
Memasuki pertengahan bulan Ramadan, dinamika kehidupan mahasiswa biasanya mulai berubah. Jika pada pekan pertama fokus utama masih berkutat pada adaptasi jadwal kuliah, sahur, dan tugas yang menumpuk, maka pada pekan kedua hingga ketiga muncul satu fenomena yang hampir selalu hadir setiap tahun: undangan buka bersama atau yang populer disebut “buber.”
Bagi mahasiswa, buber bukan sekadar acara makan setelah seharian berpuasa. Ia telah berkembang menjadi ruang sosial yang mempertemukan kembali berbagai relasi—mulai dari teman sekelas, organisasi kampus, alumni sekolah, hingga kelompok pertemanan lama yang jarang bertemu. Tidak jarang, dalam satu minggu seorang mahasiswa bisa menerima lebih dari satu undangan buber dari kelompok yang berbeda.
Fenomena ini sejalan dengan tradisi sosial masyarakat Indonesia selama Ramadan. Dalam berbagai kajian sosial budaya, Ramadan dikenal sebagai momentum yang memperkuat hubungan sosial dan silaturahmi. Kegiatan berbuka bersama menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mempertemukan kembali orang-orang yang sebelumnya disibukkan oleh rutinitas masing-masing.
Bagi mahasiswa, momentum ini memiliki cerita tersendiri. Grup percakapan yang biasanya sepi tiba-tiba menjadi ramai. Pesan yang muncul pun hampir selalu diawali dengan kalimat yang serupa: “Gimana kalau kita buber?” atau “Udah lama nggak ketemu, kapan kumpul?”
Menariknya, proses menentukan waktu dan tempat buber kadang jauh lebih panjang daripada acara itu sendiri. Diskusi bisa berlangsung berhari-hari hanya untuk menentukan tanggal yang cocok bagi semua orang. Ada yang masih kuliah, ada yang sedang pulang kampung, ada pula yang sedang menjalani magang. Hasil akhirnya sering kali cukup realistis: tidak semua bisa hadir, tetapi acara tetap berjalan.
Selain menjadi ajang silaturahmi, buber juga menjadi momen nostalgia. Percakapan biasanya dipenuhi cerita masa lalu, kenangan kuliah, hingga candaan tentang tugas kelompok yang dulu terasa berat tetapi kini justru dikenang dengan tawa. Dalam suasana santai menjelang berbuka, cerita-cerita lama itu seolah kembali hidup.
Namun, ada satu “tantangan klasik” yang hampir selalu dialami mahasiswa saat buber: menahan diri dari lapar mata. Saat menu makanan tersaji di meja atau di etalase restoran, pilihan yang awalnya hanya ingin satu porsi sering kali berubah menjadi dua atau tiga jenis makanan. Tidak sedikit mahasiswa yang kemudian bercanda bahwa puasa sebenarnya melatih kesabaran—terutama kesabaran untuk tidak memesan semua menu sekaligus.
Meski begitu, di balik candaan ringan tersebut, tradisi buber tetap memiliki makna yang lebih dalam. Ia menjadi simbol bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang memperkuat hubungan sosial dan kebersamaan. Bagi mahasiswa yang sehari-harinya disibukkan dengan jadwal akademik, momen ini menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan kembali terhubung dengan teman-teman.
Dengan kata lain, ketika Ramadan memasuki pertengahan bulan, kehidupan mahasiswa tidak hanya diwarnai oleh tugas kuliah dan ibadah puasa, tetapi juga oleh agenda silaturahmi yang semakin padat—kadang bahkan lebih padat dari jadwal kelas.