Kategori: Makarya

  • 🎓 Kenapa Skripsi Molor? Ini 5 Kendala Utama yang Sering Dialami Mahasiswa

    🎓 Kenapa Skripsi Molor? Ini 5 Kendala Utama yang Sering Dialami Mahasiswa

    Skripsi. Kata yang sederhana, tapi sering kali menggetarkan hati mahasiswa semester akhir. Ia bisa menjadi kebanggaan, bisa juga jadi beban yang menumpuk di folder laptop bernama “Revisi_Final_FIX_Beneran_FIX.docx”.

    Banyak mahasiswa yang awalnya penuh semangat, bertekad akan lulus cepat. Tapi di tengah jalan, semangat itu perlahan luntur—digantikan dengan kopi, galau, dan daftar revisi. Lalu sebenarnya, apa sih yang bikin skripsi bisa molor berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun?

    Dari pengamatan lapangan, pengalaman pribadi, dan curhat segudang mahasiswa, berikut adalah 5 kendala utama yang sering jadi biang kerok keterlambatan skripsi. Kita bahas dengan santai, tapi tetap serius ya. 😉

    1. Mood dan Motivasi yang Melempem

    Di awal semester akhir, mood biasanya sedang naik-naiknya. Laptop dibuka, outline disusun, referensi jurnal dicari dengan penuh semangat. Tapi seiring waktu, motivasi menurun seperti sinyal Wi-Fi di kamar kos.

    Kalau ditanya, “Sudah sampai mana skripsinya?”
    Jawaban paling umum: “Masih nyusun bab satu.”
    (Padahal itu jawaban yang sama sejak dua bulan lalu.)

    Fakta: Menurunnya motivasi sering terjadi karena tekanan, rasa cemas berlebihan, atau merasa sendirian dalam proses.

    🟢 Tips: Bangun rutinitas menulis. Nggak harus langsung lima halaman. Cukup satu paragraf per hari. Konsistensi kecil bisa jadi lompatan besar.

    2. Dosen Pembimbing yang Super Sibuk (atau Super Susah Ditemui)

    “Bu, saya sudah kirim revisi ya.”
    Tiga minggu kemudian…
    Centang dua tetap abu-abu.

    Dosen juga manusia. Mereka punya kesibukan mengajar, penelitian, administrasi, hingga bimbingan dengan puluhan mahasiswa lain. Tapi di sisi mahasiswa, keterlambatan respons bisa menggerus semangat, bahkan membuat proses terhenti di tengah jalan.

    🟢 Tips: Bangun komunikasi yang sopan tapi aktif. Jangan hanya kirim naskah, tapi juga beri konteks dan pertanyaan jelas. Dan ya… hindari menghubungi saat weekend atau jam tidur.

    3. Manajemen Waktu yang Kacau

    “Kerja part-time, ikut organisasi, bantu usaha keluarga, dan bikin konten TikTok.”

    Hebat! Tapi… skripsinya kapan?

    Terlalu banyak aktivitas bisa membuat skripsi hanya jadi “nanti aja kalau sempat”. Tahu-tahu, semester sudah berganti dan tagihan UKT kembali datang.

    🟢 Tips: Buat jadwal khusus menulis skripsi. Sisihkan 1–2 jam khusus per hari. Jangan tunggu waktu luang—luangkan waktu.

    4. Perfeksionisme yang Menjebak

    “Kalau belum bagus, aku belum mau kirim ke dosen.”

    Awas, perfeksionisme bisa jadi jebakan manis. Banyak mahasiswa yang menunda karena ingin setiap kalimat sempurna. Akibatnya? Naskah nggak pernah selesai, atau takut dikoreksi dosen.

    🟢 Tips: Selesaikan dulu, revisi belakangan. Skripsi bukan karya seni yang harus puitis—ia adalah proses akademik yang akan terus diperbaiki.

    5. Takut Salah, Jadi Lebih Pilih Menunda

    Takut ditolak. Takut ditanya di sidang. Takut nggak paham sendiri topiknya.
    Akhirnya? Skripsi dipikirkan terus… tapi nggak disentuh.

    Rasa takut ini wajar. Tapi jika dibiarkan, ia bisa mengakar jadi penundaan kronis. Akhirnya, yang molor bukan cuma skripsi, tapi juga masa depan.

    🟢 Tips: Ingat, semua mahasiswa pasti melewati proses ini. Skripsi yang selesai itu lebih baik daripada skripsi yang sempurna tapi nggak pernah dikirim.

    Finally: Skripsi Itu Diselesaikan, Bukan Disempurnakan

    Kalau kamu sedang merasa “tersesat” di bab tiga, atau skripsi sudah lama tidak dibuka, jangan merasa sendiri. Banyak yang sedang berjuang seperti kamu. Yang membedakan adalah siapa yang mau terus melangkah meski pelan.

    Skripsi bukan soal jenius. Tapi soal niat dan nyali.

    Jadi… buka laptopmu. Lanjutkan satu paragraf. Karena siapa tahu, dari satu halaman itu, kamu sedang menulis awal dari akhir perjuanganmu.

  • Mahasiswa Manajemen UPY Raih Juara Harapan II Diajeng Kulon Progo 2025

    Mahasiswa Manajemen UPY Raih Juara Harapan II Diajeng Kulon Progo 2025

    Yogyakarta, 13 Juli 2025 – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY). Selvi Marlina, mahasiswa dari Program Studi Manajemen, berhasil meraih Juara Harapan II Diajeng Kulon Progo 2025, sebuah ajang bergengsi pemilihan duta wisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kulon Progo.

    Acara malam penobatan berlangsung meriah di Amphitheater Taman Budaya Kulon Progo, Sabtu malam, 12 Juli 2025. Selvi tampil memukau bersama 29 finalis lainnya yang telah melewati serangkaian seleksi ketat dari lebih dari 80 peserta tahun ini.

    Dalam keterangannya, Selvi mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian ini.

    “Walaupun belum bisa menjadi yang terbaik, tapi saya percaya saya sudah melakukan yang terbaik. Gelar Juara Harapan II ini menjadi motivasi besar untuk terus berkarya dan berkontribusi,” ujar Selvi.

    Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Joko Mursito, menyampaikan bahwa antusiasme peserta tahun ini mengalami peningkatan signifikan.

    “Tahun ini lebih dari 80 peserta ikut, naik dibanding tahun lalu yang hanya 60-an. Ini bukti bahwa generasi muda semakin ingin terlibat dalam membangun daerahnya,” katanya.

    Menurut Joko, ajang Dimas Diajeng bukan sekadar kontes kecantikan atau ketampanan, melainkan seleksi duta wisata dan budaya yang berperan sebagai wajah serta representasi Kulon Progo di tingkat regional bahkan nasional.

    Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menyampaikan bahwa Dimas Diajeng merupakan ikon penting yang menjadi representasi anak muda Kulon Progo.

    “Mereka adalah wajah daerah ini, role model generasi muda yang harus aktif memperkenalkan kekayaan budaya dan pariwisata kita. Ini bagian dari misi besar kita: menjadikan budaya lokal sebagai kekuatan nasional,” tegas Bupati.

    Ia juga mengajak para Dimas dan Diajeng untuk menjadi pelopor dalam pelestarian budaya, serta ujung tombak dalam memperkenalkan Kulon Progo ke masyarakat nasional maupun internasional.

    Sementara itu Wakil Rektor III UPY Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Dr. Septian Aji Permana, M.Pd, turut memberikan apresiasi atas capaian Selvi.

    “Syukur Alhamdulillah mahasiswa kita mampu bersaing dan meraih prestasi. Terus berkarya, terus menginspirasi. Karena prestasi bukan hanya tentang juara, tapi tentang kontribusi,” ujarnya.

    Keberhasilan Selvi Marlina dalam ajang Dimas Diajeng Kulon Progo 2025 tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi simbol bahwa mahasiswa UPY mampu menunjukkan kualitas dan kontribusinya di luar ranah akademik. Prestasi ini sejalan dengan semangat UPY dalam membentuk lulusan yang berkarakter, unggul, dan berdedikasi bagi masyarakat.

  • Pagelaran Seni Musik “Kirana Loka 2025” Sukses Digelar – Mahasiswa PGSD UPY Tampilkan Kreasi, Harmoni, dan Kolaborasi dalam Nada

    Pagelaran Seni Musik “Kirana Loka 2025” Sukses Digelar – Mahasiswa PGSD UPY Tampilkan Kreasi, Harmoni, dan Kolaborasi dalam Nada

    Yogyakarta — Nuansa hangat dan meriah memenuhi Auditorium Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) pada Senin, 7 Juli 2025, saat mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2022 sukses menyelenggarakan Pagelaran Musik Kirana Loka 2025. Mengusung tema “Harmoni dalam Nada, Mengalun Lembut Membawa Makna”, kegiatan ini menjadi ajang ekspresi seni yang mencerminkan semangat kolaboratif dan kreatif para mahasiswa dalam dunia musik.

    Pagelaran ini menampilkan seluruh mahasiswa dari 7 kelas angkatan 2022 yang terlibat aktif dalam merancang, mempersiapkan, hingga menampilkan karya musik mereka secara kreatif dan penuh makna. Kegiatan ini turut disaksikan oleh mahasiswa PGSD angkatan 2023 dan 2024 serta disiarkan secara langsung melalui akun Instagram resmi @senimusikpgsd, menjangkau khalayak yang lebih luas di lingkungan akademik dan pencinta seni.

    Ketua Pelaksana, Saputra, membuka acara dengan sambutan penuh semangat dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. “Pagelaran ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga wujud nyata dari ekspresi, kerja sama, dan dedikasi mahasiswa PGSD dalam bidang seni,” ungkapnya.

    Sementara itu, Muhamad Muslich Candranagara, M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Seni Musik, dalam sambutannya menekankan bahwa seni musik merupakan media pendidikan yang kuat dalam membentuk kepekaan, kedisiplinan, dan karakter mahasiswa. “Kami terus mendorong mahasiswa untuk berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam bidang seni,” ujarnya.

    Kaprodi PGSD UPY, Dr. Rina Dyah Rahmawati, M.Pd., turut menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya Kirana Loka sebagai implementasi dari kurikulum Merdeka Belajar. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mengekspresikan kreativitas dan menumbuhkan rasa percaya diri, yang sangat penting bagi calon pendidik masa depan,” tutur Dr. Rina.

    Pagelaran Kirana Loka menampilkan beragam pertunjukan seperti ansambel musik, vokal, hingga kolaborasi instrumen, mencerminkan keberagaman gaya, kreativitas, dan kekuatan narasi musikal para mahasiswa. Selain menjadi sarana hiburan dan ekspresi, kegiatan ini juga memperkuat karakter mahasiswa dan memperkaya pengalaman belajar secara holistik—melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

    Dengan berakhirnya acara, semangat harmoni yang mengalun dalam setiap nada Kirana Loka 2025 tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga membawa makna mendalam akan pentingnya pendidikan yang menyeluruh. Universitas PGRI Yogyakarta, melalui kegiatan seperti ini, terus berkomitmen mencetak pendidik masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya secara emosional dan kreatif.

  • BEM FBH UPY Gelar Class of Religion: Moderasi Beragama untuk Generasi Modern, Responsif, dan Nasionalis

    BEM FBH UPY Gelar Class of Religion: Moderasi Beragama untuk Generasi Modern, Responsif, dan Nasionalis

    Yogyakarta, 2 Juni 2025 – Dalam rangka memperingati Dies Natalis Fakultas Bisnis dan Hukum Universitas PGRI Yogyakarta dan Hari Lahir Pancasila, BEM FBH UPY menyelenggarakan acara Class of Religion bertajuk “Moderasi Beragama bagi Generasi Muda yang Modern (Moderat, Edukatif, Responsif, dan Nasionalis)”.

    Bertempat di Auditorium Universitas PGRI Yogyakarta, kegiatan ini menghadirkan semangat kebersamaan di tengah keberagaman. Peserta tak hanya datang dari kalangan civitas akademika UPY, khususnya Fakultas Bisnis dan Hukum, tetapi juga mahasiswa dari berbagai kampus lain di Yogyakarta, seperti UMY, UKDW, UST, UNY, Instiper, hingga Atma Jaya.

    Universitas PGRI Yogyakarta dikenal sebagai rumah besar yang menaungi mahasiswa dari beragam latar belakang agama, suku, dan budaya. Inilah yang menjadi dasar penting diselenggarakannya kegiatan ini: sebagai wujud nyata implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kampus, dan sebagai ruang edukasi agar generasi muda memahami pentingnya toleransi, dialog antariman, dan hidup berdampingan secara damai.

    “Moderasi beragama bukan hanya wacana, tapi sebuah sikap hidup yang harus ditanamkan sejak di bangku perkuliahan. Inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya: majemuk, damai, dan saling menghargai,” ujar salah satu panitia penyelenggara.

    Acara berlangsung dengan lancar dan penuh semangat. Banyak peserta yang aktif terlibat dalam diskusi, berbagi pandangan lintas iman, dan menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk bersatu, tetapi justru kekayaan yang harus dirawat bersama.

    Forum ini tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga wadah tumbuhnya kesadaran baru di kalangan mahasiswa: bahwa menghargai perbedaan adalah fondasi perdamaian, dan generasi muda memiliki peran penting untuk mewujudkannya.

    “Kami berharap, dari kegiatan ini tumbuh semangat saling menghargai, keterbukaan berpikir, dan kolaborasi antar mahasiswa dari latar belakang yang berbeda,” ungkap salah satu peserta dari luar kampus.

    Class of Religion 2025 menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tempat mencetak sarjana, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebhinekaan, toleransi, dan nasionalisme. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut sebagai kontribusi nyata dunia kampus untuk membangun masa depan Indonesia yang damai, adil, dan penuh penghargaan terhadap keberagaman.

  • “Menjelang Liburan Semester: Sibuknya Mahasiswa, Sibuk Apa Dulu Nih?”

    “Menjelang Liburan Semester: Sibuknya Mahasiswa, Sibuk Apa Dulu Nih?”

    Menjelang liburan semester, suasana kampus berubah drastis. Yang tadinya ramai suara dosen ngabsen dan mahasiswa debat topik tugas kelompok, mendadak sunyi… tapi jangan salah, itu bukan karena semua orang sudah pergi liburan. Justru, ini adalah masa-masa paling sibuk bagi sebagian besar mahasiswa. Tapi, sibuknya ngapain dulu?

    Berikut ini potret kesibukan mahasiswa menjelang liburan semester. Awas, jangan-jangan kamu termasuk salah satunya!

    1. Sibuk Ngerjain Tugas yang Seharusnya Dikerjain 3 Minggu Lalu

    Deadline itu ibarat mantan: makin dideketin, makin bikin deg-degan.
    Menjelang liburan, Google Docs dibuka, grup WhatsApp ramai, laptop mendadak jadi sahabat sejati (walau tetap diselingkuhi sama TikTok tiap 10 menit). Mahasiswa sibuk merapikan tugas akhir semester yang selama ini lebih sering masuk wishlist daripada to-do list.

    “Pokoknya, mulai besok aku ngerjain semua tugas!”
    —kata mahasiswa setiap malam sejak dua minggu lalu.

    2. Sibuk Mengejar Dosen untuk ACC Judul / Nilai / Balas Chat

    Ada satu olahraga yang populer menjelang liburan: “kejar dosen”.
    Dosen di-follow up via email, WA, sampai DM Instagram (kalau nekat). Semua demi satu hal: ACC tugas, nilai keluar, atau minimal… dibales.

    “Maaf Pak, saya cuma mau nanya apakah Bapak sempat membaca file revisi saya minggu lalu? Mohon maaf ganggu waktunya, Pak. Mohon dibalas, Pak. Pak. Pak…”
    (Di sisi lain, centang dua biru tapi sunyi. Sakitnya kayak nilai C+ padahal udah ngerasa A.)

    3. Sibuk Packing Buat Pulang Kampung, Tapi Belum Beli Tiket

    Ada tipe mahasiswa yang baru panik ketika tahu semua tiket kereta udah sold out.
    Masih berharap bisa “nyempil” di kursi lipat sambil bawa koper ukuran lemari es mini. Ada juga yang sok optimis naik travel, padahal booking-nya H-1 dan ngetik “Travel Jogja – Cirebon yang aman dan murah (no tipu²)” di Google jam 1 pagi.

    4. Sibuk Merencanakan Liburan Bareng Teman… yang Nggak Pernah Jadi

    Grup chat dibikin: “Liburan Ceria 2025”.
    Isinya cuma polling tanggal dan lokasi.
    Semua semangat di awal, tapi akhirnya mentok di:

    “Gue sih bebas, ngikut aja.”
    “Aku nggak bisa tanggal segitu, ada kondangan.”
    “Guys, aku ga jadi ikut ya, ortu ngajak ke kampung.”

    Hasil akhir: liburan bareng dibatalkan, semua kembali ke rutinitas nonton Netflix sambil makan mi instan sendirian.

    5. Sibuk Meratapi Nilai Ujian dan Janji Belajar Lebih Rajin Semester Depan

    Setelah semua nilai keluar, drama baru dimulai.
    Ada yang refresh Sistem Informasi Akademik tiap lima menit. Ada yang syok karena nilai “usaha maksimal” ternyata nggak sejalan dengan nilai akhir.
    Lalu muncullah kalimat klasik:

    “Semester depan aku bakal lebih rajin, nggak mau begini lagi.”

    Iya, kita tahu. Sampai semester depan benar-benar datang dan sejarah kembali terulang 😌

    Liburan memang sebentar lagi, tapi kesibukan menjelangnya bisa terasa kayak “episode terakhir” dari satu musim kehidupan mahasiswa: penuh plot twist, air mata (baik karena nilai maupun WiFi kos yang mati), dan harapan baru.

    Jadi, buat kamu yang lagi sibuk banget… santai, kamu nggak sendiri.
    Nikmati prosesnya, tetap jaga kewarasan, dan semoga liburannya beneran jadi ya—bukan cuma wacana.

  • Mahasiswa PVTO UPY Tampilkan Gokart Listrik dalam Sosialisasi Program Internasional UPY

    Mahasiswa PVTO UPY Tampilkan Gokart Listrik dalam Sosialisasi Program Internasional UPY

    Mahasiswa Program Studi Pendidikan Vokasi Teknik Otomotif (PVTO) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) turut ambil bagian dalam memeriahkan kegiatan Sosialisasi Program Internasional UPY yang diselenggarakan hari ini di Auditorium UPY. Acara ini dihadiri oleh para Guru Bimbingan Konseling (BK) dari seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) serta anggota Asosiasi Profesi Konselor Sekolah (APKS) PGRI.

    Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa PVTO menampilkan gokart listrik hasil karya inovatif mereka. Keberadaan kendaraan listrik ini menjadi sorotan dan daya tarik tersendiri bagi para peserta sosialisasi. Gokart tersebut merupakan representasi nyata dari kompetensi dan keahlian mahasiswa PVTO dalam menciptakan teknologi otomotif yang berwawasan lingkungan.

    Para mahasiswa secara antusias memaparkan proses perancangan, spesifikasi teknis, hingga keunggulan ramah lingkungan dari gokart listrik yang mereka ciptakan. Karya ini menunjukkan bahwa mahasiswa PVTO tidak hanya dibekali dengan keterampilan praktis, tetapi juga didorong untuk berinovasi dan mengikuti perkembangan teknologi global.

    Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan informasi menyeluruh terkait Program Internasional UPY, termasuk jalur dan alur pendaftaran, persyaratan, serta peluang studi global yang ditawarkan. Selain sesi pemaparan, acara juga diramaikan dengan berbagai doorprize menarik bagi para peserta.

    Kehadiran mahasiswa PVTO dengan karya unggulannya ini menjadi momen penting dalam memperkuat citra program studi di mata para guru BK. Sebagai pihak yang memiliki peran strategis dalam mengarahkan pilihan studi siswa, para guru mendapatkan gambaran langsung mengenai kualitas dan potensi yang dimiliki oleh mahasiswa PVTO UPY.

    Melalui kegiatan ini, UPY berharap dapat memperluas wawasan para pendidik tentang peluang pendidikan bertaraf internasional di lingkungan kampus, sekaligus menginspirasi calon mahasiswa untuk mengembangkan diri di bidang teknik otomotif yang inovatif dan berkelanjutan.

  • Mahasiswa UPY Raih Juara 2 Kejurnas Pencak Silat Sangiran Championship 2025

    Mahasiswa UPY Raih Juara 2 Kejurnas Pencak Silat Sangiran Championship 2025

    Dio Saputra, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) angkatan 2023, berhasil mengukir prestasi membanggakan di tingkat nasional dengan meraih juara kedua dalam ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pencak Silat Sangiran Championship 2025 yang digelar pada 29 Mei 2025 di GOR Diponegoro, Sragen, Jawa Tengah.

    Sangiran Championship merupakan salah satu kompetisi bergengsi dalam dunia pencak silat Indonesia, yang mempertemukan para pesilat muda terbaik dari berbagai daerah. Kejuaraan ini mempertandingkan dua kategori utama: tanding dan seni, dengan partisipasi ratusan atlet dari berbagai perguruan dan perguruan tinggi.

    Dio Saputra menunjukkan performa luar biasa sejak awal kejuaraan. Berbekal pengalaman dan latihan panjang dalam dunia pencak silat, Dio tampil konsisten dengan teknik dan strategi yang matang, sehingga mampu menembus babak final dan meraih posisi kedua secara nasional. Meskipun belum menjadi juara pertama, capaian ini merupakan hasil dari kerja keras, disiplin, dan dedikasi tinggi Dio dalam mengembangkan potensi dirinya.

    “Prestasi ini menjadi kebanggaan tidak hanya bagi saya pribadi, tapi juga untuk keluarga besar UPY. Semoga bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengejar prestasi, baik akademik maupun non-akademik,” ujar Dio Saputra.

    Dengan pencapaiannya ini, Dio tidak hanya membawa nama baik almamater, tetapi juga menunjukkan semangat generasi muda dalam melestarikan budaya bangsa melalui olahraga tradisional pencak silat. Pihak kampus menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap mahasiswa yang terus berkontribusi melalui bidang yang mereka minati.

    UPY berkomitmen untuk terus mencetak mahasiswa berprestasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan pelestarian budaya bangsa.

  • Unlocking Financial Puzzles: HMP Akuntansi UPY Gelar Kompetisi Akuntansi Nasional Ke-3 Tingkat Pelajar

    Unlocking Financial Puzzles: HMP Akuntansi UPY Gelar Kompetisi Akuntansi Nasional Ke-3 Tingkat Pelajar

    Himpunan Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas PGRI Yogyakarta (HMP Akuntansi UPY) kembali menyelenggarakan ajang tahunan Accounting Competition yang kini memasuki tahun ketiganya. Mengusung tema “Accounting Challenge: Unlocking Financial Puzzles”, kompetisi ini bertujuan mengasah kemampuan akademik serta nalar kritis siswa-siswi tingkat SMA/SMK/MA sederajat dari berbagai daerah di Indonesia dalam bidang akuntansi.

    Kompetisi yang terbagi dalam dua tahap—online dan offline—ini berlangsung dari tanggal 19 hingga 26 April 2025. Sebanyak 8 tim dari sekolah-sekolah di berbagai wilayah ambil bagian, yakni:

    • SMK N 1 Tempel
    • SMK N 1 Pengasih
    • SMA N 1 Banguntapan
    • SMA Regina Pacis Surakarta
    • Smekaraja Accounting Team
    • SMK N 1 Samigaluh
    • SMK Maarif Sleman
    • SMK YPKK 2 Sleman

    Babak online yang digelar pada 19 April 2025 melalui Zoom diikuti dengan antusiasme tinggi. Lima tim terbaik berhasil lolos ke babak final dan diundang ke tahap offline yang dilaksanakan secara langsung pada 26 April 2025 di Auditorium Kampus 1 Universitas PGRI Yogyakarta.

    Tahapan offline kompetisi terbagi menjadi tiga babak utama:

    1. Babak Penyisihan: Tes tulis akuntansi dasar dan menengah.
    2. Babak Semifinal: Kuis interaktif dengan sistem tombol bel dan studi kasus.
    3. Babak Final: Presentasi analisis studi kasus di hadapan dewan juri.

    Tiga dewan juri yang menilai jalannya babak final adalah:

    • Ratna Purnamasari, S.E., M.Si., Akt., CPA – Dosen Akuntansi UPY
    • Dra. Siti Rumini – Guru SMK N 1 Godean
    • Pebrianti Pawestri, S.E., M.E. – Tentor Bimbingan Belajar Rose Dream

    Setelah penilaian intensif, tiga tim terbaik diumumkan sebagai pemenang:

    • Juara 1: SMK N 1 Pengasih
    • Juara 2: SMA Regina Pacis Surakarta
    • Juara 3: SMK N 1 Tempel

    Para pemenang berhak atas piala, sertifikat penghargaan, dan uang pembinaan.

    “Kegiatan ini bukan hanya ajang perlombaan, tetapi juga wadah mempererat tali silaturahmi antar pelajar dari berbagai daerah sekaligus mengenalkan dunia akuntansi secara lebih mendalam dan menyenangkan,” ujar Ketua Panitia.

    Dengan keberhasilan penyelenggaraan tahun ini, HMP Akuntansi UPY berharap dapat terus menginspirasi generasi muda untuk menekuni bidang akuntansi serta membentuk karakter unggul dan kompetitif di tingkat nasional.

  • UPY FUN RUN 5K 2025: Semangat Sportif Mahasiswa dan Masyarakat Umum Bersatu di Kampus 1 UPY

    UPY FUN RUN 5K 2025: Semangat Sportif Mahasiswa dan Masyarakat Umum Bersatu di Kampus 1 UPY

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) sukses menggelar UPY Fun Run 5K, sebuah ajang lari santai yang terbuka untuk masyarakat umum dan pelajar, bertempat di Kampus 1 UPY. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja kolaboratif antar Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UPY.

    Ajang yang berlangsung pada Minggu, 4 Mei 2025 ini bertujuan untuk meningkatkan semangat sportivitas, membangun kebersamaan antarmahasiswa, serta mempererat hubungan dengan masyarakat sekitar. Rute lari sejauh lima kilometer ini melibatkan berbagai lapisan peserta dari pelajar hingga masyarakat umum, yang antusias mengikuti kegiatan sejak pagi hari.

    Wakil Dekan III FST, R. Hafid Hardiyanto, M.Pd, menyampaikan bahwa acara berjalan dengan lancar sesuai rencana, mulai dari registrasi peserta, pemanasan bersama, hingga sesi hiburan dan pembagian doorprize.

    “Melihat antusiasme peserta dan dukungan dari berbagai pihak, kami berharap UPY Fun Run ini bisa menjadi agenda tahunan kampus yang tidak hanya mempromosikan gaya hidup sehat, tetapi juga memperkuat jejaring sosial di lingkungan UPY dan sekitarnya,” ujarnya.

    Acara ini menjadi bukti nyata semangat kolaboratif mahasiswa UPY dalam menghidupkan kegiatan positif di lingkungan kampus, sekaligus menunjukkan peran aktif kampus dalam mengedukasi masyarakat melalui pendekatan yang menyenangkan dan inklusif.

  • BEM KM UPY Selenggarakan Seminar Kesehatan Nasional dan Donor Darah, Dorong Mahasiswa Lebih Peduli Kesehatan

    BEM KM UPY Selenggarakan Seminar Kesehatan Nasional dan Donor Darah, Dorong Mahasiswa Lebih Peduli Kesehatan

    YOGYAKARTA – Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menggelar Seminar Kesehatan Nasional dan Donor Darah pada Kamis, 15 Mei 2025, bertempat di Auditorium UPY. Acara ini terlaksana berkat kerja sama antara BEM KM UPY, Dinas Kesehatan (DINKES), dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bantul.

    Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dan dosen UPY, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Seminar ini menjadi gebrakan baru yang pertama kalinya diselenggarakan di UPY dengan fokus utama pada isu kesehatan.

    “Ini merupakan kegiatan perdana di Universitas PGRI Yogyakarta yang secara khusus membahas isu kesehatan. Sebuah langkah penting yang patut diapresiasi,” ungkap salah satu dosen yang hadir.

    Pelaksanaan acara didasari oleh keprihatinan terhadap gaya hidup mahasiswa yang dinilai belum mencerminkan kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat. Selain itu, tingkat partisipasi mahasiswa sebagai pendonor darah masih tergolong rendah di Indonesia.

    Acara berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. Seminar menghadirkan pembicara-pembicara kompeten di bidang kesehatan, sementara kegiatan donor darah dilaksanakan secara bersamaan di lokasi acara. Para peserta terlihat aktif mengikuti sesi demi sesi dengan semangat yang tinggi.

    Harapannya, melalui kegiatan ini, mahasiswa dan peserta lainnya dapat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan serta mulai menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, diharapkan mereka juga terdorong menjadi pendonor darah aktif sebagai bentuk kontribusi nyata bagi sesama.

    “Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi awal dari gerakan sadar kesehatan di kalangan mahasiswa. Semoga para peserta dapat menerapkan ilmu yang didapat dan terus peduli terhadap kesehatan pribadi maupun lingkungan,” ujar Wida, Ketua BEM KM UPY.