
Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali mengadakan kuliah tamu yang mengangkat tema menarik tentang kebudayaan prasejarah Indonesia. Kali ini, tema yang diangkat adalah “Kebudayaan Pacitanian: Menggali Jejak Prasejarah di Kabupaten Pacitan,” yang diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom. Kuliah tamu ini dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, dosen, dan peserta lain dari berbagai latar belakang yang tertarik untuk mendalami lebih dalam mengenai sejarah prasejarah Indonesia.
Acara ini dibuka oleh Wakil Dekan 1 FKIP UPY, Bapak Darsono, M.Pd., yang dalam sambutannya menyampaikan pentingnya pemahaman mengenai kebudayaan prasejarah, terutama dalam konteks budaya Pacitanian. Bapak Darsono menekankan bahwa memahami kebudayaan lokal, seperti Pacitanian, adalah kunci untuk memperluas wawasan mahasiswa terhadap sejarah Indonesia yang kaya akan nilai-nilai sejarah. “Pemahaman mendalam tentang budaya lokal seperti Pacitanian akan memberikan perspektif baru dalam mempelajari sejarah Indonesia,” ungkapnya.
Kuliah tamu ini menghadirkan narasumber Ibu Sri Dwi Ratna, S.Sos., M.Hum., dosen Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Pacitan, yang memaparkan tentang kebudayaan Pacitanian, salah satu jejak tertua prasejarah Indonesia. Dalam paparannya, Ibu Ratna menjelaskan bahwa Kabupaten Pacitan merupakan salah satu pusat peradaban prasejarah penting di Indonesia, dengan situs-situs arkeologi seperti Gua Song Terus dan Gua Tabuhan yang menyimpan alat-alat batu sebagai peninggalan manusia purba. “Pacitan telah menjadi saksi bisu dari jejak peradaban manusia purba di Indonesia, khususnya melalui alat-alat batu yang ditemukan di gua-gua Pacitan,” tambah Ibu Ratna.
Di sesi diskusi, Ibu Ratna juga menekankan pentingnya peran serta generasi muda, terutama mahasiswa sejarah, dalam melestarikan dan mempromosikan kebudayaan prasejarah ini. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat membangkitkan semangat mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pelestarian sejarah dan kebudayaan Indonesia. “Pelestarian budaya bukan hanya tugas para ahli, tetapi juga tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa yang mencintai sejarah dan kebudayaan,” tutup Ibu Ratna.
Kuliah tamu ini disambut dengan antusias oleh para peserta, terutama mahasiswa, yang aktif berdiskusi dan mengajukan berbagai pertanyaan terkait kebudayaan Pacitanian. Beberapa peserta tertarik untuk mengetahui bagaimana kebudayaan Pacitanian mempengaruhi perkembangan peradaban Nusantara selanjutnya. Menanggapi hal ini, Ibu Ratna menjelaskan bahwa meskipun kebudayaan Pacitanian berakhir ribuan tahun lalu, peninggalannya tetap memberikan kontribusi signifikan bagi pemahaman sejarah Indonesia.
Dengan diadakannya kuliah tamu ini, diharapkan mahasiswa semakin terinspirasi untuk memperdalam wawasan tentang kebudayaan prasejarah Indonesia, khususnya kebudayaan Pacitanian yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat komitmen Program Studi Pendidikan Sejarah UPY dalam menyelenggarakan program akademis yang berwawasan lokal namun tetap relevan dalam konteks global.