Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menorehkan prestasi akademik dengan bertambahnya satu lagi dosen bergelar Guru Besar. Kali ini, gelar kehormatan tersebut diraih oleh Prof. Dr. Salamah, M.Pd., dosen pada Program Magister Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Prof. Dr. Salamah secara resmi menyandang jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar dalam Bidang Teknologi Pendidikan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 2647/M/KPT.KP/2025 tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen.
Capaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Program Magister Pendidikan IPS, tetapi juga memperkuat komitmen UPY dalam meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Rektor UPY, Prof. Paiman, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas pencapaian Prof. Dr. Salamah. “Ini adalah pencapaian yang luar biasa dan menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika UPY untuk terus berkembang secara profesional dan akademik,” ujarnya.
Dengan bertambahnya Guru Besar di lingkungan UPY, diharapkan atmosfer akademik semakin berkembang dan mampu mendorong lahirnya inovasi-inovasi pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Yogyakarta – Program Studi S1 Arsitektur Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi, khususnya dalam merespons dinamika dan tantangan dunia kerja di masa kini dan mendatang. Melalui kegiatan Lokakarya Peninjauan dan Evaluasi Kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), Prodi Arsitektur UPY melibatkan sejumlah pemangku kepentingan lintas sektoral dalam forum kolaboratif yang konstruktif.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wibawa, M.Kom. sebagai Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UPY beserta jajarannya, serta menghadirkan perwakilan dari beberapa stakeholder. Diantaranya adalah Dr. Yulianto Purwono Prihatmaji, S.T., M.T., IPM., IAI. sebagai Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI), Ar. Erlangga Winoto, IAI., AA sebagai ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Widi Cahya Yudhanta S.T., M.Sc. sebagai mitra akademisi, Sekar, S.T., sebagai mitra Pemerintah Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan Jawa III, Ar. RM. Cahyo Bandono, S.T,. M.T, IAI sebagai mitra konsultan, serta para alumni.
Dengan semangat Kurikulum Berdampak, diskusi dan peninjauan kurikulum bertujuan untuk memperkuat relevansi pendidikan arsitektur terhadap kebutuhan dunia kerja yang semakin kompleks dan transformatif. Keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat memberikan perspektif yang menyeluruh, mulai dari dunia akademik hingga persiapan dunia profesional, sehingga menghasilkan kurikulum yang adaptif, responsif, dan kompetitif.
“Kurikulum bukan sekadar dokumen, tapi merupakan cerminan dari kesiapan institusi dalam membekali lulusannya menghadapi realitas profesional,” ungkap salah satu narasumber dari IAI DIY dalam diskusi.
Melalui kegiatan ini, Rachmat Wahyu Prabowo, ST. M.Eng. sebagai ketua program studi Arsitektur UPY menegaskan pentingnya membangun ekosistem pendidikan arsitektur yang berkelanjutan, dengan menjalin kemitraan strategis jangka panjang antara perguruan tinggi Arsitektur, dengan asosiasi profesi, dan mitra dari akademisi dan industri. Sinergi tersebut diyakini mampu menciptakan lulusan arsitektur yang tidak hanya kompeten secara teknis dan archipreneurship, tetapi juga peka terhadap isu-isu sosial, lingkungan, dan inovasi desain di era global.
Dengan demikian, Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) membuktikan kesiapannya sebagai institusi pendidikan yang proaktif dan progresif dalam menyongsong dan mencetak generasi arsitek masa depan yang siap berkontribusi bagi bangsa dan dunia.
Setelah semester penuh skripsi, UTS, UAS, drama organisasi, dan drama cinta tak berbalas, akhirnya… libur kuliah datang juga!
Tapi pertanyaannya sekarang: “Liburan ini mau ngapain ya?”
Karena kalau salah strategi, tahu-tahu udah September aja, tugas menumpuk, dan kita nggak dapet apa-apa kecuali lemak dan kenangan mantan.
Jadi, gimana cara kita mengisi waktu libur biar nggak cuma jadi kolektor rebahan level dewa? Nih, beberapa opsi sekaligus sindiran halus untuk dirimu yang masih galau:
1. Kerja Part-Time: Karena Liburan Juga Butuh Dana
Kalau kamu tipe mahasiswa yang dompetnya suka ikut semester pendek (alias tipis), part-time job bisa jadi solusi.
Entah itu jadi barista, penjaga toko, admin media sosial, sampai ngasuh ponakan tetangga (asal dibayar), semua bisa asal halal dan bikin skill naik.
Keuntungan:
Dapet uang jajan tambahan, Bisa ditulis di CV (“Berpengalaman kerja sejak mahasiswa”), Dapet kenalan baru (dan mungkin jodoh?)
Risiko:
Nggak bisa ikut reuni SMA karena “masuk siang”, Dompet nambah, tapi mata panda ikut bonus
2. Backpakeran atau Liburan Bareng Teman: Demi Feed Instagram yang Estetik
Kamu merasa penat, butuh refresh, dan ingin berteriak dari atas bukit, “AKU BEBAS!”
Backpakeran adalah solusi healing kekinian. Tapi ingat, healing yang bikin utang itu bukan penyembuhan, tapi penciptaan luka baru (di dompet).
Tips penting:
Jangan liburan demi konten doang, nikmati juga momen offline. Pastikan pulang membawa kenangan, bukan hanya sunburn dan jerawat.
3. Staycation di Rumah: Menikmati Liburan Tanpa Dandan
Buat kamu yang anti panas-panasan dan percaya bahwa kedamaian sejati ada di balik pintu kamar: Staycation di rumah is real.
Atau bisa:
Maraton film sampai mata pegel, Baca buku (yang dibeli sejak semester 2 tapi belum dibuka plastiknya), Berkebun (kalau gagal, bilang aja eksperimen bioteknologi)
Bonus: bisa bangun siang tanpa judgment… kecuali dari ibu.
4. Membantu Orang Tua: Biar Nggak Dibilang “Cuma Kuliah, Gitu Aja Cape”
Kamu mungkin jago bikin presentasi 40 slide dalam semalam, tapi…bisakah kamu mengepel tanpa drama, belanja ke pasar tanpa bingung kembalian, atau masak nasi tanpa bikin nasi keras di bawah, lembek di atas?
Liburan bisa jadi waktu ideal buat lebih dekat dengan keluarga. Percayalah, membantu orang tua itu bentuk investasi spiritual. Siapa tahu, doanya nyangkut pas ujian akhir nanti.
5. Gabung Pelatihan, Kelas Online, atau Bikin Proyek Sendiri
Kedengarannya serius, ya? Tapi ini justru seru kalau kamu ikut kelas yang sesuai passion: desain, nulis, bahasa Korea, bahkan kelas bikin CV.
Bisa juga bikin proyek pribadi: nulis novel, buka toko online, atau bikin podcast bareng teman. Yang penting, ada hasil dan proses yang dinikmati.
Jadi, Libur Kuliah Mau Diisi Apa?
Apa pun pilihanmu, yang penting: punya tujuan. Nggak harus besar, tapi bermakna buat kamu. Entah itu dapat pengalaman kerja, membahagiakan orang tua, atau sekadar menyembuhkan diri dari semester yang melelahkan.
Ingat, bukan seberapa “jauh” kamu pergi saat libur, tapi seberapa “bernilai” kamu kembali saat kuliah mulai lagi. Dan kalau belum siap ngapa-ngapain… ya rebahan aja dulu, asal jangan lupa bangun. 😄
Selamat libur kuliah!Isi dengan tawa, makna, dan secuil produktivitas biar tetap waras saat masuk semester baru nanti. ✨
Yogyakarta, 13 Juli 2025 – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY). Selvi Marlina, mahasiswa dari Program Studi Manajemen, berhasil meraih Juara Harapan II Diajeng Kulon Progo 2025, sebuah ajang bergengsi pemilihan duta wisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kulon Progo.
Acara malam penobatan berlangsung meriah di Amphitheater Taman Budaya Kulon Progo, Sabtu malam, 12 Juli 2025. Selvi tampil memukau bersama 29 finalis lainnya yang telah melewati serangkaian seleksi ketat dari lebih dari 80 peserta tahun ini.
Dalam keterangannya, Selvi mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian ini.
“Walaupun belum bisa menjadi yang terbaik, tapi saya percaya saya sudah melakukan yang terbaik. Gelar Juara Harapan II ini menjadi motivasi besar untuk terus berkarya dan berkontribusi,” ujar Selvi.
Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Joko Mursito, menyampaikan bahwa antusiasme peserta tahun ini mengalami peningkatan signifikan.
“Tahun ini lebih dari 80 peserta ikut, naik dibanding tahun lalu yang hanya 60-an. Ini bukti bahwa generasi muda semakin ingin terlibat dalam membangun daerahnya,” katanya.
Menurut Joko, ajang Dimas Diajeng bukan sekadar kontes kecantikan atau ketampanan, melainkan seleksi duta wisata dan budaya yang berperan sebagai wajah serta representasi Kulon Progo di tingkat regional bahkan nasional.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menyampaikan bahwa Dimas Diajeng merupakan ikon penting yang menjadi representasi anak muda Kulon Progo.
“Mereka adalah wajah daerah ini, role model generasi muda yang harus aktif memperkenalkan kekayaan budaya dan pariwisata kita. Ini bagian dari misi besar kita: menjadikan budaya lokal sebagai kekuatan nasional,” tegas Bupati.
Ia juga mengajak para Dimas dan Diajeng untuk menjadi pelopor dalam pelestarian budaya, serta ujung tombak dalam memperkenalkan Kulon Progo ke masyarakat nasional maupun internasional.
Sementara itu Wakil Rektor III UPY Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Dr. Septian Aji Permana, M.Pd, turut memberikan apresiasi atas capaian Selvi.
“Syukur Alhamdulillah mahasiswa kita mampu bersaing dan meraih prestasi. Terus berkarya, terus menginspirasi. Karena prestasi bukan hanya tentang juara, tapi tentang kontribusi,” ujarnya.
Keberhasilan Selvi Marlina dalam ajang Dimas Diajeng Kulon Progo 2025 tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi simbol bahwa mahasiswa UPY mampu menunjukkan kualitas dan kontribusinya di luar ranah akademik. Prestasi ini sejalan dengan semangat UPY dalam membentuk lulusan yang berkarakter, unggul, dan berdedikasi bagi masyarakat.
Yogyakarta, 14 Juli 2025 — Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) terus memperkuat langkah internasionalisasinya melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM), Malaysia. Kegiatan yang berlangsung di kampus UPY ini juga dirangkaikan dengan kuliah tamu (Visiting Lecture) dari jajaran akademisi UTeM, dan dihadiri oleh pimpinan kedua institusi, dosen, serta mahasiswa dari berbagai program studi.
Acara ini menjadi tonggak awal kerja sama strategis antara UPY dan UTeM dalam pengembangan pendidikan, penelitian, pertukaran akademik, serta perluasan jejaring internasional di kawasan Asia Tenggara.
Penandatanganan MoU disaksikan langsung oleh jajaran pimpinan UPY, antara lain:
Ketua Pembina Yayasan Pembina, Armansyah Prasakti, S.H., S.Pn., M.H.
Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P.
Wakil Rektor III, para Dekan dan Wakil Dekan III, Ketua Program Studi Informatika, Gizi, Arsitektur, Sistem Informasi, Teknik Industri, Teknologi Hasil Pertanian, Agroteknologi, serta tim Kantor Urusan Kerja Sama.
Delegasi UTeM Malaysia dipimpin oleh:
Professor Datuk Ts. Dr. Massila Kamalrudin – Vice-Chancellor UTeM
Professor Dr. Mohd Rizal bin Salleh – Dean Postgraduate School
Associate Professor Ts. Dr. Suriati binti Akmal – Deputy Dean Institute of Technology Management and Entrepreneurship
Dr. Muhammad Zulfattah bin Zakaria – Senior Lecturer
Datuk Hajah Rosnah binti Hj. Abdul Rashid Shirlin dan Datuk Mohd Arif bin Abdul Majid dari UTeM Holdings Group
Selain penandatanganan MoU di tingkat institusi, kegiatan ini juga mencakup penandatanganan MoA (Memorandum of Agreement) oleh FKIP UPY serta Implementation Arrangement (IA) oleh tujuh program studi di UPY. IA ditandatangani langsung oleh masing-masing ketua program studi (kaprodi) sebagai komitmen awal pelaksanaan program-program kolaboratif di tingkat prodi.
Adapun program studi yang terlibat dalam penandatanganan IA antara lain:
Program Studi Teknologi Hasil Pertanian (THP)
Program Studi Agroteknologi
Program Studi Teknik Industri
Program Studi Sistem Informasi
Program Studi Gizi
Program Studi Arsitektur
Program Studi Informatika
Langkah ini diharapkan mempercepat implementasi kegiatan nyata seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, kuliah bersama (joint lecture), serta riset kolaboratif lintas negara.
Setelah sesi penandatanganan, kegiatan dilanjutkan dengan kuliah tamu (Visiting Lecture) yang disampaikan oleh perwakilan UTeM Malaysia. Kuliah ini diikuti dengan antusias oleh dosen dan mahasiswa dari berbagai fakultas di UPY. Materi yang disampaikan membuka cakrawala baru mengenai tantangan dan strategi pendidikan tinggi di era digitalisasi, inovasi teknologi, serta pentingnya kolaborasi lintas negara.
“Melalui kerja sama ini, kita berharap tidak hanya mencetak lulusan unggul, tapi juga membuka lebih banyak peluang internasional bagi dosen dan mahasiswa,” ujar Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi berbagai program lanjutan, antara lain:
Pertukaran mahasiswa dan dosen
Program magang dan kuliah internasional
Penelitian bersama (joint research)
Seminar internasional dan pengembangan kurikulum kolaboratif
Selain memperkuat kompetensi global sivitas akademika, kerja sama ini juga menjadi nilai tambah penting dalam proses akreditasi dan pemeringkatan kampus, serta memperluas jejaring profesional UPY di kancah internasional.
“Ini bukan akhir, melainkan awal dari kolaborasi besar yang akan memperkaya atmosfer akademik kedua institusi,” ungkap Professor Datuk Ts. Dr. Massila Kamalrudin dalam sambutannya.
Dengan semangat sinergi lintas negara, UPY dan UTeM berkomitmen membangun kerja sama berkelanjutan untuk menciptakan dampak positif di bidang pendidikan, teknologi, dan pengembangan masyarakat global.
Yogyakarta, 8 Juli 2025 – Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat jejaring akademik internasional dengan menyambut kehadiran dosen tamu dari Punjabi University, Patiala, India. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang Rektorat UPY ini juga menjadi momentum penting ditandatanganinya dokumen Memorandum of Understanding (MoU), Memorandum of Agreement (MoA), dan Implementation Arrangement (IA) antara kedua institusi.
Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dan sivitas akademika UPY, termasuk:
Rektor Universitas PGRI Yogyakarta
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama
Dekan FKIP serta Ketua-ketua Program Studi di bawah FKIP (Sejarah, PBSI, PPKn, PGSD, PBI, PAUD, PLB)
Kepala Kantor Urusan Kerja Sama
Divisi Kerja Sama Luar Negeri dan Dalam Negeri
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya internasionalisasi UPY untuk memperluas kolaborasi akademik lintas negara. Dalam sambutannya, Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P menyampaikan rasa bangga atas terjalinnya kemitraan dengan salah satu universitas ternama di India.
“Kolaborasi ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat jejaring global kampus. Kami berharap, ke depan akan terwujud berbagai program pertukaran akademik dan riset bersama yang bermanfaat bagi kedua belah pihak,” ujarnya.
Acara berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Selain sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan profil masing-masing institusi, dialog interaktif, dan diskusi rencana kerja sama strategis ke depan.
Kolaborasi antara UPY dan Punjabi University ini memiliki beberapa tujuan utama:
Mempererat hubungan kelembagaan melalui pertukaran dosen dan mahasiswa.
Berbagi pengetahuan dan perspektif global, khususnya dalam bidang pendidikan, bahasa, dan ilmu sosial.
Mendorong kolaborasi riset dan pengembangan akademik lintas negara.
Meningkatkan kompetensi internasional sivitas akademika UPY.
Mendukung atmosfer kampus yang inklusif dan berwawasan global.
Dengan ditandatanganinya MoU, MoA, dan IA, kedua universitas menyatakan keseriusan dalam membangun kerja sama yang berkelanjutan. Berbagai inisiatif seperti kuliah tamu internasional, seminar bersama, joint research, serta program pertukaran budaya dan akademik akan mulai dijajaki dalam waktu dekat.
Kehadiran dosen tamu dari Punjabi University tidak hanya menambah warna dalam kegiatan akademik UPY, tetapi juga menjadi inspirasi bagi sivitas akademika untuk terus membuka diri terhadap kolaborasi internasional.
“Kami percaya, melalui kemitraan seperti ini, mahasiswa dan dosen UPY akan memiliki cakrawala yang lebih luas dan siap bersaing di tingkat global,” tutup Prof. Paiman.
Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menutup semester ini dengan torehan prestasi membanggakan. Mahasiswa PG PAUD berhasil meraih lima Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas karya inovatif di bidang media pembelajaran anak usia dini, serta menyelenggarakan Pagelaran Karya Seni Anak sebagai implementasi kurikulum berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics).
Ketua Program Studi PG PAUD UPY, Windi Utama, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil dari proses pembelajaran yang kolaboratif, kreatif, dan aplikatif.
“Mahasiswa kami tidak hanya dibekali teori, tetapi juga kami support untuk menciptakan karya otentik yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan anak usia dini,” ujar Windi.
Lima HKI yang diraih mahasiswa merupakan luaran dari mata kuliah Konsep Dasar Studi Sosial yang dibimbing oleh Victor Novianto, dengan fokus pada pengembangan media edukatif berbasis digital untuk digunakan di lingkungan kelas PAUD.
Sementara itu, melalui mata kuliah Pagelaran Karya, mahasiswa menampilkan beragam hasil karya seni, musik, dan gerak anak yang telah mereka fasilitasi selama praktik lapangan. Pagelaran ini dikurasi oleh Elriza Animayong, yang menekankan pentingnya ekspresi seni dalam mendukung tumbuh kembang anak usia dini.
Dosen bidang akademik PG PAUD, Novianti Retno Utami, turut menyampaikan apresiasinya terhadap sinergi yang kuat antara mahasiswa, dosen, dan program studi.
“Capaian ini adalah bukti dari ekosistem pembelajaran yang produktif dan berpihak pada anak. Kami akan terus mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya inovatif yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat,” jelas Novianti.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi akhir semester, tetapi juga momentum bagi mahasiswa untuk menampilkan dan melindungi karya-karya mereka secara profesional. Program Studi PG PAUD UPY terus berkomitmen menjadi ruang tumbuh bagi calon pendidik PAUD yang unggul, kreatif, dan berwawasan global.
“Kita lulus kuliah buat kerja, bukan buat jadi pengamat lowongan kerja di Instagram.” — Mahasiswa semester 10 yang akhirnya wisuda
Selamat datang di dunia pasca-wisuda! Dunia tempat kita menyadari bahwa toga cuma dipakai sehari, tapi rasa bingung setelah lulus bisa seminggu—atau lebih.
Buat kamu yang baru lulus dan melihat dunia kerja sekarang, pasti sempat mikir: “Lho, ini dunia lagi canggih banget ya. Semua udah AI. Terus aku kerja apa?”
Tenang. Jangan buru-buru daftar jadi “penjaga pintu hati mantan” atau “direktur hubungan tanpa status.” Di era teknologi yang makin maju—dan kadang terasa kayak film fiksi ilmiah—justru banyak peluang baru yang terbuka lebar. Asal tahu arahnya, kamu bisa tetap relevan dan bahkan jadi talenta yang dicari.
Yuk, kita bahas peluang kerja buat kamu, para fresh graduate, yang (lagi-lagi) galau tapi tetap penuh harapan.
1. Bukan Cuma Coding, Dunia Teknologi Butuh Banyak Peran
Kabar baik buat kamu yang takut sama barisan kode: AI itu bukan cuma soal jadi programmer. Industri teknologi butuh:
AI Trainer – ngasih contoh ke mesin supaya dia ngerti konteks. Jadi kayak ngajarin anak kecil, tapi ini anaknya robot.
Content Moderator – memantau konten yang diproses AI. Jadi, bukan cuma AI yang kerja, manusia tetap jadi “penjaga moral”.
UX/UI Designer – bikin tampilan aplikasi tetap nyaman dipakai, karena se-canggih apapun AI, kalau tampilannya kayak soal ujian UTBK, orang males buka.
2. Kreativitas = Mata Uang Baru
AI bisa bikin tulisan, gambar, bahkan video. Tapi… AI nggak pernah galau. AI nggak tahu rasanya ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Di situlah manusia menang.
Pekerjaan di dunia kreatif digital tetap punya tempat:
Copywriter dan Content Creator yang bisa kasih tone of voice yang lebih manusiawi (dan ngena di hati).
Storyteller & Scriptwriter buat dunia film, iklan, atau bahkan game interaktif.
Digital Marketing Specialist yang tahu cara menyentuh emosi audiens, bukan cuma pakai data, tapi juga empati.
3. Pekerjaan Baru Bermunculan (Dan Nama-namanya Keren-Keren)
Mau kerja dengan judul yang bisa bikin bangga pas ditanya tetangga? Ini dia:
Prompt Engineer – kerjaannya nyuruh AI kerja (literally). Bikin perintah ke AI supaya hasilnya sesuai kebutuhan.
AI Ethicist – mikirin soal etika penggunaan teknologi. Jadi kayak Bapak Ibu Guru BP-nya AI.
Data Storyteller – gabungin data dengan narasi yang menarik. Bukan sekadar grafik pie, tapi grafik yang bisa “bercerita”.
4. Soft Skill Tetap Nomor Satu
Mesin boleh pinter, tapi:
Mesin nggak tahu cara menyemangati teman kerja yang putus cinta.
Mesin belum bisa mimpin rapat dengan empati.
Mesin nggak ngerti “kode” manusia (apalagi kode gebetan).
Jadi, skill kayak komunikasi, kerja tim, kepemimpinan, empati, dan adaptasi tetap jadi nilai jual utama fresh graduate.
5. Belajar = Teman Sehidup Semati
Era ini bukan lagi “lulus, kerja, selesai.” Sekarang, lulus = mulai belajar yang sebenarnya.
Ada banyak platform gratis sampai berbayar buat belajar hal-hal baru:
Intinya, selama kamu mau belajar, kamu nggak akan ketinggalan.
Fresh Graduate Nggak Usah Panik, Tapi Juga Jangan Rebahan Terus
Teknologi boleh berubah cepat. Tapi semangat manusia—untuk tumbuh, berkreasi, dan adaptif—itu nggak bisa digantikan. Buat kamu yang baru lulus: Dunia memang lagi canggih, tapi kamu juga nggak kalah keren. Pakai AI sebagai alat bantu, bukan saingan. Cari celah, kembangkan skill, dan jangan lupa tetap manusiawi.
Karena pada akhirnya, perusahaan itu butuh lebih dari sekadar otak—mereka butuh hati. Dan AI belum punya hati, bro.
Yogyakarta — Nuansa hangat dan meriah memenuhi Auditorium Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) pada Senin, 7 Juli 2025, saat mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2022 sukses menyelenggarakan Pagelaran Musik Kirana Loka 2025. Mengusung tema “Harmoni dalam Nada, Mengalun Lembut Membawa Makna”, kegiatan ini menjadi ajang ekspresi seni yang mencerminkan semangat kolaboratif dan kreatif para mahasiswa dalam dunia musik.
Pagelaran ini menampilkan seluruh mahasiswa dari 7 kelas angkatan 2022 yang terlibat aktif dalam merancang, mempersiapkan, hingga menampilkan karya musik mereka secara kreatif dan penuh makna. Kegiatan ini turut disaksikan oleh mahasiswa PGSD angkatan 2023 dan 2024 serta disiarkan secara langsung melalui akun Instagram resmi @senimusikpgsd, menjangkau khalayak yang lebih luas di lingkungan akademik dan pencinta seni.
Ketua Pelaksana, Saputra, membuka acara dengan sambutan penuh semangat dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. “Pagelaran ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga wujud nyata dari ekspresi, kerja sama, dan dedikasi mahasiswa PGSD dalam bidang seni,” ungkapnya.
Sementara itu, Muhamad Muslich Candranagara, M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Seni Musik, dalam sambutannya menekankan bahwa seni musik merupakan media pendidikan yang kuat dalam membentuk kepekaan, kedisiplinan, dan karakter mahasiswa. “Kami terus mendorong mahasiswa untuk berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam bidang seni,” ujarnya.
Kaprodi PGSD UPY, Dr. Rina Dyah Rahmawati, M.Pd., turut menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya Kirana Loka sebagai implementasi dari kurikulum Merdeka Belajar. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mengekspresikan kreativitas dan menumbuhkan rasa percaya diri, yang sangat penting bagi calon pendidik masa depan,” tutur Dr. Rina.
Pagelaran Kirana Loka menampilkan beragam pertunjukan seperti ansambel musik, vokal, hingga kolaborasi instrumen, mencerminkan keberagaman gaya, kreativitas, dan kekuatan narasi musikal para mahasiswa. Selain menjadi sarana hiburan dan ekspresi, kegiatan ini juga memperkuat karakter mahasiswa dan memperkaya pengalaman belajar secara holistik—melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dengan berakhirnya acara, semangat harmoni yang mengalun dalam setiap nada Kirana Loka 2025 tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga membawa makna mendalam akan pentingnya pendidikan yang menyeluruh. Universitas PGRI Yogyakarta, melalui kegiatan seperti ini, terus berkomitmen mencetak pendidik masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya secara emosional dan kreatif.
Yogyakarta, 2 Juni 2025 – Dalam rangka memperingati Dies Natalis Fakultas Bisnis dan Hukum Universitas PGRI Yogyakarta dan Hari Lahir Pancasila, BEM FBH UPY menyelenggarakan acara Class of Religion bertajuk “Moderasi Beragama bagi Generasi Muda yang Modern (Moderat, Edukatif, Responsif, dan Nasionalis)”.
Bertempat di Auditorium Universitas PGRI Yogyakarta, kegiatan ini menghadirkan semangat kebersamaan di tengah keberagaman. Peserta tak hanya datang dari kalangan civitas akademika UPY, khususnya Fakultas Bisnis dan Hukum, tetapi juga mahasiswa dari berbagai kampus lain di Yogyakarta, seperti UMY, UKDW, UST, UNY, Instiper, hingga Atma Jaya.
Universitas PGRI Yogyakarta dikenal sebagai rumah besar yang menaungi mahasiswa dari beragam latar belakang agama, suku, dan budaya. Inilah yang menjadi dasar penting diselenggarakannya kegiatan ini: sebagai wujud nyata implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kampus, dan sebagai ruang edukasi agar generasi muda memahami pentingnya toleransi, dialog antariman, dan hidup berdampingan secara damai.
“Moderasi beragama bukan hanya wacana, tapi sebuah sikap hidup yang harus ditanamkan sejak di bangku perkuliahan. Inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya: majemuk, damai, dan saling menghargai,” ujar salah satu panitia penyelenggara.
Acara berlangsung dengan lancar dan penuh semangat. Banyak peserta yang aktif terlibat dalam diskusi, berbagi pandangan lintas iman, dan menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk bersatu, tetapi justru kekayaan yang harus dirawat bersama.
Forum ini tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga wadah tumbuhnya kesadaran baru di kalangan mahasiswa: bahwa menghargai perbedaan adalah fondasi perdamaian, dan generasi muda memiliki peran penting untuk mewujudkannya.
“Kami berharap, dari kegiatan ini tumbuh semangat saling menghargai, keterbukaan berpikir, dan kolaborasi antar mahasiswa dari latar belakang yang berbeda,” ungkap salah satu peserta dari luar kampus.
Class of Religion 2025 menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tempat mencetak sarjana, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebhinekaan, toleransi, dan nasionalisme. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut sebagai kontribusi nyata dunia kampus untuk membangun masa depan Indonesia yang damai, adil, dan penuh penghargaan terhadap keberagaman.