
Prosa Teknologi Hasil Pertanian itu cukup komplek namun kebanyakan salah menafsirkan, THP (Teknologi Hasil Pertanian) selama ini hanya soal menanam dan tata boga, padahal berbeda. Nah, inilah yang menarik karena di THP mempunyai 2 cabang obyek yaitu pangan nabati(umbi-umbian, sayur-sayuran, bauh-buahan dan pangan hewani (peternakan, perikanan air laut maupun tawar), kata Suharman, S.TP.,M.Sc (Dosen Teknologi Hasil Pertanian UPY)
Terkait krisis pangan atau ketersediaan pangan apalagi di era pandemi ini memang sangat berpengaruh dan Indonesia adalah negara yang tidak pernah lepas dari impor. Kalau diklasifikasikan untuk kebutuhan pokok pun seperti beras di Indonesia pun masih kurang, nah ini kemudian yang dikawatirkan pemerintah kalau misal stok pangan nasional tidak mencukupi akan terjadi krisis, inilah kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk menerapkan diversifikasi pangan lokal. Apalagi pangan lokal di Indonesia begitu beragam. Nah di era pandemi ini sebenarnya momentum kita untuk bagaimana menghasilkan produk-produk unggulan yang basisnya dari hasil pertanian lokal kita selain beras, semisal umbi-umbian, jagung, singkong, dll.
Dengan begitu ini juga bagus untuk merubah stigma atau pola pikir masyarakat indonesia tentang makan yang tidak harus pakai nasi, namun banyak pula kreasi-kreasi pangan lokal dari umbi-umbian, jagung, singkong, dll. Saat ini sudah banyak didaerah-daerah yang membuat kreasi-kreasi pangan lokal namun sepertinya belum ada pengolahan yang maksimal, kebanyakan saat ini masih sebatas di rebus dan di goreng. Padahal kita masih bisa berkreasi maupun berinovasi bagaimana dari singkong tersebut di olah menjadi tepung menghasilkan turunan berbagai jenis produk misalnya seperti brownies ubi jala ungu yang sangat diminati selain karena bentuknya menarik, warna yang menarik dan rasanya juga tidak kalah dengan beras atau tepung terigu. Belum lama kemarin dari THP UPY melakukan pengabdian di daerah Bantul dimana dilokasi tersebut potensi singkongnya cukup besar dan bersama dengan warga dusun Sanan memaksimalkan pengolahan singkong.
Untuk produk makanan dari singkong, Prosa THP UPY membuat sebuah produk frozen singkong bernama Telasa yaitu perpaduan dari Tela, Singkong dan Sanan. Sanan adalah nama dusun di daerah Bantul. “Jadi sebenarnya kita ingin menampilkan ciri khas yang ada didaerah tesebut dan bisa menjadi identitas produk dari daerah Sanan juga bisa menjadi produk oleh-oleh yang berciri khas dan kita menambah rempah-rempah pilihan yang menjadikan keunikan produk ini untuk menjadikan produk ini beda dari frozen singkong yang lain.”jelas Suharman.
Suharman Mengatakan selain makanan, Dosen-dosen Prosa THP UPY juga mengembangkan produk minuman bernama Redjo sebuah teh rempah celup yang saat ini juga sudah diproduksi dan dikembangkan bersama kelompok ibu-ibu PKK binaan THP UPY di Bawuran, Tegalrejo, Bantul. Bahan utama dari teh rempah tersebut adalah telang atau semacam kembang bunga dan di tambah serai kemudian jahe sehingga dari ketiga komposisi tersebut menghasilkan produk yang sangat pas dan tentunya berkasiat banyak pun menyehatkan bagi tubuh kita.
Teknologi Hasil Pertanian UPY basicnya sebenarnya adalah lebih ke produksi, dan juga kemasan atau packaging bagaiman kita mendesain kemasan lebih menarik untuk di minati konsumen jadi bukan hanya dari segi rasa dan kualitas produk yang kita tampilkan, namun kita juga mempelajari bagaimana packagingnya sehingga menjadi menarik bagi konsumen. Maka dari itulah kita berusaha menghasilkan produk-produk unggulan dari pangan lokal,“jelas Suharman.
baca juga: http://upy.ac.id/berita/upy-dan-stim-ykpn-kerja-sama-tingkatkan-kualitas-dosen