Kategori: Makarya

  • Kontingen Taekwondo Universitas PGRI Yogyakarta Raih 3 Emas dan 1 Perunggu di PORSENASMA V

    Kontingen Taekwondo Universitas PGRI Yogyakarta Raih 3 Emas dan 1 Perunggu di PORSENASMA V

    Kontingen Taekwondo Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali mengharumkan nama kampus dalam ajang nasional. Dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni Nasional Mahasiswa (PORSENASMA) V yang digelar di Madiun, tim Taekwondo UPY berhasil meraih tiga medali emas dan satu medali perunggu, menunjukkan prestasi membanggakan di kancah olahraga tingkat nasional antar perguruan tinggi PGRI.

    Prestasi ini menjadi bukti komitmen UPY dalam mendukung pengembangan minat dan bakat mahasiswa, khususnya di bidang olahraga prestasi. Para atlet Taekwondo UPY menunjukkan performa luar biasa di tengah persaingan ketat antar kontingen dari seluruh Indonesia.

    Kami sangat bangga atas capaian luar biasa ini. Prestasi ini adalah hasil dari kerja keras, disiplin, dan semangat juang para mahasiswa yang luar biasa. Universitas akan terus memberikan dukungan penuh bagi pengembangan prestasi mahasiswa, baik akademik maupun non-akademik,” ujar Wakil Rektor lll UPY, Dr. Septian Aji Permana, M.Pd.

    PORSENASMA merupakan ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perguruan Tinggi PGRI se-Indonesia. Kompetisi ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat solidaritas, sportivitas, dan kompetensi mahasiswa dalam bidang olahraga dan seni.

    Dengan raihan 3 medali emas dan 1 perunggu, UPY menunjukkan posisinya sebagai salah satu kampus yang unggul tidak hanya dalam pendidikan, tetapi juga dalam pembinaan atlet muda berprestasi.

    Kemenangan ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh mahasiswa UPY untuk terus berkarya, berprestasi, dan menjunjung tinggi semangat kompetitif serta nilai-nilai sportivitas.

  • Mahasiswi UPY Raih Juara 1 di Kejurda Karate Inkanas DIY Piala Kapolda 2025

    Mahasiswi UPY Raih Juara 1 di Kejurda Karate Inkanas DIY Piala Kapolda 2025

    Mahasiswi Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang olahraga. Ari Ramandhani, mahasiswa dari Program Studi Manajemen UPY, sukses meraih Juara 1 dalam kategori Festival Kata Perorangan Senior Sabuk Biru Putri pada ajang bergengsi Kejurda Karate Inkanas DIY Piala Kapolda 2025.

    Kejuaraan ini diselenggarakan oleh Pengurus Inkanas DIY bekerja sama dengan Polda DIY dan berlangsung pada Sabtu, 12 Juli 2025, bertempat di GOR Tridadi Pangukan, Sleman, dari pukul 08.00 hingga 19.30 WIB. Kejurda ini diikuti oleh seluruh karateka Inkanas se-Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadikannya ajang bergengsi sekaligus kompetitif di kalangan atlet karate.

    Tujuan dari penyelenggaraan Kejurda ini meliputi:

    1. Melaksanakan program kerja tahunan Inkanas DIY.
    2. Melakukan pembinaan atlet secara berkala.
    3. Memeriahkan peringatan Hari Bhayangkara.

    Ari Ramandhani mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian tersebut. “Acaranya berjalan sangat lancar dan saya senang bisa berpartisipasi. Harapannya, ajang seperti ini terus berlanjut di tahun-tahun mendatang dengan penyelenggaraan yang lebih meriah dan kompetitif. Semoga dari Kejurda 2025 ini lahir bibit-bibit atlet unggul yang mampu mengharumkan nama daerah, bahkan bangsa, di tingkat lebih tinggi,” ujarnya.

    Keberhasilan Ari menjadi bukti bahwa mahasiswa UPY tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga berprestasi di kancah olahraga. Universitas PGRI Yogyakarta senantiasa mendukung penuh pengembangan minat dan bakat mahasiswa baik di dalam maupun luar kampus.

  • Dyah Kingkin Utami, Mahasiswi UPY Raih Emas OSSN 2025 Bidang Ekonomi dan Bahasa Indonesia

    Dyah Kingkin Utami, Mahasiswi UPY Raih Emas OSSN 2025 Bidang Ekonomi dan Bahasa Indonesia

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali mencetak prestasi membanggakan di kancah nasional. Mahasiswi Program Studi Manajemen, Dyah Kingkin Utami, berhasil meraih medali emas dalam ajang Olimpiade Sains Siswa Nasional 2025 (OSSN 2025) untuk kategori Bidang Ekonomi dan Bahasa Indonesia pada jenjang perguruan tinggi.

    Kompetisi yang digelar secara online pada 29 Juni 2025 ini diikuti oleh mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. OSSN 2025 merupakan ajang tahunan yang bertujuan untuk mengasah pengetahuan, keterampilan, dan daya saing mahasiswa dalam berbagai bidang keilmuan.

    Melalui kerja keras dan semangat belajar yang tinggi, Dyah berhasil menunjukkan kapasitas akademiknya dan bersaing secara nasional dengan peserta-peserta terbaik dari seluruh Indonesia.

    “Alhamdulillah, acara berjalan lancar. Saya sangat bersyukur atas pencapaian ini dan berharap ke depan dapat terus mengembangkan diri melalui berbagai perlombaan. Saya juga ingin memperbaiki setiap kekurangan dan memberikan yang terbaik di masa depan,” ujar Dyah.

    Pencapaian ini sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa UPY memiliki daya saing tinggi di bidang akademik, serta mampu beradaptasi dan unggul dalam kompetisi nasional berbasis teknologi digital. Kampus memberikan apresiasi penuh atas prestasi Dyah dan terus mendorong mahasiswa lainnya untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai ajang ilmiah.

  • Lima Mahasiswa UPY Raih Medali di Kejuaraan Nasional Taekwondo Victory Open 2025

    Lima Mahasiswa UPY Raih Medali di Kejuaraan Nasional Taekwondo Victory Open 2025

    Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) dalam ajang olahraga nasional. Dalam 3rd Victory Nasional Open Taekwondo Championship 2025, yang digelar pada 7–9 Februari 2025 di GOR Padjajaran, Bandung, tim Taekwondo UPY sukses memborong medali dari berbagai kategori.

    Kejuaraan tingkat nasional ini merupakan event tahunan yang diselenggarakan oleh Victory Bandung dan diikuti oleh ratusan atlet dari berbagai perguruan tinggi serta klub Taekwondo seluruh Indonesia. Dalam kejuaraan bergengsi ini, lima mahasiswa UPY berhasil meraih medali, sebagai berikut:

    • 🥇 Cindy Ayu Puspita DewiMedali Emas, Kategori Kyorugi Senior Under 62 kg Putri
    • 🥉 Alfreda Putri SalsabilaMedali Perunggu, Kategori Kyorugi Senior Under 46 kg Putri
    • 🥈 Joanita Panca SonyaMedali Perak, Kategori Kyorugi Senior Under 46 kg Putri
    • 🥇 Navira WindyanaMedali Emas, Kategori Kyorugi Senior Under 67 kg Putri
    • 🥇 Fajar Juis NurhudaMedali Emas, Kategori Kyorugi Senior Under 54 kg Putra

    Seluruh pertandingan berlangsung kompetitif dan lancar. Partisipasi dan keberhasilan mahasiswa UPY dalam ajang ini menjadi bukti bahwa kampus tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga aktif mendukung mahasiswa dalam pengembangan prestasi non-akademik, khususnya di bidang olahraga bela diri.

    “Kejuaraan ini sangat bermanfaat sebagai wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan minat, bakat, sekaligus mengasah mental kompetitif. Kami bangga atas pencapaian para atlet UPY dan berharap ke depan akan lebih banyak mahasiswa yang mengikuti jejak mereka,” ujar Dr. Septian Aji Permana, M.Pd, Wakil Rektor III UPY.

    Diharapkan, kegiatan seperti ini terus digelar secara konsisten, agar mahasiswa dari seluruh Indonesia memiliki ruang untuk berkembang secara menyeluruh—baik secara fisik, mental, maupun karakter.

  • Mahasiswi UPY Raih Juara 1 Nasional Olimpiade Matematika Tingkat Perguruan Tinggi

    Mahasiswi UPY Raih Juara 1 Nasional Olimpiade Matematika Tingkat Perguruan Tinggi

    Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) di kancah nasional. Kali ini, Mentha Ramadhani, mahasiswa Program Studi Matematika, sukses meraih Juara 1 Nasional Olimpiade Matematika Tingkat Perguruan Tinggi Kategori Mahasiswa.

    Kompetisi ini merupakan bagian dari Olimpiade Sains Tingkat Perguruan Tinggi, yang diselenggarakan secara daring pada 6 Juli 2025 dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Ajang ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan edukasi mahasiswa melalui kompetisi akademik yang menantang dan inspiratif.

    Mentha berhasil mengungguli peserta lain dalam bidang Matematika, menunjukkan kapasitas intelektual yang tinggi serta dedikasi dalam mengembangkan kemampuan analitis dan logis di tingkat nasional.

    “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas pencapaian ini. Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi wadah bagi saya dan mahasiswa lainnya untuk terus tumbuh, belajar, dan menggapai cita-cita,” ungkap Mentha usai pengumuman hasil lomba.

    Pihak kampus mengapresiasi capaian tersebut dan menegaskan komitmen UPY dalam mendukung potensi mahasiswa, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik. Prestasi Mentha diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus berprestasi dan membanggakan almamater.

  • 🎓 Kenapa Skripsi Molor? Ini 5 Kendala Utama yang Sering Dialami Mahasiswa

    🎓 Kenapa Skripsi Molor? Ini 5 Kendala Utama yang Sering Dialami Mahasiswa

    Skripsi. Kata yang sederhana, tapi sering kali menggetarkan hati mahasiswa semester akhir. Ia bisa menjadi kebanggaan, bisa juga jadi beban yang menumpuk di folder laptop bernama “Revisi_Final_FIX_Beneran_FIX.docx”.

    Banyak mahasiswa yang awalnya penuh semangat, bertekad akan lulus cepat. Tapi di tengah jalan, semangat itu perlahan luntur—digantikan dengan kopi, galau, dan daftar revisi. Lalu sebenarnya, apa sih yang bikin skripsi bisa molor berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun?

    Dari pengamatan lapangan, pengalaman pribadi, dan curhat segudang mahasiswa, berikut adalah 5 kendala utama yang sering jadi biang kerok keterlambatan skripsi. Kita bahas dengan santai, tapi tetap serius ya. 😉

    1. Mood dan Motivasi yang Melempem

    Di awal semester akhir, mood biasanya sedang naik-naiknya. Laptop dibuka, outline disusun, referensi jurnal dicari dengan penuh semangat. Tapi seiring waktu, motivasi menurun seperti sinyal Wi-Fi di kamar kos.

    Kalau ditanya, “Sudah sampai mana skripsinya?”
    Jawaban paling umum: “Masih nyusun bab satu.”
    (Padahal itu jawaban yang sama sejak dua bulan lalu.)

    Fakta: Menurunnya motivasi sering terjadi karena tekanan, rasa cemas berlebihan, atau merasa sendirian dalam proses.

    🟢 Tips: Bangun rutinitas menulis. Nggak harus langsung lima halaman. Cukup satu paragraf per hari. Konsistensi kecil bisa jadi lompatan besar.

    2. Dosen Pembimbing yang Super Sibuk (atau Super Susah Ditemui)

    “Bu, saya sudah kirim revisi ya.”
    Tiga minggu kemudian…
    Centang dua tetap abu-abu.

    Dosen juga manusia. Mereka punya kesibukan mengajar, penelitian, administrasi, hingga bimbingan dengan puluhan mahasiswa lain. Tapi di sisi mahasiswa, keterlambatan respons bisa menggerus semangat, bahkan membuat proses terhenti di tengah jalan.

    🟢 Tips: Bangun komunikasi yang sopan tapi aktif. Jangan hanya kirim naskah, tapi juga beri konteks dan pertanyaan jelas. Dan ya… hindari menghubungi saat weekend atau jam tidur.

    3. Manajemen Waktu yang Kacau

    “Kerja part-time, ikut organisasi, bantu usaha keluarga, dan bikin konten TikTok.”

    Hebat! Tapi… skripsinya kapan?

    Terlalu banyak aktivitas bisa membuat skripsi hanya jadi “nanti aja kalau sempat”. Tahu-tahu, semester sudah berganti dan tagihan UKT kembali datang.

    🟢 Tips: Buat jadwal khusus menulis skripsi. Sisihkan 1–2 jam khusus per hari. Jangan tunggu waktu luang—luangkan waktu.

    4. Perfeksionisme yang Menjebak

    “Kalau belum bagus, aku belum mau kirim ke dosen.”

    Awas, perfeksionisme bisa jadi jebakan manis. Banyak mahasiswa yang menunda karena ingin setiap kalimat sempurna. Akibatnya? Naskah nggak pernah selesai, atau takut dikoreksi dosen.

    🟢 Tips: Selesaikan dulu, revisi belakangan. Skripsi bukan karya seni yang harus puitis—ia adalah proses akademik yang akan terus diperbaiki.

    5. Takut Salah, Jadi Lebih Pilih Menunda

    Takut ditolak. Takut ditanya di sidang. Takut nggak paham sendiri topiknya.
    Akhirnya? Skripsi dipikirkan terus… tapi nggak disentuh.

    Rasa takut ini wajar. Tapi jika dibiarkan, ia bisa mengakar jadi penundaan kronis. Akhirnya, yang molor bukan cuma skripsi, tapi juga masa depan.

    🟢 Tips: Ingat, semua mahasiswa pasti melewati proses ini. Skripsi yang selesai itu lebih baik daripada skripsi yang sempurna tapi nggak pernah dikirim.

    Finally: Skripsi Itu Diselesaikan, Bukan Disempurnakan

    Kalau kamu sedang merasa “tersesat” di bab tiga, atau skripsi sudah lama tidak dibuka, jangan merasa sendiri. Banyak yang sedang berjuang seperti kamu. Yang membedakan adalah siapa yang mau terus melangkah meski pelan.

    Skripsi bukan soal jenius. Tapi soal niat dan nyali.

    Jadi… buka laptopmu. Lanjutkan satu paragraf. Karena siapa tahu, dari satu halaman itu, kamu sedang menulis awal dari akhir perjuanganmu.

  • Mahasiswa Manajemen UPY Raih Juara Harapan II Diajeng Kulon Progo 2025

    Mahasiswa Manajemen UPY Raih Juara Harapan II Diajeng Kulon Progo 2025

    Yogyakarta, 13 Juli 2025 – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY). Selvi Marlina, mahasiswa dari Program Studi Manajemen, berhasil meraih Juara Harapan II Diajeng Kulon Progo 2025, sebuah ajang bergengsi pemilihan duta wisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kulon Progo.

    Acara malam penobatan berlangsung meriah di Amphitheater Taman Budaya Kulon Progo, Sabtu malam, 12 Juli 2025. Selvi tampil memukau bersama 29 finalis lainnya yang telah melewati serangkaian seleksi ketat dari lebih dari 80 peserta tahun ini.

    Dalam keterangannya, Selvi mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian ini.

    “Walaupun belum bisa menjadi yang terbaik, tapi saya percaya saya sudah melakukan yang terbaik. Gelar Juara Harapan II ini menjadi motivasi besar untuk terus berkarya dan berkontribusi,” ujar Selvi.

    Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Joko Mursito, menyampaikan bahwa antusiasme peserta tahun ini mengalami peningkatan signifikan.

    “Tahun ini lebih dari 80 peserta ikut, naik dibanding tahun lalu yang hanya 60-an. Ini bukti bahwa generasi muda semakin ingin terlibat dalam membangun daerahnya,” katanya.

    Menurut Joko, ajang Dimas Diajeng bukan sekadar kontes kecantikan atau ketampanan, melainkan seleksi duta wisata dan budaya yang berperan sebagai wajah serta representasi Kulon Progo di tingkat regional bahkan nasional.

    Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menyampaikan bahwa Dimas Diajeng merupakan ikon penting yang menjadi representasi anak muda Kulon Progo.

    “Mereka adalah wajah daerah ini, role model generasi muda yang harus aktif memperkenalkan kekayaan budaya dan pariwisata kita. Ini bagian dari misi besar kita: menjadikan budaya lokal sebagai kekuatan nasional,” tegas Bupati.

    Ia juga mengajak para Dimas dan Diajeng untuk menjadi pelopor dalam pelestarian budaya, serta ujung tombak dalam memperkenalkan Kulon Progo ke masyarakat nasional maupun internasional.

    Sementara itu Wakil Rektor III UPY Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Dr. Septian Aji Permana, M.Pd, turut memberikan apresiasi atas capaian Selvi.

    “Syukur Alhamdulillah mahasiswa kita mampu bersaing dan meraih prestasi. Terus berkarya, terus menginspirasi. Karena prestasi bukan hanya tentang juara, tapi tentang kontribusi,” ujarnya.

    Keberhasilan Selvi Marlina dalam ajang Dimas Diajeng Kulon Progo 2025 tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi simbol bahwa mahasiswa UPY mampu menunjukkan kualitas dan kontribusinya di luar ranah akademik. Prestasi ini sejalan dengan semangat UPY dalam membentuk lulusan yang berkarakter, unggul, dan berdedikasi bagi masyarakat.

  • Pagelaran Seni Musik “Kirana Loka 2025” Sukses Digelar – Mahasiswa PGSD UPY Tampilkan Kreasi, Harmoni, dan Kolaborasi dalam Nada

    Pagelaran Seni Musik “Kirana Loka 2025” Sukses Digelar – Mahasiswa PGSD UPY Tampilkan Kreasi, Harmoni, dan Kolaborasi dalam Nada

    Yogyakarta — Nuansa hangat dan meriah memenuhi Auditorium Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) pada Senin, 7 Juli 2025, saat mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2022 sukses menyelenggarakan Pagelaran Musik Kirana Loka 2025. Mengusung tema “Harmoni dalam Nada, Mengalun Lembut Membawa Makna”, kegiatan ini menjadi ajang ekspresi seni yang mencerminkan semangat kolaboratif dan kreatif para mahasiswa dalam dunia musik.

    Pagelaran ini menampilkan seluruh mahasiswa dari 7 kelas angkatan 2022 yang terlibat aktif dalam merancang, mempersiapkan, hingga menampilkan karya musik mereka secara kreatif dan penuh makna. Kegiatan ini turut disaksikan oleh mahasiswa PGSD angkatan 2023 dan 2024 serta disiarkan secara langsung melalui akun Instagram resmi @senimusikpgsd, menjangkau khalayak yang lebih luas di lingkungan akademik dan pencinta seni.

    Ketua Pelaksana, Saputra, membuka acara dengan sambutan penuh semangat dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. “Pagelaran ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga wujud nyata dari ekspresi, kerja sama, dan dedikasi mahasiswa PGSD dalam bidang seni,” ungkapnya.

    Sementara itu, Muhamad Muslich Candranagara, M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Seni Musik, dalam sambutannya menekankan bahwa seni musik merupakan media pendidikan yang kuat dalam membentuk kepekaan, kedisiplinan, dan karakter mahasiswa. “Kami terus mendorong mahasiswa untuk berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam bidang seni,” ujarnya.

    Kaprodi PGSD UPY, Dr. Rina Dyah Rahmawati, M.Pd., turut menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya Kirana Loka sebagai implementasi dari kurikulum Merdeka Belajar. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mengekspresikan kreativitas dan menumbuhkan rasa percaya diri, yang sangat penting bagi calon pendidik masa depan,” tutur Dr. Rina.

    Pagelaran Kirana Loka menampilkan beragam pertunjukan seperti ansambel musik, vokal, hingga kolaborasi instrumen, mencerminkan keberagaman gaya, kreativitas, dan kekuatan narasi musikal para mahasiswa. Selain menjadi sarana hiburan dan ekspresi, kegiatan ini juga memperkuat karakter mahasiswa dan memperkaya pengalaman belajar secara holistik—melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

    Dengan berakhirnya acara, semangat harmoni yang mengalun dalam setiap nada Kirana Loka 2025 tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga membawa makna mendalam akan pentingnya pendidikan yang menyeluruh. Universitas PGRI Yogyakarta, melalui kegiatan seperti ini, terus berkomitmen mencetak pendidik masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya secara emosional dan kreatif.

  • BEM FBH UPY Gelar Class of Religion: Moderasi Beragama untuk Generasi Modern, Responsif, dan Nasionalis

    BEM FBH UPY Gelar Class of Religion: Moderasi Beragama untuk Generasi Modern, Responsif, dan Nasionalis

    Yogyakarta, 2 Juni 2025 – Dalam rangka memperingati Dies Natalis Fakultas Bisnis dan Hukum Universitas PGRI Yogyakarta dan Hari Lahir Pancasila, BEM FBH UPY menyelenggarakan acara Class of Religion bertajuk “Moderasi Beragama bagi Generasi Muda yang Modern (Moderat, Edukatif, Responsif, dan Nasionalis)”.

    Bertempat di Auditorium Universitas PGRI Yogyakarta, kegiatan ini menghadirkan semangat kebersamaan di tengah keberagaman. Peserta tak hanya datang dari kalangan civitas akademika UPY, khususnya Fakultas Bisnis dan Hukum, tetapi juga mahasiswa dari berbagai kampus lain di Yogyakarta, seperti UMY, UKDW, UST, UNY, Instiper, hingga Atma Jaya.

    Universitas PGRI Yogyakarta dikenal sebagai rumah besar yang menaungi mahasiswa dari beragam latar belakang agama, suku, dan budaya. Inilah yang menjadi dasar penting diselenggarakannya kegiatan ini: sebagai wujud nyata implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kampus, dan sebagai ruang edukasi agar generasi muda memahami pentingnya toleransi, dialog antariman, dan hidup berdampingan secara damai.

    “Moderasi beragama bukan hanya wacana, tapi sebuah sikap hidup yang harus ditanamkan sejak di bangku perkuliahan. Inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya: majemuk, damai, dan saling menghargai,” ujar salah satu panitia penyelenggara.

    Acara berlangsung dengan lancar dan penuh semangat. Banyak peserta yang aktif terlibat dalam diskusi, berbagi pandangan lintas iman, dan menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk bersatu, tetapi justru kekayaan yang harus dirawat bersama.

    Forum ini tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga wadah tumbuhnya kesadaran baru di kalangan mahasiswa: bahwa menghargai perbedaan adalah fondasi perdamaian, dan generasi muda memiliki peran penting untuk mewujudkannya.

    “Kami berharap, dari kegiatan ini tumbuh semangat saling menghargai, keterbukaan berpikir, dan kolaborasi antar mahasiswa dari latar belakang yang berbeda,” ungkap salah satu peserta dari luar kampus.

    Class of Religion 2025 menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tempat mencetak sarjana, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebhinekaan, toleransi, dan nasionalisme. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut sebagai kontribusi nyata dunia kampus untuk membangun masa depan Indonesia yang damai, adil, dan penuh penghargaan terhadap keberagaman.

  • “Menjelang Liburan Semester: Sibuknya Mahasiswa, Sibuk Apa Dulu Nih?”

    “Menjelang Liburan Semester: Sibuknya Mahasiswa, Sibuk Apa Dulu Nih?”

    Menjelang liburan semester, suasana kampus berubah drastis. Yang tadinya ramai suara dosen ngabsen dan mahasiswa debat topik tugas kelompok, mendadak sunyi… tapi jangan salah, itu bukan karena semua orang sudah pergi liburan. Justru, ini adalah masa-masa paling sibuk bagi sebagian besar mahasiswa. Tapi, sibuknya ngapain dulu?

    Berikut ini potret kesibukan mahasiswa menjelang liburan semester. Awas, jangan-jangan kamu termasuk salah satunya!

    1. Sibuk Ngerjain Tugas yang Seharusnya Dikerjain 3 Minggu Lalu

    Deadline itu ibarat mantan: makin dideketin, makin bikin deg-degan.
    Menjelang liburan, Google Docs dibuka, grup WhatsApp ramai, laptop mendadak jadi sahabat sejati (walau tetap diselingkuhi sama TikTok tiap 10 menit). Mahasiswa sibuk merapikan tugas akhir semester yang selama ini lebih sering masuk wishlist daripada to-do list.

    “Pokoknya, mulai besok aku ngerjain semua tugas!”
    —kata mahasiswa setiap malam sejak dua minggu lalu.

    2. Sibuk Mengejar Dosen untuk ACC Judul / Nilai / Balas Chat

    Ada satu olahraga yang populer menjelang liburan: “kejar dosen”.
    Dosen di-follow up via email, WA, sampai DM Instagram (kalau nekat). Semua demi satu hal: ACC tugas, nilai keluar, atau minimal… dibales.

    “Maaf Pak, saya cuma mau nanya apakah Bapak sempat membaca file revisi saya minggu lalu? Mohon maaf ganggu waktunya, Pak. Mohon dibalas, Pak. Pak. Pak…”
    (Di sisi lain, centang dua biru tapi sunyi. Sakitnya kayak nilai C+ padahal udah ngerasa A.)

    3. Sibuk Packing Buat Pulang Kampung, Tapi Belum Beli Tiket

    Ada tipe mahasiswa yang baru panik ketika tahu semua tiket kereta udah sold out.
    Masih berharap bisa “nyempil” di kursi lipat sambil bawa koper ukuran lemari es mini. Ada juga yang sok optimis naik travel, padahal booking-nya H-1 dan ngetik “Travel Jogja – Cirebon yang aman dan murah (no tipu²)” di Google jam 1 pagi.

    4. Sibuk Merencanakan Liburan Bareng Teman… yang Nggak Pernah Jadi

    Grup chat dibikin: “Liburan Ceria 2025”.
    Isinya cuma polling tanggal dan lokasi.
    Semua semangat di awal, tapi akhirnya mentok di:

    “Gue sih bebas, ngikut aja.”
    “Aku nggak bisa tanggal segitu, ada kondangan.”
    “Guys, aku ga jadi ikut ya, ortu ngajak ke kampung.”

    Hasil akhir: liburan bareng dibatalkan, semua kembali ke rutinitas nonton Netflix sambil makan mi instan sendirian.

    5. Sibuk Meratapi Nilai Ujian dan Janji Belajar Lebih Rajin Semester Depan

    Setelah semua nilai keluar, drama baru dimulai.
    Ada yang refresh Sistem Informasi Akademik tiap lima menit. Ada yang syok karena nilai “usaha maksimal” ternyata nggak sejalan dengan nilai akhir.
    Lalu muncullah kalimat klasik:

    “Semester depan aku bakal lebih rajin, nggak mau begini lagi.”

    Iya, kita tahu. Sampai semester depan benar-benar datang dan sejarah kembali terulang 😌

    Liburan memang sebentar lagi, tapi kesibukan menjelangnya bisa terasa kayak “episode terakhir” dari satu musim kehidupan mahasiswa: penuh plot twist, air mata (baik karena nilai maupun WiFi kos yang mati), dan harapan baru.

    Jadi, buat kamu yang lagi sibuk banget… santai, kamu nggak sendiri.
    Nikmati prosesnya, tetap jaga kewarasan, dan semoga liburannya beneran jadi ya—bukan cuma wacana.