Himpunan Mahasiswa Program Studi Akuntansi (HMP Akuntansi), Fakultas Bisnis dan Hukum, Universitas PGRI Yogyakarta, telah sukses menyelenggarakan kegiatan futsal antar pengurus dan anggota pada Sabtu, 12 April 2025. Bertempat di Dolano Futsal, acara ini mendapat sambutan antusias dari seluruh peserta dan menjadi ajang kebersamaan yang hangat di tengah padatnya rutinitas akademik dan organisasi.
Kegiatan ini dirancang sebagai sarana interaksi santai dan informal yang melibatkan seluruh elemen dalam himpunan. Tujuannya adalah mempererat hubungan antar pengurus dan anggota, serta meningkatkan kerjasama, komunikasi, dan kekompakan tim yang merupakan nilai-nilai penting dalam menjalankan roda organisasi mahasiswa.
Semangat sportivitas yang tampak selama pertandingan mencerminkan prinsip kebersamaan dan solidaritas yang menjadi fondasi utama kegiatan kemahasiswaan. “Lebih dari sekadar olahraga, futsal menjadi wadah untuk memperkuat chemistry antartim, sekaligus melatih strategi dan kepemimpinan dalam situasi kompetitif namun menyenangkan,” ujar salah satu panitia pelaksana.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga berperan sebagai ajang refreshing yang penting di tengah tekanan perkuliahan dan tanggung jawab organisasi. Momen seperti ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan mental dan fisik mahasiswa, sekaligus mempromosikan gaya hidup sehat dan aktif.
HMP Akuntansi berharap kegiatan futsal ini dapat menjadi agenda rutin yang memberikan dampak positif secara menyeluruh, baik dalam aspek kesehatan, solidaritas, maupun keberlanjutan kinerja organisasi.
Halo, teman-teman mahasiswa! Saat berada di kampus, kita pasti bertemu dengan berbagai jenis orang. Ada yang serius banget sama kuliah, ada yang lebih suka ngelamun di kantin, dan ada juga yang sibuk di organisasi. Ternyata, berdasarkan cara mereka menjalani kehidupan kampus, mahasiswa bisa dibagi menjadi dua tipe besar: akademik dan non-akademik. Kamu termasuk yang mana?
Yuk, kita cari tahu!
Mahasiswa Tipe Akademik: Si Cinta Buku
Mahasiswa tipe akademik adalah mereka yang menganggap kuliah adalah misi utama mereka di dunia ini. Bagi mereka, skripsi adalah semacam tiket emas yang harus diselesaikan dengan sempurna. Jadwal kuliah, ujian, tugas, dan segala hal yang berhubungan dengan akademik adalah “main course” dalam hidup mereka.
Contoh di Kampus:
Setiap kali ada dosen datang, mereka selalu di barisan depan dengan notebook dan pulpen yang siap pakai. Kalau ada quiz dadakan, mereka sudah siap dengan bahan bacaan yang entah dari mana mereka dapatkan (dan pastinya bukan dari Wikipedia).
Mereka adalah orang yang selalu terlihat di ruang perpustakaan, di depan komputer, atau di grup WhatsApp kelas. Kalau ada yang tanya “Eh, tugasnya gimana?”, mereka pasti udah siap jawab, “Tugasnya? Udah selesai tadi malam.”
Laporan, makalah, dan ujian? No problem. Mereka menghadapi semua itu dengan senyum di wajah, seperti seseorang yang siap menaklukkan dunia.
Tapi jangan salah, meskipun kelihatan serius banget, mahasiswa tipe akademik juga punya sisi humor. Coba deh tanya mereka soal deadline, mereka bisa tertawa sambil bilang, “Bahkan deadline aja nggak bisa mengalahkan tekad aku!”
Mahasiswa Tipe Non-Akademik: Si Penguasa Organisasi
Di sisi lain, ada mahasiswa tipe non-akademik yang lebih tertarik menghabiskan waktunya di luar kelas daripada duduk berjam-jam di ruang kuliah. Mereka adalah para pengurus organisasi, anggota klub, atau sekadar orang yang selalu ada di acara kampus. Kuliah adalah bagian dari hidup mereka, tetapi bukan segalanya.
Contoh di Kampus:
Mereka adalah orang yang selalu muncul di setiap acara kampus. Mulai dari seminar, konser, hingga acara bazar. Kalau ada acara, mereka pasti terlibat—baik jadi panitia, pengisi acara, atau bahkan sekadar jadi penonton yang tidak pernah ketinggalan.
Tugas kuliah? Oh, mereka juga menyelesaikan, tapi biasanya di waktu-waktu terakhir, sambil menyelipkan sedikit kegiatan organisasi di sela-sela pekerjaan rumah. “Kalau bisa multitasking, kenapa enggak?”
Mereka juga dikenal dengan kemampuan luar biasa dalam bernegosiasi, baik dalam hal mencari sponsor untuk acara atau meminta teman sekelas untuk menunda pengumpulan tugas sampai dua hari lagi.
Meskipun nggak selalu terjun ke dunia akademik, mahasiswa tipe non-akademik punya kreativitas yang nggak kalah hebatnya. Mereka bisa bikin acara keren dengan anggaran yang pas-pasan, dan kalau ditanya soal laporan, mereka akan menjawab, “Yang penting ide kreatif saya jalan, nanti tugas bisa dikerjain malam minggu.”
Akademik vs Non-Akademik: Siapa yang Lebih Hebat?
Banyak orang suka berdebat, mana yang lebih penting, akademik atau non-akademik? Jawabannya, keduanya punya peran yang sama penting!
Mahasiswa akademik memberikan kontribusi besar untuk dunia pendidikan dengan menyelesaikan tugas dan penelitian, sedangkan mahasiswa non-akademik memberikan warna dan kegembiraan di kampus dengan berbagai acara dan organisasi.
Akademik tanpa organisasi bisa terasa kering, sementara organisasi tanpa akademik bisa kehilangan arah. Jadi, keduanya saling melengkapi!
Kesimpulan: Jangan Terjebak di Stereotip
Jadi, jangan khawatir kalau kamu merasa tidak cocok sepenuhnya dengan tipe akademik atau non-akademik. Sebagai mahasiswa, kita bisa menyeimbangkan keduanya. Terkadang, kita butuh buku untuk ujian, dan di lain waktu kita butuh berorganisasi untuk memperluas jaringan. Yang terpenting adalah menikmati setiap pengalaman dan tidak lupa untuk selalu memiliki waktu untuk diri sendiri.
Dan yang pasti, jangan lupa, kampus bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat bersenang-senang. Jadi, apakah kamu lebih sering di ruang kelas atau ruang organisasi, yang penting tetap semangat dan jangan pernah kehilangan humor!
Periode kuliah dan berstatus sebagai mahasiswa, jadi momen yang dioptimalkan Ishma Aulya Warliani. Mahasiswi prodi ManajemenUniversitas PGRI Yogyakarta (UPY) angkatan 2021 ini, banyak mengeksplorasi diri dengan berbagai organisasi, kegiatan, hingga bekerja.
Perempuan kelahiran Bantul ini, selain kuliah juga bekerja di sebuah perusahaan digital marketing di daerah Sleman. Ia sendiri bekerja sejak tahun 2020 silam. “Kebetulan bulan ini kontrakku udah habis dan alhmdulillah aku lolos di KAI sebagai pramugari,”katanya.
Diakui, kesempatan untuk bekerja di KAI akan ia ambil sembari menyelesaikan tugas akhirnya. “Kebetulan aku tinggal skripsi dan saat ini juga masih nunggu info penempatan. Jadi aku akan kebut skripsinya,”jelasnya.
Selain memiliki beberapa pengalaman kerja, Ishma juga masih aktif di Duta Budaya DIY. Ia sendiri diamanahi sebagai runner up 3. Selain itu juga masih aktif di dunia modelling sebagai muse, hingga talent.
Perempuan yang bercita-cita menjadi pengusaha ini memaparkan, dalam konteks individu, ia juga telah menorehkan berbagai prestasi. Baik di konteks akademik maupun non-akademik.
Beberapa capaiannya di bidang akademik meliputi, menjadi mahasiwa program pembinaan wirausaha dari kemendikbudristek, Runner Up 3 Duta Budaya DIY 2025. “Sementara di dunia kerja saya meraih Best Customer Service 2022, dan Best Leader 2023 juga 2024,” ulasnya.
Di luar ragam kesibukan dan pencapaian itu, ia juga masih berusaha konsisten menekuni hobinya. Diakui, hobi dan kegiatan lain yang ia jalani sekarang adalah sebagai make-up artist (MUA). Ia suka dengan dunia kecantikan, akhirnya otodidak belajar make-up dan membuat usaha jasa make-up.
“Aku juga suka masak, aku mulai buka katering kecil-kecilan. Selain itu aku hobi menyanyi dan menari, aku gunakan itu di kegiatan budayaku,” tandasnya.
Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (HMP PGSD) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Membangun Sistem Pendidikan yang Inklusif dan Berkarakter Pancasila untuk Generasi Masa Depan” pada Kamis, 13 Maret 2025 di Auditorium Kampus 1 UPY.
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 600 peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa PGSD, serta akademisi pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia. Seminar ini juga mencakup sesi call for papers yang turut memperkaya diskusi akademik tentang pendidikan dasar di Indonesia.
Sejumlah narasumber terkemuka di bidang pendidikan dasar turut hadir dan berbagi wawasan, antara lain:
Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.Si. – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Dr. Bayu Pamungkas, S.Pd., M.Pd. – Dosen Universitas Negeri Yogyakarta
Dr. Ari Wibowo, M.Pd. – Dosen Universitas PGRI Yogyakarta
Dr. Dhiniaty Gularso, S.Si., M.Pd. – Dosen Universitas PGRI Yogyakarta
Para narasumber menekankan pentingnya membangun sistem pendidikan yang tidak hanya inklusif, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai Pancasila guna mencetak generasi bangsa yang tangguh, cerdas, dan berkarakter.
Dalam sambutannya, Via Naila Putri selaku Ketua Panitia menyampaikan, “Seminar ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada mahasiswa tentang bagaimana membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berkarakter Pancasila untuk generasi masa depan. Kami berharap melalui kegiatan ini, para peserta dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran pendidikan inklusif dan nilai-nilai kebangsaan dalam proses pembelajaran.”
Senada dengan itu, Dr. Danuri, M.Pd., selaku Ketua Program Studi PGSD UPY, juga menegaskan bahwa seminar ini tidak hanya menyasar mahasiswa, namun juga menjadi ruang dialog untuk dosen, praktisi, dan masyarakat umum dalam memahami pentingnya penerapan pendidikan inklusif dan berkarakter Pancasila di seluruh jenjang pendidikan.
Kegiatan ini semakin semarak dengan sesi diskusi dan tanya jawab interaktif. Antusiasme peserta terlihat jelas dari beragam pertanyaan serta gagasan inovatif yang muncul selama sesi berlangsung.
Melalui penyelenggaraan seminar nasional ini, HMP PGSD UPY menunjukkan komitmennya dalam menciptakan ruang akademik yang mendukung pertukaran ilmu dan gagasan demi kemajuan pendidikan nasional. Harapannya, kegiatan serupa akan terus menjadi bagian dari kontribusi nyata mahasiswa dalam membangun masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik.
Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Program Studi Manajemen dalam ajang pemilihan Duta Budaya DIY. Tiga mahasiswa berbakat berhasil membawa pulang gelar juara dan penghargaan dalam kompetisi bergengsi ini, menambah daftar prestasi non-akademik yang diraih oleh mahasiswa Manajemen.
Rizki Febrian, mahasiswa angkatan 2022, berhasil meraih gelar Runner Up 1 setelah menunjukkan wawasan luas mengenai kebudayaan serta keterampilan komunikasi yang luar biasa. Sementara itu, Ishma Aulya dari angkatan 2021 juga menunjukkan prestasi gemilang dengan memperoleh gelar Runner Up 3, membuktikan dedikasi dan kecintaannya terhadap budaya daerah.
Tak hanya itu, Dwi Santosa turut mencetak prestasi dengan memenangkan penghargaan Best Video Profile, menampilkan kreativitas dalam memperkenalkan budaya DIY melalui media digital yang inspiratif dan informatif.
Keikutsertaan mahasiswa Manajemen dalam ajang ini menunjukkan bahwa prestasi mahasiswa tidak hanya terbatas pada bidang akademik, tetapi juga berkembang di ranah non-akademik. Dosen serta civitas akademika Program Studi Manajemen turut mengapresiasi keberhasilan ini dan berharap prestasi serupa dapat terus diraih di masa mendatang.
Ajang Pemilihan Duta Budaya DIY sendiri merupakan kompetisi yang bertujuan untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas. Dengan keberhasilan ini, mahasiswa Manajemen semakin membuktikan bahwa mereka tidak hanya unggul dalam bidang akademik tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap budaya lokal.
Selamat kepada para mahasiswa berprestasi! Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan berkontribusi dalam berbagai bidang.
Yogyakarta, 12 Februari 2025 – Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) baru saja menggelar kegiatan pagelaran seni bertajuk “AMERTHA BHUMI” sebagai bagian dari tugas mata kuliah Seni Tari dan Drama (Sentama), dengan dosen pengampu Ibu El Riza Animayong, M.Pd. Pagelaran ini berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada 4-5 Februari 2025 dan melibatkan mahasiswa PGSD angkatan 2022. Dengan mengusung tema “Aku Sayang Bumi”, kegiatan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan melalui seni.
Pada hari pertama, penonton disuguhi dengan penampilan spektakuler berjudul “Dua Dunia”. Pertunjukan ini berhasil memukau penonton dengan perpaduan tari dan drama yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Melalui alur cerita yang menarik, penonton diajak merenungi bagaimana setiap tindakan manusia berdampak pada kelestarian bumi.
Hari kedua tidak kalah menarik dengan dua pertunjukan utama, yaitu “Jejak Tak Terlihat” dan “Reksabumi”. “Jejak Tak Terlihat” mengangkat kisah tentang jejak ekologis yang sering kali tidak disadari oleh manusia, namun memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Sementara itu, “Reksabumi” menggambarkan perjuangan dalam menjaga bumi dari berbagai ancaman, menginspirasi penonton untuk turut serta dalam upaya pelestarian lingkungan.
Kegiatan Sentama ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan berbagai kalangan. Tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga edukasi mengenai pentingnya menjaga bumi. Pagelaran seni ini membuktikan bahwa seni dapat menjadi media yang efektif dalam menyampaikan pesan lingkungan yang kuat dan menggugah kesadaran.
Dengan kesuksesan acara ini, diharapkan akan semakin banyak kegiatan serupa yang digelar untuk terus mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kelestarian bumi. Semoga pesan-pesan yang disampaikan melalui tari dan drama ini dapat terus diingat dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan Lomba Paduan Suara SMA Tingkat Nasional “GEMA NUSANTARA SATUKAN SUARA #1” yang diselenggarakan oleh UKM Paduan Suara Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) baru saja berlangsung dengan sukses pada 29 Januari hingga 1 Februari 2025. Lomba ini mengundang siswa-siswi SMA/SMK/SLTA sederajat dari berbagai daerah di Indonesia untuk menunjukkan bakat mereka dalam seni paduan suara.
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini berjalan dengan lancar meskipun ada beberapa hal yang perlu diperbaiki untuk pelaksanaan di masa mendatang. Tujuan utama dari lomba ini adalah untuk menarik minat siswa-siswi terhadap bidang tarik suara, serta memberikan mereka kesempatan untuk menyalurkan kreativitas melalui musik.
“Alhamdulillah, acara ini berjalan dengan baik dan mendapat respon positif dari peserta. Meskipun ada beberapa hal yang perlu evaluasi, kami sangat senang melihat begitu banyak siswa yang antusias dan memberikan penampilan terbaik mereka,” ujar Ketua UKM Paduan Suara UPY, Elsa Elsa Nian Cahyaningrum.
Selama lomba, para peserta memberikan penampilan yang luar biasa, dengan menyanyikan lagu-lagu yang menggambarkan keberagaman budaya Indonesia. Tidak hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai momen untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui suara dan harmoni yang tercipta.
“Kami berharap lomba ini bisa memberikan dorongan bagi siswa-siswi SMA untuk terus mengembangkan bakat mereka di bidang tarik suara dan menjadi ajang untuk mengekspresikan diri melalui musik,” tambah Elsa Nian Cahyaningrum, Ketua UKM Paduan Suara UPY. “Selain itu, kami juga berharap acara ini dapat semakin memperkenalkan UKM Paduan Suara UPY dan memperkuat peranannya dalam dunia seni kampus.”
Lomba “GEMA NUSANTARA SATUKAN SUARA #1” diharapkan dapat menjadi kegiatan tahunan yang terus berkembang dan semakin memperkuat budaya paduan suara di Indonesia. UKM Paduan Suara UPY berharap, lomba ini tidak hanya menjadi tempat untuk berkompetisi, tetapi juga menjadi wadah untuk melahirkan talenta-talenta muda di dunia seni suara.
Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) baru-baru ini sukses menyelenggarakan kegiatan Lomba Media Poster Nasional 2024. Acara ini, yang berlangsung dari 27 November 2024 hingga 4 Januari 2025, berhasil menarik perhatian dan partisipasi siswa-siswi SMA/K sederajat di seluruh Indonesia.
Kegiatan ini dilaksanakan secara online, yang memudahkan siswa-siswi dari berbagai daerah untuk ikut serta. Para peserta diberi tantangan untuk merancang poster yang menggambarkan nilai-nilai Pancasila, demokrasi, dan pentingnya pendidikan kewarganegaraan. Selain itu, lomba ini juga menjadi ajang untuk lebih mengenalkan Program Studi PPKn Universitas PGRI Yogyakarta kepada masyarakat luas.
“Lomba ini merupakan bagian dari program kerja Himpunan Mahasiswa PPKn UPY yang bertujuan tidak hanya untuk mengenalkan program studi kami, tetapi juga memberi kesempatan bagi siswa-siswi untuk mengekspresikan kreativitas mereka,” ujar Kaprodi PPKn, Supri Hartanto, M.Pd. “Respon peserta sangat luar biasa, dan kami sangat senang bisa melihat begitu banyak karya kreatif dari berbagai daerah.”
Para peserta menunjukkan semangat yang tinggi, dengan banyak karya poster yang menginspirasi, menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai kewarganegaraan. Antusiasme ini juga menciptakan interaksi positif antara siswa-siswi dari berbagai belahan Indonesia, sekaligus memperkenalkan Program Studi PPKn UPY lebih jauh lagi.
“Kami sangat bangga bisa menyelenggarakan acara ini,” ujar Supri Hartanto, M.Pd., Kaprodi PPKn UPY. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan di tahun-tahun mendatang. Selain menjadi ajang kompetisi yang menyenangkan, ini juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk menyalurkan bakat mereka. Semoga Program Studi PPKn UPY semakin dikenal luas di masyarakat.”jelasnya.
Melalui lomba ini, Himpunan Mahasiswa PPKn UPY berharap bisa terus memberikan kontribusi positif kepada dunia pendidikan Indonesia dan membuka kesempatan bagi lebih banyak siswa untuk berkembang dan berkreasi. Kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk memperkenalkan nilai-nilai pendidikan kewarganegaraan kepada generasi muda di seluruh Indonesia.
Ah, bulan Ramadan! Bulan yang penuh berkah, tapi juga bisa jadi ujian kesabaran, apalagi buat mahasiswa yang lagi menunggu buka puasa. Duh, waktu rasanya kok lama banget, ya? Apalagi perut udah keroncongan, dan godaan buat scroll media sosial semakin kuat. Tapi, jangan khawatir! Ada banyak kegiatan positif yang bisa kamu coba untuk mengisi waktu sambil menunggu buka. Biar nggak cuma bengong atau iseng, yuk kita coba beberapa ide seru ini!
1. Menulis Rencana Kegiatan
Gimana kalau kamu manfaatkan waktu menunggu buka untuk menyusun rencana? Tapi jangan mikir ini sebagai daftar tugas yang bikin pusing ya. Cukup tulis hal-hal kecil yang pengen kamu capai selama Ramadan ini. Misalnya, “Minggu ini harus baca 1 buku” atau “Ikut kajian setiap Sabtu.” Tapi jangan terlalu serius, bikinlah rencana yang fun, yang bisa bikin hari-harimu lebih produktif tanpa terasa tertekan.
2. Main Teka-Teki atau Brain Teasers
Kalau kebiasaan kamu cuma scroll Instagram atau TikTok, coba deh tantang otak kamu! Ada banyak teka-teki atau brain teasers seru yang bisa bikin kamu mikir, tapi nggak bikin stres. Mainkan game sederhana kayak Sudoku, teka-teki silang, atau aplikasi trivia. Selain asyik, ini juga bisa bikin kamu jadi lebih cerdas (jadi lebih keren, kan?).
3. Coba Menulis Jurnal atau Blog
Kadang kita butuh waktu untuk merenung, dan menulis bisa jadi cara yang asyik buat itu. Coba deh tulis perasaan kamu selama puasa. Gimana perjuangan menahan lapar, apa yang kamu syukuri, atau bahkan kejadian lucu yang terjadi di kampus. Nggak cuma buat diri sendiri, siapa tahu tulisanmu bisa jadi inspirasi buat orang lain! Kalau nggak mau terlalu formal, mulai aja blog pribadi atau jurnal yang kamu tulis sesuka hati.
4. Belajar Sesuatu yang Baru
Menunggu buka puasa adalah kesempatan bagus untuk belajar hal baru. Gak harus yang berat, kok! Misalnya, belajar bahasa asing lewat aplikasi, coba resep masakan baru, atau pelajari skill coding. Banyak banget kursus online gratis yang bisa diakses kapan saja, bahkan sambil rebahan. Siapa tahu, setelah Ramadan, kamu jadi punya skill baru yang bisa bikin CV kamu makin keren!
5. Olahraga Ringan
Kebanyakan orang mikir, “Aduh, olahraga pas puasa nggak enak!” Tapi sebenarnya, olahraga ringan justru bisa bikin tubuhmu tetap fit tanpa bikin kamu lemas. Coba deh stretching atau yoga ringan. Gerakan-gerakan sederhana ini bisa bikin badan lebih segar dan mengurangi rasa lapar. Tapi jangan terlalu dipaksain, ya! Olahraga yang ringan aja, biar nggak keburu lemes pas buka puasa.
6. Ikut Kegiatan Sosial
Bulan Ramadan adalah waktu yang pas untuk berbagi. Kalau kamu udah bosen di rumah aja, coba deh ikut kegiatan sosial, kayak ngabuburit bareng teman-teman kampus atau ikut bagi-bagi takjil. Selain bisa menambah pahala, kegiatan ini juga bikin kamu makin dekat sama teman-teman dan memperluas jaringan. Nggak ada salahnya juga kalau kamu mengajak teman-temanmu untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial ini!
7. Meditasi atau Refleksi Diri
Kadang, hal yang paling sederhana justru bisa membawa kedamaian. Luangkan waktu sejenak buat duduk tenang, tutup mata, dan refleksikan hari-harimu. Apa yang sudah kamu capai hari itu? Apa yang bikin kamu bersyukur? Meditasi atau sekadar merenung bisa jadi cara yang sangat baik untuk mereset pikiran dan mempersiapkan hati untuk berbuka puasa dengan lebih tenang.
8. Berbagi Kebaikan di Sosial Media
Sosial media bisa jadi tempat yang penuh dengan hal negatif, tapi kamu bisa jadi bagian dari perubahan positif! Bagikan tips Ramadan, kutipan-kutipan motivasi, atau ajak teman-teman untuk berbagi takjil atau berdonasi. Selain menyebarkan kebaikan, kamu juga bisa mempererat silaturahmi dengan orang-orang di dunia maya. Siapa tahu, teman-temanmu ikut terinspirasi dan malah bersemangat menunggu buka puasa!
9. Nonton Konten yang Menginspirasi
Kalau kamu tetap ingin nonton sesuatu, kenapa nggak pilih konten yang bisa memberi inspirasi? Banyak banget film atau dokumenter yang nggak hanya menghibur tapi juga mendidik. Dari film tentang sejarah, budaya, hingga kisah inspiratif dari orang-orang yang berhasil menghadapi tantangan hidup. Jadi, nonton sambil menunggu buka nggak cuma bikin waktu cepat berlalu, tapi juga bikin kamu tambah wawasan.
10. Berkreasi dengan Hobi
Apakah kamu punya hobi yang udah lama terbengkalai? Ini saatnya untuk kembali menyalurkan kreativitas! Coba deh menggambar, bermain musik, atau bahkan eksperimen masak resep baru. Hobi bisa jadi cara yang menyenangkan untuk mengisi waktu dan tetap produktif, apalagi kalau kamu bisa berbagi hasil karyamu dengan orang lain!
Jadi, meskipun menunggu buka puasa itu kadang terasa lama, sebenarnya banyak kegiatan seru yang bisa kamu coba! Dengan mengisi waktu dengan hal-hal positif, kamu nggak cuma membuat waktu berlalu cepat, tapi juga bisa membuat Ramadanmu lebih bermakna. Jangan biarkan waktu terbuang begitu saja, yuk isi dengan aktivitas yang bermanfaat, biar puasanya makin seru!
Selamat berpuasa, semoga Ramadan kali ini penuh berkah dan kebahagiaan!
Kabar membanggakan datang dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo Universitas PGRI Yogyakarta! Dalam ajang 3rd Victory National Open Taekwondo Championship 2025 yang berlangsung pada 7-9 Februari 2025 di GOR Pajajaran, Bandung, Jawa Barat, tim UKM Taekwondo berhasil mengukir prestasi luar biasa.
UKM Taekwondo Universitas PGRI Yogyakarta mengirimkan 5 atlet terbaik, dan hasilnya sangat membanggakan! Berikut daftar peraih medali:
🏅 Joanita Panca Sonya (Prodi Manajemen) – Medali Perak 🥉 Alfreda Putri Salasabila (Prodi PGSD) – Medali Perunggu 🥇 Cindy Ayu Puspita Dewi (Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) – Medali Emas 🥇 Navira Windyana (Prodi Bimbingan dan Konseling) – Medali Emas 🥇 Fajar Juis Nurhuda (Prodi Teknik Informatika) – Medali Emas
Keberhasilan ini adalah hasil dari latihan yang disiplin, kerja keras, serta dukungan penuh dari universitas dan para pelatih. Ketua UKM Taekwondo, Navira Windyana, mengungkapkan rasa bangganya terhadap pencapaian tim. “Kami sangat bersyukur atas hasil yang telah diraih. Ini adalah bukti nyata bahwa dengan semangat pantang menyerah dan kerja sama tim, kita bisa mencapai hal luar biasa. Semoga prestasi ini bisa menginspirasi mahasiswa lain untuk terus berkembang dan berani bersaing di tingkat nasional,” ujarnya.
Pencapaian ini tidak hanya mengharumkan nama universitas tetapi juga menjadi motivasi bagi UKM Taekwondo Universitas PGRI Yogyakarta untuk terus berkembang dan menorehkan prestasi lebih tinggi di masa depan.