
Berikut informasi dan pengumuman Wisuda Periode I tahun akademik 2025/2026 (Offline 27 September 2025). Informasi Selengkapnya bisa di unduh dibawah ini


Berikut informasi dan pengumuman Wisuda Periode I tahun akademik 2025/2026 (Offline 27 September 2025). Informasi Selengkapnya bisa di unduh dibawah ini


“Yang penting IPK aman dulu, baru mikir organisasi.”
“Ngapain sibuk ikut ini-itu, nanti skripsi molor!”
“Organisasi nggak bikin kenyang.”
Kalau kamu mahasiswa, pasti pernah dengar (atau bahkan berpikir) begitu. Wajar. Tapi, kalau boleh jujur—kuliah itu bukan cuma soal hafalan teori dan nilai IPK di KHS. Kampus bukan sekadar tempat duduk manis di kelas, nunggu dosen datang, terus pulang.
Mahasiswa ideal adalah mereka yang aktif. Bukan hanya di dalam kampus, tapi juga di luar kampus.
Kok bisa? Yuk kita kupas dengan gaya santai tapi tetap berbasis pengalaman dan fakta di lapangan.
Di organisasi kampus, kamu belajar hal yang nggak kamu dapat di ruang kelas:
📌 Ngatur acara, ribut sama tim, ngadepin deadline, komunikasi antarbidang, sampai nego makanan di vendor yang nggak sesuai kesepakatan.
Semua itu mungkin bikin stres, tapi justru itu latihan kerja nyata. Banyak alumni sukses bilang, pengalaman organisasi yang bikin mereka siap masuk dunia kerja. Bahkan HRD pun lebih suka CV dengan bukti “pernah aktif”, bukan cuma IPK 4.00 tapi minim pengalaman.
Pernah ikut konferensi, volunteering, lomba nasional, atau magang di luar kampus? Selamat, kamu sudah jadi mahasiswa 360 derajat!
Aktif di luar kampus bikin kamu ketemu orang-orang dari berbagai latar belakang, belajar adaptasi, dan memperluas cara pandang. Dunia ini luas, dan kampus bukan satu-satunya tempat belajar.
Lagipula, siapa tahu kamu ketemu mentor, partner bisnis, atau… jodoh? (Serius, banyak yang berawal dari kegiatan sosial atau komunitas. 🤭)
Sering disalahpahami, aktif itu bukan berarti sibuk tanpa arah. Mahasiswa aktif yang cerdas tahu mana prioritas dan mana yang bisa dilepas. Mereka belajar manajemen waktu, tahu kapan harus kerja kelompok, kapan bisa jadi panitia, dan kapan harus rehat.
Ingat: mahasiswa aktif yang sukses itu bukan yang ikut semua kegiatan, tapi yang tahu kegiatan mana yang sesuai tujuan hidup dan passion-nya.
IPK boleh jadi syarat administratif, tapi portofolio adalah senjata sebenarnya. Saat kamu lulus, perusahaan atau lembaga nggak cuma tanya: “IPK kamu berapa?”, tapi juga:
Kalau kamu aktif, semua itu bisa kamu jawab. Dan percaya deh, itu nilai plus yang sangat berarti di dunia pasca-kampus.
Percaya atau tidak, mahasiswa yang aktif lebih banyak kenangan dan pembelajaran hidupnya. Mereka lebih kenal siapa diri mereka, lebih berani ambil risiko, dan lebih siap menghadapi dunia nyata.
Capek? Iya.
Tapi hidup yang bermakna memang nggak lahir dari zona nyaman, kan?
Kamu bisa lulus dengan IPK tinggi tanpa ikut apa-apa. Tapi kamu akan bertumbuh lebih cepat kalau membuka diri terhadap berbagai kegiatan. Aktif di kelas untuk ilmu, aktif di luar untuk pengalaman.
Jadi, ayo seimbangkan. Jangan cuma jadi “penghuni tetap bangku kuliah”, tapi juga penjelajah kampus dan dunia luar. Jadilah mahasiswa yang aktif, adaptif, dan kreatif. Karena dunia kerja (dan kehidupan) butuh orang-orang yang tangguh—bukan cuma pintar di atas kertas.


Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali mencetak prestasi membanggakan di kancah nasional. Mahasiswi Program Studi Manajemen, Dyah Kingkin Utami, berhasil meraih medali emas dalam ajang Olimpiade Sains Siswa Nasional 2025 (OSSN 2025) untuk kategori Bidang Ekonomi dan Bahasa Indonesia pada jenjang perguruan tinggi.
Kompetisi yang digelar secara online pada 29 Juni 2025 ini diikuti oleh mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. OSSN 2025 merupakan ajang tahunan yang bertujuan untuk mengasah pengetahuan, keterampilan, dan daya saing mahasiswa dalam berbagai bidang keilmuan.
Melalui kerja keras dan semangat belajar yang tinggi, Dyah berhasil menunjukkan kapasitas akademiknya dan bersaing secara nasional dengan peserta-peserta terbaik dari seluruh Indonesia.
“Alhamdulillah, acara berjalan lancar. Saya sangat bersyukur atas pencapaian ini dan berharap ke depan dapat terus mengembangkan diri melalui berbagai perlombaan. Saya juga ingin memperbaiki setiap kekurangan dan memberikan yang terbaik di masa depan,” ujar Dyah.
Pencapaian ini sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa UPY memiliki daya saing tinggi di bidang akademik, serta mampu beradaptasi dan unggul dalam kompetisi nasional berbasis teknologi digital. Kampus memberikan apresiasi penuh atas prestasi Dyah dan terus mendorong mahasiswa lainnya untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai ajang ilmiah.


Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) dalam ajang olahraga nasional. Dalam 3rd Victory Nasional Open Taekwondo Championship 2025, yang digelar pada 7–9 Februari 2025 di GOR Padjajaran, Bandung, tim Taekwondo UPY sukses memborong medali dari berbagai kategori.
Kejuaraan tingkat nasional ini merupakan event tahunan yang diselenggarakan oleh Victory Bandung dan diikuti oleh ratusan atlet dari berbagai perguruan tinggi serta klub Taekwondo seluruh Indonesia. Dalam kejuaraan bergengsi ini, lima mahasiswa UPY berhasil meraih medali, sebagai berikut:
Seluruh pertandingan berlangsung kompetitif dan lancar. Partisipasi dan keberhasilan mahasiswa UPY dalam ajang ini menjadi bukti bahwa kampus tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga aktif mendukung mahasiswa dalam pengembangan prestasi non-akademik, khususnya di bidang olahraga bela diri.
“Kejuaraan ini sangat bermanfaat sebagai wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan minat, bakat, sekaligus mengasah mental kompetitif. Kami bangga atas pencapaian para atlet UPY dan berharap ke depan akan lebih banyak mahasiswa yang mengikuti jejak mereka,” ujar Dr. Septian Aji Permana, M.Pd, Wakil Rektor III UPY.
Diharapkan, kegiatan seperti ini terus digelar secara konsisten, agar mahasiswa dari seluruh Indonesia memiliki ruang untuk berkembang secara menyeluruh—baik secara fisik, mental, maupun karakter.


Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) di kancah nasional. Kali ini, Mentha Ramadhani, mahasiswa Program Studi Matematika, sukses meraih Juara 1 Nasional Olimpiade Matematika Tingkat Perguruan Tinggi Kategori Mahasiswa.
Kompetisi ini merupakan bagian dari Olimpiade Sains Tingkat Perguruan Tinggi, yang diselenggarakan secara daring pada 6 Juli 2025 dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Ajang ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan edukasi mahasiswa melalui kompetisi akademik yang menantang dan inspiratif.
Mentha berhasil mengungguli peserta lain dalam bidang Matematika, menunjukkan kapasitas intelektual yang tinggi serta dedikasi dalam mengembangkan kemampuan analitis dan logis di tingkat nasional.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas pencapaian ini. Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi wadah bagi saya dan mahasiswa lainnya untuk terus tumbuh, belajar, dan menggapai cita-cita,” ungkap Mentha usai pengumuman hasil lomba.
Pihak kampus mengapresiasi capaian tersebut dan menegaskan komitmen UPY dalam mendukung potensi mahasiswa, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik. Prestasi Mentha diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus berprestasi dan membanggakan almamater.


Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Kali ini, datang dari ranah non-akademik melalui ajang Miss Beauty Indonesia 2025, yang diselenggarakan pada 9 Juli 2025 di Palembang.
Adalah Anisa, mahasiswi Program Studi Manajemen UPY, yang berhasil meraih gelar Runner Up 4 dalam ajang pageant bergengsi yang diikuti oleh peserta dari seluruh Indonesia. Prestasi ini juga menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masuk dalam Top 5 nasional, sebuah capaian yang patut diapresiasi.
Miss Beauty Indonesia bukan sekadar ajang pencarian sosok dengan penampilan menarik, tetapi juga mencari figur perempuan muda Indonesia yang memiliki wawasan luas, kepribadian kuat, serta mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dimulai dari seleksi tingkat regional, kompetisi ini menguji berbagai aspek mulai dari public speaking, kepemimpinan, hingga kontribusi sosial.
“Alhamdulillah, acara berjalan dengan lancar tanpa kendala. Keberhasilan Anisa sebagai Runner Up 4 tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi UPY dan DIY. Kami berharap, prestasi ini dapat menginspirasi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan percaya diri menunjukkan potensi terbaiknya,” ungkap Dr. Septian Aji Permana, M.Pd, Wakil Rektor III UPY.
Partisipasi Anisa dalam ajang ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa UPY tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga memiliki kemampuan untuk bersinar di berbagai panggung nasional lainnya, termasuk dalam dunia pageant yang mengedepankan intelektualitas, kepribadian, dan keterlibatan sosial.


Skripsi. Kata yang sederhana, tapi sering kali menggetarkan hati mahasiswa semester akhir. Ia bisa menjadi kebanggaan, bisa juga jadi beban yang menumpuk di folder laptop bernama “Revisi_Final_FIX_Beneran_FIX.docx”.
Banyak mahasiswa yang awalnya penuh semangat, bertekad akan lulus cepat. Tapi di tengah jalan, semangat itu perlahan luntur—digantikan dengan kopi, galau, dan daftar revisi. Lalu sebenarnya, apa sih yang bikin skripsi bisa molor berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun?
Dari pengamatan lapangan, pengalaman pribadi, dan curhat segudang mahasiswa, berikut adalah 5 kendala utama yang sering jadi biang kerok keterlambatan skripsi. Kita bahas dengan santai, tapi tetap serius ya. 😉
Di awal semester akhir, mood biasanya sedang naik-naiknya. Laptop dibuka, outline disusun, referensi jurnal dicari dengan penuh semangat. Tapi seiring waktu, motivasi menurun seperti sinyal Wi-Fi di kamar kos.
Kalau ditanya, “Sudah sampai mana skripsinya?”
Jawaban paling umum: “Masih nyusun bab satu.”
(Padahal itu jawaban yang sama sejak dua bulan lalu.)
Fakta: Menurunnya motivasi sering terjadi karena tekanan, rasa cemas berlebihan, atau merasa sendirian dalam proses.
🟢 Tips: Bangun rutinitas menulis. Nggak harus langsung lima halaman. Cukup satu paragraf per hari. Konsistensi kecil bisa jadi lompatan besar.
“Bu, saya sudah kirim revisi ya.”
Tiga minggu kemudian…
Centang dua tetap abu-abu.
Dosen juga manusia. Mereka punya kesibukan mengajar, penelitian, administrasi, hingga bimbingan dengan puluhan mahasiswa lain. Tapi di sisi mahasiswa, keterlambatan respons bisa menggerus semangat, bahkan membuat proses terhenti di tengah jalan.
🟢 Tips: Bangun komunikasi yang sopan tapi aktif. Jangan hanya kirim naskah, tapi juga beri konteks dan pertanyaan jelas. Dan ya… hindari menghubungi saat weekend atau jam tidur.
“Kerja part-time, ikut organisasi, bantu usaha keluarga, dan bikin konten TikTok.”
Hebat! Tapi… skripsinya kapan?
Terlalu banyak aktivitas bisa membuat skripsi hanya jadi “nanti aja kalau sempat”. Tahu-tahu, semester sudah berganti dan tagihan UKT kembali datang.
🟢 Tips: Buat jadwal khusus menulis skripsi. Sisihkan 1–2 jam khusus per hari. Jangan tunggu waktu luang—luangkan waktu.
“Kalau belum bagus, aku belum mau kirim ke dosen.”
Awas, perfeksionisme bisa jadi jebakan manis. Banyak mahasiswa yang menunda karena ingin setiap kalimat sempurna. Akibatnya? Naskah nggak pernah selesai, atau takut dikoreksi dosen.
🟢 Tips: Selesaikan dulu, revisi belakangan. Skripsi bukan karya seni yang harus puitis—ia adalah proses akademik yang akan terus diperbaiki.
Takut ditolak. Takut ditanya di sidang. Takut nggak paham sendiri topiknya.
Akhirnya? Skripsi dipikirkan terus… tapi nggak disentuh.
Rasa takut ini wajar. Tapi jika dibiarkan, ia bisa mengakar jadi penundaan kronis. Akhirnya, yang molor bukan cuma skripsi, tapi juga masa depan.
🟢 Tips: Ingat, semua mahasiswa pasti melewati proses ini. Skripsi yang selesai itu lebih baik daripada skripsi yang sempurna tapi nggak pernah dikirim.
Kalau kamu sedang merasa “tersesat” di bab tiga, atau skripsi sudah lama tidak dibuka, jangan merasa sendiri. Banyak yang sedang berjuang seperti kamu. Yang membedakan adalah siapa yang mau terus melangkah meski pelan.
Skripsi bukan soal jenius. Tapi soal niat dan nyali.
Jadi… buka laptopmu. Lanjutkan satu paragraf. Karena siapa tahu, dari satu halaman itu, kamu sedang menulis awal dari akhir perjuanganmu.


Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Mahasiswa Program Studi Farmasi, Yosepvin Octavia Lintang Anggryny, berhasil meraih Medali Emas dalam bidang Bahasa Indonesia pada ajang Olimpiade Sains Siswa Nasional III untuk jenjang Umum, Mahasiswa, dan Guru.
Kompetisi ini dilaksanakan secara daring pada Minggu, 23 Februari 2025, dan terbuka untuk peserta dari kalangan umum, mahasiswa, serta guru dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada para pelajar, mahasiswa, dan pendidik yang ingin mengasah dan menguji kemampuan hasil belajar mereka melalui ajang yang kompetitif dan inspiratif.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan kondusif, serta disambut antusias oleh para peserta dari berbagai daerah. Keberhasilan Yosepvin menjadi bukti bahwa mahasiswa UPY mampu bersaing secara intelektual di tingkat nasional, tidak hanya di bidang farmasi, tetapi juga dalam kompetensi kebahasaan dan literasi.
Pihak kampus menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas pencapaian ini. “Kami berharap keberhasilan ini bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk percaya diri dengan kemampuan mereka, dan aktif mengikuti kompetisi-kompetisi serupa,” ujar Dr. Septian Aji Permana, M.Pd, Wakil Rektor III UPY.
Diharapkan Olimpiade Sains Siswa Nasional akan terus diselenggarakan secara rutin dan semakin banyak diminati oleh generasi muda Indonesia, karena menjadi wadah yang tepat untuk menyalurkan bakat, minat, serta meningkatkan rasa percaya diri dalam mengasah potensi diri.

Diumumkan kepada peserta tes EPT bulan Juli 2025 bahwa pelaksanaan EPT akan dilaksanakan secara Offline, dengan rincian jadwal sebagai berikut :
| KELOMPOK | HARI/TANGGAL | PUKUL | DOWNLOAD |
| A (1-5) | Senin, 04 Agustus 2025 | 08.00 – 15.30 WIB | Download Pengumuman Dan Daftar Kelompok |
| A (6-9) | Selasa, 05 Agustus 2025 | 08.00 – 14.00 WIB |
Lampiran : Daftar Kelompok
Kepada para peserta test EPT untuk memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
CP : 0813 2581 5705 (Admin via /Telegram/Instagram).
Link grup telegram: JOIN GROUP
Demikian pengumuman ini disampaikan untuk menjadikan perhatian sebagaimana mestinya.


Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY). Dinda Nabila Rahmadani, mahasiswa Program Studi Manajemen UPY, sukses meraih Medali Emas dalam bidang Akuntansi jenjang Perguruan Tinggi pada ajang Pekan Olimpiade Sains Nusantara 2025 (POSN 2025).
Ajang bergengsi tingkat nasional ini diselenggarakan secara daring melalui laman app.puskanas.id pada tanggal 1 Juni 2025, dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Pekan Olimpiade Sains Nusantara 2025 diadakan sebagai wadah untuk memotivasi generasi muda Indonesia dalam meningkatkan kemampuan spiritual, emosional, dan intelektual, serta mendorong mereka untuk menerapkan pengetahuan sains dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana evaluasi kemampuan akademik generasi muda secara menyeluruh.
Seluruh rangkaian acara berjalan baik dan kondusif sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh panitia. Partisipasi aktif peserta dari berbagai daerah turut menambah semarak dan kompetitifnya ajang ini.
Pihak kampus menyampaikan apresiasi tinggi atas prestasi yang diraih oleh Dinda. “Kami sangat bangga atas capaian ini. Semoga ini menjadi motivasi bagi mahasiswa UPY lainnya untuk terus berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Dr. Septian Aji Permana, M.Pd, Wakil Rektor III UPY Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama.
Diharapkan kegiatan seperti POSN dapat terus dilaksanakan secara berkala, karena tidak hanya memberikan ruang untuk berprestasi, tetapi juga memberikan kemudahan akses bagi peserta dari berbagai daerah untuk ikut serta dalam kompetisi, tanpa harus terbatas oleh jarak dan tempat.