Pendidikan Sejarah UPY Ajak Generasi Muda Membaca Geopolitik dan Masa Depan Indonesia

Written by

in

Memahami masa depan bangsa tidak cukup hanya dengan melihat apa yang sedang terjadi hari ini. Sejarah memberikan pelajaran dari masa lalu, sementara geopolitik membantu membaca perubahan dunia dan posisi Indonesia di dalamnya.

Semangat tersebut menjadi landasan Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) bersama Lembaga Strategi Inteligensia Indonesia dalam menyelenggarakan Seminar Kebangsaan bertema “Tantangan Geopolitik dan Peluang Masa Depan Indonesia: dalam Perspektif Sejarah dan Pendidikan”, Selasa (14/7/2026), di Auditorium Universitas PGRI Yogyakarta.

Seminar menjadi ruang akademik untuk mempertemukan perspektif sejarah, pendidikan, geopolitik, dan intelijen dalam membaca dinamika dunia yang semakin kompleks. Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga strategis dalam memperkuat wawasan kebangsaan serta menumbuhkan cara pandang yang kritis dan visioner.

Kegiatan diikuti mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah dan berbagai program studi di lingkungan UPY, dosen, tenaga kependidikan, guru sejarah dan IPS di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap sejarah dan isu-isu strategis kebangsaan. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa pembahasan mengenai sejarah dan geopolitik tidak hanya relevan di ruang akademik, tetapi juga dekat dengan kehidupan masyarakat.

Di tengah persaingan kekuatan besar, dinamika kawasan Indo-Pasifik, disrupsi teknologi, hingga perubahan rantai pasok dan energi, Indonesia menghadapi tantangan yang menuntut ketahanan serta strategi adaptif. Kondisi tersebut membuat kemampuan membaca perubahan global menjadi semakin penting, khususnya bagi generasi muda.

Seminar menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang keilmuan yang beragam.

Dr. Stepi Anriani, S.IP., M.Si. dari Universitas Indonesia membahas lanskap geopolitik global dan posisi strategis Indonesia dalam menghadapi berbagai perubahan menuju Indonesia Emas 2045.

Perspektif sosial politik kemudian disampaikan Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag. dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia mengangkat dinamika sosial politik dan berbagai tantangan kebangsaan yang muncul di tengah perubahan global.

Sementara itu, Dr. Muhammad Iqbal Birsyada, M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UPY membawa peserta melihat kembali sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, seperti Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram, untuk menemukan pelajaran strategis yang masih relevan dalam membaca masa depan Indonesia.

Pendekatan historis tersebut menjadi salah satu bagian menarik dalam seminar. Sejarah tidak ditempatkan sekadar sebagai catatan masa lalu, tetapi sebagai sumber pembelajaran untuk memahami pentingnya persatuan, visi maritim, diplomasi, serta kewaspadaan terhadap konflik internal.

Melalui perspektif tersebut, pendidikan sejarah memiliki peran yang semakin penting. Mahasiswa dan generasi muda tidak hanya diajak untuk mengetahui apa yang terjadi di masa lalu, tetapi juga belajar memahami mengapa sesuatu terjadi dan bagaimana pengalaman tersebut dapat menjadi bekal dalam mengambil keputusan untuk masa depan.

Seminar Kebangsaan ini diharapkan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada peserta mengenai perkembangan geopolitik global dan implikasinya terhadap kepentingan nasional Indonesia. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang refleksi untuk menggali nilai-nilai strategis dari perjalanan sejarah bangsa sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

Kolaborasi antara Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UPY dan Lembaga Strategi Inteligensia Indonesia juga membuka peluang pengembangan kerja sama yang lebih luas dalam bidang akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Bagi UPY, forum seperti ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan tinggi yang tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga mendorong mereka untuk peka terhadap perubahan, mampu berpikir kritis, memahami sejarah, serta memiliki wawasan kebangsaan yang kuat.

Sebab, menyiapkan Indonesia menuju 2045 bukan hanya tentang membayangkan masa depan, tetapi juga tentang belajar dari perjalanan bangsa, membaca perubahan zaman, dan menyiapkan generasi yang mampu mengambil peran di dalamnya.