Sekolah Cagar Budaya HMPS Pendidikan Sejarah UPY: Belajar Melestarikan Warisan Bangsa dari Situs Dawangsari

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi sejarah sekaligus menumbuhkan kesadaran pelestarian budaya di kalangan generasi muda. Melalui kegiatan bertajuk Sekolah Cagar Budaya, mahasiswa diajak untuk belajar langsung mengenai pentingnya konservasi warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa.

Kegiatan yang diselenggarakan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X tersebut berlangsung pada Senin, 20 April 2026, di Situs Dawangsari, salah satu kawasan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah penting di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Diinisiasi oleh Divisi Literasi, Sejarah, dan Humaniora (LSH) HMPS Pendidikan Sejarah UPY, kegiatan ini mengangkat tema “Pembelajaran Konservasi Cagar Budaya”. Tema tersebut dipilih untuk memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif melalui interaksi langsung dengan situs bersejarah dan para praktisi pelestarian budaya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran cagar budaya sebagai sumber pembelajaran sejarah sekaligus warisan yang harus dijaga keberlangsungannya. Peserta diajak memahami berbagai aspek konservasi, mulai dari pengenalan nilai penting situs, teknik dasar pelestarian, hingga strategi perlindungan cagar budaya yang berkelanjutan.

Suasana pembelajaran berlangsung dinamis karena mahasiswa tidak hanya mendengarkan pemaparan materi, tetapi juga terlibat dalam diskusi dan observasi lapangan. Pendampingan langsung dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X memberikan kesempatan bagi peserta untuk memahami tantangan dan praktik nyata dalam pengelolaan serta perlindungan cagar budaya.

Sebagai bentuk implementasi nilai-nilai konservasi, kegiatan ini juga diisi dengan aksi penanaman bibit pohon di kawasan Situs Dawangsari. Kegiatan tersebut menjadi simbol sekaligus tindakan nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di sekitar situs bersejarah.

Penanaman pohon dipandang sebagai bagian penting dari upaya pelestarian yang holistik. Sebab, menjaga warisan budaya tidak hanya berkaitan dengan bangunan atau artefak sejarah, tetapi juga mencakup lingkungan yang menjadi bagian dari ekosistem cagar budaya itu sendiri.

Ketua HMPS Pendidikan Sejarah UPY menyampaikan bahwa Sekolah Cagar Budaya merupakan upaya untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya bangsa.

“Cagar budaya adalah sumber belajar yang sangat berharga. Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi juga menjadi tanggung jawab generasi muda sebagai pewaris sejarah bangsa,” ujarnya.

Lebih lanjut, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat kolaborasi antara mahasiswa dan lembaga pelestarian budaya. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan berbagai program edukatif yang mendukung upaya pelestarian sejarah dan budaya secara berkelanjutan.

Bagi mahasiswa Pendidikan Sejarah, pengalaman belajar di lapangan seperti ini menjadi bagian penting dalam memperkaya pemahaman akademik. Sejarah tidak hanya dipelajari melalui buku dan ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan jejak-jejak masa lalu yang masih dapat disaksikan hingga saat ini.

Melalui penyelenggaraan Sekolah Cagar Budaya, HMPS Pendidikan Sejarah UPY berharap dapat terus berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang memiliki kesadaran historis, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap pelestarian warisan budaya bangsa. Dengan memahami dan merawat peninggalan sejarah, generasi muda tidak hanya menjaga identitas bangsa, tetapi juga mewariskan nilai-nilai penting tersebut kepada generasi yang akan datang.