Kategori: Berita Utama

  • Pimpinan dan Sivitas Akademika Universitas PGRI Yogyakarta Mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H

    Pimpinan dan Sivitas Akademika Universitas PGRI Yogyakarta Mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H

    Keluarga besar Universitas PGRI Yogyakarta mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kepada seluruh sivitas akademika, alumni, mitra kerja, serta masyarakat luas yang merayakan.

    Idulfitri menjadi momen penuh makna untuk kembali kepada fitrah, mempererat tali silaturahmi, serta menumbuhkan semangat kebersamaan setelah menjalani ibadah di bulan suci Ramadan. Momentum ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperkuat nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, serta kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.

    Pimpinan dan Sivitas Akademika Universitas PGRI Yogyakarta mengucapkan:

    Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H
    Taqabbalallahu minna wa minkum
    Mohon Maaf Lahir dan Batin

    Semoga hari kemenangan ini membawa keberkahan, kedamaian, serta semangat baru bagi kita semua untuk terus berkarya, berkontribusi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

  • Mudik Lebaran: Persiapan Penting Sebelum Bertemu Ketupat dan Keluarga

    Mudik Lebaran: Persiapan Penting Sebelum Bertemu Ketupat dan Keluarga

    Menjelang Hari Raya Idulfitri, satu kata yang hampir selalu muncul dalam percakapan masyarakat Indonesia adalah mudik. Tradisi pulang kampung ini telah menjadi bagian penting dari budaya sosial di Indonesia. Setiap tahun, jutaan orang melakukan perjalanan dari kota tempat mereka bekerja atau belajar menuju kampung halaman untuk merayakan lebaran bersama keluarga.

    Data dari berbagai laporan Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat menjelang Idulfitri selalu meningkat signifikan, dengan jutaan pemudik menggunakan berbagai moda transportasi seperti kereta api, bus, kendaraan pribadi, kapal laut, hingga pesawat. Mahasiswa yang merantau tentu menjadi bagian dari fenomena tahunan ini.

    Namun, agar perjalanan mudik berjalan lancar, ada beberapa hal penting yang perlu dipersiapkan. Tidak hanya soal tiket, tetapi juga perencanaan perjalanan yang matang. Berikut beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan sebelum mudik lebaran.

    1. Tiket Perjalanan: Jangan Menunggu “Keajaiban”

    Persiapan paling awal dan paling krusial adalah tiket perjalanan. Moda transportasi populer seperti kereta api dan pesawat biasanya sudah mulai penuh beberapa minggu sebelum Idulfitri.

    Karena itu, banyak calon pemudik yang sudah memesan tiket jauh-jauh hari. Prinsipnya sederhana: siapa cepat, dia dapat kursi nyaman. Jika terlalu lama menunda, pilihan yang tersisa biasanya hanya dua: kursi paling belakang atau jadwal keberangkatan yang membuat kita tiba di kampung halaman saat ketupat sudah hampir habis.

    Bagi mahasiswa, berburu tiket sering menjadi pengalaman tersendiri. Mulai dari membuka aplikasi pemesanan tengah malam, hingga berbagi informasi dengan teman tentang promo transportasi yang tiba-tiba muncul.

    2. Perencanaan Waktu Perjalanan

    Selain tiket, hal penting lain adalah menentukan waktu perjalanan yang tepat. Banyak pemudik memilih berangkat lebih awal untuk menghindari kepadatan lalu lintas yang biasanya terjadi mendekati hari raya.

    Perencanaan ini juga perlu mempertimbangkan jadwal akademik, seperti ujian, tugas, atau kegiatan kampus yang masih berlangsung menjelang libur Idulfitri. Dengan pengaturan waktu yang baik, mahasiswa dapat pulang kampung tanpa membawa “oleh-oleh tambahan” berupa tugas yang belum selesai.

    3. Menyiapkan Barang Bawaan Secukupnya

    Mudik sering kali identik dengan koper besar, tas tambahan, dan kadang-kadang kantong plastik berisi oleh-oleh. Namun sebenarnya, membawa barang secukupnya adalah strategi terbaik agar perjalanan tetap nyaman.

    Beberapa barang penting yang sebaiknya dipersiapkan antara lain:

    • Identitas diri dan tiket perjalanan
    • Pakaian yang cukup selama di kampung halaman
    • Obat-obatan pribadi
    • Perangkat komunikasi seperti ponsel dan charger
    • Dokumen penting jika diperlukan

    Mahasiswa biasanya juga membawa satu barang yang tidak boleh tertinggal: laptop. Bukan karena ingin mengerjakan tugas selama mudik, tetapi lebih sebagai bentuk “antisipasi”. Walaupun pada praktiknya, laptop tersebut sering hanya dibuka untuk menonton film atau menyimpan foto keluarga selama liburan.

    4. Oleh-Oleh untuk Keluarga

    Tradisi membawa oleh-oleh juga menjadi bagian dari perjalanan mudik. Banyak perantau membeli makanan khas dari kota tempat mereka tinggal sebagai tanda perhatian kepada keluarga di rumah.

    Namun ada satu hal yang sering terjadi: daftar penerima oleh-oleh bisa berkembang secara tiba-tiba. Awalnya hanya untuk orang tua dan saudara, tetapi kemudian bertambah untuk tetangga, sahabat lama, bahkan teman masa sekolah yang kebetulan bertemu saat lebaran.

    Inilah alasan mengapa tas mudik sering terasa lebih berat saat berangkat dibandingkan saat kembali ke kota perantauan.

    5. Menjaga Kondisi Kesehatan

    Perjalanan mudik sering memakan waktu cukup panjang, terutama bagi mereka yang menggunakan transportasi darat. Oleh karena itu, menjaga kondisi fisik menjadi hal yang sangat penting.

    Istirahat yang cukup sebelum berangkat, mengonsumsi makanan yang sehat, serta membawa air minum dan camilan ringan dapat membantu menjaga stamina selama perjalanan. Bagi pemudik yang membawa kendaraan pribadi, penting juga untuk beristirahat secara berkala demi keselamatan.

    6. Persiapan Mental: Siap Menjawab Pertanyaan Klasik

    Ada satu persiapan yang sering tidak tertulis dalam daftar mudik, tetapi hampir pasti terjadi: persiapan mental menghadapi pertanyaan keluarga.

    Mahasiswa biasanya sudah sangat familiar dengan beberapa pertanyaan khas saat berkumpul dengan keluarga besar, seperti:

    • “Sekarang semester berapa?”
    • “Kapan lulus?”
    • “Sudah ada rencana setelah kuliah?”

    Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya muncul dari rasa perhatian keluarga. Jadi, jawaban terbaik biasanya adalah senyum, santai, dan menikmati suasana lebaran.

    Mudik: Lebih dari Sekadar Perjalanan

    Pada akhirnya, mudik bukan hanya tentang perjalanan dari satu kota ke kota lain. Mudik adalah tentang kembali ke rumah, bertemu orang-orang yang selalu menunggu dengan penuh rindu.

    Bagi mahasiswa yang merantau, momen ini juga menjadi kesempatan untuk melepas sejenak kesibukan akademik, berkumpul bersama keluarga, serta menikmati suasana kampung halaman yang mungkin sudah lama tidak dirasakan.

    Dan ketika perjalanan pulang akhirnya tiba, satu hal yang hampir selalu sama terjadi: koper yang awalnya berisi pakaian akan kembali ke kota dengan tambahan bekal makanan dari rumah—sebuah bentuk kasih sayang yang tidak pernah berubah dari tahun ke tahun.

  • Menjelang Idulfitri: Kesibukan Mahasiswa Antara Tugas, Mudik, dan Daftar Oleh-Oleh

    Menjelang Idulfitri: Kesibukan Mahasiswa Antara Tugas, Mudik, dan Daftar Oleh-Oleh

    Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana kampus biasanya mulai berubah. Jika pada awal semester lorong-lorong kampus dipenuhi langkah cepat mahasiswa menuju kelas, maka mendekati lebaran suasananya sedikit berbeda. Ada yang terlihat lebih sibuk dari biasanya, ada yang mulai menghitung hari menuju mudik, dan ada pula yang diam-diam menyelesaikan tugas terakhir sebelum “mode libur” benar-benar dimulai.

    Bagi mahasiswa, masa menjelang Idulfitri sering kali menjadi kombinasi unik antara kesibukan akademik, persiapan pulang kampung, dan tentu saja—perencanaan menu lebaran.

    Tugas Kuliah: Diselesaikan Sebelum Takbir Berkumandang

    Secara akademik, menjelang Idulfitri biasanya bertepatan dengan periode pertengahan semester. Artinya, mahasiswa masih harus menyelesaikan berbagai kewajiban kuliah seperti tugas individu, laporan praktikum, presentasi kelompok, hingga diskusi kelas.

    Fenomena yang sering terjadi adalah “deadline mendadak terasa semakin dekat ketika tiket mudik sudah di tangan.” Mahasiswa pun mulai mengatur strategi: mengerjakan tugas lebih awal, menyelesaikan presentasi sebelum libur panjang, atau berdiskusi dengan kelompok agar tidak membawa “PR akademik” ke kampung halaman.

    Meski begitu, ada juga realitas yang cukup familiar di kalangan mahasiswa:
    “Targetnya selesai sebelum mudik, tapi kadang file revisinya tetap ikut pulang.”

    Mudik: Tradisi yang Dinanti

    Mudik menjadi salah satu momen paling dinantikan oleh mahasiswa, terutama bagi mereka yang merantau jauh dari keluarga. Berdasarkan berbagai laporan transportasi nasional setiap tahun, jutaan masyarakat Indonesia melakukan perjalanan mudik menjelang Idulfitri, dan mahasiswa termasuk di dalamnya.

    Persiapan mudik biasanya sudah dimulai jauh-jauh hari:

    • Berburu tiket kereta atau bus
    • Menentukan tanggal pulang
    • Mengatur jadwal kuliah terakhir sebelum berangkat

    Bagi sebagian mahasiswa, mudik juga menjadi latihan manajemen logistik tingkat lanjut. Mulai dari memastikan laptop aman di tas, membawa oleh-oleh untuk keluarga, hingga memastikan charger tidak tertinggal—karena tanpa charger, mahasiswa modern bisa kehilangan setengah semangat hidupnya.

    Berburu Oleh-Oleh: Misi Sosial yang Tidak Tertulis

    Menjelang pulang kampung, ada satu agenda tambahan yang sering muncul: membeli oleh-oleh.

    Tradisi ini sebenarnya sederhana, tetapi selalu menghadirkan cerita tersendiri. Ada mahasiswa yang memilih makanan khas kota tempatnya kuliah, ada yang membeli camilan populer, dan ada pula yang memilih oleh-oleh praktis yang “muat di tas dan tidak pecah di perjalanan.”

    Yang menarik, daftar penerima oleh-oleh kadang bisa berkembang secara misterius. Awalnya hanya untuk orang tua dan adik, tetapi kemudian bertambah untuk tetangga, sepupu, hingga teman lama di kampung.

    Menyambut Lebaran dengan Cara Mahasiswa

    Selain mudik, mahasiswa juga mulai mempersiapkan berbagai hal lain menjelang Idulfitri. Mulai dari membantu orang tua membersihkan rumah, menyiapkan pakaian lebaran, hingga sekadar menikmati waktu bersama keluarga.

    Bagi sebagian mahasiswa yang tidak mudik, suasana lebaran di kota perantauan juga memiliki cerita tersendiri. Mereka biasanya merayakan Idulfitri bersama teman-teman sesama mahasiswa, mengikuti kegiatan kampus atau komunitas, dan tetap menjaga silaturahmi meski jauh dari rumah.

    Lebaran: Bukan Hanya Tentang Libur

    Di balik kesibukan menjelang Idulfitri, ada makna yang lebih dalam. Lebaran menjadi momen untuk kembali kepada nilai-nilai kebersamaan, saling memaafkan, dan mempererat hubungan keluarga.

    Bagi mahasiswa, ini juga menjadi waktu untuk sejenak beristirahat dari rutinitas akademik, mengisi ulang energi, dan kembali ke kampus dengan semangat baru setelah libur usai.

    Karena pada akhirnya, di balik tumpukan tugas, perjalanan mudik, dan daftar oleh-oleh yang semakin panjang, satu hal yang paling dinantikan tetap sama: bertemu keluarga dan merayakan kebersamaan di hari kemenangan.

    Dan tentu saja, menikmati opor ayam, ketupat, dan kue lebaran—yang biasanya habis lebih cepat daripada niat diet setelah Ramadan.

  • Universitas PGRI Yogyakarta, Indonesia, warmly welcomes you to the International Conference on Primary Education 2026 (ICOPE)

    Universitas PGRI Yogyakarta, Indonesia, warmly welcomes you to the International Conference on Primary Education 2026 (ICOPE)

    Dear Sir, Madam,

    Universitas PGRI Yogyakarta, Indonesia, warmly welcomes you to the International Conference on Primary Education 2026 (ICOPE).

    We cordially invite researchers and academics to the upcoming ICOPE 2026 International Conference.
    INTERNATIONAL CONFERENCE ON PRIMARY EDUCATION (ICOPE) 2026
    (Advancing Educational Innovation Through Creative, Cultural, and Religious Values for Inclusive and Resilience Generations)
    Universitas PGRI Yogyakarta

    📜Proudly Presents 📜

    👤 SPEAKERS
    Professor Roberto Araya, Ph.D (Professor at the University of Chile)

    Dr. Ave Marie P. Genodia (Chairperson of Bachelor of Elementary Education (BEEd), Northern Iloilo State University (NISU), Philippines)

    Dr. Yun-Ping Ge (Associate Professor, International Master’s Program of Learning and Instruction, National Taipei University of Education, Taiwan)

    Dr. Kritsachai Somsaman (Maker Jam Director, Origimon Creative Space, Thailand)

    Dr. Rina Dyah Rahmawati, S.Si, M.Pd. (Universitas PGRI Yogyakarta)

    👤 Moderator
    Dr. Nafisah Endahati, M.Hum. (Universitas PGRI Yogyakarta)

    🗓 TIME Wednesday, May 6th, 2026 Time: 08.00 – Finish (UTC+7)
    Western Indonesian Time (WIB) Online via Zoom Meeting

    📃 Important Dates for Full Paper Submission
    Deadline: April 15, 2026

    💳 REGISTRATION FEE
    Early Bird
    IDR 75.000,- (Student)
    IDR 175.000,- (Lecturer ot General)
    IDR 275.000,- (Speaker)

    Reguler
    IDR 100.000,- (Student)
    IDR 200.000,- (Lecturer ot General)
    IDR 300.000,- (Speaker)

    💳 PAYMENT TO ACCOUNT NUMBER Payment by Bank BNI Transfer: 1451893627
    An. Bahtiyar Heru Susanto

    🏢 The Conference will be held online: Zoom Conference

    🔗 REGISTRATION
    icope.upy.ac.id
    icope.pgsd@upy.ac.id

    🔗 INFORMATION
    www.icope.upy.ac.id (Information Web)

    ☎ CONTACT PERSONS
    Dr. Danuri, M.Pd.: 0819-3174-3341
    Bahtiyar Heru S., M.Pd.: 0857-2955-8066

    HELD BY Universitas PGRI Yogyakarta, Indonesia
    https://upy.ac.id/

  • UPY Gelar Buka Bersama Sivitas Akademika, Perkuat Ukhuwah Menuju Kampus APIK dan Unggul

    UPY Gelar Buka Bersama Sivitas Akademika, Perkuat Ukhuwah Menuju Kampus APIK dan Unggul

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menyelenggarakan kegiatan buka puasa bersama keluarga besar sivitas akademika pada Jumat (6/3/2026) di Auditorium UPY. Kegiatan ini menjadi momentum mempererat kebersamaan serta memperkuat nilai-nilai ukhuwah di lingkungan kampus selama bulan suci Ramadan.

    Acara tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas dan pengurus yayasan, termasuk Ketua Pengurus Yayasan Pembina Universitas PGRI Yogyakarta (YP UPY) Drs. John Sabari, M.Si., Rektor UPY Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P., serta para pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, dan perwakilan mahasiswa.

    Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sari tilawah yang disampaikan oleh Muhammad Sultan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Suasana khidmat terasa sejak awal acara, mengawali rangkaian kegiatan yang sarat dengan nuansa kebersamaan dan refleksi spiritual.

    Dalam sambutannya, Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P., menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana memperkuat komitmen bersama dalam membangun universitas yang semakin maju.

    “Momentum Ramadan ini menjadi kesempatan bagi kita semua untuk mempererat kebersamaan, memperkuat nilai-nilai persaudaraan, serta menyatukan langkah dalam mewujudkan Universitas PGRI Yogyakarta yang semakin APIK dan Unggul,” ujar Prof. Paiman.

    Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Ketua Pengurus YP UPY, Drs. John Sabari, M.Si., yang menekankan pentingnya menjaga semangat kebersamaan di lingkungan kampus. Menurutnya, sinergi antara yayasan, pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa merupakan kunci dalam mendukung kemajuan institusi.

    Kegiatan buka bersama tahun ini mengusung tema “Satukan Langkah, Perkuat Ukhuwah, Menuju UPY APIK dan UNGGUL.” Tema tersebut mencerminkan semangat kolektif seluruh sivitas akademika untuk terus memperkuat solidaritas dan komitmen dalam mengembangkan kualitas pendidikan di UPY.

    Rangkaian acara dilanjutkan dengan tausiyah Ramadan yang disampaikan oleh Ustadz Margianto, S.Ag., M.A., dari Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersamaan, meningkatkan kepedulian sosial, serta memanfaatkan bulan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan memperkuat nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

    Acara kemudian ditutup dengan doa bersama menjelang waktu berbuka puasa. Seluruh peserta selanjutnya melaksanakan salat Magrib berjamaah, yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama sebagai simbol kebersamaan dan kekeluargaan di lingkungan Universitas PGRI Yogyakarta.

    Melalui kegiatan ini, UPY berharap nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan semangat kolaborasi di antara sivitas akademika semakin kuat, sehingga mampu mendukung terwujudnya visi universitas sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan berdaya saing.

  • UPY Hadir untuk Sesama: Santunan Anak Yatim Warnai Kegiatan Ramadan Kampus

    UPY Hadir untuk Sesama: Santunan Anak Yatim Warnai Kegiatan Ramadan Kampus

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menunjukkan kepedulian sosial kepada masyarakat melalui kegiatan santunan anak yatim dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan 1447 H. Kegiatan ini menjadi bagian dari program sosial kampus untuk berbagi kebahagiaan dan mempererat hubungan dengan masyarakat sekitar.

    Santunan pertama dilaksanakan pada Rabu (4/3/2026) dan diserahkan kepada para santri yatim/piatu di Pondok Pesantren Al Lubab. Selanjutnya, santunan kedua diberikan pada Jumat (6/3/2026) kepada santri yatim/piatu di Pondok Pesantren Al Wahid.

    Dalam kegiatan tersebut, pihak UPY diwakili oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Dr. Septian Aji Permana, yang secara langsung menyerahkan santunan kepada para santri.

    Dr. Septian Aji Permana menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen universitas dalam menumbuhkan nilai kepedulian sosial, khususnya di bulan Ramadan yang penuh berkah. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat.

    “Melalui kegiatan santunan ini, kami ingin berbagi kebahagiaan dengan adik-adik santri yatim/piatu. Semoga bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat serta menjadi penguat semangat bagi mereka dalam menuntut ilmu,” ujarnya.

    Ia juga menambahkan bahwa kegiatan sosial seperti ini menjadi bagian dari upaya membangun karakter kepedulian dan empati di lingkungan sivitas akademika UPY, sekaligus memperkuat hubungan antara kampus dan masyarakat.

    Kegiatan santunan anak yatim ini berlangsung dengan penuh kehangatan dan kebersamaan. Para santri menyambut kedatangan rombongan UPY dengan antusias, sementara pihak pesantren turut menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kepedulian yang diberikan.

    Melalui kegiatan ini, UPY berharap semangat berbagi dan kepedulian sosial terus tumbuh di tengah masyarakat, serta menjadi inspirasi bagi sivitas akademika untuk senantiasa menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.

  • Mahasiswa dan “Maraton Buber”: Antara Silaturahmi, Dompet Tipis, dan Cerita Tak Terlupakan (PART 2)

    Mahasiswa dan “Maraton Buber”: Antara Silaturahmi, Dompet Tipis, dan Cerita Tak Terlupakan (PART 2)

    Jika pada awal Ramadan mahasiswa masih menjalani ritme yang relatif tenang, maka memasuki pertengahan bulan suasananya bisa berubah menjadi lebih ramai. Kalender kegiatan mulai dipenuhi dengan agenda buka bersama, bahkan tidak jarang terjadi apa yang secara bercanda disebut mahasiswa sebagai “maraton buber.”

    Dalam satu pekan, seorang mahasiswa bisa menghadiri beberapa acara sekaligus: buber bersama teman kelas, organisasi kampus, komunitas hobi, hingga reuni teman sekolah. Setiap undangan memiliki cerita dan dinamika tersendiri.

    Secara sosial, tradisi buka bersama memang memiliki fungsi penting dalam menjaga relasi. Dalam budaya masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, Ramadan sering dimanfaatkan sebagai momentum untuk mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan. Mahasiswa, yang berada pada fase kehidupan penuh aktivitas, tentu tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut.

    Namun, di balik semangat silaturahmi itu, ada satu realitas yang sering menjadi bahan humor di kalangan mahasiswa: kondisi dompet yang mulai menipis. Menghadiri beberapa acara buber dalam waktu berdekatan tentu membutuhkan pengeluaran tambahan, mulai dari biaya makan hingga transportasi.

    Tidak jarang muncul candaan di media sosial mahasiswa bahwa tantangan terbesar Ramadan bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga saldo dompet tetap stabil hingga akhir bulan. Beberapa bahkan mulai membuat strategi sederhana, seperti memilih menu yang lebih hemat atau berbagi makanan dengan teman.

    Meski demikian, cerita-cerita yang tercipta dalam acara buber sering kali jauh lebih berharga daripada sekadar biaya yang dikeluarkan. Dalam suasana santai menjelang waktu berbuka, percakapan bisa mengalir dari topik ringan hingga diskusi serius tentang masa depan, karier, atau rencana setelah lulus kuliah.

    Momen berbuka juga memiliki nuansa emosional tersendiri. Saat azan magrib berkumandang dan semua orang mulai membatalkan puasa bersama, suasana kebersamaan terasa semakin kuat. Bahkan, hal-hal kecil seperti berbagi kurma atau menunggu makanan datang bersama-sama bisa menjadi pengalaman yang meninggalkan kesan hangat.

    Selain itu, buber juga sering menjadi ruang untuk memperluas jaringan pertemanan. Dalam beberapa kesempatan, mahasiswa bertemu kembali dengan teman lama yang kini memiliki aktivitas berbeda, atau bahkan berkenalan dengan orang-orang baru melalui lingkaran pertemanan yang lebih luas.

    Pada akhirnya, fenomena “maraton buber” di kalangan mahasiswa mencerminkan satu hal penting: Ramadan tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan kembali banyak cerita.

    Di tengah kesibukan akademik dan rutinitas harian, kebersamaan sederhana saat berbuka puasa sering kali menjadi kenangan yang justru paling diingat setelah Ramadan berlalu.

    Dan bagi mahasiswa, satu hal yang hampir pasti:
    meskipun dompet mungkin sedikit lebih ringan, cerita dan tawa yang dibawa pulang dari setiap buber biasanya jauh lebih berharga.

  • Ramadan Paruh Waktu: Saat Mahasiswa Mulai Dikejar Undangan Reuni dan Buka Bersama (PART 1)

    Ramadan Paruh Waktu: Saat Mahasiswa Mulai Dikejar Undangan Reuni dan Buka Bersama (PART 1)

    Memasuki pertengahan bulan Ramadan, dinamika kehidupan mahasiswa biasanya mulai berubah. Jika pada pekan pertama fokus utama masih berkutat pada adaptasi jadwal kuliah, sahur, dan tugas yang menumpuk, maka pada pekan kedua hingga ketiga muncul satu fenomena yang hampir selalu hadir setiap tahun: undangan buka bersama atau yang populer disebut “buber.”

    Bagi mahasiswa, buber bukan sekadar acara makan setelah seharian berpuasa. Ia telah berkembang menjadi ruang sosial yang mempertemukan kembali berbagai relasi—mulai dari teman sekelas, organisasi kampus, alumni sekolah, hingga kelompok pertemanan lama yang jarang bertemu. Tidak jarang, dalam satu minggu seorang mahasiswa bisa menerima lebih dari satu undangan buber dari kelompok yang berbeda.

    Fenomena ini sejalan dengan tradisi sosial masyarakat Indonesia selama Ramadan. Dalam berbagai kajian sosial budaya, Ramadan dikenal sebagai momentum yang memperkuat hubungan sosial dan silaturahmi. Kegiatan berbuka bersama menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mempertemukan kembali orang-orang yang sebelumnya disibukkan oleh rutinitas masing-masing.

    Bagi mahasiswa, momentum ini memiliki cerita tersendiri. Grup percakapan yang biasanya sepi tiba-tiba menjadi ramai. Pesan yang muncul pun hampir selalu diawali dengan kalimat yang serupa: “Gimana kalau kita buber?” atau “Udah lama nggak ketemu, kapan kumpul?”

    Menariknya, proses menentukan waktu dan tempat buber kadang jauh lebih panjang daripada acara itu sendiri. Diskusi bisa berlangsung berhari-hari hanya untuk menentukan tanggal yang cocok bagi semua orang. Ada yang masih kuliah, ada yang sedang pulang kampung, ada pula yang sedang menjalani magang. Hasil akhirnya sering kali cukup realistis: tidak semua bisa hadir, tetapi acara tetap berjalan.

    Selain menjadi ajang silaturahmi, buber juga menjadi momen nostalgia. Percakapan biasanya dipenuhi cerita masa lalu, kenangan kuliah, hingga candaan tentang tugas kelompok yang dulu terasa berat tetapi kini justru dikenang dengan tawa. Dalam suasana santai menjelang berbuka, cerita-cerita lama itu seolah kembali hidup.

    Namun, ada satu “tantangan klasik” yang hampir selalu dialami mahasiswa saat buber: menahan diri dari lapar mata. Saat menu makanan tersaji di meja atau di etalase restoran, pilihan yang awalnya hanya ingin satu porsi sering kali berubah menjadi dua atau tiga jenis makanan. Tidak sedikit mahasiswa yang kemudian bercanda bahwa puasa sebenarnya melatih kesabaran—terutama kesabaran untuk tidak memesan semua menu sekaligus.

    Meski begitu, di balik candaan ringan tersebut, tradisi buber tetap memiliki makna yang lebih dalam. Ia menjadi simbol bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang memperkuat hubungan sosial dan kebersamaan. Bagi mahasiswa yang sehari-harinya disibukkan dengan jadwal akademik, momen ini menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan kembali terhubung dengan teman-teman.

    Dengan kata lain, ketika Ramadan memasuki pertengahan bulan, kehidupan mahasiswa tidak hanya diwarnai oleh tugas kuliah dan ibadah puasa, tetapi juga oleh agenda silaturahmi yang semakin padat—kadang bahkan lebih padat dari jadwal kelas.

  • Ramadan, Momentum Mengumpulkan Pahala dengan Hati Gembira

    Ramadan, Momentum Mengumpulkan Pahala dengan Hati Gembira

    Bulan Ramadan selalu hadir sebagai tamu istimewa yang dinantikan umat Islam di seluruh dunia. Selain menjadi kewajiban ibadah puasa selama sebulan penuh, Ramadan juga dikenal sebagai momentum terbaik untuk memperbanyak amal kebaikan. Dalam tradisi Islam, bulan ini dipercaya sebagai waktu ketika pahala dilipatgandakan dan pintu ampunan dibuka seluas-luasnya bagi setiap hamba yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.

    Secara teologis, keistimewaan Ramadan dijelaskan dalam berbagai sumber ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an, bulan Ramadan disebut sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Sementara itu, dalam berbagai hadis disebutkan bahwa amal ibadah pada bulan ini memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan bulan-bulan lainnya. Bahkan, terdapat satu malam istimewa yang dikenal sebagai Lailatul Qadar yang disebut lebih baik dari seribu bulan.

    Karena itu, banyak umat Muslim memanfaatkan Ramadan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Selain menjalankan puasa, berbagai aktivitas keagamaan menjadi semakin semarak, mulai dari salat tarawih berjamaah, tadarus Al-Qur’an, hingga berbagai kegiatan sosial seperti berbagi makanan berbuka dan santunan kepada yang membutuhkan. Fenomena ini dapat dilihat hampir di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari masjid-masjid yang lebih ramai hingga kegiatan berbagi takjil di jalanan yang menjadi tradisi tahunan.

    Menariknya, Ramadan juga menghadirkan dinamika sosial yang khas. Jika pada hari-hari biasa bangun sebelum subuh terasa berat, di bulan Ramadan justru banyak orang dengan semangat bangun dini hari untuk sahur. Bahkan, suara alarm yang biasanya diabaikan sering kali berubah menjadi “panggilan suci” yang sulit ditunda. Ada juga yang mengaku tiba-tiba menjadi lebih rajin membaca Al-Qur’an dibandingkan bulan-bulan sebelumnya—sebuah perubahan yang sering disambut dengan candaan ringan bahwa Ramadan memang memiliki “mode khusus” yang membuat seseorang lebih religius.

    Di sisi lain, Ramadan juga mengajarkan nilai pengendalian diri. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan emosi, perkataan, serta perilaku sehari-hari. Dalam konteks sosial, hal ini mendorong terciptanya suasana yang lebih damai dan penuh toleransi. Banyak orang berusaha menjaga sikap dan ucapan agar tidak merusak nilai ibadah yang sedang dijalankan.

    Momentum Ramadan juga kerap dimanfaatkan untuk memperkuat solidaritas sosial. Berbagai lembaga, komunitas, hingga individu berlomba-lomba mengadakan kegiatan sosial seperti berbagi paket makanan, santunan anak yatim, hingga program bantuan bagi masyarakat kurang mampu. Aktivitas ini menunjukkan bahwa semangat Ramadan tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat.

    Meski demikian, Ramadan juga sering menghadirkan cerita-cerita ringan yang mengundang senyum. Misalnya, seseorang yang sejak pagi sudah membayangkan menu berbuka, atau yang berjanji hanya membeli satu jenis gorengan tetapi akhirnya pulang dengan kantong penuh. Fenomena “lapar mata” saat menjelang berbuka bahkan sudah menjadi humor klasik yang hampir dialami banyak orang setiap Ramadan.

    Di balik berbagai cerita tersebut, esensi Ramadan tetap sama: menjadi kesempatan berharga untuk memperbaiki diri. Banyak ulama menyebut bulan ini sebagai “madrasah spiritual” yang melatih kedisiplinan, kesabaran, serta kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai yang dipelajari selama Ramadan diharapkan tidak berhenti ketika bulan suci berakhir, tetapi terus terbawa dalam kehidupan sehari-hari.

    Dengan segala keistimewaannya, Ramadan menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama untuk memperbanyak kebaikan. Entah melalui ibadah, membantu sesama, atau sekadar menahan diri dari hal-hal yang kurang bermanfaat, setiap langkah kecil dapat bernilai besar.

    Pada akhirnya, Ramadan bukan sekadar tentang menahan lapar hingga waktu berbuka. Lebih dari itu, bulan ini adalah kesempatan bagi setiap insan untuk “mengisi tabungan pahala” dengan cara yang mungkin tidak selalu serius, tetapi tetap penuh makna—bahkan sesekali diselingi senyum dan humor ringan di tengah perjalanan spiritual yang dijalani.

  • Tingkatkan Mutu Pendidikan, Prodi PG PAUD FKIP UPY Kantongi Akreditasi Baik Sekali

    Tingkatkan Mutu Pendidikan, Prodi PG PAUD FKIP UPY Kantongi Akreditasi Baik Sekali

    Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menorehkan prestasi akademik dengan berhasil meraih akreditasi Baik Sekali. Predikat tersebut diberikan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) berdasarkan Keputusan Nomor 305/SK/LAMDIK/Ak/S/II/2026.

    Capaian ini menjadi bukti komitmen UPY dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam mencetak calon pendidik profesional di bidang pendidikan anak usia dini. Akreditasi Baik Sekali yang diraih menunjukkan bahwa Program Studi PG PAUD FKIP UPY telah memenuhi standar mutu pendidikan tinggi yang ditetapkan oleh LAMDIK, baik dari aspek kurikulum, sumber daya manusia, tata kelola program studi, hingga kualitas proses pembelajaran.

    Rektor Universitas PGRI Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh sivitas akademika yang terus berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan di UPY.

    “Akreditasi Baik Sekali yang diraih oleh Program Studi PG PAUD FKIP UPY merupakan bentuk pengakuan atas kerja keras dan dedikasi seluruh tim, mulai dari pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa dan alumni. Kami berharap capaian ini semakin memperkuat komitmen UPY dalam mencetak pendidik anak usia dini yang profesional, inovatif, dan berintegritas,” ujar Prof. Paiman.

    Lebih lanjut, Rektor UPY menegaskan bahwa universitas akan terus mendorong peningkatan kualitas akademik dan tata kelola pendidikan agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan nasional. Akreditasi yang diraih ini juga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan di Universitas PGRI Yogyakarta.

    Program Studi PG PAUD FKIP UPY selama ini dikenal aktif dalam pengembangan pendidikan anak usia dini melalui berbagai kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan dukungan tenaga pengajar yang kompeten serta kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan zaman, prodi ini terus berupaya menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang kuat sebagai pendidik anak usia dini.

    Ke depan, dengan raihan akreditasi Baik Sekali ini, Program Studi PG PAUD FKIP UPY diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai salah satu program studi unggulan dalam bidang pendidikan anak usia dini, sekaligus berkontribusi dalam mencetak generasi pendidik yang berkualitas bagi masa depan bangsa.