Segenap pimpinan dan sivitas akademika Universitas PGRI Yogyakarta memperingati Jumat Agung, yang jatuh pada 3 April 2026, sebagai momen sakral bagi umat Kristiani untuk mengenang pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
Jumat Agung menjadi waktu yang penuh makna untuk melakukan refleksi diri, memperdalam iman, serta menumbuhkan nilai-nilai kasih, pengorbanan, dan pengampunan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui peringatan ini, diharapkan seluruh sivitas akademika dapat mengambil hikmah dari nilai-nilai keteladanan tersebut, serta terus memperkuat semangat kebersamaan, toleransi, dan saling menghargai dalam keberagaman.
Semoga damai dan kasih senantiasa menyertai langkah kita semua dalam membangun kehidupan yang harmonis dan penuh keberkahan.
Libur Lebaran selalu terasa seperti jeda yang terlalu singkat namun sangat bermakna. Setelah menikmati waktu bersama keluarga, hidangan khas yang melimpah, serta suasana hangat penuh kebersamaan, kini saatnya kembali ke rutinitas kuliah, organisasi, tugas, dan berbagai aktivitas lainnya.
Bagi mahasiswa, fase kembali beraktivitas setelah libur Lebaran bukan sekadar soal hadir di kelas, tetapi juga tentang mengembalikan ritme hidup yang sempat berubah selama liburan.
📊 Fenomena Pasca Libur: Adaptasi Itu Nyata
Secara psikologis, banyak orang mengalami kondisi yang dikenal sebagai post-holiday blues, yaitu perasaan kurang bersemangat atau sulit kembali fokus setelah masa liburan berakhir. Hal ini terjadi karena adanya perubahan ritme dari suasana santai ke aktivitas yang lebih terstruktur.
Selama libur Lebaran, pola hidup cenderung berubah:
Jam tidur lebih larut (terutama setelah silaturahmi atau nonton film sampai sahur… eh, sampai tengah malam)
Pola makan lebih “meriah”
Aktivitas lebih fleksibel tanpa tekanan jadwal
Ketika kembali ke kampus, tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali.
⏰ Dari Ketupat ke Deadline: Mengatur Ulang Ritme Harian
Hari pertama kembali ke aktivitas biasanya terasa “berat di awal”. Alarm pagi yang dulu biasa saja, kini terasa seperti ujian mental. Kalender akademik yang sebelumnya diabaikan, tiba-tiba kembali penuh dengan jadwal.
Namun, kunci utamanya sederhana: mulai secara bertahap.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Menyusun ulang jadwal harian
Mengatur prioritas tugas
Mengembalikan pola tidur secara perlahan
Menghindari kebiasaan menunda pekerjaan (yang sering muncul setelah liburan panjang)
Karena kenyataannya, semakin cepat kita kembali ke ritme, semakin ringan proses adaptasinya.
🧠 Semangat Baru: Modal Utama Setelah Lebaran
Lebaran bukan hanya tentang libur, tetapi juga tentang reset mental dan emosional. Momen berkumpul bersama keluarga, saling memaafkan, dan kembali ke fitrah memberikan energi baru bagi banyak orang.
Bagi mahasiswa, ini adalah kesempatan untuk:
Memulai kembali aktivitas dengan perspektif baru
Menetapkan target akademik yang lebih jelas
Meningkatkan produktivitas dengan semangat yang diperbarui
Karena sering kali, setelah jeda yang cukup, seseorang justru bisa kembali dengan fokus yang lebih baik.
☕ Realita Hari Pertama: Cerita yang Sama di Mana-Mana
Ada beberapa “tradisi tidak tertulis” saat kembali ke kampus setelah Lebaran:
Saling bertanya, “Mudik ke mana?”
Bertukar cerita perjalanan dan pengalaman liburan
Berbagi makanan khas dari kampung halaman
Dan yang paling umum: menyadari bahwa tugas sudah menunggu
Momen ini justru menjadi bagian menyenangkan dari kehidupan kampus. Interaksi sosial kembali hidup, suasana kelas menjadi lebih cair, dan semangat kebersamaan kembali terasa.
⚖️ Menjaga Keseimbangan: Produktif Tanpa Kehilangan Energi
Kembali beraktivitas bukan berarti langsung memaksakan diri bekerja secara penuh. Penting untuk tetap menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Istirahat yang cukup
Konsumsi makanan yang lebih teratur (setelah “maraton opor dan kue kering”)
Aktivitas fisik ringan untuk mengembalikan stamina
Dengan kondisi tubuh yang baik, proses adaptasi akan menjadi lebih mudah.
Kembali dengan Versi Terbaik Diri
Libur Lebaran mungkin telah usai, tetapi nilai-nilai yang dibawa seharusnya tetap tinggal: kebersamaan, keikhlasan, dan semangat untuk menjadi lebih baik.
Kembali ke aktivitas adalah bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih besar. Dan setiap langkah kecil setelah liburan adalah tanda bahwa kita terus bergerak maju.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa lama kita beristirahat yang penting, tetapi seberapa kuat kita bangkit setelahnya.
Dan kalau hari pertama terasa berat, itu wajar. Yang penting bukan langsung sempurna tapi kembali mulai.
Libur Lebaran selalu terasa singkat. Baru saja menikmati hangatnya suasana keluarga, suara takbir, dan hidangan khas seperti ketupat serta opor ayam, tiba-tiba sudah waktunya kembali ke rutinitas. Bagi mahasiswa dan perantau, fase kembali ke perantauan menjadi momen yang tidak kalah emosional dibanding saat mudik.
Ada rasa haru, ada rasa berat meninggalkan rumah, dan tentu saja ada koper yang tiba-tiba terasa lebih penuh dari sebelumnya.
🚆 Arus Balik: Fenomena Tahunan yang Tak Terhindarkan
Setiap tahun, setelah puncak arus mudik, Indonesia kembali diwarnai dengan arus balik. Berdasarkan berbagai laporan dari Kementerian Perhubungan, jumlah masyarakat yang kembali ke kota perantauan juga mencapai jutaan orang dalam waktu yang relatif singkat.
Mahasiswa menjadi bagian penting dari mobilitas ini. Mereka kembali ke kota studi dengan membawa semangat baru, sekaligus “oleh-oleh wajib” dari rumah—baik dalam bentuk makanan, cerita, maupun semangat yang diperbarui.
🎒 Koper Pulang vs Koper Kembali
Ada satu fenomena unik yang hampir dialami semua perantau: koper saat berangkat mudik dan koper saat kembali itu berbeda secara filosofis dan fisik.
Saat berangkat:
Isinya pakaian secukupnya
Barang tersusun rapi
Masih ada ruang kosong
Saat kembali:
Ada tambahan makanan dari ibu (yang katanya “cuma sedikit”)
Ada titipan dari tetangga
Ada barang yang sebenarnya tidak direncanakan untuk dibawa
Secara ilmiah mungkin belum diteliti, tapi secara pengalaman, koper pulang kampung hampir selalu mengalami “ekspansi mendadak”.
🧠 Adaptasi Ulang: Dari Mode Libur ke Mode Produktif
Setelah beberapa hari atau minggu menikmati suasana santai di rumah, kembali ke perantauan berarti kembali ke ritme aktivitas yang lebih terstruktur: kuliah, tugas, organisasi, hingga aktivitas sosial lainnya.
Transisi ini tidak selalu mudah. Banyak mahasiswa mengalami apa yang sering disebut sebagai post-holiday blues, yaitu kondisi ketika seseorang merasa kurang bersemangat setelah liburan berakhir.
Namun, kondisi ini sebenarnya wajar dan bisa diatasi dengan beberapa langkah sederhana:
Menyusun kembali jadwal harian
Menetapkan target kecil di awal
Mengembalikan pola tidur secara bertahap
Mengingat kembali tujuan utama kuliah dan masa depan
☕ Realita Hari Pertama Kembali ke Kampus
Hari pertama kembali ke kampus biasanya penuh dinamika:
Bangun pagi terasa seperti misi yang sangat berat
Jadwal kuliah terlihat lebih padat dari biasanya (padahal sama saja)
Teman-teman saling bertukar cerita mudik
Dan yang paling umum: saling berbagi makanan dari kampung halaman
Ini adalah fase adaptasi sosial yang justru menjadi bagian menyenangkan dari kehidupan mahasiswa. Karena di balik cerita-cerita tersebut, ada rasa kebersamaan yang kembali terbangun.
❤️ Membawa Pulang Semangat, Bukan Hanya Bekal
Lebaran bukan hanya tentang pulang ke rumah, tetapi juga tentang mengisi ulang energi emosional. Bertemu keluarga, bercengkerama, dan merasakan suasana kampung halaman memberikan kekuatan baru untuk kembali menjalani aktivitas di perantauan.
Bekal yang dibawa kembali seharusnya tidak hanya berupa makanan, tetapi juga:
Semangat baru
Rasa syukur
Motivasi untuk terus berkembang
✨ Kembali Bukan Berarti Berpisah
Meski harus kembali ke kota perantauan, hubungan dengan keluarga tetap bisa terjaga melalui komunikasi yang rutin. Teknologi saat ini memungkinkan jarak tidak lagi menjadi penghalang untuk tetap terhubung.
Dan pada akhirnya, kembali ke perantauan bukanlah akhir dari kebersamaan, melainkan bagian dari perjalanan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Dari Rumah ke Mimpi
Setiap perjalanan kembali ke perantauan membawa cerita. Ada rasa rindu yang ditinggalkan, tapi juga ada harapan yang dibawa.
Karena sejatinya, kita tidak benar-benar meninggalkan rumah. Kita hanya sedang berjalan sedikit lebih jauh, untuk suatu hari nanti bisa kembali dengan cerita yang lebih membanggakan.
Dan sebelum itu terjadi… pastikan bekal dari rumah disimpan baik-baik. Biasanya habis lebih cepat daripada niat untuk langsung belajar setelah sampai kos. 😄
Keluarga besar Universitas PGRI Yogyakarta mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kepada seluruh sivitas akademika, alumni, mitra kerja, serta masyarakat luas yang merayakan.
Idulfitri menjadi momen penuh makna untuk kembali kepada fitrah, mempererat tali silaturahmi, serta menumbuhkan semangat kebersamaan setelah menjalani ibadah di bulan suci Ramadan. Momentum ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperkuat nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, serta kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
Pimpinan dan Sivitas Akademika Universitas PGRI Yogyakarta mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H Taqabbalallahu minna wa minkum Mohon Maaf Lahir dan Batin
Semoga hari kemenangan ini membawa keberkahan, kedamaian, serta semangat baru bagi kita semua untuk terus berkarya, berkontribusi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Menjelang Hari Raya Idulfitri, satu kata yang hampir selalu muncul dalam percakapan masyarakat Indonesia adalah mudik. Tradisi pulang kampung ini telah menjadi bagian penting dari budaya sosial di Indonesia. Setiap tahun, jutaan orang melakukan perjalanan dari kota tempat mereka bekerja atau belajar menuju kampung halaman untuk merayakan lebaran bersama keluarga.
Data dari berbagai laporan Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat menjelang Idulfitri selalu meningkat signifikan, dengan jutaan pemudik menggunakan berbagai moda transportasi seperti kereta api, bus, kendaraan pribadi, kapal laut, hingga pesawat. Mahasiswa yang merantau tentu menjadi bagian dari fenomena tahunan ini.
Namun, agar perjalanan mudik berjalan lancar, ada beberapa hal penting yang perlu dipersiapkan. Tidak hanya soal tiket, tetapi juga perencanaan perjalanan yang matang. Berikut beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan sebelum mudik lebaran.
1. Tiket Perjalanan: Jangan Menunggu “Keajaiban”
Persiapan paling awal dan paling krusial adalah tiket perjalanan. Moda transportasi populer seperti kereta api dan pesawat biasanya sudah mulai penuh beberapa minggu sebelum Idulfitri.
Karena itu, banyak calon pemudik yang sudah memesan tiket jauh-jauh hari. Prinsipnya sederhana: siapa cepat, dia dapat kursi nyaman. Jika terlalu lama menunda, pilihan yang tersisa biasanya hanya dua: kursi paling belakang atau jadwal keberangkatan yang membuat kita tiba di kampung halaman saat ketupat sudah hampir habis.
Bagi mahasiswa, berburu tiket sering menjadi pengalaman tersendiri. Mulai dari membuka aplikasi pemesanan tengah malam, hingga berbagi informasi dengan teman tentang promo transportasi yang tiba-tiba muncul.
2. Perencanaan Waktu Perjalanan
Selain tiket, hal penting lain adalah menentukan waktu perjalanan yang tepat. Banyak pemudik memilih berangkat lebih awal untuk menghindari kepadatan lalu lintas yang biasanya terjadi mendekati hari raya.
Perencanaan ini juga perlu mempertimbangkan jadwal akademik, seperti ujian, tugas, atau kegiatan kampus yang masih berlangsung menjelang libur Idulfitri. Dengan pengaturan waktu yang baik, mahasiswa dapat pulang kampung tanpa membawa “oleh-oleh tambahan” berupa tugas yang belum selesai.
3. Menyiapkan Barang Bawaan Secukupnya
Mudik sering kali identik dengan koper besar, tas tambahan, dan kadang-kadang kantong plastik berisi oleh-oleh. Namun sebenarnya, membawa barang secukupnya adalah strategi terbaik agar perjalanan tetap nyaman.
Beberapa barang penting yang sebaiknya dipersiapkan antara lain:
Identitas diri dan tiket perjalanan
Pakaian yang cukup selama di kampung halaman
Obat-obatan pribadi
Perangkat komunikasi seperti ponsel dan charger
Dokumen penting jika diperlukan
Mahasiswa biasanya juga membawa satu barang yang tidak boleh tertinggal: laptop. Bukan karena ingin mengerjakan tugas selama mudik, tetapi lebih sebagai bentuk “antisipasi”. Walaupun pada praktiknya, laptop tersebut sering hanya dibuka untuk menonton film atau menyimpan foto keluarga selama liburan.
4. Oleh-Oleh untuk Keluarga
Tradisi membawa oleh-oleh juga menjadi bagian dari perjalanan mudik. Banyak perantau membeli makanan khas dari kota tempat mereka tinggal sebagai tanda perhatian kepada keluarga di rumah.
Namun ada satu hal yang sering terjadi: daftar penerima oleh-oleh bisa berkembang secara tiba-tiba. Awalnya hanya untuk orang tua dan saudara, tetapi kemudian bertambah untuk tetangga, sahabat lama, bahkan teman masa sekolah yang kebetulan bertemu saat lebaran.
Inilah alasan mengapa tas mudik sering terasa lebih berat saat berangkat dibandingkan saat kembali ke kota perantauan.
5. Menjaga Kondisi Kesehatan
Perjalanan mudik sering memakan waktu cukup panjang, terutama bagi mereka yang menggunakan transportasi darat. Oleh karena itu, menjaga kondisi fisik menjadi hal yang sangat penting.
Istirahat yang cukup sebelum berangkat, mengonsumsi makanan yang sehat, serta membawa air minum dan camilan ringan dapat membantu menjaga stamina selama perjalanan. Bagi pemudik yang membawa kendaraan pribadi, penting juga untuk beristirahat secara berkala demi keselamatan.
6. Persiapan Mental: Siap Menjawab Pertanyaan Klasik
Ada satu persiapan yang sering tidak tertulis dalam daftar mudik, tetapi hampir pasti terjadi: persiapan mental menghadapi pertanyaan keluarga.
Mahasiswa biasanya sudah sangat familiar dengan beberapa pertanyaan khas saat berkumpul dengan keluarga besar, seperti:
“Sekarang semester berapa?”
“Kapan lulus?”
“Sudah ada rencana setelah kuliah?”
Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya muncul dari rasa perhatian keluarga. Jadi, jawaban terbaik biasanya adalah senyum, santai, dan menikmati suasana lebaran.
Mudik: Lebih dari Sekadar Perjalanan
Pada akhirnya, mudik bukan hanya tentang perjalanan dari satu kota ke kota lain. Mudik adalah tentang kembali ke rumah, bertemu orang-orang yang selalu menunggu dengan penuh rindu.
Bagi mahasiswa yang merantau, momen ini juga menjadi kesempatan untuk melepas sejenak kesibukan akademik, berkumpul bersama keluarga, serta menikmati suasana kampung halaman yang mungkin sudah lama tidak dirasakan.
Dan ketika perjalanan pulang akhirnya tiba, satu hal yang hampir selalu sama terjadi: koper yang awalnya berisi pakaian akan kembali ke kota dengan tambahan bekal makanan dari rumah—sebuah bentuk kasih sayang yang tidak pernah berubah dari tahun ke tahun.
Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana kampus biasanya mulai berubah. Jika pada awal semester lorong-lorong kampus dipenuhi langkah cepat mahasiswa menuju kelas, maka mendekati lebaran suasananya sedikit berbeda. Ada yang terlihat lebih sibuk dari biasanya, ada yang mulai menghitung hari menuju mudik, dan ada pula yang diam-diam menyelesaikan tugas terakhir sebelum “mode libur” benar-benar dimulai.
Bagi mahasiswa, masa menjelang Idulfitri sering kali menjadi kombinasi unik antara kesibukan akademik, persiapan pulang kampung, dan tentu saja—perencanaan menu lebaran.
Tugas Kuliah: Diselesaikan Sebelum Takbir Berkumandang
Secara akademik, menjelang Idulfitri biasanya bertepatan dengan periode pertengahan semester. Artinya, mahasiswa masih harus menyelesaikan berbagai kewajiban kuliah seperti tugas individu, laporan praktikum, presentasi kelompok, hingga diskusi kelas.
Fenomena yang sering terjadi adalah “deadline mendadak terasa semakin dekat ketika tiket mudik sudah di tangan.” Mahasiswa pun mulai mengatur strategi: mengerjakan tugas lebih awal, menyelesaikan presentasi sebelum libur panjang, atau berdiskusi dengan kelompok agar tidak membawa “PR akademik” ke kampung halaman.
Meski begitu, ada juga realitas yang cukup familiar di kalangan mahasiswa: “Targetnya selesai sebelum mudik, tapi kadang file revisinya tetap ikut pulang.”
Mudik: Tradisi yang Dinanti
Mudik menjadi salah satu momen paling dinantikan oleh mahasiswa, terutama bagi mereka yang merantau jauh dari keluarga. Berdasarkan berbagai laporan transportasi nasional setiap tahun, jutaan masyarakat Indonesia melakukan perjalanan mudik menjelang Idulfitri, dan mahasiswa termasuk di dalamnya.
Persiapan mudik biasanya sudah dimulai jauh-jauh hari:
Berburu tiket kereta atau bus
Menentukan tanggal pulang
Mengatur jadwal kuliah terakhir sebelum berangkat
Bagi sebagian mahasiswa, mudik juga menjadi latihan manajemen logistik tingkat lanjut. Mulai dari memastikan laptop aman di tas, membawa oleh-oleh untuk keluarga, hingga memastikan charger tidak tertinggal—karena tanpa charger, mahasiswa modern bisa kehilangan setengah semangat hidupnya.
Berburu Oleh-Oleh: Misi Sosial yang Tidak Tertulis
Menjelang pulang kampung, ada satu agenda tambahan yang sering muncul: membeli oleh-oleh.
Tradisi ini sebenarnya sederhana, tetapi selalu menghadirkan cerita tersendiri. Ada mahasiswa yang memilih makanan khas kota tempatnya kuliah, ada yang membeli camilan populer, dan ada pula yang memilih oleh-oleh praktis yang “muat di tas dan tidak pecah di perjalanan.”
Yang menarik, daftar penerima oleh-oleh kadang bisa berkembang secara misterius. Awalnya hanya untuk orang tua dan adik, tetapi kemudian bertambah untuk tetangga, sepupu, hingga teman lama di kampung.
Menyambut Lebaran dengan Cara Mahasiswa
Selain mudik, mahasiswa juga mulai mempersiapkan berbagai hal lain menjelang Idulfitri. Mulai dari membantu orang tua membersihkan rumah, menyiapkan pakaian lebaran, hingga sekadar menikmati waktu bersama keluarga.
Bagi sebagian mahasiswa yang tidak mudik, suasana lebaran di kota perantauan juga memiliki cerita tersendiri. Mereka biasanya merayakan Idulfitri bersama teman-teman sesama mahasiswa, mengikuti kegiatan kampus atau komunitas, dan tetap menjaga silaturahmi meski jauh dari rumah.
Lebaran: Bukan Hanya Tentang Libur
Di balik kesibukan menjelang Idulfitri, ada makna yang lebih dalam. Lebaran menjadi momen untuk kembali kepada nilai-nilai kebersamaan, saling memaafkan, dan mempererat hubungan keluarga.
Bagi mahasiswa, ini juga menjadi waktu untuk sejenak beristirahat dari rutinitas akademik, mengisi ulang energi, dan kembali ke kampus dengan semangat baru setelah libur usai.
Karena pada akhirnya, di balik tumpukan tugas, perjalanan mudik, dan daftar oleh-oleh yang semakin panjang, satu hal yang paling dinantikan tetap sama: bertemu keluarga dan merayakan kebersamaan di hari kemenangan.
Dan tentu saja, menikmati opor ayam, ketupat, dan kue lebaran—yang biasanya habis lebih cepat daripada niat diet setelah Ramadan.
Universitas PGRI Yogyakarta, Indonesia, warmly welcomes you to the International Conference on Primary Education 2026 (ICOPE).
We cordially invite researchers and academics to the upcoming ICOPE 2026 International Conference. INTERNATIONAL CONFERENCE ON PRIMARY EDUCATION (ICOPE) 2026 (Advancing Educational Innovation Through Creative, Cultural, and Religious Values for Inclusive and Resilience Generations) Universitas PGRI Yogyakarta
📜Proudly Presents 📜
👤 SPEAKERS Professor Roberto Araya, Ph.D (Professor at the University of Chile)
Dr. Ave Marie P. Genodia (Chairperson of Bachelor of Elementary Education (BEEd), Northern Iloilo State University (NISU), Philippines)
Dr. Yun-Ping Ge (Associate Professor, International Master’s Program of Learning and Instruction, National Taipei University of Education, Taiwan)
Dr. Kritsachai Somsaman (Maker Jam Director, Origimon Creative Space, Thailand)
Dr. Rina Dyah Rahmawati, S.Si, M.Pd. (Universitas PGRI Yogyakarta)
👤 Moderator Dr. Nafisah Endahati, M.Hum. (Universitas PGRI Yogyakarta)
🗓 TIME Wednesday, May 6th, 2026 Time: 08.00 – Finish (UTC+7) Western Indonesian Time (WIB) Online via Zoom Meeting
📃 Important Dates for Full Paper Submission Deadline: April 15, 2026
💳 REGISTRATION FEE Early Bird IDR 75.000,- (Student) IDR 175.000,- (Lecturer ot General) IDR 275.000,- (Speaker)
Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menyelenggarakan kegiatan buka puasa bersama keluarga besar sivitas akademika pada Jumat (6/3/2026) di Auditorium UPY. Kegiatan ini menjadi momentum mempererat kebersamaan serta memperkuat nilai-nilai ukhuwah di lingkungan kampus selama bulan suci Ramadan.
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas dan pengurus yayasan, termasuk Ketua Pengurus Yayasan Pembina Universitas PGRI Yogyakarta (YP UPY) Drs. John Sabari, M.Si., Rektor UPY Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P., serta para pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, dan perwakilan mahasiswa.
Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sari tilawah yang disampaikan oleh Muhammad Sultan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Suasana khidmat terasa sejak awal acara, mengawali rangkaian kegiatan yang sarat dengan nuansa kebersamaan dan refleksi spiritual.
Dalam sambutannya, Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P., menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana memperkuat komitmen bersama dalam membangun universitas yang semakin maju.
“Momentum Ramadan ini menjadi kesempatan bagi kita semua untuk mempererat kebersamaan, memperkuat nilai-nilai persaudaraan, serta menyatukan langkah dalam mewujudkan Universitas PGRI Yogyakarta yang semakin APIK dan Unggul,” ujar Prof. Paiman.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Ketua Pengurus YP UPY, Drs. John Sabari, M.Si., yang menekankan pentingnya menjaga semangat kebersamaan di lingkungan kampus. Menurutnya, sinergi antara yayasan, pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa merupakan kunci dalam mendukung kemajuan institusi.
Kegiatan buka bersama tahun ini mengusung tema “Satukan Langkah, Perkuat Ukhuwah, Menuju UPY APIK dan UNGGUL.” Tema tersebut mencerminkan semangat kolektif seluruh sivitas akademika untuk terus memperkuat solidaritas dan komitmen dalam mengembangkan kualitas pendidikan di UPY.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan tausiyah Ramadan yang disampaikan oleh Ustadz Margianto, S.Ag., M.A., dari Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersamaan, meningkatkan kepedulian sosial, serta memanfaatkan bulan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan memperkuat nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama menjelang waktu berbuka puasa. Seluruh peserta selanjutnya melaksanakan salat Magrib berjamaah, yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama sebagai simbol kebersamaan dan kekeluargaan di lingkungan Universitas PGRI Yogyakarta.
Melalui kegiatan ini, UPY berharap nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan semangat kolaborasi di antara sivitas akademika semakin kuat, sehingga mampu mendukung terwujudnya visi universitas sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan berdaya saing.
Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menunjukkan kepedulian sosial kepada masyarakat melalui kegiatan santunan anak yatim dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan 1447 H. Kegiatan ini menjadi bagian dari program sosial kampus untuk berbagi kebahagiaan dan mempererat hubungan dengan masyarakat sekitar.
Santunan pertama dilaksanakan pada Rabu (4/3/2026) dan diserahkan kepada para santri yatim/piatu di Pondok Pesantren Al Lubab. Selanjutnya, santunan kedua diberikan pada Jumat (6/3/2026) kepada santri yatim/piatu di Pondok Pesantren Al Wahid.
Dalam kegiatan tersebut, pihak UPY diwakili oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Dr. Septian Aji Permana, yang secara langsung menyerahkan santunan kepada para santri.
Dr. Septian Aji Permana menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen universitas dalam menumbuhkan nilai kepedulian sosial, khususnya di bulan Ramadan yang penuh berkah. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat.
“Melalui kegiatan santunan ini, kami ingin berbagi kebahagiaan dengan adik-adik santri yatim/piatu. Semoga bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat serta menjadi penguat semangat bagi mereka dalam menuntut ilmu,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan sosial seperti ini menjadi bagian dari upaya membangun karakter kepedulian dan empati di lingkungan sivitas akademika UPY, sekaligus memperkuat hubungan antara kampus dan masyarakat.
Kegiatan santunan anak yatim ini berlangsung dengan penuh kehangatan dan kebersamaan. Para santri menyambut kedatangan rombongan UPY dengan antusias, sementara pihak pesantren turut menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kepedulian yang diberikan.
Melalui kegiatan ini, UPY berharap semangat berbagi dan kepedulian sosial terus tumbuh di tengah masyarakat, serta menjadi inspirasi bagi sivitas akademika untuk senantiasa menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Jika pada awal Ramadan mahasiswa masih menjalani ritme yang relatif tenang, maka memasuki pertengahan bulan suasananya bisa berubah menjadi lebih ramai. Kalender kegiatan mulai dipenuhi dengan agenda buka bersama, bahkan tidak jarang terjadi apa yang secara bercanda disebut mahasiswa sebagai “maraton buber.”
Dalam satu pekan, seorang mahasiswa bisa menghadiri beberapa acara sekaligus: buber bersama teman kelas, organisasi kampus, komunitas hobi, hingga reuni teman sekolah. Setiap undangan memiliki cerita dan dinamika tersendiri.
Secara sosial, tradisi buka bersama memang memiliki fungsi penting dalam menjaga relasi. Dalam budaya masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, Ramadan sering dimanfaatkan sebagai momentum untuk mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan. Mahasiswa, yang berada pada fase kehidupan penuh aktivitas, tentu tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut.
Namun, di balik semangat silaturahmi itu, ada satu realitas yang sering menjadi bahan humor di kalangan mahasiswa: kondisi dompet yang mulai menipis. Menghadiri beberapa acara buber dalam waktu berdekatan tentu membutuhkan pengeluaran tambahan, mulai dari biaya makan hingga transportasi.
Tidak jarang muncul candaan di media sosial mahasiswa bahwa tantangan terbesar Ramadan bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga saldo dompet tetap stabil hingga akhir bulan. Beberapa bahkan mulai membuat strategi sederhana, seperti memilih menu yang lebih hemat atau berbagi makanan dengan teman.
Meski demikian, cerita-cerita yang tercipta dalam acara buber sering kali jauh lebih berharga daripada sekadar biaya yang dikeluarkan. Dalam suasana santai menjelang waktu berbuka, percakapan bisa mengalir dari topik ringan hingga diskusi serius tentang masa depan, karier, atau rencana setelah lulus kuliah.
Momen berbuka juga memiliki nuansa emosional tersendiri. Saat azan magrib berkumandang dan semua orang mulai membatalkan puasa bersama, suasana kebersamaan terasa semakin kuat. Bahkan, hal-hal kecil seperti berbagi kurma atau menunggu makanan datang bersama-sama bisa menjadi pengalaman yang meninggalkan kesan hangat.
Selain itu, buber juga sering menjadi ruang untuk memperluas jaringan pertemanan. Dalam beberapa kesempatan, mahasiswa bertemu kembali dengan teman lama yang kini memiliki aktivitas berbeda, atau bahkan berkenalan dengan orang-orang baru melalui lingkaran pertemanan yang lebih luas.
Pada akhirnya, fenomena “maraton buber” di kalangan mahasiswa mencerminkan satu hal penting: Ramadan tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan kembali banyak cerita.
Di tengah kesibukan akademik dan rutinitas harian, kebersamaan sederhana saat berbuka puasa sering kali menjadi kenangan yang justru paling diingat setelah Ramadan berlalu.
Dan bagi mahasiswa, satu hal yang hampir pasti: meskipun dompet mungkin sedikit lebih ringan, cerita dan tawa yang dibawa pulang dari setiap buber biasanya jauh lebih berharga.