Dalam rangka memperkuat jejaring internasional dan meningkatkan kualitas akademik, Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) melakukan kegiatan benchmarking ke Kesatuan Guru-Guru Melayu Malaysia Barat (KGGMB) pada Rabu, 11 Juni 2025, di Kuala Lumpur, Malaysia.
Kegiatan ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UPY yang diwakili oleh Dr. Esti Setiawati, M.Pd., dan KGGMB. Selain itu, dilakukan pula penandatanganan Implementation Arrangement (IA) oleh Dr. Muhammad Iqbal Birsyada, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah UPY.
Benchmarking ini bertujuan membuka ruang kolaborasi lintas negara dalam bidang pendidikan, khususnya dalam pengembangan kurikulum, pertukaran dosen dan mahasiswa, riset kolaboratif, serta pelaksanaan kegiatan ilmiah yang mendukung visi internasionalisasi Prodi Pendidikan Sejarah UPY.
“Melalui benchmarking ini, kami berharap dapat memperluas wawasan serta meningkatkan kualitas pembelajaran dan riset di lingkungan program studi kami. Kerja sama dengan KGGMB menjadi langkah strategis dalam mendukung penguatan pendidikan sejarah yang berorientasi global.” ujar Dr. Iqbal, Kaprodi Pendidikan Sejarah UPY dalam sambutannya.
KGGMB menyambut baik kedatangan delegasi dari UPY dan menyatakan komitmennya untuk membangun kemitraan jangka panjang demi kemajuan pendidikan di kedua negara.
Sebagai bagian dari kegiatan ini, juga digelar diskusi panel yang membahas sistem pendidikan dan pelatihan guru di Indonesia dan Malaysia. Delegasi UPY turut melakukan kunjungan ke beberapa sekolah mitra KGGMB yang menjadi model praktik pendidikan sejarah di Malaysia.
Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi internasionalisasi UPY dan diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan pendidikan sejarah di tingkat regional maupun global.
Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) telah sukses menggelar program E-Waste Revolve 2025, sebuah inisiatif lima hari yang dirancang untuk mendorong kesadaran, inovasi, dan kolaborasi lintas negara dalam pengelolaan limbah elektronik (e-waste). Melalui serangkaian kegiatan edukatif dan interaktif, program ini membuktikan bahwa limbah elektronik dapat menjadi titik awal bagi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
“Program ini melibatkan lima program studi dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UPY—yakni Farmasi, Gizi, Teknologi Rekayasa Elektro-medis, Teknik Biomedis, dan Sistem Informasi—yang secara aktif berpartisipasi dalam berbagai sesi akademik dan praktik langsung di UTM, Johor Bahru.”jelas Wahyu Sugianto, M.Si, salah satu Tim Dosen UPY.
Kegiatan utama dipusatkan di Institut Ibnu Sina (ISI-SIR) UTM, dengan dukungan strategis dari Centre for Sustainable Nanomaterials (CSNano), Faculty of Science (FS) UTM, Dewan Mahasiswa Fisika, dan mitra industri SAPG Technologies Sdn. Bhd.
Rangkaian program diawali dengan Visiting Lecturer di kampus UPY pada 4 Februari 2025. Kegiatan ini menjadi tonggak awal yang memperkuat relasi antar institusi, menyelaraskan visi, dan menetapkan arah kolaborasi dalam pengelolaan e-waste secara bertanggung jawab.
Para peserta tidak hanya mengikuti sesi ilmiah, namun juga terjun langsung dalam kegiatan berbasis komunitas. Salah satu momen paling inspiratif terjadi saat peneliti UPY melibatkan siswa kelas 3 di SMK Bandar Baru Uda dalam kompetisi pengumpulan limbah elektronik, yang dibantu oleh robot lengan otomatis. Kegiatan ini mengedukasi generasi muda tentang pentingnya keberlanjutan dan mendorong keterlibatan aktif dalam isu lingkungan sejak dini.
Selama lima hari, peserta secara antusias mengikuti berbagai kegiatan, antara lain:
Transfer pengetahuan mengenai modul Odisi Malar Hijau untuk program Reuse limbah elektronik
Pemaparan teknik pirolisis limbah elektronik oleh SAPG Technologies Sdn. Bhd
Penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara UTM dan UPY sebagai bentuk komitmen berkelanjutan
Kunjungan akademik ke FS UTM, Living Lab, dan laboratorium terkait
Pelatihan komponen elektronika dasar dan praktik perakitan
Sesi berbagi inspiratif bersama siswa SMK Bandar Baru Uda
Selain fokus pada isu teknis dan ilmiah, program ini juga menjelajahi dimensi keberlanjutan dari perspektif arsitektur dan ilmu sosial. Peserta diajak berkunjung ke Fakultas Lingkungan Terbangun dan Survei, Fakultas Ilmu Sosial dan Kemanusiaan, serta menjalani Sustainability Tour ke berbagai lokasi ikonik di Johor Bahru, seperti Perpustakaan Sultan Ismail, Dewan Bandaraya Johor Bahru (MBJB), dan Skyscape.
Kolaborasi antara UPY dan UTM ini menegaskan bahwa kerja sama lintas negara mampu melahirkan inovasi hijau dan mendorong penerapan ekonomi sirkular dalam skala global. Kedua institusi tidak hanya membangun jaringan akademik yang lebih kuat, tetapi juga memperlihatkan peran aktif dalam menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang nyata.
“E-Waste Revolve 2025 menjadi bukti bahwa perubahan dapat dimulai dari limbah—dan berakhir pada harapan,” ujar Wahyu Sugianto, M.Si.
Kabar membanggakan datang dari Universitas PGRI Yogyakarta (UPY). Program Studi Pendidikan Sejarah di bawah naungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) resmi meraih Akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) berdasarkan Surat Keputusan Nomor 745/SK/LAMDIK/Ak/S/VI/2025.
Pencapaian ini merupakan bentuk pengakuan tertinggi terhadap mutu pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Sejarah UPY. Keberhasilan ini diraih berkat kerja keras, kolaborasi, dan dedikasi seluruh sivitas akademika—termasuk dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, serta para alumni.
“Akreditasi Unggul ini bukan hanya prestasi administratif, tetapi merupakan wujud nyata dari komitmen kami untuk terus menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan di bidang sejarah, agar senantiasa relevan dan berdampak di tengah tantangan zaman,” ujar Dr. Muhammad Iqbal Birsyada, M.Pd, Kaprodi Pendidikan Sejarah UPY.
Predikat Unggul membuka berbagai peluang strategis, baik bagi mahasiswa maupun alumni. Mahasiswa kini memiliki akses lebih luas terhadap program beasiswa, pertukaran pelajar, dan magang di berbagai institusi nasional maupun internasional. Sementara itu, lulusan Prodi Pendidikan Sejarah memiliki daya saing tinggi di berbagai sektor, termasuk pendidikan formal, lembaga penelitian, museum, media, instansi pemerintah, hingga organisasi non-pemerintah.
Ke depan, Prodi Pendidikan Sejarah UPY menargetkan penguatan identitas akademik sebagai pusat pengembangan ilmu sejarah yang kontekstual dan adaptif terhadap dinamika sosial budaya. Fokus strategis akan diarahkan pada riset berbasis sejarah lokal dan nasional, pengembangan teknologi pembelajaran sejarah digital, peningkatan publikasi ilmiah, serta perluasan jejaring kerja sama akademik baik di dalam maupun luar negeri.
Dengan visi “Mengembangkan Pendidikan Sejarah yang Humanistik, Unggul, Inovatif, Berkomitmen Nasional dan Berwawasan Global, Berlandaskan Nilai-Nilai Luhur Budaya Yogyakarta”, Prodi Pendidikan Sejarah UPY terus melangkah sebagai salah satu pilar pendidikan tinggi yang bermutu dan relevan. Didukung oleh tenaga pengajar berkompeten, fasilitas pembelajaran yang modern, serta kurikulum yang adaptif, UPY mempertegas perannya dalam mencetak generasi pendidik sejarah yang berkualitas dan visioner.
Menjadi mahasiswa bukan hanya soal hadir di kelas, mencatat materi, dan lulus ujian. Lebih dari itu, menjadi mahasiswa adalah proses pendewasaan diri. Salah satu nilai penting yang harus ditanamkan sejak awal adalah kemandirian, terutama dalam hal mencari dan mengembangkan ilmu.
Kampus Bukan Satu-Satunya Sumber Ilmu
Perkuliahan memang menyediakan fondasi ilmu pengetahuan. Dosen memberikan kerangka teori, studi kasus, hingga arahan riset. Namun, dunia terus berkembang, dan apa yang diajarkan di kampus belum tentu selalu relevan dengan dinamika di luar sana. Di sinilah peran mahasiswa sebagai pembelajar mandiri menjadi penting.
Bersandar sepenuhnya pada materi kuliah bisa membuat mahasiswa pasif. Padahal, tantangan di dunia kerja dan kehidupan nyata menuntut inisiatif, kreativitas, dan kemampuan belajar secara otonom.
Mengapa Harus Mandiri?
Ilmu Berkembang Cepat Dalam banyak bidang, ilmu berkembang dalam hitungan bulan. Buku teks bisa jadi tertinggal. Mahasiswa yang aktif mencari referensi terbaru, mengikuti webinar, membaca jurnal, atau mendalami tutorial online akan lebih siap menghadapi tantangan zaman.
Membangun Pola Pikir Kritis Mahasiswa mandiri cenderung berpikir lebih kritis. Mereka tak hanya menerima, tapi juga menganalisis dan mengevaluasi informasi. Ini adalah bekal penting agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
Kemandirian adalah Kunci Kesuksesan Banyak tokoh sukses bukan karena nilai IPK yang tinggi, tapi karena daya juang, rasa ingin tahu, dan kerja keras yang tak tergantung pada arahan orang lain. Belajar mandiri sejak kuliah adalah latihan menghadapi dunia nyata yang sering kali tak memberikan “silabus”.
Cara Menjadi Mahasiswa Mandiri
Baca Buku di Luar Materi Kuliah Coba baca buku yang tidak diwajibkan dosen. Baca biografi, buku pengembangan diri, atau karya populer di bidang yang kamu tekuni.
Manfaatkan Internet secara Positif Platform seperti Coursera, YouTube Edu, edX, atau jurnal open-access bisa memperkaya wawasanmu secara gratis dan fleksibel.
Ikut Komunitas dan Diskusi Bergabunglah dalam forum belajar, komunitas riset, atau diskusi lintas kampus. Berdiskusi memperluas perspektif dan melatih keberanian berpendapat.
Latih Diri dengan Proyek Nyata Buat proyek kecil, ikut lomba, magang, atau freelance. Pengalaman di luar kelas memberi pelajaran yang tak tertulis di buku.
Belajar Sepanjang Hayat
Kampus hanyalah salah satu bagian dari perjalanan belajar. Kemandirian dalam belajar adalah keterampilan seumur hidup. Mahasiswa yang mandiri bukan berarti meninggalkan peran dosen atau kuliah, tapi justru melengkapinya dengan rasa tanggung jawab pribadi untuk terus berkembang.
Karena pada akhirnya, bukan gelar yang menjamin masa depanmu, tapi sejauh mana kamu bisa mengambil peran sebagai pembelajar sejati—di mana pun, kapan pun.
Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menyambut kunjungan dan benchmarking dari Universitas Kuningan (Uniku) di Ruang Sidang Rektorat UPY pada Kamis, 22 Mei 2025. Kegiatan ini menjadi ajang strategis pertukaran pengetahuan serta penguatan jejaring kerja sama antar perguruan tinggi.
Rombongan dari Universitas Kuningan dipimpin langsung oleh Rektor Uniku, Prof. Dr. H. Dikdik Harjadi, S.E., M.Si, bersama jajaran pimpinan universitas, yakni Dr. H. Haris Budiman, S.H., M.H. (Wakil Rektor IV), Iqbal Arraniri, S.E.I., M.M. (Kepala KUIKH), Roni Nursyamsu, S.Pd., M.Pd. (Sekretaris KUIKH), dan Nita Ratnaningsih, M.Pd. (Staf KUIKH).
Sementara dari pihak UPY, hadir Ketua Pembina Yayasan, Armansyah Prasakti S.H., Sp.N, M.H, Ketua Pengurus Yayasan, Drs. Johanes Sabari, M.Si, Rektor UPY Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P., Wakil Rektor III Dr. Septian Aji Permana, S.Pd., M.Pd., Kepala Kantor Humas dan Protokoler Heni Nurrohmah, S.Pd, Taufik Muhtarom, M.Pd., Ph.D. (Kepala Kantor Urusan Kerja Sama), dan Guruh Ghifar Zalzalah, S.E., M.Sc. (Sekretaris KUK).
Acara berlangsung dalam suasana akrab dan penuh semangat kolaboratif. Diawali dengan sambutan dari jajaran pimpinan UPY, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan profil masing-masing institusi. Momen penting terjadi dalam sesi diskusi terbuka, di mana kedua belah pihak aktif berdialog tentang praktik-praktik terbaik dalam pengelolaan kampus, peningkatan mutu institusi, hingga rencana strategis pengembangan kerja sama.
Tak sekadar studi banding, pertemuan ini menggali lebih dalam potensi kerja sama ke depan. Mulai dari pertukaran mahasiswa dan dosen, program riset kolaboratif, seminar bersama, hingga peningkatan mutu institusi dan akreditasi.
Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P., menyampaikan apresiasi atas kunjungan Universitas Kuningan dan menekankan pentingnya membangun sinergi antar perguruan tinggi demi kemajuan pendidikan nasional. Hal senada juga diungkapkan oleh Rektor Uniku, Prof. Dr. Dikdik Harjadi, yang berharap kegiatan ini menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Dengan semangat gotong royong dalam dunia pendidikan, kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi untuk terus memperkuat kualitas pendidikan tinggi di Indonesia melalui kolaborasi dan saling belajar antar institusi.
Universitas PGRI Yogyakarta percaya bahwa pendidikan tak hanya dibangun di ruang kelas, tetapi juga dalam kolaborasi, dialog, dan semangat berbagi antar sesama. Semoga sinergi yang terjalin hari ini menjadi pijakan kuat menuju pendidikan tinggi Indonesia yang lebih maju, inklusif, dan bermutu.
Yogyakarta — Untuk pertama kalinya, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Keprotokolan bagi staf protokol dan pengelola acara di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 28 Mei 2025, bertempat di Kantor LLDIKTI Wilayah V.
Acara bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan profesionalisme sumber daya manusia dalam menyelenggarakan kegiatan formal dan seremonial, yang kerap menjadi bagian penting dari kehidupan akademik dan kelembagaan perguruan tinggi.
Pungki Hemawati selaku Penanggung Jawab dan Urusan Keprotokolan Kehumasan dan Sespim LLDIKTI Wilayah V, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan Bimtek Keprotokolan ini diikuti oleh 140 peserta.terdiri dari 120 peserta berasal dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS), sedangkan 20 peserta merupakan pegawai LLDIKTI Wilayah V.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah V, Bapak Tego Sudarto, yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting dan merupakan yang pertama kali diselenggarakan oleh LLDIKTI Wilayah V.
“Kegiatan ini sangat penting dan merupakan yang pertama kali diselenggarakan oleh LLDIKTI Wilayah V. Kami berharap para peserta dapat menambah pemahaman dan kesiapan teknis dalam menghadapi dinamika keprotokolan di lapangan, sehingga pelaksanaan acara di perguruan tinggi dapat berjalan lebih tertib, profesional, dan sesuai dengan peraturan,” ujar Tego.
Dalam bimtek ini, hadir tiga narasumber dari instansi yang kompeten di bidang keprotokolan. Muhammad Irfan, S.STP dari Kementerian Dalam Negeri menyampaikan materi mengenai “Manajemen Keprotokolan dan Penjelasan Permendagri Nomor 16 Tahun 2024”. Dalam paparannya, Irfan menegaskan bahwa konsep kerja protokol harus berpijak pada tiga prinsip utama, yaitu baik, benar, dan indah. Prinsip “baik” merujuk pada pelaksanaan acara yang sesuai dengan norma dan etika; “benar” berarti pelaksanaan yang taat pada regulasi dan struktur formal; sedangkan “indah” mencerminkan aspek estetika dan keteraturan dalam penyelenggaraan acara. Ketiganya menjadi pilar utama dalam menjaga citra kelembagaan melalui tata kelola acara yang profesional.
Sesi selanjutnya diisi oleh Hijriyah Oktaviani, S.IP., M.M., selaku Kepala Humas dan Keprotokolan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia membagikan pengalaman dan praktik baik implementasi keprotokolan di lingkungan kampus, termasuk bagaimana menghadapi tantangan teknis dan menjaga konsistensi tata acara dalam berbagai kegiatan resmi berskala lokal hingga internasional.
Menutup rangkaian pemaparan, Ranni Dwi Hapsari, S.ST.Ars., MM., CNLP., CT., CPPS dari PT. Microphonia Sukses Jaya membawakan sesi pelatihan bertema “Public Speaking dan MC Profesional”. Sesi ini berlangsung secara interaktif dan aplikatif, membekali peserta dengan teknik vokal, artikulasi, penguasaan panggung, serta etika dasar sebagai pembawa acara dalam berbagai forum resmi.
Selain mendapatkan materi teoritis, para peserta juga terlibat dalam diskusi dan simulasi langsung yang memperkuat keterampilan teknis mereka dalam menangani tugas-tugas keprotokolan.
Melalui kegiatan ini, LLDIKTI Wilayah V berharap tercipta sinergi dan pemahaman bersama antar pengelola protokol di perguruan tinggi serta meningkatnya kualitas penyelenggaraan acara akademik dan non-akademik yang mencerminkan tata kelola kelembagaan yang tertib, profesional, dan berkelas.
Sebanyak tiga perguruan tinggi yakni Universitas Negeri Jakarta, Universitas PGRI Yogyakarta, dan Universitas PGRI Semarang melakukan kolaborasi menggelar kegiatan internasional community service ICS 2025 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan pengabdian masyarakat kali ini akan difokuskan pada pemberdayaan dan peningkatan kualitas UMKM di desa wukirsari Bantul.
International community service ICS 2025 pertama di Indonesia digelar di Yogyakarta pada 19 Mei 2025 di Novotel Yogyakarta Ballroom dan dimulai dengan konsorsium dan inisiasi kegiatan yang melibatkan 36 Universitas di Indonesia dan luar negeri yang mengusung multiteam. Ketua sustainable International community service konsorsium sekaligus Dekan FEB UNJ (Universitas Negeri Jakarta), Prof. Muhammad Rizan menyampaikan kegiatan ini merupakan CSR kampus untuk meningkatkan daya saing UMKM dan mendukung kemandirian ekonomi masyarakat. International Community Service memilih Yogyakarta karena Yogyakarta merupakan salah satu tujuan wisata yang memiliki budaya yang kental ia mengatakan selain peningkatan daya saing UMKM kolaborasi pengabdian bersama kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kemitraan antara industri lokal dan UMKM di berbagai negara.
“Ini tentunya akan membuka peluang karena peserta juga ada yang dari Malaysia, Australia ini bisa saja menjadi peluang mereka akan bekerjasama lebih lanjut mungkin akan membuka produk atau gerai atau UMKM wedang uwuh di Malaysia, Filipina mungkin itu multiplier effect kedepan. “ujar Prof. Rizan
Sementara itu Rektor Universitas PGRI Yogyakarta Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P mengatakan kegiatan kali ini digelar dengan fokus pada kemitraan UMKM strategis mendukung visi misi kampus untuk berkontribusi kepada masyarakat.
“Iya kebetulan dibanderol itu kan UMKM UMKM itu banyak kebetulan ini bergerak di bidang terutama adalah manajemen terkait dengan UMKM pengembangan usaha mikro dan sebagainya di daerah mungkin saat itu banyak sekali berkembang usaha-usaha kecil-kecil itu kemudian dikelola supaya usaha kecil itu menjadi besar. “jelas Prof. Paiman
International Community Service 2025 merupakan wujud komitmen nyata kolaborasi antar perguruan tinggi dalam mengembangkan sektor UMKM di Indonesia. Program ini dilaksanakan selama empat hari hingga tanggal 22 Mei 2025 di Desa Wukirsari Imogiri Bantul. Kegiatan mencakup konsultasi, pelatihan, pendampingan, dan fasilitas umum dalam mengembangkan produk, pemasaran serta manajemen usaha selain Yogyakarta kegiatan yang sekaligus akademik tour ini rencananya akan dilaksanakan ke wilayah lain seperti Bandung Medan dan Bali Bahkan tidak menutup kemungkinan akan dilaksanakan di luar negeri seperti Malaysia dan Filipina.
Di tengah kesibukan kuliah, riset, dan deadline proposal, mari luangkan waktu untuk merenung: Apa yang bisa kita kurbankan demi kebaikan bersama? Selamat Idul Adha 1446 H dari Universitas PGRI Yogyakarta. Semoga hati kita terus dilatih untuk ikhlas, seperti Nabi Ibrahim, dan selalu peduli seperti yang diajarkan oleh agama.
Idul Adha sebentar lagi datang. Udara mulai bau rumput, warung mulai jual tusuk sate kiloan, dan grup WhatsApp masjid makin aktif, isinya mulai dari urunan kurban sampai tukang potong yang katanya “spesialis sapi rewel.”
Tapi Idul Adha bukan cuma soal daging. Ini soal niat, soal ikhlas, dan soal bagaimana kita menghadapi momen spiritual dengan logika waras dan sedikit bumbu tawa.
1. Kurban Itu Niat, Bukan Ajang Flexing
Di zaman medsos, semua bisa jadi konten. Termasuk kurban. Tapi inget, kurban bukan lomba siapa yang sapinya paling gede, apalagi siapa yang paling banyak unggah video before-after hewan kurban.
Jangan sampai niat kurban malah berubah jadi niat cari likes.
Kalau kamu mau update, silakan. Asal jangan posting caption begini:
“Akhirnya, tahun ini bisa kurban satu sapi utuh. Semoga kamu yang masih potong ayam, tetap semangat ya!”
Ya ampun, Mbak.
2. Sapi dan Kambing Juga Punya Perasaan
Pernah lihat ekspresi sapi waktu digiring ke lokasi penyembelihan? Antara bingung dan pasrah. Tapi ada juga yang drama, lari-lari kayak dikejar mantan, sampai satu kampung bantuin tangkap. Pahlawan lokal pun lahir: Mas-Mas RW yang berhasil nangkap kambing pake sarung basah.
Jadi jangan remehin kerja panitia kurban. Mereka bukan sekadar motong daging. Mereka juga psikolog hewan dadakan, ahli gizi daging, dan kadang… gladiator.
3. Tantangan Terbesar: Bagi Daging Tanpa Drama
Kalau kamu pernah ikut bagi-bagi daging kurban, kamu tahu: ini bukan tugas ringan. Daftar penerima kadang lebih sensitif dari daftar undangan pernikahan.
“Kenapa Bu RT dapet dua plastik? Saya cuma satu!” “Ini dagingnya lebih banyak lemak daripada isinya, loh!” “Maaf, saya vegetarian… tapi kalau tulangnya bisa buat sop, saya ambil ya.”
Tapi di sinilah seni dari berbagi. Kadang niat baik diuji bukan dengan pekerjaan berat, tapi dengan komentar tetangga.
4. Masak Daging: Antara Kebanggaan dan Kolesterol
Idul Adha adalah satu-satunya hari di mana semua jenis daging disatukan dalam satu panci: gulai, tongseng, rendang, hingga sate bakar rasa arang. Hebatnya, ini juga satu-satunya momen di mana kolesterol dianggap “berkah.”
Tapi ingat, nikmatilah dengan bijak. Karena setelah hari raya, yang antre bukan cuma warung sate, tapi juga klinik cek darah.
Tips sehat:
Batasi santan.
Perbanyak sayur.
Jangan makan sate pake nasi uduk dua bungkus.
5. Belajar dari Nabi Ibrahim: Soal Hati, Bukan Sekadar Hewan
Di balik semua tawa dan kehebohan, Idul Adha tetaplah tentang sebuah kisah yang menyentuh: tentang Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putranya karena perintah Tuhan. Tentang Nabi Ismail yang ikhlas menerima takdir.
Dari sana kita belajar: kurban itu bukan hanya tentang menyembelih hewan, tapi juga menyembelih ego, rasa sombong, dan cinta dunia yang berlebihan.
Mungkin kita belum bisa kurban sapi, tapi kita bisa mulai dari kurban waktu untuk orang tua, kurban ego saat minta maaf, atau kurban gengsi pas bantu di dapur.
Kurban Gak Harus Mahal, Tapi Harus Tulus
Idul Adha bukan tentang “kamu kurban apa,” tapi “apa yang kamu pelajari dari kurban itu.” Entah kamu tukang potong, tukang tusuk sate, panitia yang ngurus kupon, atau ibu-ibu dapur yang masak tanpa henti—semua punya peran.
Dan satu hal lagi, kalau kamu cuma bisa bantu bersihin masjid atau antar daging pakai motor tua, itu juga kurban, yang penting niatnya beres, hatinya tulus.
Selamat menyambut Idul Adha. Semoga tahun ini kita semua bisa kurban, entah itu kambing, waktu, tenaga, atau perasaan (yang belum dibalas).