keyakinan.
Kelompok masyarakat ini tidak memiliki identitas legal seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP). Mereka tidak memiliki salah satu agama sebagaimana agama yang diakui oleh negara. Namun Mereka masih merasa menjadi bagian dari Negara Indonesia. Hanya saja, mereka memiliki perspektif lain dalam memandang cara hidup. Bagi kelompok ini, KTP adalah sesuatu yang menyusahkan. Mereka berkeyakinan bahwa diri mereka yang mereka bawa kemana-mana itulah tanda pengenal yang sesungguhnya.
Dosen dan Mahasiwa foto bersama dengan Ta mad atau Eran Takmad Diningrat Gusti Alam Pemimpin Suku Dayak Bumi Segandu Indramayu
Asal usul
Kelompok masyarakat ini menunjukan eksistensinya sejak akhir tahun 90-an kepada masyarakat luas. Mereka membangun komunitas dengan berpegang teguh pada spiritualitas sebagai dasar pembentukan ajarannya. Mereka menyebut kepercayaannya sebagai agama Jawa, mereka melakukan penggalian kembali kepercayaan dan nilai-nilai spiritualitas masyarakat Jawa masa lalu. Mereka berpikir bahwa agama-agama besar yang ada saat ini, termasuk agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia, telah terkontaminasi kepentingan-kepentingan individu yang sarat dengan keserakahan. Hal inilah yang menyebabkan kelompok kepercayaan ini menggali kembali nilai-nilai budaya masyarakat Jawa dan membangun ulang nilai-nilai komunal.
Kelompok tersebut dianalogikan sebagai sekumpulan manusia terpilih karena tidak semua orang dapat menjalankan peraturan seperti yang telah disyaratkan oleh komunitas tersebut. Selain itu, makna “Hindu Budha” dalam pemahaman komunitas ini diartikan sebagai jiwa dan raga. Mereka yang tergabung diandaikan sebagai manusia yang baru saja dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan telanjang. Mereka yang telah menjadi Bodhisatvva sebagai wujud menyatunya diri mereka dengan makrokosmos, akan menanggalkan pakaian ala kehidupan era modern yang marak terjadi saat ini. Anggota kelompok komunitas ini akan telanjang dengan hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam-putih. Warna tersebut merupakan simbol dari kehidupan yang saling berpasangan. Selain itu, mereka juga akan mengenakan aksesoris terbuat dari kayu dan bambu sebagai bentuk kedekatan mereka dengan alam. Kemana pun anggota kelompok komunitas ini pergi, mereka akan selalu mengenakan pakaian dan aksesoris tersbut. Cara berpakaian yang demikian kemudian masyarakat “modern” sering memandang mereka sebagai kelompok orang gila.
Pendirian komunitas itu sendiri bebas dari campur tangan pemerintah. Adalah seorang Ta mad yang memulai pembentukan komunitas ini dengan mendirikan sebuah padepokan yang bernama Padepokan Nyi Ratu Kembar di Desa Karimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Tanah tempat dibangunnya padepokan tersebut sendiri adalah warisan dari mertua Ta mad. Sejak perenungannya berhasil melahirkan sebuah aliran kepercayaan baru, pengikutnya menjadi semakin banyak dan terbentuknya kelompok masyarakat Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu.
Nilai dan ajaran
Nilai dan ajaran pada Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu terbentuk pada tahun 1970-an dan diajarkan oleh Ta mad atau Eran Takmad Diningrat Gusti Alam. Ta mad adalah pendiri komunitas kepercayaan ini karena adanya kejenuhan yang dia alami terhadap peraturan-peraturan pemerintah. Ta mad banyak melakukan refleksi dan introspeksi diri terhadap berbagai permasalahan yang terjadi di sekitarnya. Lalu, ia meyakini bahwa kembali ke alam (back to nature) adalah ajaran terbaik bagi manusia. Mendekatkan diri kepada alam dipercaya sebagai inti dari kehidupan manusia.
Wujud dari ajaran kembali ke alam tersebut tercermin dalam nilai-nilai yang mereka junjung sehari-hari. Mereka sangat mengagungkan nilai-nilai alamiah seperti menghargai perempuandan anak-anak. Bagi mereka, kaum perempuan memiliki martabat dan derajat yang amat tinggi, karena dari mereka lah lahir individu-inidividu baru. Hal itu tentu tidak bisa dilakukan oleh kaum pria, dimana pun dan oleh siapa pun. Begitu juga dengan anak-anak, mereka selalu menganggap benar segala perkataan dan perbuatan anak-anak yang terlihat lugu. Para lelaki kelompok kepercayaan ini berpijak untuk mengabdi pada perempuan, termasuk ibu, istri, dan anak perempuan mereka. Tidak heran jika kemudian banyak di antara mereka yang mencari nafkah di luar rumah sekaligus mengurus rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.
Ritual
Kelompok Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu melakukan ritual bernama “kum-kum” atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan rendaman. Ritual ini mereka lakukan untuk melatih kesabaran. Kum-kum sendiri mereka lakukan selama empat bulan dalam satu tahun tepatnya setiap pukul 23.00. Sebelum kum-kum, mereka biasanya melakukan kidung terlebih dahulu. Setelahnya, mereka akan berjalan ke sungai kecil di dekat perkampungan mereka untuk merendam diri hingga pagi hari tiba. Selama berendam, mereka tidak diperbolehkan memakai pakaian atas. Selain itu, mereka harus mampu menahan dinginnya udara malam dan air sungai berikut gigitan ikan kecil-kecil yang hidup di sungai. Hal itu memang tidak mudah untuk dilakukan; perlu pembiasaan mengingat tujuan utama dari ritual ini adalah untuk melatih kesabaran.
Setelah ritual kum-kum selesai, mereka tidak lantas pulang ke rumah pada pagi harinya. Mereka harus melakukan ritual lanjutan berupa mepe atau berjemur. Mereka akan berjemur pada pagi hari hingga celana mereka kembali kering. Tujuan dari ritual ini adalah untuk mendekatkan manusia dengan alam tanah. Setelah menyelesaikan rangkaian ritual tersebut, mereka akan merasa menjadi orang baru kembali. Selanjutnya, sisa waktu delapan bulan ke depan bisa mereka pergunakan untuk mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan hidup anak dan istrinya. Apabila nafkah mereka berlebih, mereka akan memberikannya pada komunitas yang membutuhkan. Setelah itu, empat bulan selanjutnya akan mereka manfaatkan untuk ritual dan mendekatkan diri dengan alam. Siklus ritual tersebut telah mereka kerjakan secara teratur selama bertahun-tahun.
Ritual lain yang dilakukan oleh kelompok aliran kepercayaan ini juga banyak mengikutsertakan kelompok perempuan. Bertempat di Pendopo Nyi Ratu Kembar, setiap malam Jumat kliwon mereka berkumpul bersama. Beberapa laki-laki bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek hitam putih. Mereka duduk mengelilingi kolam kecil di dalam pendopo. Sementara kaum perempuan, duduk berselonjor di luar pendopo. Mula-mula, mereka akan melantunkan Kidung Alas Turi dan Pujian Alam secara bersama-sama. Bacaan tersebut dilanutnkan dalam bahasa Jawa Cirebon dan dikarang langsung oleh pendiri komunitas ini, yaitu Takmad Diningrat.
Hasil dari kegiatan kuliah lapangan ini diharapkan mahasiswa mampu mengambil segi positif yang ada pada suku dayak hindu-budha bumi segandu Indramayu, Jawa Barat. Kuliah lapangan ini juga dapat dijadikan refrensi bahwa di Indonesia yang terdiri dari beberapa pulau, suku, ras, golongan dan agama, kedepan dapat dijadikan untuk meningkatkan pemahaman tentang perlunya hidup rukun dan damai antar anak bangsa walaupun berbeda-beda latar belakang dan golongan.