Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menggelar Malam Inagurasi sebagai puncak rangkaian kegiatan penyambutan mahasiswa baru Tahun Akademik 2025/2026. Acara berlangsung meriah di Kampus Unit 1 UPY mulai pukul 15.00 hingga 21.00 WIB dan dihadiri ribuan mahasiswa, dosen, serta civitas akademika.
Rangkaian acara dimulai sejak sore hari dengan berbagai penampilan pentas seni dari mahasiswa baru, mulai dari tari, musik akustik, paduan suara, hingga teater. Antusiasme peserta terlihat jelas dari sorakan dan tepuk tangan yang mengiringi setiap penampilan.
Di sela-sela pentas seni mahasiswa, suasana semakin hangat saat Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P., dan Ketua Yayasan YP UPY, Drs. John Sabari, M.Si., turut naik ke panggung membawakan lagu “Jogja Istimewa”. Penampilan istimewa ini disambut meriah oleh seluruh peserta yang hadir, menciptakan momen kebersamaan antara pimpinan kampus dan mahasiswa.
Puncak acara dimulai pukul 20.00 WIB dengan penampilan Guest Star After Shine, band lokal asal Yogyakarta yang tengah populer di kalangan anak muda. Grup musik ini sukses membakar semangat ribuan penonton dengan lagu-lagu andalannya, menjadikan malam inagurasi semakin meriah.
“Malam inagurasi ini bukan hanya hiburan, tetapi juga momentum mempererat kebersamaan dan menumbuhkan rasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar UPY,” ujar Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P. dalam sambutannya.
Dengan dukungan penuh dari pimpinan universitas dan partisipasi aktif mahasiswa, UPY berkomitmen terus menciptakan lingkungan akademik yang hangat, kreatif, dan inspiratif bagi seluruh civitas akademika.
Sudah masuk bulan Oktober, nih. Cuacanya mulai galau—kadang panas, kadang hujan, kadang juga kita yang baper. Tapi, pernah nggak sih kalian mikir: “Oktober itu O-nya apa?” Serius. Coba renungkan sebentar… O-nya apa?
Mungkin ada yang bilang:
“O-nya Optimis dong, biar tugas cepat kelar!”
Atau, “O-nya Overthinking, karena dosen kasih tugas tanpa aba-aba.”
Bisa juga: “O-nya Ongkir, soalnya akhir bulan dompet udah ngos-ngosan tapi checkout tetep jalan terus.”
Tenang, kita bahas satu per satu—biar Oktober kamu nggak cuma lewat begitu aja kayak notifikasi tugas diabaikan.
O yang Pertama: Optimis
Buat kamu yang semester ini mulai ngerasa kayak dompet tanggal tua—kering, kosong, dan menyedihkan—Optimis adalah O yang wajib dipakai. Bulan Oktober itu titik tengah semester, bro & sis. Artinya? Ini saatnya kamu gas lagi semangat belajar (atau setidaknya pura-pura belajar di depan dosen).
Optimis bukan berarti semua akan baik-baik saja tanpa usaha. Tapi setidaknya, kamu percaya kalau usahamu hari ini bakal bawa hasil, walau hasilnya baru kelihatan pas semester depan. Atau tahun depan. Atau… ya pokoknya percaya aja dulu.
O yang Kedua: Overthinking
Yup, mari kita akui. Mahasiswa itu spesialis overthinking. Dikasih tugas: overthinking. Belum dibalas doi: overthinking. Dosen nanya “Ada pertanyaan?”: overthinking keras, tapi ujungnya cuma senyum-senyum sambil geleng kepala.
Tapi jangan salah, overthinking juga bisa jadi sinyal kalau kamu peduli. Artinya kamu mau yang terbaik, cuma kadang… kepikiran aja kebanyakan. Jadi, belajar juga buat ngerem pikiran sendiri. Nggak semua harus kamu pikirin sampai jam 2 pagi sambil liatin langit-langit kamar kos.
O yang Ketiga: Otw Selesai
Nah ini, mantra sakti mahasiswa di Oktober: “Otw selesai, Kak.” Padahal baru buka laptop. Padahal baru bikin cover. Padahal baru mikir mau ngopi atau nyemil dulu.
Tapi nggak apa-apa. Semua berproses. Asal “otw selesai” bukan cuma slogan, tapi beneran jalan terus sampai titik terakhir. Ingat, dosen bukan cenayang. Dia nggak bisa baca niat baikmu kalau nggak ada file tugas yang dikumpul.
O yang Keempat: Oke Aja Dulu
Kadang hidup di kampus (atau online) nggak selalu ideal. Grup tugas kadang lebih aktif bahas drakor daripada materi. Tugas datang bertubi-tubi, sementara kamu baru selesai move on dari UTS. Nah, kalau lagi mentok, “Oke aja dulu” bisa jadi cara bertahan.
Bukan berarti menyerah, tapi belajar nerima dan jalanin dulu. Siapa tahu dari “oke aja dulu”, muncul ide-ide baru buat maju.
Jadi, O-nya Oktober itu apa?
Jawabannya… O-nya Kamu. Kamu yang lagi berjuang. Kamu yang meski capek tapi tetap hadir. Kamu yang walau belum perfect, tapi terus usaha. Kamu yang mungkin sekarang belum ngerti semuanya, tapi masih mau belajar.
Dan itu sudah luar biasa. 💪
Salam hangat dari Oktober. Semangat ya, mahasiswa keren! Jangan lupa minum air putih, tidur cukup, dan scroll medsos secukupnya aja biar nggak jadi O-nya Overdosis.
Dalam upaya memperkuat profesionalisme dan kreativitas guru sejarah di era digital, Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) berkolaborasi dengan Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Siliwangi (UNSIL) yang tergabung dalam Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah se-Indonesia (P3SI), menyelenggarakan kegiatan PIJAR (Pengabdian Inovasi Pembelajaran Sejarah).
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan guru sejarah dari SMA, SMK, dan MAN di Kota Yogyakarta. PIJAR menjadi wadah berbagi inovasi pembelajaran berbasis teknologi sekaligus pelestarian nilai-nilai kearifan lokal, sebagai upaya menghadirkan pembelajaran sejarah yang relevan, inspiratif, dan kontekstual bagi peserta didik masa kini.
Acara yang berlangsung pada 15 Oktober 2025 ini merupakan bentuk nyata kerja sama di bidang pengabdian masyarakat antara Program Studi Pendidikan Sejarah UPY dan UNSIL. Rangkaian kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III FKIP UPY, Dr. Yanuar Bagas Arwansyah, yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi terhadap sinergi kedua institusi.
“Kolaborasi ini sangat penting untuk memperkuat pembelajaran sejarah yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Kami berharap kerja sama UPY dan UNSIL dapat terus berlanjut, tidak hanya dalam pengabdian, tetapi juga dalam pendidikan dan penelitian,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan dokumen kerja sama antara Zulpi Miftahudin, M.Pd. (Kaprodi Pendidikan Sejarah UNSIL) dan Dr. Muhammad Iqbal Birsyada, M.Pd. (Kaprodi Pendidikan Sejarah UPY).
Kegiatan PIJAR menghadirkan dua narasumber utama yaitu, Dr. Oka Agus Kurniawan Shavab, M.Pd. (dosen Pendidikan Sejarah UNSIL) memaparkan materi tentang Smart Apps Creator sebagai inovasi dalam pembelajaran sejarah berbasis digital.
Kemudian Dr. Emi Tipuk Lestari, M.Pd. (dosen Pendidikan Sejarah UPY) membahas strategi desain pembelajaran sejarah berbasis kearifan lokal.
Kedua pemateri berhasil menciptakan suasana belajar interaktif dan kolaboratif, mendorong para peserta aktif berdiskusi dan berpartisipasi dalam setiap sesi.
Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang kegiatan. M. Faruq J.B., M.Pd. (guru sejarah SMAN 10 Yogyakarta) mengungkapkan bahwa materi yang disampaikan sangat menarik dan meningkatkan keterampilan dalam membuat media pembelajaran sejarah berbasis teknologi.
Sementara itu, Ayu Triastuti, M.Pd. (guru sejarah SMAN 2 Yogyakarta) menilai kegiatan ini sangat bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan guru masa kini untuk terus berinovasi di era teknologi dan digital yang semakin berkembang pesat.
Kolaborasi antara UPY dan UNSIL dalam kegiatan PIJAR tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga momentum untuk mempererat jejaring akademik antara perguruan tinggi dan para pendidik sejarah.
Melalui sinergi ini, diharapkan lahir praktik pembelajaran sejarah yang lebih kreatif, reflektif, dan kontekstual, sejalan dengan tuntutan zaman.
Kedua institusi menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan program kolaboratif serupa pada masa mendatang. Upaya ini menjadi wujud nyata peran akademisi sebagai agen perubahan yang berdampak langsung bagi masyarakat dan dunia pendidikan.
Berikut kami sampaikan informasi dari PT Acer Indonesia mengenai penyelenggaraan Acer Smart School Awards (ASSA) 2025, sebuah ajang penghargaan bagi institusi pendidikan yang telah berhasil menerapkan prinsip smart school dalam kegiatan pembelajaran dan manajemen institusi.
Tahun ini, program ASSA 2025 juga membuka kategori khusus Guru & Dosen Kreatif Award, sebagai bentuk apresiasi kepada tenaga pendidik yang mengintegrasikan teknologi secara kreatif dan inspiratif dalam proses pembelajaran.
Sehubungan dengan hal tersebut, kami mengundang Bapak/Ibu Dosen untuk dapat berpartisipasi dalam ajang ini sebagai wujud dukungan terhadap transformasi digital di dunia pendidikan.
📅 Pendaftaran dibuka hingga 31 Oktober 2025 pukul 23:59 WIB 🌐 Informasi lebih lanjut dan pendaftaran dapat diakses melalui laman: https://acerid.com/smartschool
Demikian informasi ini kami sampaikan. Atas perhatian dan partisipasi Bapak/Ibu, kami ucapkan terima kasih.
Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi melalui penguatan sumber daya manusia. Salah satu langkah konkret yang ditempuh adalah penambahan jumlah dosen bergelar doktor di berbagai program studi, sebagai upaya strategis memperkuat kapasitas akademik institusi.
Kabar menggembirakan datang dari Program Studi Pendidikan Matematika. Dr. Koryna Aviory, S.Si., M.Pd., resmi menyandang gelar doktor setelah menyelesaikan studi doktoralnya. Keberhasilan ini disambut antusias oleh sivitas akademika UPY, yang melihat capaian ini sebagai momentum penting dalam mendorong kualitas tridarma perguruan tinggi pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Rektor Universitas PGRI Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P., dalam pernyataan resminya menyampaikan bahwa peningkatan jumlah dosen bergelar doktor merupakan bagian dari strategi jangka panjang universitas dalam mencetak lulusan yang kompeten dan berdaya saing.
“Kami percaya bahwa kualitas dosen adalah kunci utama dalam menciptakan proses pembelajaran yang unggul. Penambahan dosen bergelar doktor, termasuk Dr. Koryna, merupakan langkah nyata kami dalam mewujudkan visi UPY sebagai perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing global,” ungkap Prof. Paiman.
Dengan bertambahnya dosen berkualifikasi S-3, Program Studi Pendidikan Matematika UPY diharapkan semakin solid dalam mengembangkan kurikulum berbasis riset, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, dan memperluas kolaborasi akademik, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Capaian ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi dosen-dosen lain di lingkungan UPY untuk terus melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, sebagai bagian dari upaya kolektif membangun masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik.
Tim peneliti dari Program Studi Teknologi Rekayasa Elektromedis, Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) berhasil menciptakan terobosan inovatif di bidang teknologi kesehatan melalui pengembangan “Infant Warmer Terintegrasi Nebulizer Berbasis Internet of Things (IoT)”.
Penelitian yang dipimpin oleh Ekha Rifki Fauzi, S.K.M., M.P.H., bersama tim ini menghadirkan solusi baru untuk meningkatkan keselamatan dan efektivitas perawatan bayi, khususnya bayi prematur dan pasien neonatal yang membutuhkan terapi obat aerosol.
Prototipe alat ini menggabungkan fungsi penghangat bayi (infant warmer) dengan nebulizer yang dikendalikan secara digital. Melalui teknologi IoT, tenaga medis dapat mengatur durasi dan kecepatan pengembunan obat aerosol dari jarak jauh menggunakan perangkat gawai. Sistem ini juga memungkinkan pemantauan real-time terhadap proses pemberian obat, memastikan dosis dan waktu terapi lebih akurat serta minim kesalahan.
“Sampai saat ini, belum ada pengembangan yang mengintegrasikan nebulizer langsung dengan infant warmer. Sistem kami menawarkan solusi praktis, efisien, dan aman untuk perawatan bayi di ruang NICU,” ujar Ekha Rifki Fauzi, Ketua Peneliti.
Infant Warmer merupakan perangkat medis penting untuk menjaga suhu tubuh bayi baru lahir atau bayi prematur agar tetap stabil di rentang 34°C – 37°C. Integrasi sistem penghangat dengan teknologi IoT dan nebulizer memberikan manfaat signifikan, terutama dalam pengobatan bayi yang membutuhkan pengembunan obat tanpa perlu pemindahan alat.
Dengan fitur pemantauan suhu, kontrol aerosol, dan pengaturan otomatis berbasis cloud, teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) serta menurunkan angka kematian bayi di Indonesia.
Inovasi ini dikembangkan dengan dukungan Program Bantuan Biaya Luaran Prototipe Tahun 2025 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Saat ini, tim peneliti sedang fokus pada peningkatan Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) dari level 4 ke level 5 dengan penambahan sistem IoT berbasis cloud untuk perekaman data medis dan kendali jarak jauh.
Secara komersial, alat ini menawarkan produk dalam negeri yang ekonomis dan berpotensi menggantikan produk impor, dengan target pengguna meliputi rumah sakit umum, rumah sakit ibu dan anak, serta puskesmas.
“Selain mendukung kemandirian alat kesehatan nasional, kami berharap inovasi ini menjadi langkah nyata UPY dalam hilirisasi riset dan peningkatan daya saing industri alat kesehatan dalam negeri,”tambah Ekha Rifki.
Keberhasilan penelitian ini menegaskan komitmen Universitas PGRI Yogyakarta dalam mendukung riset terapan yang berdampak langsung pada masyarakat, serta mendorong kolaborasi lintas disiplin antara dunia akademik dan industri.
Melalui pengembangan alat Infant Warmer Terintegrasi Nebulizer Berbasis IoT, UPY membuktikan perannya dalam menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kesehatan modern menciptakan perawatan bayi yang lebih cerdas, efisien, dan manusiawi.
Kalau kamu pernah scroll media sosial dan tiba-tiba ketemu teman-teman seangkatan yang sudah pakai toga, lagi foto cantik-cantik di depan gedung kampus dengan senyum sumringah, pasti pernah muncul pertanyaan di kepala, “Aku sudah wisuda, kamu kapan?”
Iya, pertanyaan klasik yang kadang bikin kita mikir keras, santai, atau malah geleng-geleng kepala. Tapi santai dulu, ini bukan artikel nyindir, melainkan curhat jujur tentang lika-liku jadi mahasiswa yang masih berjuang menuju momen sakral itu: WISUDAHHHH.
1. Wisuda, Target Utama Tapi Misterius
Banyak dari kita masuk kampus dengan semangat “empat tahun selesai, siap kerja.” Tapi kenyataan di lapangan? Skripsi bisa jadi rintangan paling ngenes dan paling dramatis dalam sejarah hidup mahasiswa. Dari nyari dosen pembimbing yang suka hilang entah ke mana, revisi skripsi yang kayak gak ada habisnya, sampai diskusi yang bikin kepala pusing tujuh keliling.
Jadi, ketika teman sebelah udah bisa bilang “Aku sudah wisuda, kamu kapan?”, rasanya seperti denger lagu sedih yang bikin ingin nambah semangat… atau ngumpet di kamar kos.
2. Dosen Killer: Teman atau Musuh?
Kalau ditanya kenapa wisuda belum datang, biasanya jawabannya nggak jauh dari si dosen killer yang galak dan suka kasih tugas dadakan. “Ini revisi terakhir ya!” katanya, tapi kamu sudah mendengar kalimat itu selama tiga bulan terakhir tanpa ujung yang jelas.
Lucunya, kita juga sering nggak sadar kalau dosen killer itu sebenarnya guru besar yang peduli dan ingin kita jadi lebih baik. Cuma cara kasih sayangnya itu yang bikin kita ketar-ketir. Jadi, jangan lupa sesekali bawa camilan dan senyum manis, siapa tahu revisimu langsung disetujui!
3. Organisasi, Skripsi, dan Drama Kehidupan Kampus
Selain skripsi, kehidupan kampus juga penuh drama organisasi, tugas kelompok yang nggak kompak, dan deadline yang nggak ada habisnya. Kadang kita merasa kayak aktor sinetron: berjuang sendiri, dikejar waktu, dan dihadapkan pada plot twist yang nggak terduga—mulai dari kehilangan file skripsi sampai presentasi yang tiba-tiba dibatalkan.
Tapi jangan lupa, setiap drama itu juga bikin kita belajar banyak hal: manajemen waktu, komunikasi, dan tentu saja kesabaran ekstra.
4. “Aku Sudah Wisuda, Kamu Kapan?” Jadi Motivasi
Kalimat itu memang kadang bikin geregetan. Tapi coba pikir, itu juga bisa jadi penyemangat. Karena, kalau temanmu sudah sampai garis finish, itu artinya kamu juga bisa! Wisuda bukan hanya soal gelar, tapi tentang perjuangan, pengalaman, dan cerita seru yang bakal kamu kenang seumur hidup.
Jadi, daripada stres mikirin “kapan wisuda?”, yuk fokus selesaikan satu per satu. Skripsi, tugas, organisasi, dan jangan lupa jaga kesehatan mental juga.
5. Bonus Tips: Tips Santai Menyambut Wisuda
Jangan terlalu perfeksionis, yang penting selesai.
Cari teman buat belajar bareng biar gak stres sendirian.
Istirahat cukup dan jangan lupa makan, biar otak tetap fresh.
Ingat, wisuda adalah proses, bukan tujuan akhir satu-satunya.
Kalau ada teman bilang, “Aku sudah wisuda, kamu kapan?”, jawab saja dengan senyum dan semangat: “Sedang berjuang, lihat aku jadi juara bertahan!” Karena setiap perjalanan berbeda, dan momen wisuda akan datang tepat waktu dengan cerita yang tak kalah seru.
Kota Yogyakarta memasuki usia ke-269 tahun pada tanggal 7 Oktober 2025. Sebuah momentum bersejarah yang tidak hanya mengingatkan kita pada jejak panjang perjalanan kota ini sejak didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1756, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Yogyakarta terus berkembang dan bertransformasi untuk menghadapi tantangan zaman.
Di tengah tantangan global dan perkembangan zaman yang kian cepat, Yogyakarta menunjukkan kemampuannya untuk tetap relevan dan dinamis. Digitalisasi pelayanan, penguatan ekonomi kreatif, serta komitmen pada pelestarian budaya lokal terus berjalan beriringan. Di sisi lain, karakter Jogja sebagai kota pendidikan dan budaya tetap menjadi fondasi yang kuat dalam setiap langkah pembangunan.
Yogyakarta hari ini adalah kota yang mengakar pada nilai, namun terbuka pada perubahan. Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, Jogja terus menata dirinya menjadi kota yang inklusif, tangguh, dan siap melesat ke masa depan tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Dirgahayu ke-269 Kota Yogyakarta. Mari terus melangkah bersama: Lebih Dekat, Lebih Cepat, Maju Melesat. Jogja bukan hanya tempat, ia adalah rasa.
Yogyakarta – Tim Futsal Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menorehkan prestasi gemilang dengan menjuarai Supersoccer EURO FUTSAL Championship Futsal Campus Regional 2025, yang digelar di GOR Satria, Purwokerto, pada 22 September 2025.
Tak hanya meraih gelar juara, sejumlah pemain Tim Futsal UPY juga menyabet penghargaan individual bergengsi. Yudha Yanuar Amerta dinobatkan sebagai Best Player, sedangkan Muhammad Taufik Amriyanto berhasil keluar sebagai Top Score turnamen. Selain itu, Universitas PGRI Yogyakarta juga dianugerahi penghargaan Team Fairplay, menandai performa unggul tidak hanya dari segi teknik, tetapi juga sportivitas.
Keberhasilan ini mendapat apresiasi langsung dari Dr. Andri Arif Kustiawan, M.OR., AIFO, Dosen Ilmu Keolahragaan UPY sekaligus Pelatih Tim Futsal UPY. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan rasa bangga dan syukur atas pencapaian luar biasa yang diraih tim.
“Prestasi ini tentu membanggakan, tetapi saya selalu mengingatkan kepada para pemain untuk tidak cepat puas. Justru capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus berkembang dan memberikan yang terbaik di kompetisi selanjutnya,” ujar Dr. Andri.
Turnamen Supersoccer EURO FUTSAL Championship merupakan salah satu ajang bergengsi di tingkat mahasiswa, yang mempertemukan tim-tim futsal kampus terbaik dari berbagai daerah. Kemenangan ini menjadi bukti nyata konsistensi UPY dalam mencetak atlet muda berprestasi serta menunjukkan komitmen universitas dalam mendukung pengembangan olahraga di lingkungan kampus.
Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan National Yunlin University of Science and Technology (Yuntech), Taiwan, pada Selasa, 30 September 2025. Penandatanganan berlangsung di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), yang menjadi tuan rumah pertemuan strategis seluruh jaringan Perguruan Tinggi PGRI di Indonesia.
MoU ditandatangani langsung oleh Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P., dalam rangkaian acara yang menandai penguatan jejaring akademik internasional. Kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen kolektif 17 perguruan tinggi PGRI untuk membuka akses global dalam bidang pendidikan, penelitian, dan inovasi.
Rektor Yuntech Taiwan hadir langsung memimpin delegasi, yang terdiri atas jajaran pimpinan universitas, alumni sukses, serta sejumlah pengusaha terkemuka dari Taiwan. Kunjungan ini mencerminkan keseriusan Yuntech dalam membangun kemitraan jangka panjang dan berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia.
“Ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah awal dari kolaborasi strategis yang luas, mencakup pertukaran pelajar dan dosen, riset bersama, serta pengembangan kewirausahaan lintas negara,” ujar Prof. Paiman usai penandatanganan.
Momentum ini juga menjadi penegasan bahwa PGRI tidak hanya berperan sebagai organisasi pendidikan di dalam negeri, tetapi juga sebagai kekuatan akademik yang siap berjejaring secara global. Dengan kemitraan ini, mahasiswa dan sivitas akademika UPY akan memiliki peluang lebih besar untuk mengakses pengalaman internasional dan sumber daya inovatif dari kampus mitra kelas dunia.