
Berikut Daftar Calon Wisudawan/Wisudawati Universitas PGRI Yogyakarta Periode lll (offline 28 Juni 2025) Tahun Akademik 2024/2025


Berikut Daftar Calon Wisudawan/Wisudawati Universitas PGRI Yogyakarta Periode lll (offline 28 Juni 2025) Tahun Akademik 2024/2025


Yogyakarta — Untuk pertama kalinya, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Keprotokolan bagi staf protokol dan pengelola acara di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 28 Mei 2025, bertempat di Kantor LLDIKTI Wilayah V.
Acara bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan profesionalisme sumber daya manusia dalam menyelenggarakan kegiatan formal dan seremonial, yang kerap menjadi bagian penting dari kehidupan akademik dan kelembagaan perguruan tinggi.
Pungki Hemawati selaku Penanggung Jawab dan Urusan Keprotokolan Kehumasan dan Sespim LLDIKTI Wilayah V, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan Bimtek Keprotokolan ini diikuti oleh 140 peserta.terdiri dari 120 peserta berasal dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS), sedangkan 20 peserta merupakan pegawai LLDIKTI Wilayah V.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah V, Bapak Tego Sudarto, yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting dan merupakan yang pertama kali diselenggarakan oleh LLDIKTI Wilayah V.
“Kegiatan ini sangat penting dan merupakan yang pertama kali diselenggarakan oleh LLDIKTI Wilayah V. Kami berharap para peserta dapat menambah pemahaman dan kesiapan teknis dalam menghadapi dinamika keprotokolan di lapangan, sehingga pelaksanaan acara di perguruan tinggi dapat berjalan lebih tertib, profesional, dan sesuai dengan peraturan,” ujar Tego.
Dalam bimtek ini, hadir tiga narasumber dari instansi yang kompeten di bidang keprotokolan. Muhammad Irfan, S.STP dari Kementerian Dalam Negeri menyampaikan materi mengenai “Manajemen Keprotokolan dan Penjelasan Permendagri Nomor 16 Tahun 2024”. Dalam paparannya, Irfan menegaskan bahwa konsep kerja protokol harus berpijak pada tiga prinsip utama, yaitu baik, benar, dan indah. Prinsip “baik” merujuk pada pelaksanaan acara yang sesuai dengan norma dan etika; “benar” berarti pelaksanaan yang taat pada regulasi dan struktur formal; sedangkan “indah” mencerminkan aspek estetika dan keteraturan dalam penyelenggaraan acara. Ketiganya menjadi pilar utama dalam menjaga citra kelembagaan melalui tata kelola acara yang profesional.
Sesi selanjutnya diisi oleh Hijriyah Oktaviani, S.IP., M.M., selaku Kepala Humas dan Keprotokolan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia membagikan pengalaman dan praktik baik implementasi keprotokolan di lingkungan kampus, termasuk bagaimana menghadapi tantangan teknis dan menjaga konsistensi tata acara dalam berbagai kegiatan resmi berskala lokal hingga internasional.
Menutup rangkaian pemaparan, Ranni Dwi Hapsari, S.ST.Ars., MM., CNLP., CT., CPPS dari PT. Microphonia Sukses Jaya membawakan sesi pelatihan bertema “Public Speaking dan MC Profesional”. Sesi ini berlangsung secara interaktif dan aplikatif, membekali peserta dengan teknik vokal, artikulasi, penguasaan panggung, serta etika dasar sebagai pembawa acara dalam berbagai forum resmi.
Selain mendapatkan materi teoritis, para peserta juga terlibat dalam diskusi dan simulasi langsung yang memperkuat keterampilan teknis mereka dalam menangani tugas-tugas keprotokolan.
Melalui kegiatan ini, LLDIKTI Wilayah V berharap tercipta sinergi dan pemahaman bersama antar pengelola protokol di perguruan tinggi serta meningkatnya kualitas penyelenggaraan acara akademik dan non-akademik yang mencerminkan tata kelola kelembagaan yang tertib, profesional, dan berkelas.


Sebanyak tiga perguruan tinggi yakni Universitas Negeri Jakarta, Universitas PGRI Yogyakarta, dan Universitas PGRI Semarang melakukan kolaborasi menggelar kegiatan internasional community service ICS 2025 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan pengabdian masyarakat kali ini akan difokuskan pada pemberdayaan dan peningkatan kualitas UMKM di desa wukirsari Bantul.
International community service ICS 2025 pertama di Indonesia digelar di Yogyakarta pada 19 Mei 2025 di Novotel Yogyakarta Ballroom dan dimulai dengan konsorsium dan inisiasi kegiatan yang melibatkan 36 Universitas di Indonesia dan luar negeri yang mengusung multiteam. Ketua sustainable International community service konsorsium sekaligus Dekan FEB UNJ (Universitas Negeri Jakarta), Prof. Muhammad Rizan menyampaikan kegiatan ini merupakan CSR kampus untuk meningkatkan daya saing UMKM dan mendukung kemandirian ekonomi masyarakat. International Community Service memilih Yogyakarta karena Yogyakarta merupakan salah satu tujuan wisata yang memiliki budaya yang kental ia mengatakan selain peningkatan daya saing UMKM kolaborasi pengabdian bersama kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kemitraan antara industri lokal dan UMKM di berbagai negara.
“Ini tentunya akan membuka peluang karena peserta juga ada yang dari Malaysia, Australia ini bisa saja menjadi peluang mereka akan bekerjasama lebih lanjut mungkin akan membuka produk atau gerai atau UMKM wedang uwuh di Malaysia, Filipina mungkin itu multiplier effect kedepan. “ujar Prof. Rizan


Sementara itu Rektor Universitas PGRI Yogyakarta Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P mengatakan kegiatan kali ini digelar dengan fokus pada kemitraan UMKM strategis mendukung visi misi kampus untuk berkontribusi kepada masyarakat.
“Iya kebetulan dibanderol itu kan UMKM UMKM itu banyak kebetulan ini bergerak di bidang terutama adalah manajemen terkait dengan UMKM pengembangan usaha mikro dan sebagainya di daerah mungkin saat itu banyak sekali berkembang usaha-usaha kecil-kecil itu kemudian dikelola supaya usaha kecil itu menjadi besar. “jelas Prof. Paiman


International Community Service 2025 merupakan wujud komitmen nyata kolaborasi antar perguruan tinggi dalam mengembangkan sektor UMKM di Indonesia. Program ini dilaksanakan selama empat hari hingga tanggal 22 Mei 2025 di Desa Wukirsari Imogiri Bantul. Kegiatan mencakup konsultasi, pelatihan, pendampingan, dan fasilitas umum dalam mengembangkan produk, pemasaran serta manajemen usaha selain Yogyakarta kegiatan yang sekaligus akademik tour ini rencananya akan dilaksanakan ke wilayah lain seperti Bandung Medan dan Bali Bahkan tidak menutup kemungkinan akan dilaksanakan di luar negeri seperti Malaysia dan Filipina.


Berikut Pengumuman Jadwal Pengambilan Toga, Samir, & Undangan Wisuda Periode III (Offline 28 Juni 2025) tahun akademik 2024/2025


Di tengah kesibukan kuliah, riset, dan deadline proposal, mari luangkan waktu untuk merenung:
Apa yang bisa kita kurbankan demi kebaikan bersama?
Selamat Idul Adha 1446 H dari Universitas PGRI Yogyakarta.
Semoga hati kita terus dilatih untuk ikhlas, seperti Nabi Ibrahim, dan selalu peduli seperti yang diajarkan oleh agama.


Idul Adha sebentar lagi datang. Udara mulai bau rumput, warung mulai jual tusuk sate kiloan, dan grup WhatsApp masjid makin aktif, isinya mulai dari urunan kurban sampai tukang potong yang katanya “spesialis sapi rewel.”
Tapi Idul Adha bukan cuma soal daging. Ini soal niat, soal ikhlas, dan soal bagaimana kita menghadapi momen spiritual dengan logika waras dan sedikit bumbu tawa.
Di zaman medsos, semua bisa jadi konten. Termasuk kurban. Tapi inget, kurban bukan lomba siapa yang sapinya paling gede, apalagi siapa yang paling banyak unggah video before-after hewan kurban.
Jangan sampai niat kurban malah berubah jadi niat cari likes.
Kalau kamu mau update, silakan. Asal jangan posting caption begini:
“Akhirnya, tahun ini bisa kurban satu sapi utuh. Semoga kamu yang masih potong ayam, tetap semangat ya!”
Ya ampun, Mbak.
Pernah lihat ekspresi sapi waktu digiring ke lokasi penyembelihan? Antara bingung dan pasrah. Tapi ada juga yang drama, lari-lari kayak dikejar mantan, sampai satu kampung bantuin tangkap. Pahlawan lokal pun lahir: Mas-Mas RW yang berhasil nangkap kambing pake sarung basah.
Jadi jangan remehin kerja panitia kurban. Mereka bukan sekadar motong daging. Mereka juga psikolog hewan dadakan, ahli gizi daging, dan kadang… gladiator.
Kalau kamu pernah ikut bagi-bagi daging kurban, kamu tahu: ini bukan tugas ringan. Daftar penerima kadang lebih sensitif dari daftar undangan pernikahan.
“Kenapa Bu RT dapet dua plastik? Saya cuma satu!”
“Ini dagingnya lebih banyak lemak daripada isinya, loh!”
“Maaf, saya vegetarian… tapi kalau tulangnya bisa buat sop, saya ambil ya.”
Tapi di sinilah seni dari berbagi. Kadang niat baik diuji bukan dengan pekerjaan berat, tapi dengan komentar tetangga.
Idul Adha adalah satu-satunya hari di mana semua jenis daging disatukan dalam satu panci: gulai, tongseng, rendang, hingga sate bakar rasa arang. Hebatnya, ini juga satu-satunya momen di mana kolesterol dianggap “berkah.”
Tapi ingat, nikmatilah dengan bijak. Karena setelah hari raya, yang antre bukan cuma warung sate, tapi juga klinik cek darah.
Tips sehat:
Di balik semua tawa dan kehebohan, Idul Adha tetaplah tentang sebuah kisah yang menyentuh: tentang Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putranya karena perintah Tuhan. Tentang Nabi Ismail yang ikhlas menerima takdir.
Dari sana kita belajar: kurban itu bukan hanya tentang menyembelih hewan, tapi juga menyembelih ego, rasa sombong, dan cinta dunia yang berlebihan.
Mungkin kita belum bisa kurban sapi, tapi kita bisa mulai dari kurban waktu untuk orang tua, kurban ego saat minta maaf, atau kurban gengsi pas bantu di dapur.
Kurban Gak Harus Mahal, Tapi Harus Tulus
Idul Adha bukan tentang “kamu kurban apa,” tapi “apa yang kamu pelajari dari kurban itu.” Entah kamu tukang potong, tukang tusuk sate, panitia yang ngurus kupon, atau ibu-ibu dapur yang masak tanpa henti—semua punya peran.
Dan satu hal lagi, kalau kamu cuma bisa bantu bersihin masjid atau antar daging pakai motor tua, itu juga kurban, yang penting niatnya beres, hatinya tulus.
Selamat menyambut Idul Adha. Semoga tahun ini kita semua bisa kurban, entah itu kambing, waktu, tenaga, atau perasaan (yang belum dibalas).


Himpunan Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas PGRI Yogyakarta (HMP Akuntansi UPY) kembali menyelenggarakan ajang tahunan Accounting Competition yang kini memasuki tahun ketiganya. Mengusung tema “Accounting Challenge: Unlocking Financial Puzzles”, kompetisi ini bertujuan mengasah kemampuan akademik serta nalar kritis siswa-siswi tingkat SMA/SMK/MA sederajat dari berbagai daerah di Indonesia dalam bidang akuntansi.
Kompetisi yang terbagi dalam dua tahap—online dan offline—ini berlangsung dari tanggal 19 hingga 26 April 2025. Sebanyak 8 tim dari sekolah-sekolah di berbagai wilayah ambil bagian, yakni:
Babak online yang digelar pada 19 April 2025 melalui Zoom diikuti dengan antusiasme tinggi. Lima tim terbaik berhasil lolos ke babak final dan diundang ke tahap offline yang dilaksanakan secara langsung pada 26 April 2025 di Auditorium Kampus 1 Universitas PGRI Yogyakarta.
Tahapan offline kompetisi terbagi menjadi tiga babak utama:
Tiga dewan juri yang menilai jalannya babak final adalah:
Setelah penilaian intensif, tiga tim terbaik diumumkan sebagai pemenang:
Para pemenang berhak atas piala, sertifikat penghargaan, dan uang pembinaan.

“Kegiatan ini bukan hanya ajang perlombaan, tetapi juga wadah mempererat tali silaturahmi antar pelajar dari berbagai daerah sekaligus mengenalkan dunia akuntansi secara lebih mendalam dan menyenangkan,” ujar Ketua Panitia.
Dengan keberhasilan penyelenggaraan tahun ini, HMP Akuntansi UPY berharap dapat terus menginspirasi generasi muda untuk menekuni bidang akuntansi serta membentuk karakter unggul dan kompetitif di tingkat nasional.

Ujian Action Program (AP) Periode II, Juni Th 2025 secara daring/online akan dilaksanakan pada :
Pemberian Materi : 10 Juni 2025 (Via Grup Telegram)
Ujian : 12 Juni 2025 *jika ada perubahan akan diumumkan via grup telegram*
Tempat : Daring
Berikut daftar peserta & kelompok ujian Action Program Periode II 2025 :
Bagi peserta yang namanya sudah terdaftar dimohon untuk join grub WHATSAPP untuk mengikuti informasi berikutnya, untuk join silahkan klik link atau scan barcode berikut :



Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menunjukkan komitmennya dalam memajukan pendidikan dan budaya Indonesia melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional yang sukses dilaksanakan di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).
Mengusung tema “Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila: Literasi Budaya Membatik di Sekolah Indonesia Luar Negeri”, kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya membatik kepada generasi muda Indonesia di luar negeri.
Tim PKM FKIP UPY dipimpin oleh Dr. Muhardila Fauziah, S.Pd.I., M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Dasar, serta melibatkan dosen dari lima program studi kependidikan, yaitu:
Kegiatan juga melibatkan mahasiswa dari masing-masing program studi, memperkaya pengalaman lintas budaya dan kolaborasi internasional.


Selama pelaksanaan, para siswa SD serta guru di SIKL diajak secara aktif terlibat dalam praktik membatik, mulai dari menggambar pola, mencanting malam, hingga pewarnaan. Di sesi pertama yang digelar pada Oktober 2024, peserta dikenalkan dengan filosofi batik dan motif khas Kraton Yogyakarta, serta menerima buku saku batik sebagai panduan pembelajaran.
Sebagai puncak kegiatan, Dr. Muhardila Fauziah secara simbolis menyerahkan alat-alat membatik dan inovasi teknologi batik kepada perwakilan SIKL. Bantuan tersebut mencakup alat cap batik ergonomis dan perangkat lunak desain motif digital guna mendukung pembelajaran seni budaya secara berkelanjutan di lingkungan SIKL.
Perwakilan SIKL, Bapak Budi, selaku Humas, menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi FKIP UPY. “Kami sangat terbantu dengan adanya program ini. Semoga dapat terus meningkatkan kualitas pembelajaran seni budaya di sekolah kami,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata dedikasi FKIP UPY dalam mendukung penguatan karakter dan identitas kebudayaan bangsa, khususnya di kalangan pelajar Indonesia di luar negeri.


Dalam upaya mempercepat digitalisasi sistem pendidikan, kebijakan baru terkait penomoran ijazah dan sertifikat profesi kini menjadi topik hangat yang banyak dibicarakan di kalangan perguruan tinggi. Kebijakan ini lebih dari sekadar perubahan administratif—ini adalah langkah besar untuk memastikan sistem pendidikan tinggi di Indonesia lebih transparan, efisien, dan berstandar internasional. Untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V (LLDIKTI Wilayah V) menggelar sosialisasi tentang Penomoran Ijazah dan Sertifikat Profesi Nasional (PISN) serta Permendikbudristek Nomor 50 Tahun 2024.
Acara yang berlangsung pada 22 Mei 2025 ini dibuka oleh Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono M.M., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya seluruh perguruan tinggi untuk memahami dengan baik kebijakan baru ini agar tidak ada kesalahan administratif di masa depan.
“Perubahan besar dalam kebijakan pendidikan tinggi ini menuntut kita semua untuk siap beradaptasi, terutama terkait dengan penomoran ijazah dan sertifikat profesi yang kini semakin terintegrasi secara digital. Kami berharap semua perguruan tinggi bisa segera menyesuaikan data dan prosedur mereka dengan regulasi yang baru, agar pelaksanaan ke depan lebih lancar,” ungkap Prof. Setyabudi.
Sosialisasi ini menghadirkan sejumlah narasumber yang ahli di bidangnya, di antaranya:
Salah satu hal penting yang dibahas dalam sosialisasi ini adalah ijazah elektronik. Saat ini, meski penggunaan tanda tangan elektronik sudah mulai berlaku, bentuk lengkap ijazah digital (e-ijazah) masih dalam pengembangan dan akan diatur lebih lanjut dalam regulasi mendatang. Permendikbudristek Nomor 50 Tahun 2024 sendiri masih dalam tahap revisi untuk menyempurnakan berbagai aspek yang dirasa perlu diperbaiki.
Tak hanya itu, LLDIKTI juga menjelaskan bahwa sistem PISN kini dilengkapi dengan validator khusus untuk program studi kesehatan seperti kedokteran dan kedokteran gigi, untuk memastikan bahwa masa studi mahasiswa sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Kedokteran (SNDikDok). Ini tentu menjadi kabar baik bagi perguruan tinggi yang ingin memastikan ijazah yang diterbitkan sesuai dengan standar yang berlaku.
Selain membahas tantangan teknis, para peserta juga diberi kesempatan untuk bertanya langsung kepada narasumber terkait masalah yang mereka hadapi di institusi masing-masing. Banyak pertanyaan seputar masalah eligibilitas mahasiswa, masa studi yang tidak terbaca, hingga status akreditasi yang tidak sinkron yang menjadi isu di berbagai perguruan tinggi.
Satu hal yang juga ditekankan adalah pentingnya Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Seiring dengan perubahan ini, SKPI kini wajib dilampirkan bersama ijazah, yang memberikan gambaran lebih lengkap tentang capaian pembelajaran mahasiswa selama masa studi.
Dari kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai prosedur penomoran ijazah, PISN, serta ijazah elektronik. Semua arahan yang diberikan diharapkan dapat membantu perguruan tinggi dalam menghadapi perubahan ini dengan lebih siap, sekaligus mewujudkan pendidikan tinggi yang lebih akuntabel, transparan, dan sesuai dengan standar internasional.