Kategori: Berita Utama

  • Menjelang Wisuda, Ini yang Wajib Disiapkan Mahasiswa agar Hari Bahagia Berjalan Lancar

    Menjelang Wisuda, Ini yang Wajib Disiapkan Mahasiswa agar Hari Bahagia Berjalan Lancar

    Wisuda menjadi salah satu momen yang paling dinantikan dalam perjalanan seorang mahasiswa. Setelah melewati berbagai proses perkuliahan, menyelesaikan tugas, menghadapi ujian, hingga menuntaskan skripsi atau tugas akhir, akhirnya tiba saatnya merayakan hasil perjuangan bersama keluarga dan orang-orang terdekat.

    Namun, menjelang hari wisuda, ada sejumlah hal yang perlu dipersiapkan agar momen istimewa tersebut berjalan lancar. Sebab, kebahagiaan wisuda akan terasa lebih lengkap ketika urusan administrasi, perlengkapan, hingga persiapan pribadi sudah tertata dengan baik.

    Bagi mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) yang sedang bersiap menuju hari kelulusan, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.

    1. Pastikan Seluruh Persyaratan Administrasi Selesai

    Sebelum sibuk memilih pakaian atau menentukan gaya foto wisuda, pastikan terlebih dahulu seluruh persyaratan administrasi telah diselesaikan.

    Periksa kembali informasi dari kampus mengenai status kelulusan, pendaftaran wisuda, pembayaran yang diwajibkan, pengumpulan dokumen, serta persyaratan lain sesuai ketentuan yang berlaku. Jika masih ada berkas yang belum lengkap, segera komunikasikan dengan bagian terkait agar dapat ditangani sebelum batas waktu.

    Jangan sampai persiapan penampilan sudah matang, tetapi urusan administrasi justru masih tertinggal. Karena itu, biasakan memeriksa pengumuman resmi dan menyimpan bukti pendaftaran atau dokumen penting di tempat yang mudah diakses.

    2. Periksa Jadwal dan Ketentuan Wisuda

    Hal berikutnya yang tidak kalah penting adalah memahami jadwal dan tata tertib pelaksanaan wisuda.

    Catat tanggal, waktu, lokasi, ketentuan kehadiran, serta informasi mengenai pengambilan toga, gladi bersih jika ada, dan aturan pendamping atau tamu. Pastikan seluruh informasi tersebut diperoleh dari kanal resmi kampus.

    Jika wisuda dilaksanakan di lokasi yang belum familiar, cari tahu rute perjalanan dan perkiraan waktu tempuh. Berangkat lebih awal dapat membantu menghindari keterlambatan akibat kemacetan atau kendala perjalanan lainnya.

    Ingat, datang tepat waktu jauh lebih menenangkan daripada harus berlari sambil memastikan toga tidak berantakan.

    3. Siapkan Toga dan Pakaian dengan Nyaman

    Toga merupakan salah satu perlengkapan ikonik dalam prosesi wisuda. Karena itu, pastikan toga dan perlengkapan pendukungnya sudah tersedia sesuai ketentuan kampus.

    Periksa kembali ukuran dan kondisi toga, topi, serta aksesori lain yang diperlukan. Jika ada ketentuan mengenai pakaian di balik toga, sepatu, atau atribut khusus, pastikan semuanya sesuai aturan.

    Pilih pakaian yang rapi dan nyaman dikenakan selama acara berlangsung. Wisuda biasanya membutuhkan waktu cukup lama, sehingga kenyamanan menjadi hal penting agar kamu tetap dapat menikmati setiap rangkaian acara.

    Tidak perlu berlebihan dalam mempersiapkan penampilan. Yang terpenting adalah tampil pantas, percaya diri, dan tetap nyaman saat menerima momen kelulusan.

    4. Atur Waktu Tidur dan Jaga Kondisi Tubuh

    Menjelang wisuda, sebagian mahasiswa mungkin masih sibuk menyiapkan pakaian, menghubungi keluarga, atau merencanakan sesi foto. Namun, jangan sampai kesibukan tersebut membuat waktu istirahat terabaikan.

    Usahakan tidur cukup pada malam sebelum acara. Siapkan barang-barang yang diperlukan sejak sehari sebelumnya agar pagi hari tidak dipenuhi kepanikan mencari barang yang entah terselip di mana.

    Konsumsi makanan yang cukup, minum air putih, dan jaga kondisi tubuh. Jika memiliki kebutuhan kesehatan tertentu, persiapkan perlengkapan pribadi yang diperlukan.

    Wisuda adalah momen yang layak dinikmati dengan pikiran tenang dan tubuh yang bugar. Jangan sampai rasa kantuk justru lebih mendominasi daripada rasa bahagia.

    5. Koordinasikan Kedatangan Keluarga

    Bagi banyak mahasiswa, wisuda bukan hanya pencapaian pribadi, melainkan juga kebahagiaan keluarga. Orang tua, saudara, atau orang-orang terdekat sering kali turut menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

    Karena itu, komunikasikan jadwal dan lokasi acara kepada keluarga sejak jauh hari. Sampaikan informasi mengenai waktu kedatangan, akses masuk, ketentuan jumlah pendamping, serta lokasi pertemuan setelah prosesi jika diperlukan.

    Jika keluarga datang dari luar kota, bantu mereka mempersiapkan perjalanan dan akomodasi lebih awal. Pastikan pula semua pihak memahami rencana setelah acara, termasuk tempat berkumpul atau sesi foto bersama.

    Koordinasi sederhana dapat mencegah kebingungan pada hari pelaksanaan. Dengan begitu, perhatian bisa lebih tertuju pada momen kebersamaan yang telah lama dinantikan.

    6. Jangan Lupa Mengabadikan Momen

    Wisuda adalah salah satu tonggak penting dalam perjalanan hidup. Mengabadikan momen melalui foto atau video dapat menjadi cara sederhana untuk menyimpan kenangan dari masa perkuliahan.

    Kamu bisa merencanakan sesi foto bersama keluarga, teman seperjuangan, dosen, atau sahabat yang telah menemani perjalanan akademik. Jika ingin menggunakan jasa fotografer, sepakati lokasi dan waktu terlebih dahulu agar tidak mengganggu rangkaian acara.

    Namun, jangan sampai terlalu sibuk mengejar foto yang sempurna hingga lupa menikmati momen yang sedang berlangsung. Tidak semua kenangan harus terlihat seperti foto di sampul majalah. Senyum tulus, pelukan keluarga, dan tawa bersama teman sering kali justru menjadi bagian paling berharga.

    7. Siapkan Ucapan Terima Kasih untuk Orang-Orang yang Berjasa

    Di balik keberhasilan menyelesaikan studi, ada banyak pihak yang mungkin telah memberikan dukungan. Orang tua, keluarga, dosen, tenaga kependidikan, teman seperjuangan, hingga orang-orang yang membantu ketika perjalanan terasa berat.

    Wisuda dapat menjadi kesempatan untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada mereka. Tidak harus melalui hadiah mahal atau kata-kata panjang. Ucapan tulus, pelukan, atau pesan sederhana dapat memiliki makna yang mendalam.

    Bagi sebagian mahasiswa, perjalanan menuju kelulusan mungkin tidak selalu mudah. Ada masa ketika tugas menumpuk, penelitian terasa sulit, atau semangat belajar menurun. Karena itu, menghargai proses dan orang-orang yang mendukung perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari makna wisuda.

    8. Mulai Pikirkan Langkah Setelah Wisuda

    Wisuda menandai selesainya satu tahap pendidikan sekaligus menjadi awal dari perjalanan berikutnya. Setelah prosesi kelulusan, mahasiswa akan menghadapi pilihan dan tantangan yang beragam.

    Ada yang ingin langsung bekerja, melanjutkan studi, membangun usaha, mengikuti pelatihan profesional, atau mengembangkan keterampilan sesuai bidang yang diminati. Sebagian lainnya mungkin masih membutuhkan waktu untuk menentukan arah.

    Tidak masalah jika semua rencana belum tersusun sempurna. Namun, mulailah mengenali minat, kemampuan, dan peluang yang tersedia. Perbarui CV, susun portofolio jika diperlukan, bangun jejaring profesional, dan manfaatkan pengalaman selama kuliah sebagai bekal menghadapi dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.

    Ingat, wisuda bukan garis akhir dari proses belajar. Justru setelah lulus, kesempatan untuk terus tumbuh dan mengembangkan diri semakin terbuka.

    Wisuda Bukan Hanya tentang Gelar, tetapi Juga Perjalanan

    Menjelang wisuda, daftar persiapan mungkin terasa panjang. Mulai dari administrasi, pakaian, jadwal, kesehatan, hingga koordinasi dengan keluarga. Namun, jika dipersiapkan secara bertahap, semua itu dapat dijalani dengan lebih tenang.

    Lebih dari sekadar seremoni dan pengenaan toga, wisuda merupakan perayaan atas proses panjang yang telah dilalui. Setiap mahasiswa memiliki cerita berbeda: perjuangan menyelesaikan tugas akhir, belajar membagi waktu, menghadapi kegagalan, hingga menemukan keberanian untuk terus melangkah.

    Karena itu, nikmati setiap prosesnya. Jangan terlalu sibuk memikirkan apakah semuanya akan terlihat sempurna. Persiapkan hal-hal penting dengan baik, hadir dengan penuh rasa syukur, dan berikan ruang bagi diri sendiri untuk merayakan pencapaian tersebut.

    Selamat mempersiapkan wisuda bagi mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta. Semoga seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan menjadi kenangan indah bersama keluarga serta orang-orang terkasih.

    Sebab, di balik selembar ijazah dan toga yang dikenakan, ada cerita tentang perjuangan, ketekunan, dukungan, dan keberanian untuk melangkah menuju masa depan.

  • Pusat Bahasa UPY dan UNPER Perkuat Sinergi melalui Benchmarking Pengelolaan Layanan Kebahasaan

    Pusat Bahasa UPY dan UNPER Perkuat Sinergi melalui Benchmarking Pengelolaan Layanan Kebahasaan

    Penguatan kualitas layanan perguruan tinggi membutuhkan keterbukaan untuk belajar, berbagi pengalaman, dan membangun kolaborasi. Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan benchmarking Pusat Bahasa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) bersama UPT Pusat Bahasa Universitas Perjuangan Tasikmalaya (UNPER) yang berlangsung pada Senin, 5 Oktober 2026, pukul 11.00–12.00 WIB, di Ruang Sidang Fakultas Bisnis dan Hukum UPY.

    Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kualitas tata kelola, mengembangkan layanan, serta memperkuat pengelolaan program kebahasaan di lingkungan perguruan tinggi. Melalui pertemuan tersebut, kedua institusi memiliki kesempatan untuk bertukar pengalaman dan memperluas wawasan mengenai pengelolaan pusat bahasa sebagai bagian dari layanan pendukung akademik.

    Kegiatan benchmarking dihadiri oleh Rudha Widagsa, M.A. Ph.D. Kepala Pusat Bahasa UPY beserta staf Pusat Bahasa UPY. Dari UNPER, hadir Kepala UPT Pusat Bahasa, bendahara, serta unsur kesekretariatan UPT Pusat Bahasa.

    Pertemuan berlangsung dengan lancar dan harmonis. Suasana diskusi yang kondusif menjadi ruang bagi kedua institusi untuk saling mengenal pengelolaan layanan kebahasaan serta berbagi pengalaman dalam menjalankan tugas dan fungsi masing-masing.

    Bagi perguruan tinggi, pusat bahasa memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan akademik melalui layanan dan program kebahasaan. Oleh karena itu, pengelolaan yang tertata, pelayanan yang responsif, serta pengembangan program yang sesuai dengan kebutuhan sivitas akademika menjadi aspek penting yang perlu terus diperkuat.

    Melalui kegiatan benchmarking, UPY dan UNPER dapat saling memperoleh perspektif baru mengenai peluang pengembangan layanan. Pertukaran pengalaman antarlembaga juga membuka ruang untuk mengidentifikasi praktik baik yang dapat menjadi bahan evaluasi dan pengembangan sesuai dengan kebutuhan masing-masing institusi.

    Lebih dari sekadar kunjungan kelembagaan, kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara Pusat Bahasa UPY dan UPT Pusat Bahasa UNPER. Komunikasi dan pertukaran pengetahuan yang terjalin diharapkan menjadi fondasi bagi kerja sama yang lebih luas pada masa mendatang.

    Kedua institusi diharapkan dapat terus menjaga hubungan baik dan membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan layanan serta program kebahasaan. Sinergi tersebut penting agar pusat bahasa dapat terus bertumbuh, beradaptasi dengan kebutuhan perguruan tinggi, dan memberikan layanan yang semakin berkualitas.

    Melalui kegiatan ini, Kepala Pusat Bahasa UPY, Rudha Widagsa, M.A. Ph.D. menegaskan pentingnya membangun budaya belajar antarlembaga sebagai bagian dari peningkatan mutu layanan perguruan tinggi. Dengan semangat kolaborasi dan keterbukaan, pengalaman yang diperoleh dari kegiatan benchmarking diharapkan dapat menjadi bekal untuk mengembangkan tata kelola dan layanan kebahasaan secara berkelanjutan.

    Pada akhirnya, peningkatan kualitas layanan tidak hanya ditentukan oleh sistem yang baik, tetapi juga oleh kemauan untuk terus belajar dan bekerja sama. Pusat Bahasa UPY berharap hubungan dengan UPT Pusat Bahasa UNPER dapat terus terjalin erat dan berkembang menjadi kolaborasi yang memberikan manfaat bagi kedua institusi.

  • Museorium UPY Perkuat Literasi Sejarah Publik melalui Pameran Temporer Museum Tosan Aji

    Museorium UPY Perkuat Literasi Sejarah Publik melalui Pameran Temporer Museum Tosan Aji

    Museum Laboratorium Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta (Museorium UPY) kembali mengambil bagian dalam upaya memperluas literasi sejarah di tengah masyarakat. Kali ini, Museorium UPY berpartisipasi dalam Pameran Temporer Museum Tosan Aji: Prasama Miyara #2 yang berlangsung pada 13–15 Juli 2026 di Lapangan Tenis Kompleks Pendopo Kabupaten Purworejo.

    Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari komitmen Museorium UPY untuk menghadirkan pembelajaran sejarah yang kontekstual, aplikatif, dan lebih dekat dengan masyarakat. Bagi Museorium UPY, museum tidak hanya berbicara tentang benda masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana koleksi dapat menjadi pintu masuk untuk memahami nilai, identitas, dan perjalanan kebudayaan.

    Pameran Temporer Museum Tosan Aji: Prasama Miyara #2 diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo melalui Museum Tosan Aji. Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai museum dari sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk bersama-sama memperkuat fungsi museum dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

    Mengusung tema “Prasama Miyara”, pameran tidak sekadar menghadirkan koleksi kepada masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga dan merawat warisan budaya.

    Kehadiran berbagai museum dalam satu ruang memperlihatkan bahwa pelestarian sejarah dan budaya membutuhkan jejaring serta kolaborasi. Pengetahuan mengenai masa lalu menjadi semakin bermakna ketika dapat dibagikan, didiskusikan, dan diakses oleh masyarakat secara luas, terutama generasi muda.

    Dalam pameran tersebut, Museorium UPY tergabung bersama Forum Komunikasi Museum Bantul (FKMB) yang melibatkan 17 museum lainnya di wilayah Bantul. Keterlibatan bersama ini menjadi bentuk sinergi antarlembaga museum dalam memperluas jangkauan edukasi sejarah dan budaya melampaui batas wilayah.

    FKMB menjadi ruang koordinasi sekaligus wadah untuk memperkenalkan kekayaan koleksi dan beragam narasi sejarah lokal kepada masyarakat. Melalui kolaborasi tersebut, setiap museum memiliki kesempatan untuk memperkenalkan karakter dan kekayaan koleksinya sekaligus saling memperkuat peran dalam ekosistem permuseuman.

    Bagi Museorium UPY, kehadiran dalam forum tersebut juga menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam pelestarian budaya. Museum yang berada di lingkungan akademik dapat menjadi penghubung antara pengetahuan sejarah, proses pendidikan, dan kebutuhan masyarakat akan informasi yang mudah dipahami.

    Pada pameran kali ini, Museorium UPY menghadirkan koleksi edukatif berupa replika Tugu Golong Gilig dan Tugu Pal Putih. Pemilihan kedua replika tersebut tidak semata-mata didasarkan pada nilai visualnya, tetapi juga pada kandungan sejarah dan filosofi yang melekat pada Tugu Yogyakarta.

    Melalui replika tersebut, pengunjung diajak melihat tugu bukan hanya sebagai sebuah monumen yang menjadi penanda Kota Yogyakarta. Tugu dapat menjadi pintu masuk untuk memahami berbagai nilai dan pandangan hidup yang berkembang dalam kebudayaan Jawa.

    Dalam konteks filosofis, Tugu Yogyakarta memiliki keterkaitan dengan konsep manunggaling kawula lan gusti, yang menggambarkan kesatuan dan harmoni antara rakyat, pemimpin, serta Tuhan. Makna tersebut juga berkaitan dengan pandangan mengenai keseimbangan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta dalam kosmologi Jawa.

    Nilai filosofis tersebut memiliki hubungan erat dengan identitas budaya dan perjalanan sejarah Kasultanan Yogyakarta. Karena itu, menghadirkan replika Tugu Golong Gilig dan Tugu Pal Putih dalam ruang pamer menjadi upaya Museorium UPY untuk menjembatani koleksi dengan konteks sejarah dan makna yang terkandung di dalamnya.

    Pendekatan tersebut membuat koleksi tidak berhenti sebagai objek untuk dilihat. Koleksi menjadi media interpretasi yang mengajak pengunjung bertanya, memahami, dan merefleksikan nilai-nilai budaya yang masih relevan hingga saat ini.

    Partisipasi dalam Pameran Temporer Museum Tosan Aji: Prasama Miyara #2 semakin menegaskan komitmen Museorium UPY untuk mengembangkan museum sebagai ruang belajar yang dinamis dan berorientasi pada publik.

    Museum memiliki kesempatan untuk memainkan peran yang lebih luas daripada sekadar menyimpan benda-benda bersejarah. Melalui program edukasi, pameran, interpretasi koleksi, dan interaksi dengan masyarakat, museum dapat menjadi ruang untuk mempertemukan masa lalu dengan persoalan dan kebutuhan generasi masa kini.

    Kehadiran Museorium UPY dalam pameran ini juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan laboratorium sejarah sebagai pusat pembelajaran berbasis koleksi. Bagi mahasiswa dan generasi muda, pendekatan tersebut membuka kesempatan untuk memahami sejarah secara lebih dekat, tidak hanya melalui buku dan ruang perkuliahan, tetapi juga melalui benda, narasi, serta pengalaman interaksi langsung dengan publik.

    Pada akhirnya, sejarah bukan sekadar catatan tentang apa yang pernah terjadi. Sejarah menjadi berarti ketika nilai dan pembelajarannya mampu terus dihidupkan serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

    Melalui partisipasinya dalam Pameran Temporer Museum Tosan Aji: Prasama Miyara #2, Museorium UPY berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal, menghargai, dan memahami warisan sejarah serta budaya di sekitarnya.

    Langkah tersebut sekaligus memperkuat komitmen Universitas PGRI Yogyakarta untuk terus menghadirkan pendidikan yang terhubung dengan kehidupan masyarakat. Dengan kolaborasi antarmuseum, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, literasi sejarah diharapkan tidak hanya semakin luas, tetapi juga mampu tumbuh menjadi kesadaran budaya yang kritis, reflektif, dan berkelanjutan.

  • Lima Mahasiswa PPG UPY Jalani PPL Mandiri di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu Malaysia

    Lima Mahasiswa PPG UPY Jalani PPL Mandiri di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu Malaysia

    Pengalaman menjadi guru profesional tidak hanya dibangun melalui pembelajaran di ruang kuliah. Lima mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) memperoleh kesempatan untuk memperkuat kompetensi melalui Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Mandiri di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Malaysia.

    Kegiatan tersebut berlangsung selama dua bulan, mulai 10 Juli hingga 10 September 2026. PPL Mandiri menjadi bagian penting dalam proses pendidikan profesi guru, khususnya dalam memberikan ruang kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh selama mengikuti perkuliahan ke dalam situasi pembelajaran yang nyata.

    Melalui keterlibatan langsung di lingkungan sekolah, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan berbagai kompetensi yang dibutuhkan seorang pendidik, meliputi kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk memahami bahwa profesi guru tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengajar, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, beradaptasi, mengambil keputusan, serta membangun hubungan yang baik dengan seluruh warga sekolah.

    Pelaksanaan PPL di SIKK menghadirkan pengalaman yang memiliki karakteristik tersendiri. Berada di lingkungan pendidikan Indonesia di luar negeri memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana proses pembelajaran berlangsung dalam konteks yang berbeda.

    Selama menjalankan PPL, mahasiswa berinteraksi dengan warga sekolah sekaligus belajar memahami berbagai dinamika yang muncul dalam kegiatan pendidikan. Situasi tersebut menjadi ruang pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk mengasah kemampuan adaptasi dan kesiapan menghadapi beragam kondisi yang mungkin ditemui dalam perjalanan profesional sebagai seorang guru.

    Pengalaman lapangan juga membantu mahasiswa menghubungkan teori yang dipelajari selama perkuliahan dengan praktik pembelajaran di kelas. Dari proses tersebut, mahasiswa dapat melakukan pengamatan, mengevaluasi pengalaman, serta melakukan refleksi untuk menemukan berbagai hal yang dapat dikembangkan dalam pelaksanaan pembelajaran.

    Dengan demikian, PPL Mandiri bukan sekadar pemenuhan pengalaman praktik, tetapi juga menjadi proses pembentukan cara berpikir dan sikap profesional calon guru.

    Dalam pelaksanaannya, mahasiswa mendapatkan pendampingan dari Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Muhardila Fauziah, M.Pd. Pendampingan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan rangkaian kegiatan PPL berjalan secara terarah sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa memperoleh masukan dan evaluasi terhadap proses yang telah dijalankan.

    Pendampingan akademik membantu mahasiswa merefleksikan pengalaman di lapangan secara lebih sistematis. Berbagai pengalaman yang diperoleh selama berinteraksi dengan lingkungan sekolah dapat menjadi bahan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas diri dan mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia profesi pendidikan secara lebih matang.

    Dukungan terhadap pelaksanaan PPL Mandiri juga diberikan oleh jajaran pimpinan Program Studi PPG FKIP UPY, yakni Koordinator Program Studi Dr. Dhiniaty Gularso, S.Si., M.Pd. bersama Sekretaris Program Studi Rian Nurizka, M.Pd.

    Dukungan tersebut menjadi wujud komitmen Program Studi PPG FKIP UPY dalam menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna. Kesempatan untuk belajar langsung di lingkungan pendidikan, termasuk di luar negeri, diharapkan dapat memperkaya perspektif mahasiswa sekaligus memperkuat kesiapan mereka dalam menjalankan profesi sebagai guru.

    Bagi mahasiswa PPG, pengalaman PPL di SIKK menjadi bagian dari perjalanan untuk mengenal profesi guru secara lebih dekat. Mereka tidak hanya belajar mengenai proses pembelajaran, tetapi juga memahami pentingnya kemampuan beradaptasi, komunikasi, tanggung jawab, dan refleksi dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

    Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menghadapi lingkungan pendidikan yang semakin dinamis. Guru masa kini dituntut mampu terus belajar, terbuka terhadap perubahan, serta memiliki kemampuan untuk menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik dan karakteristik lingkungan pendidikan.

    Melalui PPL Mandiri di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, FKIP UPY terus memperkuat komitmennya dalam mencetak calon guru yang kompeten, profesional, adaptif, dan berwawasan luas. Pengalaman belajar di lingkungan pendidikan Indonesia di luar negeri menjadi salah satu upaya untuk mempersiapkan lulusan yang tidak hanya siap mengajar, tetapi juga siap hadir dan mengabdi secara profesional di berbagai lingkungan pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri.

    Pada akhirnya, perjalanan PPL di SIKK bukan sekadar tentang hadirnya mahasiswa UPY di ruang kelas, melainkan tentang proses belajar menjadi pendidik—mendengar, mengamati, mencoba, merefleksikan, dan terus bertumbuh. Dari pengalaman tersebut, diharapkan lahir guru-guru masa depan yang mampu membawa ilmu, nilai, dan semangat pengabdian ke mana pun mereka mengajar.

  • Mahasiswa PPG UPY Raih Juara III Lomba Microteaching Nasional 2026

    Mahasiswa PPG UPY Raih Juara III Lomba Microteaching Nasional 2026

    Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) di tingkat nasional. Surya Dwi Armada, S.Pd., mahasiswa PPG Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026 Bidang Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), berhasil meraih Juara III Lomba Microteaching Kategori Penguasaan Materi dalam Lomba Nasional Mahasiswa PPG Tahun 2026.

    Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh PPG Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tidar dan diikuti mahasiswa PPG dari berbagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di Indonesia. Prestasi Surya ditetapkan melalui Berita Acara Penetapan Pemenang Lomba Nasional Mahasiswa PPG Tahun 2026 Nomor 3183/DST/UN57.F3/B/KM.05.03/2026.

    Lomba microteaching menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa PPG untuk menunjukkan kesiapan dan kompetensi sebagai calon guru profesional. Tidak sekadar menyampaikan materi di hadapan peserta didik, microteaching menuntut kemampuan calon guru dalam menguasai substansi pembelajaran, mengemas materi secara sistematis, serta menyampaikannya dengan cara yang efektif dan mudah dipahami.

    Pada kategori Penguasaan Materi, Surya mampu menunjukkan kompetensinya melalui penguasaan substansi pembelajaran dan kemampuan menyampaikan materi secara efektif. Capaian tersebut mengantarkannya meraih posisi ketiga pada kompetisi tingkat nasional yang mempertemukan mahasiswa PPG dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

    Prestasi ini menjadi gambaran bahwa proses pendidikan calon guru di PPG UPY tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan praktik pembelajaran. Kemampuan menguasai materi dan mengomunikasikannya secara efektif merupakan bagian penting dari kompetensi yang perlu dimiliki seorang pendidik.

    Keberhasilan Surya juga tidak terlepas dari proses pembelajaran yang berkelanjutan serta dukungan lingkungan akademik. Bimbingan dosen, interaksi dengan sivitas akademika, dan budaya akademik yang mendorong mahasiswa untuk terus berkembang menjadi bagian dari proses yang mengantarkan capaian tersebut.

    Bagi PPG UPY, prestasi ini sekaligus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan proses pendidikan yang relevan dengan kebutuhan profesi guru. Calon pendidik perlu dibekali tidak hanya dengan kemampuan pedagogis, tetapi juga kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, penguasaan bidang keilmuan, serta kesiapan menghadapi dinamika pembelajaran di sekolah.

    Program Studi PPG UPY menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada Surya Dwi Armada, S.Pd. atas capaian yang telah diraih. Prestasi tersebut diharapkan menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan profesionalnya sekaligus memberikan inspirasi bagi mahasiswa PPG lainnya untuk berani mengembangkan potensi dan mengikuti berbagai ruang kompetisi akademik.

    Capaian di tingkat nasional ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Surya untuk terus berkarya dan mengembangkan kompetensinya sebagai calon guru. Lebih jauh, prestasi tersebut turut memperkuat semangat PPG UPY dalam melahirkan pendidik yang profesional, adaptif, inovatif, dan berdaya saing, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.

    Selamat kepada Surya Dwi Armada, S.Pd. Semoga prestasi ini menjadi awal dari capaian-capaian berikutnya dan menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa PPG UPY untuk terus belajar, berproses, dan mengukir prestasi bersama almamater.

  • Mahasiswa Manajemen UPY Raih Runner-Up 1 dan Putri Persahabatan di Putra Putri Adikarang 2026

    Mahasiswa Manajemen UPY Raih Runner-Up 1 dan Putri Persahabatan di Putra Putri Adikarang 2026

    Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY). Anisa, mahasiswa Program Studi Manajemen UPY, berhasil meraih Runner-Up 1 sekaligus dinobatkan sebagai Putri Persahabatan dalam ajang Pemilihan Putra Putri Adikarang 2026 Tingkat Nasional.

    Ajang tersebut berlangsung pada 22 Agustus 2026 di Sleman City Hall. Pemilihan Putra Putri Adikarang merupakan kompetisi yang memadukan berbagai unsur, mulai dari fashion, modeling, budaya, kreativitas, hingga public speaking dalam satu rangkaian kegiatan.

    Mengusung semangat pengembangan potensi generasi muda, ajang ini diikuti peserta dari berbagai provinsi di Indonesia yang memiliki ketertarikan dan bakat di bidang fashion. Selain peserta, kegiatan juga melibatkan panitia dan penyelenggara, dewan juri, mentor atau narasumber, serta berbagai pihak yang berkecimpung dalam dunia fashion dan budaya.

    Bagi Anisa, perjalanan mengikuti Pemilihan Putra Putri Adikarang 2026 memberikan pengalaman yang jauh lebih luas daripada sekadar berkompetisi untuk meraih gelar.

    Menurut Anisa, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan sangat baik. Peserta mendapatkan berbagai pembekalan dan pengalaman, mulai dari catwalk, public speaking, hingga tahapan Grand Final.

    Setiap tahapan menjadi kesempatan untuk belajar tampil percaya diri, berkomunikasi dengan baik, serta mengenali potensi diri. Pengalaman tersebut juga mempertemukan Anisa dengan generasi muda dari berbagai daerah yang memiliki minat dan semangat yang sama dalam bidang fashion dan budaya.

    Pencapaian sebagai Runner-Up 1 sekaligus Putri Persahabatan menjadi buah dari proses tersebut. Namun bagi Anisa, gelar yang diperoleh bukanlah garis akhir.

    “Sebagai Runner-Up 1, saya berharap perjalanan ini tidak berhenti di malam Grand Final. Saya ingin terus berkontribusi mengenalkan fashion dan budaya kepada generasi muda, serta membawa nama Adikarang melalui karya dan kegiatan yang positif,” ungkap Anisa.

    Keberhasilan Anisa menjadi bagian dari potret mahasiswa UPY yang terus mengembangkan diri melalui berbagai ruang di luar perkuliahan. Dunia kompetisi memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan komunikasi, kreativitas, kepercayaan diri, sekaligus membangun jejaring dengan berbagai kalangan.

    Bagi mahasiswa Program Studi Manajemen, pengalaman tersebut juga menjadi pembelajaran berharga dalam mengembangkan kemampuan personal dan profesional. Kemampuan berkomunikasi, membangun relasi, tampil di depan publik, serta memahami nilai sebuah kreativitas merupakan kompetensi yang relevan dengan dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.

    Prestasi Anisa di tingkat nasional sekaligus membawa pesan bahwa potensi mahasiswa dapat tumbuh melalui berbagai jalur. Ketika ilmu, kreativitas, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar dipertemukan, ruang untuk berprestasi pun semakin terbuka.

    UPY mengapresiasi capaian Anisa dan berharap prestasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk berani mengeksplorasi potensi, mengikuti berbagai kegiatan positif, serta membawa nama almamater melalui karya dan prestasi.

    Selamat kepada Anisa. Terus berkarya, membawa semangat generasi muda, dan menjadikan fashion serta budaya sebagai ruang untuk menginspirasi.

  • Mahasiswa Ilmu Keolahragaan UPY Harumkan Indonesia di Ajang Dancesport Internasional Malaysia

    Mahasiswa Ilmu Keolahragaan UPY Harumkan Indonesia di Ajang Dancesport Internasional Malaysia

    Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) di panggung olahraga internasional. Shafira Lia Maharani, mahasiswa Program Studi Ilmu Keolahragaan UPY, berhasil meraih Juara 1 Pre Amateur dan Juara 2 Amateur Rising Star dalam ajang 22nd Crystal International Dancesport Championship 2026.

    Kejuaraan dancesport tingkat internasional tersebut berlangsung pada 23 Agustus 2026 di Dorsett Grand Subang, Subang Jaya, Malaysia. Ajang ini mempertemukan atlet dancesport dari berbagai negara dalam sejumlah kategori pertandingan, termasuk Latin dan Standard.

    Shafira tampil sebagai wakil Indonesia dan mampu menunjukkan performa terbaiknya di tengah persaingan dengan atlet dari berbagai negara. Prestasi tersebut menjadi pencapaian yang membanggakan, tidak hanya bagi Shafira secara pribadi, tetapi juga bagi UPY dan Indonesia di kancah internasional.

    22nd Crystal International Dancesport Championship 2026 diikuti atlet dari sejumlah negara, di antaranya Korea Selatan, Ukraina, China, Hong Kong, Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Selain atlet, kompetisi ini juga melibatkan pelatih, juri, official, serta panitia penyelenggara.

    Bertanding di lingkungan kompetisi internasional memberikan pengalaman berharga bagi para atlet untuk menguji kemampuan sekaligus beradaptasi dengan karakter dan gaya bertanding peserta dari berbagai negara.

    Bagi Shafira, pencapaian Juara 1 Pre Amateur dan Juara 2 Amateur Rising Star menjadi bukti bahwa kerja keras, konsistensi latihan, dan keberanian untuk tampil di panggung internasional dapat menghasilkan prestasi yang membanggakan.

    Keberhasilan tersebut juga memperlihatkan bahwa mahasiswa UPY memiliki ruang untuk berkembang dan berprestasi di luar lingkungan akademik. Sebagai mahasiswa Ilmu Keolahragaan, pengalaman Shafira di kompetisi internasional menjadi bagian penting dari proses pengembangan kemampuan, mental bertanding, serta wawasan dalam dunia olahraga.

    Capaian Shafira sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa UPY lainnya untuk terus mengembangkan potensi sesuai bidang masing-masing. Prestasi olahraga tidak lahir dalam satu malam, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan disiplin, ketekunan, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar.

    Keikutsertaan mahasiswa UPY dalam kompetisi internasional juga menjadi bagian dari semangat universitas dalam mendukung mahasiswa agar mampu berkembang secara akademik maupun nonakademik. Kampus menjadi ruang untuk belajar, sementara berbagai pengalaman di luar kampus menjadi kesempatan untuk menguji dan mengasah kemampuan tersebut.

    Melalui prestasi Shafira Lia Maharani, semangat tersebut kembali menemukan bentuknya, mahasiswa UPY tidak hanya belajar untuk menjadi unggul di dalam kampus, tetapi juga berani membawa nama almamater dan Indonesia ke panggung internasional.

    Selamat kepada Shafira Lia Maharani atas prestasi yang diraih. Semoga capaian ini menjadi langkah berikutnya untuk terus menorehkan prestasi dan menginspirasi lebih banyak generasi muda Indonesia melalui olahraga.

  • KKL PGSD UPY Hadirkan Pengalaman Belajar Nyata melalui Kunjungan Akademik di Surabaya dan Bali

    KKL PGSD UPY Hadirkan Pengalaman Belajar Nyata melalui Kunjungan Akademik di Surabaya dan Bali

    Pembelajaran bagi calon guru tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Untuk memperluas pengalaman akademik sekaligus mempertemukan teori dengan realitas pendidikan di lapangan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dengan mengunjungi sejumlah institusi pendidikan di Surabaya dan Bali.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa untuk mengenal secara langsung beragam praktik penyelenggaraan pendidikan, membangun wawasan akademik, serta memahami dinamika pendidikan dasar dari berbagai perspektif.

    Rangkaian KKL diawali di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui kegiatan Joint Seminar bersama Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Forum akademik tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa dan sivitas akademika UPY dan UNESA untuk saling bertukar wawasan, pengalaman, serta praktik baik dalam penyelenggaraan pendidikan sekolah dasar.

    Melalui Joint Seminar, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memperluas perspektif mengenai perkembangan pendidikan dasar, termasuk berbagai tantangan dan kebutuhan pembelajaran pada era abad ke-21. Interaksi akademik yang terbangun memberikan pengalaman kontekstual bagi mahasiswa untuk memahami bahwa praktik pendidikan dapat memiliki karakteristik dan pendekatan yang beragam sesuai dengan kebutuhan serta lingkungan masing-masing.

    Kegiatan bersama UNESA juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan kelembagaan dan jejaring akademik antara UPY dan UNESA. Hubungan tersebut diharapkan dapat terus berkembang melalui berbagai bentuk kolaborasi, baik dalam bidang akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun pengembangan kompetensi mahasiswa.

    Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan di Surabaya, rombongan KKL melanjutkan perjalanan menuju Bali. Di Pulau Dewata, mahasiswa PGSD melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah dasar (SD) untuk memperoleh gambaran secara langsung mengenai praktik penyelenggaraan pendidikan dasar di lingkungan sekolah.

    Kunjungan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengamati berbagai aspek pendidikan, mulai dari proses pembelajaran, pengelolaan lingkungan sekolah, budaya sekolah, hingga strategi guru dalam mendukung proses belajar peserta didik.

    Bagi mahasiswa PGSD, pengalaman semacam ini menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman profesional. Apa yang selama ini dipelajari melalui teori dan diskusi di bangku kuliah dapat dilihat dalam konteks nyata, sehingga mahasiswa memiliki kesempatan untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan berbagai situasi yang dihadapi satuan pendidikan.

    Perjumpaan dengan lingkungan sekolah juga mendorong mahasiswa untuk melihat pendidikan secara lebih utuh. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi pembelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem sekolah yang berhubungan dengan peserta didik, lingkungan, budaya sekolah, serta berbagai kebutuhan pendidikan lainnya.

    Selain mengunjungi sekolah dasar, rombongan KKL juga melakukan kunjungan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng. Kegiatan ini memberikan pengalaman berbeda bagi mahasiswa karena memperkenalkan penyelenggaraan pendidikan dari perspektif pengelolaan pendidikan pada tingkat pemerintahan daerah.

    Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai kebijakan, program, serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan dasar di daerah. Mahasiswa juga mendapatkan gambaran mengenai bagaimana kebijakan pendidikan diterjemahkan ke dalam program dan layanan pendidikan yang mendukung peningkatan mutu sekolah dasar.

    Pengalaman tersebut menjadi pelengkap bagi mahasiswa untuk memahami bahwa pendidikan merupakan sebuah sistem yang melibatkan berbagai unsur. Di dalamnya terdapat sekolah dan guru sebagai pelaksana pembelajaran, peserta didik sebagai pusat proses pendidikan, serta pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki peran dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas.

    Rangkaian KKL di Surabaya dan Bali tidak sekadar menjadi kegiatan kunjungan akademik. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi media pembelajaran nyata bagi mahasiswa PGSD UPY untuk mengenali keberagaman praktik pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

    Mahasiswa dapat melihat perbedaan karakteristik pengelolaan pendidikan antardaerah, mengamati inovasi yang diterapkan di sekolah, serta memahami berbagai tantangan yang muncul dalam penyelenggaraan pendidikan dasar.

    Pengalaman tersebut menjadi penting bagi calon guru sekolah dasar yang kelak akan berhadapan dengan peserta didik dengan karakteristik yang beragam. Kompetensi seorang guru tidak hanya dibangun melalui penguasaan pedagogis, tetapi juga melalui kemampuan beradaptasi, memahami lingkungan satuan pendidikan, membangun komunikasi dan jejaring, serta memiliki wawasan luas mengenai perkembangan dan kebijakan pendidikan.

    Melalui KKL ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya membawa pulang dokumentasi perjalanan, tetapi juga membawa pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik yang dapat direfleksikan kembali dalam proses pembelajaran di kampus.

    Bagi Program Studi PGSD UPY, pelaksanaan KKL menjadi bagian dari komitmen untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada batas ruang kelas. Interaksi langsung dengan perguruan tinggi, sekolah, dan lembaga pendidikan memberikan pengalaman autentik yang dapat memperkaya proses pendidikan mahasiswa.

    Kegiatan ini sekaligus memperkuat jejaring kemitraan dengan berbagai institusi pendidikan. Kolaborasi dan kunjungan akademik menjadi ruang untuk saling belajar serta membuka peluang pengembangan kerja sama yang dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi mahasiswa dan institusi.

    Dengan terlaksananya rangkaian KKL di UNESA, sekolah-sekolah dasar di Bali, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng, mahasiswa PGSD UPY diharapkan memperoleh pengalaman akademik dan profesional yang lebih komprehensif.

    Pada akhirnya, perjalanan KKL bukan sekadar berpindah tempat untuk belajar. Setiap kunjungan menjadi kesempatan untuk melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih luas, menemukan inspirasi dari praktik di lapangan, serta merefleksikan kembali peran calon guru dalam menjawab tantangan pendidikan.

    Melalui pengalaman tersebut, PGSD UPY terus berupaya mempersiapkan calon guru sekolah dasar yang profesional, adaptif, inovatif, berwawasan luas, dan siap berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar di Indonesia.

  • Hakim Agung Hadir di UPY, Mahasiswa Hukum Bisnis Dalami Praktik Kepailitan dan Penyelesaian Sengketa

    Hakim Agung Hadir di UPY, Mahasiswa Hukum Bisnis Dalami Praktik Kepailitan dan Penyelesaian Sengketa

    Belajar hukum tidak cukup hanya memahami pasal dan teori di dalam buku. Mahasiswa juga perlu melihat bagaimana hukum bekerja ketika berhadapan langsung dengan persoalan nyata. Semangat tersebut dihadirkan Program Studi Hukum Bisnis, Fakultas Bisnis dan Hukum (FBH) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) melalui kuliah umum yang menghadirkan Yang Mulia Dr. Agus Subroto, S.H., M.Kn., Hakim Agung Kamar Perdata Mahkamah Agung Republik Indonesia.

    Kuliah umum bertema “Kepailitan dan Perlindungan Hukum dalam Penyelesaian Sengketa Bisnis: Perspektif Peradilan dan Praktik Perkara di Mahkamah Agung” tersebut berlangsung di Ruang Multimedia Lantai 3 Gedung Pusat UPY, Sabtu (26/9/2026).

    Kegiatan diikuti mahasiswa Program Studi Hukum Bisnis dari angkatan 2024/2025, 2025/2026, dan 2026/2027. Hadir pula jajaran dosen Prodi Hukum Bisnis, yakni Dr. Ari Retno Purwanti, S.H., M.H., Adv. Karina Amanda Savira, S.H., M.H., Suci Damayanti, S.H., M.H., Febria Gupita, S.H., M.H., dan Vidya Devia Ardania, S.H., M.Kn., serta Admin Prodi Hukum Bisnis Elsa Nur Safitri, S.Pd. Kegiatan turut dihadiri Wakil Dekan II FBH UPY Baniady Gennody Pronosokodewo, S.E., M.Si.

    Ketua Program Studi Hukum Bisnis UPY, Adv. Dr. Sigit Handoko, S.H., M.H., C.Me., menilai kehadiran Hakim Agung Agus Subroto memberikan pengalaman akademik yang bernilai bagi mahasiswa.

    Menurutnya, perspektif langsung dari praktisi di lingkungan peradilan tertinggi dapat membantu mahasiswa memahami persoalan sengketa bisnis secara lebih utuh, terutama perkara kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

    “Mahasiswa Hukum Bisnis perlu memahami tidak hanya law in books, tetapi juga law in action, atau bagaimana hukum bekerja dalam praktik penyelesaian sengketa bisnis,” ujar Sigit.

    Ia menjelaskan, persoalan kepailitan tidak semata-mata berkaitan dengan penerapan aturan. Di dalamnya terdapat berbagai kepentingan yang saling berhadapan, mulai dari hubungan debitor dan kreditor, perlindungan hukum, keberlangsungan usaha, hingga proses pertimbangan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara.

    Dalam paparannya, Dr. Agus Subroto, S.H., M.Kn. mengajak mahasiswa memahami kepailitan dari perspektif praktik peradilan. Kepailitan pada prinsipnya merupakan sita umum terhadap kekayaan debitor yang telah dinyatakan pailit. Pengurusan dan pemberesan harta tersebut dilakukan oleh kurator dengan pengawasan Hakim Pengawas.

    Kepailitan menjadi salah satu mekanisme hukum dalam penyelesaian persoalan utang-piutang dalam hubungan bisnis antara debitor dan kreditor.

    Dalam konteks pengajuan permohonan pernyataan pailit, terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Di antaranya, debitor memiliki sedikitnya dua kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo serta dapat ditagih.

    Hakim Agung Agus Subroto juga menjelaskan mengenai prinsip pembuktian sederhana dalam perkara kepailitan. Prinsip tersebut berkaitan dengan pembuktian bahwa persyaratan kepailitan telah terpenuhi berdasarkan fakta atau keadaan yang dapat dibuktikan secara sederhana.

    Pembahasan kemudian berlanjut pada perbedaan peran antara Hakim Pemutus dan Hakim Pengawas. Hakim Pemutus berwenang memeriksa dan memutus perkara permohonan pernyataan pailit maupun PKPU, termasuk sejumlah perkara yang berkaitan dengan proses kepailitan.

    Sementara itu, Hakim Pengawas memiliki tugas mengawasi proses pengurusan dan pemberesan harta pailit. Dalam persoalan tertentu yang berkaitan dengan pengurusan dan pemberesan tersebut, pengadilan perlu mendengarkan pendapat Hakim Pengawas sebelum mengambil keputusan.

    Salah satu pembahasan yang menarik perhatian mahasiswa adalah mengenai peran kurator. Dalam proses kepailitan, kurator memiliki tanggung jawab melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Dalam kondisi tertentu, kegiatan usaha perusahaan yang telah dinyatakan pailit masih dimungkinkan untuk dilanjutkan dengan izin Hakim Pengawas. Langkah tersebut dapat dipertimbangkan untuk menjaga atau meningkatkan nilai harta pailit, menghindari potensi kerugian yang lebih besar, sekaligus memberikan peluang penyelesaian kewajiban kepada kreditor secara lebih optimal.

    Diskusi semakin hidup ketika mahasiswa mengajukan pertanyaan mengenai praktik kepailitan dan profesi kurator. Salah satu hal yang dibahas adalah persyaratan menjadi kurator, yang membutuhkan keahlian khusus dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit serta pemenuhan persyaratan sesuai peraturan perundang-undangan.

    Berdasarkan ketentuan Pasal 70 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, kurator perseorangan antara lain harus berdomisili di Indonesia, memiliki keahlian khusus yang diperlukan dalam pengurusan dan/atau pemberesan harta pailit, serta terdaftar pada kementerian yang memiliki tugas dan tanggung jawab di bidang hukum dan peraturan perundang-undangan.

    Kuliah umum tersebut menjadi ruang belajar yang mempertemukan teori akademik dengan pengalaman nyata dari dunia peradilan. Bagi mahasiswa Hukum Bisnis UPY, kesempatan berdialog langsung dengan Hakim Agung memberikan perspektif yang lebih dekat mengenai bagaimana hukum diterapkan dalam perkara bisnis.

    Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen Program Studi Hukum Bisnis UPY untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia profesional. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memahami aturan secara normatif, tetapi juga dilatih membaca persoalan hukum secara kritis, kontekstual, dan solutif.

    Melalui pengalaman belajar semacam ini, UPY terus mendorong mahasiswa agar memiliki bekal keilmuan sekaligus kesiapan menghadapi kompleksitas dunia hukum bisnis—karena menjadi insan hukum yang profesional bukan hanya tentang menguasai hukum, tetapi juga memahami bagaimana hukum memberi perlindungan, menghadirkan keadilan, dan bekerja di tengah kehidupan nyata.

  • Hari Batik Nasional 2026: Merawat Warisan, Merangkai Identitas, Menghidupkan Kreativitas Generasi Muda

    Hari Batik Nasional 2026: Merawat Warisan, Merangkai Identitas, Menghidupkan Kreativitas Generasi Muda

    Ada sesuatu yang istimewa dari batik. Ia bukan sekadar kain bermotif yang dikenakan pada hari tertentu. Di balik setiap garis, titik, warna, dan pola, tersimpan cerita tentang tradisi, kreativitas, lingkungan, kehidupan sosial, hingga perjalanan budaya masyarakat Indonesia.

    Setiap tanggal 2 Oktober, Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Momentum ini menjadi kesempatan untuk kembali mengenali, menghargai, dan merawat batik sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

    Pengakuan dunia terhadap batik Indonesia semakin menegaskan nilai tersebut. Pada 2009, UNESCO memasukkan Indonesian Batik ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. UNESCO mencatat bahwa teknik, simbolisme, dan budaya yang menyertai batik telah melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia serta menjadi bagian dari identitas dan keberlanjutan budaya.

    Batik sering kali kita kenali dari motifnya. Ada parang, kawung, sidoasih, mega mendung, truntum, dan begitu banyak ragam motif yang berkembang di berbagai daerah Indonesia.

    Namun, batik tidak berhenti pada keindahan visual.

    Proses pembuatannya juga menyimpan pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan lintas generasi. Teknik menggunakan malam untuk membentuk pola, proses pewarnaan, hingga pemaknaan motif menunjukkan bahwa batik merupakan perpaduan antara keterampilan, kesabaran, kreativitas, dan pengetahuan budaya.

    UNESCO mencatat bahwa keberagaman motif batik Indonesia juga dipengaruhi oleh berbagai interaksi budaya sepanjang sejarah. Batik kemudian berkembang menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia dengan simbol dan makna yang beragam.

    Karena itu, mengenakan batik sebenarnya juga menjadi salah satu cara sederhana untuk membawa cerita budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

    Warisan budaya tidak akan bertahan hanya karena pernah diakui dunia. Ia akan tetap hidup ketika terus dipelajari, digunakan, dikembangkan, dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.

    Di sinilah generasi muda memiliki peran penting.

    Mahasiswa, misalnya, dapat mengenal batik bukan hanya ketika ada aturan mengenakan pakaian batik di kampus atau tempat kerja. Batik dapat dipahami lebih jauh sebagai bagian dari identitas budaya yang bisa dikembangkan melalui berbagai bidang—desain, teknologi, kewirausahaan, komunikasi, pendidikan, pariwisata, hingga industri kreatif.

    Batik juga tidak harus selalu tampil dalam bentuk yang sama seperti masa lalu. Kreativitas generasi muda justru dapat menjadi bagian dari perjalanan batik untuk terus berkembang, selama pengembangannya tetap menghargai nilai, pengetahuan, dan tradisi yang menyertainya.

    UNESCO sendiri mencatat bahwa batik terus mengalami perkembangan tanpa kehilangan makna tradisionalnya. Bahkan, pendidikan dan pelatihan batik bagi generasi muda tercatat sebagai salah satu praktik pelestarian yang berkaitan dengan warisan budaya tersebut.

    Perguruan tinggi memiliki ruang yang luas untuk ikut menjaga keberlanjutan budaya. Kampus bukan hanya tempat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga ruang untuk mempertemukan pengetahuan modern dengan nilai-nilai budaya.

    Di lingkungan Universitas PGRI Yogyakarta, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai aktivitas akademik dan nonakademik. Mahasiswa dapat belajar mengenali budaya lokal, melakukan riset tentang batik, mengembangkan inovasi berbasis budaya, mempromosikan produk kreatif daerah, maupun memperkenalkan batik melalui media digital.

    Dengan cara tersebut, pelestarian budaya tidak harus selalu hadir dalam bentuk kegiatan yang formal.

    Kadang, sesederhana memilih mengenakan batik dengan bangga, memahami motif yang dikenakan, membeli produk dari perajin lokal, atau memperkenalkan cerita di balik sebuah motif melalui media sosial, sudah menjadi bagian dari upaya menjaga agar budaya tetap hidup.

    Hari Batik Nasional juga menjadi pengingat bahwa mencintai budaya bukan berarti menjadikannya sesuatu yang berhenti di masa lalu.

    Budaya dapat terus bergerak bersama zaman.

    Batik dapat hadir di ruang kelas, kantor, forum internasional, panggung kreativitas mahasiswa, hingga ruang digital. Batik dapat dikenakan dengan gaya yang sederhana, formal, modern, maupun kreatif. Yang terpenting, ada kesadaran bahwa di balik selembar kain terdapat proses panjang dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

    Bagi generasi muda, menjaga batik berarti ikut memastikan bahwa warisan tersebut tetap memiliki tempat dalam kehidupan masa kini dan masa depan.

    Sebab, warisan budaya bukan hanya sesuatu yang kita terima dari generasi sebelumnya. Ia juga merupakan sesuatu yang nantinya akan kita teruskan kepada generasi berikutnya.

    Hari Batik Nasional 2026 menjadi momentum untuk kembali melihat batik dengan perspektif yang lebih luas. Bukan hanya sebagai pakaian, melainkan sebagai bagian dari identitas, kreativitas, pengetahuan, dan cerita panjang masyarakat Indonesia.

    Dari tangan para perajin hingga dikenakan oleh generasi muda di ruang-ruang modern, batik menunjukkan bahwa tradisi dan kreativitas dapat berjalan berdampingan.

    Karena itu, mari terus mengenal, menggunakan, menghargai, dan mengembangkan batik dengan cara kita masing-masing.

    Selamat Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2026.

    Mari mengenakan batik dengan bangga, memahami maknanya dengan bijak, dan meneruskan warisannya dengan kreativitas.