Author: Administrator

  • Ramadan Paruh Waktu: Saat Mahasiswa Mulai Dikejar Undangan Reuni dan Buka Bersama (PART 1)

    Ramadan Paruh Waktu: Saat Mahasiswa Mulai Dikejar Undangan Reuni dan Buka Bersama (PART 1)

    Memasuki pertengahan bulan Ramadan, dinamika kehidupan mahasiswa biasanya mulai berubah. Jika pada pekan pertama fokus utama masih berkutat pada adaptasi jadwal kuliah, sahur, dan tugas yang menumpuk, maka pada pekan kedua hingga ketiga muncul satu fenomena yang hampir selalu hadir setiap tahun: undangan buka bersama atau yang populer disebut “buber.”

    Bagi mahasiswa, buber bukan sekadar acara makan setelah seharian berpuasa. Ia telah berkembang menjadi ruang sosial yang mempertemukan kembali berbagai relasi—mulai dari teman sekelas, organisasi kampus, alumni sekolah, hingga kelompok pertemanan lama yang jarang bertemu. Tidak jarang, dalam satu minggu seorang mahasiswa bisa menerima lebih dari satu undangan buber dari kelompok yang berbeda.

    Fenomena ini sejalan dengan tradisi sosial masyarakat Indonesia selama Ramadan. Dalam berbagai kajian sosial budaya, Ramadan dikenal sebagai momentum yang memperkuat hubungan sosial dan silaturahmi. Kegiatan berbuka bersama menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mempertemukan kembali orang-orang yang sebelumnya disibukkan oleh rutinitas masing-masing.

    Bagi mahasiswa, momentum ini memiliki cerita tersendiri. Grup percakapan yang biasanya sepi tiba-tiba menjadi ramai. Pesan yang muncul pun hampir selalu diawali dengan kalimat yang serupa: “Gimana kalau kita buber?” atau “Udah lama nggak ketemu, kapan kumpul?”

    Menariknya, proses menentukan waktu dan tempat buber kadang jauh lebih panjang daripada acara itu sendiri. Diskusi bisa berlangsung berhari-hari hanya untuk menentukan tanggal yang cocok bagi semua orang. Ada yang masih kuliah, ada yang sedang pulang kampung, ada pula yang sedang menjalani magang. Hasil akhirnya sering kali cukup realistis: tidak semua bisa hadir, tetapi acara tetap berjalan.

    Selain menjadi ajang silaturahmi, buber juga menjadi momen nostalgia. Percakapan biasanya dipenuhi cerita masa lalu, kenangan kuliah, hingga candaan tentang tugas kelompok yang dulu terasa berat tetapi kini justru dikenang dengan tawa. Dalam suasana santai menjelang berbuka, cerita-cerita lama itu seolah kembali hidup.

    Namun, ada satu “tantangan klasik” yang hampir selalu dialami mahasiswa saat buber: menahan diri dari lapar mata. Saat menu makanan tersaji di meja atau di etalase restoran, pilihan yang awalnya hanya ingin satu porsi sering kali berubah menjadi dua atau tiga jenis makanan. Tidak sedikit mahasiswa yang kemudian bercanda bahwa puasa sebenarnya melatih kesabaran—terutama kesabaran untuk tidak memesan semua menu sekaligus.

    Meski begitu, di balik candaan ringan tersebut, tradisi buber tetap memiliki makna yang lebih dalam. Ia menjadi simbol bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang memperkuat hubungan sosial dan kebersamaan. Bagi mahasiswa yang sehari-harinya disibukkan dengan jadwal akademik, momen ini menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan kembali terhubung dengan teman-teman.

    Dengan kata lain, ketika Ramadan memasuki pertengahan bulan, kehidupan mahasiswa tidak hanya diwarnai oleh tugas kuliah dan ibadah puasa, tetapi juga oleh agenda silaturahmi yang semakin padat—kadang bahkan lebih padat dari jadwal kelas.

  • Ramadan, Momentum Mengumpulkan Pahala dengan Hati Gembira

    Ramadan, Momentum Mengumpulkan Pahala dengan Hati Gembira

    Bulan Ramadan selalu hadir sebagai tamu istimewa yang dinantikan umat Islam di seluruh dunia. Selain menjadi kewajiban ibadah puasa selama sebulan penuh, Ramadan juga dikenal sebagai momentum terbaik untuk memperbanyak amal kebaikan. Dalam tradisi Islam, bulan ini dipercaya sebagai waktu ketika pahala dilipatgandakan dan pintu ampunan dibuka seluas-luasnya bagi setiap hamba yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.

    Secara teologis, keistimewaan Ramadan dijelaskan dalam berbagai sumber ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an, bulan Ramadan disebut sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Sementara itu, dalam berbagai hadis disebutkan bahwa amal ibadah pada bulan ini memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan bulan-bulan lainnya. Bahkan, terdapat satu malam istimewa yang dikenal sebagai Lailatul Qadar yang disebut lebih baik dari seribu bulan.

    Karena itu, banyak umat Muslim memanfaatkan Ramadan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Selain menjalankan puasa, berbagai aktivitas keagamaan menjadi semakin semarak, mulai dari salat tarawih berjamaah, tadarus Al-Qur’an, hingga berbagai kegiatan sosial seperti berbagi makanan berbuka dan santunan kepada yang membutuhkan. Fenomena ini dapat dilihat hampir di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari masjid-masjid yang lebih ramai hingga kegiatan berbagi takjil di jalanan yang menjadi tradisi tahunan.

    Menariknya, Ramadan juga menghadirkan dinamika sosial yang khas. Jika pada hari-hari biasa bangun sebelum subuh terasa berat, di bulan Ramadan justru banyak orang dengan semangat bangun dini hari untuk sahur. Bahkan, suara alarm yang biasanya diabaikan sering kali berubah menjadi “panggilan suci” yang sulit ditunda. Ada juga yang mengaku tiba-tiba menjadi lebih rajin membaca Al-Qur’an dibandingkan bulan-bulan sebelumnya—sebuah perubahan yang sering disambut dengan candaan ringan bahwa Ramadan memang memiliki “mode khusus” yang membuat seseorang lebih religius.

    Di sisi lain, Ramadan juga mengajarkan nilai pengendalian diri. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan emosi, perkataan, serta perilaku sehari-hari. Dalam konteks sosial, hal ini mendorong terciptanya suasana yang lebih damai dan penuh toleransi. Banyak orang berusaha menjaga sikap dan ucapan agar tidak merusak nilai ibadah yang sedang dijalankan.

    Momentum Ramadan juga kerap dimanfaatkan untuk memperkuat solidaritas sosial. Berbagai lembaga, komunitas, hingga individu berlomba-lomba mengadakan kegiatan sosial seperti berbagi paket makanan, santunan anak yatim, hingga program bantuan bagi masyarakat kurang mampu. Aktivitas ini menunjukkan bahwa semangat Ramadan tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat.

    Meski demikian, Ramadan juga sering menghadirkan cerita-cerita ringan yang mengundang senyum. Misalnya, seseorang yang sejak pagi sudah membayangkan menu berbuka, atau yang berjanji hanya membeli satu jenis gorengan tetapi akhirnya pulang dengan kantong penuh. Fenomena “lapar mata” saat menjelang berbuka bahkan sudah menjadi humor klasik yang hampir dialami banyak orang setiap Ramadan.

    Di balik berbagai cerita tersebut, esensi Ramadan tetap sama: menjadi kesempatan berharga untuk memperbaiki diri. Banyak ulama menyebut bulan ini sebagai “madrasah spiritual” yang melatih kedisiplinan, kesabaran, serta kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai yang dipelajari selama Ramadan diharapkan tidak berhenti ketika bulan suci berakhir, tetapi terus terbawa dalam kehidupan sehari-hari.

    Dengan segala keistimewaannya, Ramadan menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama untuk memperbanyak kebaikan. Entah melalui ibadah, membantu sesama, atau sekadar menahan diri dari hal-hal yang kurang bermanfaat, setiap langkah kecil dapat bernilai besar.

    Pada akhirnya, Ramadan bukan sekadar tentang menahan lapar hingga waktu berbuka. Lebih dari itu, bulan ini adalah kesempatan bagi setiap insan untuk “mengisi tabungan pahala” dengan cara yang mungkin tidak selalu serius, tetapi tetap penuh makna—bahkan sesekali diselingi senyum dan humor ringan di tengah perjalanan spiritual yang dijalani.

  • Tingkatkan Mutu Pendidikan, Prodi PG PAUD FKIP UPY Kantongi Akreditasi Baik Sekali

    Tingkatkan Mutu Pendidikan, Prodi PG PAUD FKIP UPY Kantongi Akreditasi Baik Sekali

    Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menorehkan prestasi akademik dengan berhasil meraih akreditasi Baik Sekali. Predikat tersebut diberikan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) berdasarkan Keputusan Nomor 305/SK/LAMDIK/Ak/S/II/2026.

    Capaian ini menjadi bukti komitmen UPY dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam mencetak calon pendidik profesional di bidang pendidikan anak usia dini. Akreditasi Baik Sekali yang diraih menunjukkan bahwa Program Studi PG PAUD FKIP UPY telah memenuhi standar mutu pendidikan tinggi yang ditetapkan oleh LAMDIK, baik dari aspek kurikulum, sumber daya manusia, tata kelola program studi, hingga kualitas proses pembelajaran.

    Rektor Universitas PGRI Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh sivitas akademika yang terus berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan di UPY.

    “Akreditasi Baik Sekali yang diraih oleh Program Studi PG PAUD FKIP UPY merupakan bentuk pengakuan atas kerja keras dan dedikasi seluruh tim, mulai dari pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa dan alumni. Kami berharap capaian ini semakin memperkuat komitmen UPY dalam mencetak pendidik anak usia dini yang profesional, inovatif, dan berintegritas,” ujar Prof. Paiman.

    Lebih lanjut, Rektor UPY menegaskan bahwa universitas akan terus mendorong peningkatan kualitas akademik dan tata kelola pendidikan agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan nasional. Akreditasi yang diraih ini juga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan di Universitas PGRI Yogyakarta.

    Program Studi PG PAUD FKIP UPY selama ini dikenal aktif dalam pengembangan pendidikan anak usia dini melalui berbagai kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan dukungan tenaga pengajar yang kompeten serta kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan zaman, prodi ini terus berupaya menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang kuat sebagai pendidik anak usia dini.

    Ke depan, dengan raihan akreditasi Baik Sekali ini, Program Studi PG PAUD FKIP UPY diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai salah satu program studi unggulan dalam bidang pendidikan anak usia dini, sekaligus berkontribusi dalam mencetak generasi pendidik yang berkualitas bagi masa depan bangsa.

  • Prodi Magister Pendidikan Dasar FKIP UPY Raih Akreditasi Unggul dari LAMDIK

    Prodi Magister Pendidikan Dasar FKIP UPY Raih Akreditasi Unggul dari LAMDIK

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang akademik. Program Studi Magister Pendidikan Dasar (S2 Dikdas) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UPY resmi meraih Akreditasi Unggul berdasarkan Keputusan Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) Nomor 293/SK/LAMDIK/Ak/M/III/2026.

    Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen UPY dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi, khususnya dalam mencetak tenaga pendidik profesional dan akademisi yang kompeten di bidang pendidikan dasar.

    Ketua Program Studi Magister Pendidikan Dasar FKIP UPY, Dr. Ahmad Agung Yuwono Putro, SE, S.Pd, M.Pd., menyampaikan bahwa keberhasilan meraih akreditasi unggul merupakan hasil dari kerja keras dan kolaborasi seluruh sivitas akademika UPY.

    “Akreditasi Unggul ini merupakan hasil dari komitmen bersama seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta dukungan pimpinan universitas dalam menjaga dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di Prodi Magister Pendidikan Dasar. Capaian ini sekaligus menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan inovasi pembelajaran dan penelitian yang relevan dengan kebutuhan pendidikan dasar di Indonesia,” ungkapnya.

    Menurutnya, Program Studi Magister Pendidikan Dasar FKIP UPY selama ini terus berupaya mengembangkan kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan kebijakan pendidikan nasional serta dinamika pembelajaran di sekolah dasar. Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk menghasilkan penelitian yang aplikatif dan memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di tingkat dasar.

    Sementara itu, Rektor Universitas PGRI Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P., turut mengapresiasi capaian tersebut. Ia menegaskan bahwa akreditasi unggul ini merupakan wujud dari konsistensi UPY dalam menjaga kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang keguruan dan kependidikan.

    “Prestasi ini menunjukkan bahwa Universitas PGRI Yogyakarta terus bergerak maju dalam meningkatkan kualitas akademik dan tata kelola pendidikan tinggi. Kami berharap Prodi Magister Pendidikan Dasar dapat terus melahirkan lulusan yang inovatif, profesional, serta mampu berkontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar di Indonesia,” ujar Prof. Paiman.

    Dengan diraihnya akreditasi unggul ini, Program Studi Magister Pendidikan Dasar FKIP UPY diharapkan semakin dipercaya masyarakat sebagai pilihan studi lanjut bagi para pendidik yang ingin meningkatkan kompetensi akademik dan profesionalnya.

    Ke depan, FKIP UPY berkomitmen untuk terus memperkuat kualitas pembelajaran, meningkatkan kolaborasi penelitian, serta memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan guna mendukung pengembangan pendidikan dasar yang berkualitas dan berkelanjutan di Indonesia.

  • Kuliah di Bulan Ramadan: Tetap Produktif, Tetap Semangat, Tetap Waras

    Kuliah di Bulan Ramadan: Tetap Produktif, Tetap Semangat, Tetap Waras

    Bulan Ramadan selalu punya cerita. Dari bangun sahur dengan mata setengah terbuka, menahan godaan kantin kampus, sampai perjuangan fokus di kelas jam 13.00 yang rasanya seperti ujian iman dan konsentrasi sekaligus.

    Namun satu hal yang pasti: Ramadan bukan alasan untuk menurunkan kualitas diri. Justru sebaliknya, ini momentum untuk melatih disiplin, manajemen waktu, dan ketahanan mental.

    📚 Puasa dan Produktivitas: Apa Kata Fakta?

    Secara ilmiah, puasa yang dilakukan dengan pola makan sahur dan berbuka yang seimbang tidak menurunkan fungsi kognitif secara signifikan pada individu sehat. Beberapa studi menunjukkan bahwa tubuh beradaptasi dalam beberapa hari pertama, dan setelah itu ritme energi menjadi lebih stabil.

    Artinya?
    Kalau terasa lemas di awal Ramadan, itu normal. Tapi bukan berarti satu bulan penuh harus “mode hemat energi”.

    Kuncinya ada di:

    • Kualitas tidur
    • Asupan nutrisi saat sahur dan berbuka
    • Pengaturan jadwal belajar

    ⏰ Strategi Bertahan di Kelas (Tanpa Terlihat Seperti Zombie)

    Mari jujur: tantangan terbesar kuliah saat Ramadan bukan hanya lapar, tapi kantuk.

    Beberapa tips realistis:

    1. Maksimalkan waktu pagi
    Jika memungkinkan, manfaatkan waktu setelah sahur atau setelah Subuh untuk membaca materi. Otak masih segar, notifikasi belum terlalu ramai.

    2. Jangan balas dendam saat berbuka
    Berbuka itu sunnahnya sederhana. Kalau terlalu berat, kelas besok bisa berubah jadi sesi “menahan kantuk nasional”.

    3. Power nap itu sah-sah saja
    Tidur 20–30 menit siang hari bisa membantu konsentrasi. Bukan tidur 2 jam lalu bangun menjelang Maghrib ya. Itu namanya pindah shift.

    🧠 Ramadan = Latihan Manajemen Diri

    Ramadan sebenarnya adalah “bootcamp karakter” tahunan:

    • Belajar disiplin waktu
    • Mengontrol emosi
    • Mengatur prioritas
    • Menahan diri (termasuk dari scroll media sosial berlebihan)

    Jika selama Ramadan kita mampu tetap hadir di kelas, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan aktif berdiskusi, itu artinya kita sedang melatih ketahanan mental dan profesionalisme sejak mahasiswa.

    🤝 Momentum Empati dan Kebersamaan di Kampus

    Ramadan juga menghadirkan suasana kampus yang berbeda:

    • Buka puasa bersama
    • Kajian atau diskusi keagamaan
    • Aksi sosial mahasiswa

    Ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi kesempatan membangun empati dan solidaritas. Kampus bukan hanya ruang akademik, tapi juga ruang pembentukan karakter.

    🌙 Tetap Semangat, Karena Ini Bukan Bulan Pause

    Sering kali muncul pikiran:
    “Ya sudah, Ramadan santai saja dulu.”

    Padahal justru Ramadan adalah bulan refleksi dan peningkatan diri. Banyak tokoh besar dalam sejarah Islam justru mencatatkan prestasi penting di bulan ini. Artinya, kondisi berpuasa bukan penghalang untuk berkarya.

    Kalau bisa tetap produktif saat puasa, apalagi saat tidak puasa nanti?

    Produktif Tanpa Kehilangan Makna

    Kuliah di bulan Ramadan memang punya tantangan tersendiri. Tapi dengan pengelolaan waktu, pola hidup sehat, dan niat yang kuat, mahasiswa tetap bisa berprestasi tanpa kehilangan makna spiritualnya.

    Karena sejatinya, semangat itu bukan soal perut penuh atau kosong.
    Tapi soal tujuan yang jelas dan komitmen yang dijaga.

    Selamat menjalani Ramadan.
    Tetap fokus, tetap berproses, dan tetap jadi mahasiswa yang bukan hanya cerdas, tapi juga berkarakter.

  • Program PPG UPY Gelar Matrikulasi Komprehensif, Hadirkan Pakar Pendidikan dan Terapkan Pembelajaran Hybrid

    Program PPG UPY Gelar Matrikulasi Komprehensif, Hadirkan Pakar Pendidikan dan Terapkan Pembelajaran Hybrid

    Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menyelenggarakan kegiatan matrikulasi dengan kurikulum yang disusun secara komprehensif dan terstruktur. Berdasarkan jadwal akademik yang telah dirilis, matrikulasi tahun ini dirancang untuk memperkuat kesiapan akademik dan profesional mahasiswa PPG Calon Guru sebelum memasuki tahapan pembelajaran inti.

    Kurikulum matrikulasi mencakup dua rumpun utama, yakni Bidang Studi Umum yang wajib diikuti seluruh peserta serta Bidang Studi Khusus Bimbingan dan Konseling (BK).

    Pada Bidang Studi Umum, mahasiswa mendapatkan penguatan wawasan mengenai isu-isu strategis pendidikan nasional. Koordinator PPG UPY, Dr. Dhiniaty Gularso, S.Si., M.Pd., mengampu materi “Dinamika Kurikulum Pendidikan Indonesia” yang membahas arah kebijakan dan perkembangan kurikulum nasional terkini. Materi ini bertujuan memberikan perspektif komprehensif mengenai transformasi kebijakan pendidikan yang harus dipahami calon guru.

    Selanjutnya, materi “The Art of Teaching: Dari Teori ke Praktik” disampaikan oleh Selly Rahmawati, M.Pd., yang menekankan pentingnya integrasi antara landasan teoretis dan praktik pembelajaran di kelas. Sementara itu, Dr. Danuri, M.Pd. membawakan materi “Mengenal Murid Secara Holistik”, guna memperkuat pemahaman peserta terhadap karakteristik, kebutuhan, dan perkembangan peserta didik secara menyeluruh.

    Adapun pada Bidang Studi Khusus Bimbingan dan Konseling, materi difokuskan pada penguatan kompetensi profesional konselor. Dr. Eko Perianto, M.Si. menyampaikan materi “Pengantar BK” yang mencakup asas, prinsip, fungsi, serta landasan Bimbingan dan Konseling. Materi ini menjadi fondasi penting bagi mahasiswa BK dalam memahami peran strategis guru BK di satuan pendidikan.

    Pendalaman kompetensi dilanjutkan melalui materi “Keprofesian BK” yang dibawakan oleh Dr. Iis Lathifah, M.Pd.. Pada sesi ini, mahasiswa mendapatkan pemahaman mendalam terkait kode etik, standar layanan, serta tanggung jawab profesional yang harus dijunjung tinggi oleh guru BK.

    Untuk menunjang efektivitas pembelajaran, PPG UPY menerapkan metode hybrid yang fleksibel. Peserta mengikuti sesi tatap muka daring secara synchronous melalui video conference, kemudian melanjutkan pendalaman materi secara asynchronous melalui Learning Management System (LMS). Model ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang adaptif sekaligus mendorong kemandirian akademik mahasiswa.

    Melalui matrikulasi yang terstruktur dan berbasis kebutuhan kompetensi ini, PPG UPY berharap seluruh mahasiswa Calon Guru memiliki kesiapan mental, pedagogik, dan profesional yang optimal. Program ini menjadi langkah awal dalam mencetak generasi pendidik yang unggul, adaptif terhadap dinamika pendidikan, serta berkomitmen pada kualitas layanan pembelajaran di Indonesia.

  • Mahasiswa KKN UPY Tanam 100 Bibit Akar Wangi, Perkuat Mitigasi Longsor di Lereng Samigaluh

    Mahasiswa KKN UPY Tanam 100 Bibit Akar Wangi, Perkuat Mitigasi Longsor di Lereng Samigaluh

    Ancaman tanah longsor di kawasan perbukitan Kapanewon Samigaluh kembali menjadi perhatian. Menyikapi kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode 41 Kelompok 20 Universitas PGRI Yogyakarta menginisiasi program mitigasi bencana berbasis lingkungan di Padukuhan Tulangan, Kalurahan Ngargosari, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo.

    Pada 26 Januari 2026, mahasiswa bersama Karang Taruna Padukuhan Tulangan menanam 100 bibit akar wangi (vetiver) di sejumlah titik lereng yang dinilai paling rentan terhadap erosi dan longsor. Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pembangunan desa tangguh bencana.

    Padukuhan Tulangan yang berada di wilayah perbukitan memiliki kontur tanah miring dengan curah hujan relatif tinggi saat musim penghujan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko erosi dan longsor, sehingga diperlukan langkah preventif yang berkelanjutan.

    Akar wangi dipilih karena memiliki sistem perakaran yang kuat dan tumbuh vertikal ke bawah hingga kedalaman tertentu. Karakter ini efektif dalam mengikat tanah, mengurangi laju erosi, serta membantu menstabilkan struktur lereng. Di berbagai wilayah, vetiver telah terbukti menjadi solusi konservasi tanah berbasis vegetatif yang ramah lingkungan dan ekonomis.

    Kegiatan penanaman dilakukan secara gotong royong antara mahasiswa, perangkat padukuhan, dan anggota Karang Taruna. Kolaborasi ini mencerminkan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat yang berdampak langsung dan berkelanjutan.

    Dukuh Tulangan, Budiyanto, menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKN yang dinilai relevan dengan kebutuhan wilayahnya.

    “Kami sangat mengapresiasi kegiatan mahasiswa KKN UPY 41 Kelompok 20. Wilayah kami berada di lereng perbukitan yang rawan longsor, sehingga penanaman akar wangi ini menjadi langkah preventif yang sangat baik. Kami berharap tanaman ini dapat dirawat bersama dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” ujarnya.

    Ketua Karang Taruna Padukuhan Tulangan, Kris Hindarto, menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan desa.

    “Sebagai generasi muda, kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat lingkungan desa. Kegiatan ini menjadi motivasi bagi kami untuk lebih peduli terhadap kondisi alam sekitar. Kami siap mendukung dan merawat tanaman akar wangi ini agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya.

    Sementara itu, Ketua KKN UPY 41 Kelompok 20, Farroza Titis Ramazaan, menekankan bahwa pelibatan Karang Taruna merupakan strategi keberlanjutan program.

    “Kami tidak hanya ingin menjalankan program selama masa KKN, tetapi juga memastikan adanya keberlanjutan setelah kegiatan ini selesai. Dengan melibatkan Karang Taruna sebagai generasi penerus desa, kami berharap kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan dapat terus tumbuh dan berkembang,” jelasnya.

    Selain berfungsi sebagai tanaman konservasi untuk mitigasi bencana, akar wangi juga memiliki potensi ekonomi. Tanaman ini dapat diolah menjadi produk bernilai jual seperti minyak atsiri dan aromaterapi, sehingga membuka peluang pemberdayaan masyarakat di masa mendatang. Langkah sederhana menanam 100 bibit akar wangi di lereng perbukitan Padukuhan Tulangan menjadi simbol komitmen membangun ketahanan desa dari akar rumput. Upaya ini diharapkan menjadi awal penguatan kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya mitigasi bencana berbasis lingkungan, demi terciptanya desa yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.

  • PENGUMUMAN PELAKSANAAN UJIAN ACTION PROGRAM PERIODE I BULAN MARET Th 2026

    PENGUMUMAN PELAKSANAAN UJIAN ACTION PROGRAM PERIODE I BULAN MARET Th 2026

    Ujian Action Program (AP) Periode I, Maret Th 2026 secara daring/online akan dilaksanakan pada :

    Pemberian Materi : 09 Maret 2026 (Via Grup Telegram)

    Ujian : 10 Maret 2026 *jika ada perubahan akan diumumkan via grup telegram*

    Tempat : Daring

    Berikut daftar peserta & kelompok ujian Action Program Periode I 2026 :

    Download Daftar Peserta AP

    Bagi peserta yang namanya sudah terdaftar dimohon untuk join grub TELEGRAM untuk mengikuti informasi berikutnya, untuk join silahkan klik link atau scan barcode berikut :

    JOIN GRUP =>> KLIK DISINI

    ATAU BISA SCAN BARCODE DI ATAS.

    Terimakasih

    PPTIK UPY

  • Mahasiswa KKN UPY Gagas Program Pengolahan Limbah Jadi Pupuk Organik Cair di Kulon Progo

    Mahasiswa KKN UPY Gagas Program Pengolahan Limbah Jadi Pupuk Organik Cair di Kulon Progo

    Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode 41 Kelompok 43 dari Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menginisiasi program peduli lingkungan di Dusun Jumblangan Barat, Kalurahan Banjarsari, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Program tersebut berfokus pada pengelolaan limbah rumah tangga melalui pembuatan pupuk organik cair (POC) dari sisa bahan dapur.

    Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya praktik pembuangan sisa makanan secara langsung tanpa proses pengolahan, yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan serta menghilangkan nilai guna limbah organik. Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, mahasiswa KKN menghadirkan solusi aplikatif yang mudah diterapkan masyarakat tanpa memerlukan peralatan khusus maupun biaya besar.

    Ketua Kelompok 43 menjelaskan, program ini dirancang untuk mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan limbah berbasis rumah tangga yang berkelanjutan. “Kami ingin menghadirkan solusi sederhana namun berdampak nyata, sehingga masyarakat dapat mengolah limbah dapur menjadi sesuatu yang bernilai guna,” ujarnya.

    Dalam pelaksanaannya, mahasiswa melakukan sosialisasi mengenai jenis-jenis limbah organik, seperti sisa sayuran, kulit buah, dan bahan dapur lainnya yang dapat difermentasi menjadi pupuk organik cair. Warga juga mendapatkan pendampingan langsung mulai dari proses pengumpulan bahan, tahap fermentasi, hingga cara penggunaan POC pada tanaman pekarangan.

    Program ini mendapat respons positif dari masyarakat, terutama warga yang memiliki kebun dan tanaman pekarangan. Selain membantu mengurangi volume limbah rumah tangga, penggunaan pupuk organik cair dinilai mampu meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman tanpa ketergantungan pada pupuk kimia.

    Lebih dari sekadar pengelolaan sampah, kegiatan ini turut berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif. Upaya ini juga sejalan dengan penguatan pertanian ramah lingkungan berbasis rumah tangga yang mendukung ketahanan pangan lokal.

    Ke depan, program pengolahan limbah rumah tangga ini diharapkan dapat berkelanjutan dengan dukungan pemerintah kalurahan serta partisipasi aktif masyarakat. Mahasiswa KKN UPY Kelompok 43 menilai, jika dikelola secara konsisten, pembuatan pupuk organik cair berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang memberi manfaat ekologis sekaligus ekonomis.

    Melalui kegiatan KKN ini, mahasiswa UPY menegaskan peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan sosial. Sinergi antara dunia akademik dan masyarakat desa menjadi langkah konkret dalam menjawab persoalan lingkungan secara kolaboratif dan berkelanjutan.

  • Beasiswa YP UPY – Alumni SMA PGRI Seluruh Indonesia

    Beasiswa YP UPY – Alumni SMA PGRI Seluruh Indonesia

    Berikut informasi Beasiswa Yayasan Pembina Universitas PGRI Yogyakarta untuk seluruh Alumni SMA PGRI di seluruh Indonesia

    Selengkapnya unduh file dibawah ini

    Informasi Beasiswa Pendidikan
    SK-Program Beasiswa PGRI 2026