Kategori: Berita Utama

  • Tantangan Terbesar Dunia Pendidikan di Era Teknologi dan Perkembangan AI

    Tantangan Terbesar Dunia Pendidikan di Era Teknologi dan Perkembangan AI

    Dunia pendidikan sedang bergerak cepat, kadang terasa terlalu cepat. Teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), kini bukan lagi sekadar pelengkap pembelajaran, teknologi AI sudah menjadi bagian dari ruang kelas, kurikulum, bahkan cara guru dan siswa berinteraksi. Di satu sisi, ini adalah kemajuan yang luar biasa. Namun di sisi lain, kita juga dihadapkan pada tantangan besar yang perlu dihadapi dengan bijak dan manusiawi.

    1. Kesenjangan Akses Teknologi

    Tidak semua siswa lahir di lingkungan yang punya akses ke internet stabil, laptop, atau gadget canggih. Ketika sekolah-sekolah mulai mengadopsi pembelajaran berbasis AI atau platform digital, mereka yang berada di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) bisa tertinggal jauh. Ini menciptakan kesenjangan baru “digital divide” yang bukan hanya soal perangkat, tapi juga soal kesempatan. Pendidikan yang ideal seharusnya inklusif. Ketika teknologi mempercepat sebagian, kita harus memastikan tak ada yang tertinggal.

    2. Ketergantungan pada Teknologi

    AI bisa membantu mulai dari membuat soal, menganalisis hasil belajar siswa, hingga memberi rekomendasi materi. Tapi ada risiko menjadi “ketergantungan“. Guru bisa kehilangan intuisi pengajarannya, siswa bisa terlalu mengandalkan mesin, bukan berpikir mandiri. Pendidikan bukan hanya soal jawaban cepat, tapi juga proses berpikir yang dalam.

    3. Peran Guru yang Berubah

    Guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu. Dengan satu klik, siswa bisa belajar dari video, artikel, hingga AI tutor. Lalu, di mana posisi guru?

    Di sinilah tantangannya “guru kini harus menjadi fasilitator, mentor, dan pendamping proses belajar“, bukan hanya penyampai materi. Ini bukan hal mudah, karena banyak guru yang perlu penyesuaian baik dari sisi kompetensi digital maupun cara pandang terhadap peran mereka.

    4. Etika dan Keamanan Data

    Banyak aplikasi pendidikan dan sistem AI mengumpulkan data siswa: nilai, kebiasaan belajar, bahkan emosi saat belajar. Jika tidak dijaga dengan baik, data ini bisa disalahgunakan. Lebih dari itu, siapa yang mengontrol AI? Apakah algoritma yang digunakan adil, tidak bias, dan mempertimbangkan keberagaman budaya serta konteks lokal?

    Etika digital harus menjadi bagian dari kurikulum dan kesadaran semua pemangku kepentingan di dunia pendidikan.

    5. Pergeseran Nilai dalam Pendidikan

    Teknologi bisa mengajarkan rumus matematika atau sejarah dunia. Tapi apakah teknologi bisa mengajarkan empati? kepedulian? kejujuran?

    Pendidikan sejatinya membentuk manusia seutuhnya, bukan hanya cerdas secara kognitif, tapi juga matang secara emosional dan sosial. AI belum mampu menggantikan sentuhan kemanusiaan dan mungkin memang tidak seharusnya.


    Lalu, ke mana arah kita?

    Tantangan-tantangan ini bukan untuk ditakuti, tapi untuk dijadikan titik tolak. Dunia pendidikan harus bertransformasi, bukan sekadar mengadopsi teknologi, tapi mengarahkan teknologi untuk melayani nilai-nilai pendidikan.

    Kita butuh:

    • Kebijakan yang adaptif dan berpihak pada pemerataan akses.
    • Pelatihan guru yang relevan dan berkelanjutan.
    • Kesadaran etis dalam penggunaan teknologi.
    • Kurikulum yang tetap menempatkan kemanusiaan di pusatnya.

    Pendidikan bukan hanya tentang mempersiapkan siswa menghadapi masa depan, tapi juga membentuk masa depan itu sendiri. Dan masa depan yang baik selalu dimulai dari manusia bukan dari mesin.

  • UPY Raih Akreditasi “Baik Sekali”

    UPY Raih Akreditasi “Baik Sekali”

    Dengan penuh rasa bangga, kami menyampaikan selamat dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Universitas PGRI Yogyakarta atas keberhasilan meraih Akreditasi “Baik Sekali” berdasarkan Keputusan BAN-PT No. 2181/SK/BAN-PT/Ak.KP/PT/V/2025.

    Capaian ini merupakan wujud nyata dari dedikasi dan kerja keras seluruh sivitas akademika dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang berkualitas dan berdaya saing. Semoga pencapaian ini menjadi pijakan untuk terus tumbuh, berinovasi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan bangsa dan dunia pendidikan Indonesia.

    Terus maju dan menginspirasi!

  • HMP Akuntansi UPY Gelar Futsal Pengurus dan Anggota: Wujudkan Kekompakan dan Solidaritas Mahasiswa

    HMP Akuntansi UPY Gelar Futsal Pengurus dan Anggota: Wujudkan Kekompakan dan Solidaritas Mahasiswa

    Himpunan Mahasiswa Program Studi Akuntansi (HMP Akuntansi), Fakultas Bisnis dan Hukum, Universitas PGRI Yogyakarta, telah sukses menyelenggarakan kegiatan futsal antar pengurus dan anggota pada Sabtu, 12 April 2025. Bertempat di Dolano Futsal, acara ini mendapat sambutan antusias dari seluruh peserta dan menjadi ajang kebersamaan yang hangat di tengah padatnya rutinitas akademik dan organisasi.

    Kegiatan ini dirancang sebagai sarana interaksi santai dan informal yang melibatkan seluruh elemen dalam himpunan. Tujuannya adalah mempererat hubungan antar pengurus dan anggota, serta meningkatkan kerjasama, komunikasi, dan kekompakan tim yang merupakan nilai-nilai penting dalam menjalankan roda organisasi mahasiswa.

    Semangat sportivitas yang tampak selama pertandingan mencerminkan prinsip kebersamaan dan solidaritas yang menjadi fondasi utama kegiatan kemahasiswaan. “Lebih dari sekadar olahraga, futsal menjadi wadah untuk memperkuat chemistry antartim, sekaligus melatih strategi dan kepemimpinan dalam situasi kompetitif namun menyenangkan,” ujar salah satu panitia pelaksana.

    Tak hanya itu, kegiatan ini juga berperan sebagai ajang refreshing yang penting di tengah tekanan perkuliahan dan tanggung jawab organisasi. Momen seperti ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan mental dan fisik mahasiswa, sekaligus mempromosikan gaya hidup sehat dan aktif.

    HMP Akuntansi berharap kegiatan futsal ini dapat menjadi agenda rutin yang memberikan dampak positif secara menyeluruh, baik dalam aspek kesehatan, solidaritas, maupun keberlanjutan kinerja organisasi.

  • Penguatan Tata Kelola Melalui Manajemen Arsip yang Profesional

    Penguatan Tata Kelola Melalui Manajemen Arsip yang Profesional

    Yogyakarta – Dalam rangka meningkatkan kapasitas pengelolaan arsip di lingkungan perguruan tinggi, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kearsipan pada hari Rabu, 7 Mei 2025. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya penguatan tata kelola administrasi dan akuntabilitas lembaga melalui sistem kearsipan yang tertib, efektif, dan sesuai dengan standar nasional.

    Bertempat di Ruang Sidang Utama, acara ini diikuti oleh 58 perwakilan pengelola arsip di lingkungan perguruan tinggi swasta dan tim pengelola arsip internal LLDIKTI Wilayah V. Dalam sambutannya, kepala LLDIKTI Wilayah V menyampaikan bahwa arsip merupakan bagian fundamental dalam manajemen kelembagaan yang berperan penting sebagai sumber informasi, bahan akuntabilitas, serta landasan pengambilan keputusan yang tepat.

    “Arsip bukan sekadar dokumen lama yang disimpan, melainkan aset penting yang menjadi bukti sah kegiatan lembaga serta mendukung keberlangsungan administrasi dan layanan publik. Oleh karena itu, pengelolaan arsip harus dilakukan secara profesional dan berkelanjutan,” tegas Setyabudi.

    Kegiatan ini juga merupakan tindak lanjut dari komitmen bersama ‘Gerakan Nasional Sadar Tertib Arsip’ yang sebelumnya telah dideklarasikan dalam forum resmi, sebagai wujud kepedulian bersama terhadap pentingnya pengelolaan arsip yang akuntabel dan tertib di lingkungan pendidikan tinggi. LLDIKTI Wilayah V secara aktif mendukung upaya nasional tersebut dengan terus memberikan pendampingan dan pelatihan kepada satuan kerja di wilayah kerjanya.

    Materi bimtek disampaikan oleh narasumber Arsiparis Ahli Madya Ibu Djuwita Sari beserta Ibu Rochkomalawati dari Kemendiktisaintek, mencakup berbagai topik penting, antara lain Prinsip dasar dan regulasi kearsipan, klasifikasi arsip dinamis dan statis, strategi digitalisasi arsip, Implementasi sistem informasi kearsipan berbasis teknologi, Praktik langsung penataan dan penyimpanan arsip sesuai standar.

    Peserta mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dan melakukan simulasi penataan  arsip aktif dan inaktif, serta strategi pelestarian arsip dalam bentuk digital.

    Kegiatan ini mendapat respon positif dari peserta yang menyadari pentingnya sistem kearsipan yang handal dalam mendukung operasional dan tata kelola kampus. Selain itu, bimtek ini diharapkan dapat mendorong seluruh satuan kerja di perguruan tinggi untuk menerapkan pengelolaan arsip secara tertib, efisien, dan sesuai dengan kaidah kearsipan nasional.

    Melalui kegiatan ini, LLDIKTI menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi perguruan tinggi dalam membangun tata kelola yang transparan dan akuntabel, salah satunya melalui penguatan sistem kearsipan yang menjadi fondasi penting dalam keberlangsungan institusi pendidikan tinggi.

    sumber: https://lldikti5.kemdikbud.go.id/home/detailpost/penguatan-tata-kelola-melalui-manajemen-arsip-yang-profesional

  • IKOR UPY Jalin Kolaborasi Internasional dengan Celebrity Fitness untuk Perkuat Kompetensi dan Peluang Kerja Lulusan

    IKOR UPY Jalin Kolaborasi Internasional dengan Celebrity Fitness untuk Perkuat Kompetensi dan Peluang Kerja Lulusan

    Program Studi Ilmu Keolahragaan (IKOR) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) mengambil langkah strategis melalui kerja sama internasional dengan Celebrity Fitness, sebuah brand kebugaran terkemuka di Asia. Kolaborasi ini resmi diluncurkan dalam sebuah acara yang digelar pada Selasa, 29 April 2025, bertempat di Auditorium Universitas PGRI Yogyakarta.

    Kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas lulusan IKOR UPY sekaligus membuka jalan bagi mereka dalam mengakses peluang kerja yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dengan sinergi ini, IKOR UPY berharap dapat menghadirkan pendekatan pendidikan keolahragaan yang lebih aplikatif, sesuai dengan kebutuhan industri kebugaran global.

    “Kolaborasi ini menjadi bentuk nyata komitmen kami dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap kerja, kompeten, dan memiliki daya saing tinggi di dunia industri,” ujar Bimo Alexander, M.Or., AIFMO-P, Kaprodi Ikor UPY.

    Melalui kerja sama ini, mahasiswa akan mendapatkan akses pelatihan dari praktisi industri kebugaran profesional, peluang magang, serta potensi rekrutmen langsung oleh Celebrity Fitness. Program-program pelengkap seperti workshop, sertifikasi kebugaran, dan kegiatan coaching klinis juga menjadi bagian dari agenda penguatan kurikulum berbasis industri.

    Dengan terjalinnya kolaborasi ini, IKOR UPY semakin mempertegas posisinya sebagai institusi pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan dunia kerja serta berorientasi pada kualitas dan relevansi lulusan.

  • kegiatan Pemilihan Umum Mahasiswa 2025

    kegiatan Pemilihan Umum Mahasiswa 2025

    ✨Hallo Agen Demokrasi Universitas PGRI Yogyakarta 2025✨

    Sehubungan akan diadakannya kegiatan Pemilihan Umum Mahasiswa 2025. Kami meminta kepada seluruh Mahasiswa Aktif untuk mengisi isi link bardcode berikut ini, agar terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Jangan sampai ketinggalan batas waktu dari tanggal 6 Mei sampai 18 Mei 2025 🤗

    Ciderakan Golput Gunakan Hak Pilihmu

  • Selamat Hari Raya Waisak 12 Mei 2025 / 2569 BE

    Selamat Hari Raya Waisak 12 Mei 2025 / 2569 BE

    Selamat Hari Raya Waisak

    12 Mei 2025 / 2569 BE

    Kepada segenap saudara kita yang merayakan,
    semoga damai, kebijaksanaan, dan cinta kasih selalu menyertai setiap langkah kehidupan.
    Mari bersama kita jaga harmoni dalam keberagaman.

    Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
    Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

  • Tipe-Tipe Mahasiswa di Kampus: Dari Si Rajin Sampai Si Pemelas, Semua Ada Warnanya

    Tipe-Tipe Mahasiswa di Kampus: Dari Si Rajin Sampai Si Pemelas, Semua Ada Warnanya

    Setiap kampus adalah miniatur kehidupan. Di dalamnya, kita bisa menemukan beragam karakter mahasiswa yang, secara tidak tertulis, membentuk “ekosistem” unik di setiap kelas. Mereka punya cara masing-masing dalam menjalani dunia perkuliahan—ada yang santai, ada yang super sibuk, dan ada juga yang seakan hidupnya bergantung pada deadline extension.

    Berikut ini adalah beberapa tipe mahasiswa yang sering kita temui di kampus. Kalau kamu tidak menemukan dirimu di salah satu tipe, mungkin kamu sedang denial. 😉


    1. Si Paling Rajin: Alarmnya Lebih Disiplin dari Kalender Akademik

    Tipe ini datang ke kelas sebelum dosennya duduk. Duduknya selalu di barisan depan, catatannya lengkap dan berwarna-warni, dan kalau dosen tanya “Siapa yang mau presentasi duluan?”, dia akan langsung angkat tangan (dengan senyum).

    📚 Ciri khas: Punya folder khusus tiap mata kuliah, ikut semua webinar, dan daftar volunteer sampai hari Minggunya penuh.

    💬 “Buat aku, belajar tuh bukan beban, tapi investasi jangka panjang.”
    (Sementara teman di sebelahnya investasi tidur siang.)


    2. Si Pemelas: Ahli Negosiasi dan Jurus Seribu Alasan

    Tugas belum dikumpulkan? “Laptop-nya error, Pak.”
    Nilai ujian kurang? “Soalnya terlalu susah, Bu.”
    Terlambat masuk kelas? “Macet… dari kantin.”

    Mahasiswa tipe ini sangat kreatif dalam merangkai alasan. Kadang saking seringnya minta toleransi, dosen sampai hafal wajah dan nada suaranya.

    📩 Ciri khas: Inbox dosen penuh dengan kalimat “Mohon maaf sebelumnya, Pak/Bu…”
    Tapi ya, setidaknya mereka mencoba. Kadang.


    3. Si Sok Sibuk: Kalender Penuh, Tapi Tugas Kosong

    Mahasiswa ini selalu terlihat tergesa-gesa. Kalau ditanya, jawabannya pasti, “Aduh, banyak banget nih kerjaan.” Tapi entah kenapa, kerjaan itu jarang terlihat hasilnya.

    📆 Ciri khas: Punya planner mahal, tapi isinya cuma coretan deadline yang tidak pernah dikerjakan.
    Status WhatsApp: “Meeting lagi. Capek.”

    💬 “Gue tuh sebenarnya niat ngerjain, tapi ya gitu deh… hidup.”


    4. Si Aktivis: Hidupnya untuk Organisasi dan Perubahan Sosial

    Bisa jadi dia lebih sering ada di sekretariat organisasi daripada di kelas. Kalau ngomong, suka panjang, penuh idealisme, dan sering diselipi kutipan tokoh nasional atau filsuf luar negeri.

    🗣️ Ciri khas: Pegang megafon waktu demo, rajin ikut rapat BEM, dan sangat peka terhadap isu sosial.

    💬 “Kita harus jadi agen perubahan! Tapi… nanti tugas dikumpulin menyusul, ya.”


    5. Si Paling Pintar: Otaknya Google, Hatinya Chill

    Mahasiswa ini jarang terlihat panik, tapi nilai ujiannya selalu di atas rata-rata. Dia jarang pamer, tapi teman-teman tahu: kalau butuh penjelasan materi, tinggal cari dia.

    🧠 Ciri khas: Bisa menjelaskan teori ribet dalam lima menit. Kadang nanya ke dosen cuma buat “cek” pemahamannya sendiri.

    💬 “Sebenernya simple kok, asal ngerti konsep dasarnya.”
    (Terus semua langsung buka YouTube.)


    6. Si Pendiam: Ada, Tapi Seperti Tidak Terlihat

    Mahasiswa ini tipe yang tidak pernah bikin ribut, tapi juga tidak pernah bikin masalah. Duduk di tengah atau belakang, nyimak dengan tenang, dan selalu tepat waktu mengumpulkan tugas.

    🤫 Ciri khas: Namanya baru dikenal saat daftar wisuda. Tapi IPK-nya? Di atas rata-rata.

    💬 “Saya lebih nyaman jadi pendengar, Kak.”
    Dan diam-diam dia jadi pengamat terbaik di kelas.


    7. Si All-Rounder: Bisa Akademik, Aktif Organisasi, Tapi Tetap Waras

    Tipe ini adalah perpaduan ideal: nilainya bagus, aktif di organisasi, dan tetap punya waktu untuk nongkrong bareng teman. Mereka tahu kapan harus serius, dan kapan harus bersantai.

    🎯 Ciri khas: Diundang jadi pembicara di acara kampus, jadi moderator, kadang MC, kadang tutor juga. Multi-talenta.

    💬 “Kuncinya bukan sibuk, tapi pintar ngatur prioritas.”
    (Habis bilang gitu, langsung jadi panitia seminar.)

    8. Si Tukang Nanya: Aktif, Tapi Sering Bikin Waktu Mepet

    Mahasiswa ini sangat antusias. Setiap selesai penjelasan, tangannya langsung angkat. Pertanyaannya tajam… kadang terlalu tajam sampai bikin dosen harus buka catatan sendiri. Tapi tak jarang juga nanyanya out of topic—niatnya baik, tapi bikin kelas molor.

    🙋 Ciri khas: “Izin bertanya, Pak/Bu…” sudah seperti salam pembuka wajib. Kadang nanyanya panjang, lebih dari jawaban dosennya.

    💬 “Kalau boleh beropini, saya merasa teori ini relevan dengan isu geopolitik regional terkini…”


    9. Si Influencer Kampus: Lebih Dikenal di Instagram daripada di Kelas

    Mahasiswa ini jago branding. Feed Instagram-nya rapi, kontennya konsisten, dan endorse-nya jalan terus. Kehadirannya di kelas? Kadang ada, kadang di Bali (untuk “kegiatan kolaborasi”).

    📱 Ciri khas: Punya ring light di kos, jadi duta skincare, dan sering banget jadi MC atau host acara kampus.

    💬 “Maaf nggak sempat ikut Zoom, tadi ada collab bareng brand lokal.”


    10. Si Penghibur Kelas: Komedi On, Tapi Tugas Aman

    Tipe ini bikin kelas jadi cair. Setiap dosen serius, dia lempar intermezzo. Kadang dosennya ikut ketawa, kadang malah geleng-geleng. Tapi jangan salah, dia tetap tahu batas, dan biasanya tetap bertanggung jawab pada tugas dan kelompok.

    🎭 Ciri khas: Bahan becandanya nggak habis-habis. Tapi saat kerja kelompok, justru dia yang nyelesain diam-diam.

    💬 “Tenang aja, yang penting santai tapi selesai.”


    11. Si Petualang Akademik: Suka Ikut Kelas yang Bukan Jurusannya

    Dia bisa jadi anak Teknik, tapi suka ikutan kelas Filsafat atau Psikologi. Bukan karena terpaksa, tapi karena penasaran. Mahasiswa ini sangat eksploratif dan haus wawasan lintas disiplin.

    🧳 Ciri khas: Punya catatan dari kelas yang bahkan teman sejurusannya nggak tahu itu mata kuliah apa.

    💬 “Aku ikut kuliah tamu tentang etika media kemarin. Seru banget, loh!”


    12. Si Ghosting: Terdaftar di KRS, Tapi Tak Terlihat di Kehidupan Nyata

    Mereka ada di daftar absen, tapi tak pernah hadir. Di grup WhatsApp juga pasif. Lalu tiba-tiba muncul saat ujian… atau bahkan tidak muncul sama sekali.

    👻 Ciri khas: Saat pembagian tugas kelompok, semua saling tanya: “Itu siapa ya?”

    💬 “Maaf baru aktif, aku baru sembuh sakit. Bisa tolong recap materi dari awal semester?”
    (Padahal semester sudah UAS.)


    Karena Kampus Penuh Warna, Bukan Satu Warna

    Dengan tambahan ini, kita semakin sadar bahwa dinamika kampus adalah potret kehidupan mini. Tiap mahasiswa punya karakter, cara berpikir, dan gaya belajar yang unik. Apakah dia rajin, pemikir, pendiam, aktif, atau bahkan tukang ngilang—semuanya bagian dari cerita besar bernama masa kuliah.

    Yang penting, tetap bergerak, tetap belajar, dan tetap tumbuh. Karena tidak semua orang harus sama. Tapi semua orang bisa jadi lebih baik.

  • UPY Jalin Kerja Sama Internasional dengan Dua Universitas Filipina: USJR dan NISU

    UPY Jalin Kerja Sama Internasional dengan Dua Universitas Filipina: USJR dan NISU

    Yogyakarta, 29 April 2025 — Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) memperkuat jejaring akademik internasional dengan menjalin kerja sama strategis bersama dua universitas ternama dari Filipina, yakni University of San Jose – Recoletos (USJR) dan Northern Iloilo State University (NISU). Kegiatan berlangsung pada Selasa, 29 April 2025, bertempat di Ruang Sidang Rektorat UPY dan disiarkan secara daring melalui platform Zoom Meeting.

    Acara ini mencakup serangkaian agenda penting, yakni:

    • Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara UPY dan USJR
    • Penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UPY dan USJR
    • Penandatanganan Implementation Arrangement (IA) antara FKIP UPY dan USJR
    • Penandatanganan Implementation Arrangement (IA) antara FKIP UPY dan NISU

    Turut hadir dan menandatangani dokumen kerja sama tersebut adalah Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P, Dekan FKIP, Dr. Esti Setiawati, M.Pd, dan Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UPY, Taufik Muhtarom, Ph.D. Sementara dari pihak universitas mitra Filipina, hadir Prof. Kylle T. Pulmones dari USJR dan Dr. Ave Marie P. Genodia dari NISU.

    Kegiatan ini tidak hanya ditandai dengan penandatanganan dokumen kerja sama, tetapi juga diisi dengan program Visiting Lecturer yang menghadirkan dua pembicara ahli dari Filipina:

    1. Prof. Kylle T. Pulmones, Professor di School of Education, USJR, yang membawakan topik “Optimizing Teaching with Artificial Intelligence vis-a-vis Ethics”
    2. Dr. Ave Marie P. Genodia, Chairperson of Bachelor of Elementary Education Department, NISU, dengan materi “Contextualized Learning in Science: Bridging Concepts with Real-World Applications”

    Acara ini diikuti secara antusias oleh mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), serta peserta daring dari berbagai prodi di lingkungan UPY.

    Rektor UPY, Prof. Paiman, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari strategi internasionalisasi kampus untuk membuka ruang kolaborasi akademik yang lebih luas, sekaligus memperkaya wawasan mahasiswa dalam konteks nasional dan global.

    “Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa bisa belajar langsung dari perspektif internasional, sekaligus mempererat kemitraan akademik dengan institusi luar negeri yang kredibel,” ujar beliau.

    Secara keseluruhan, acara berjalan lancar dan penuh antusiasme. Seluruh dokumen kerja sama ditandatangani dengan tuntas, dan diskusi antara mahasiswa serta para pembicara berlangsung aktif dan interaktif.

    Dengan terlaksananya kegiatan ini, UPY menegaskan komitmennya sebagai kampus yang terbuka, progresif, dan berdaya saing global.

  • Ciri-Ciri Dosen yang Disukai Mahasiswa Saat Mengajar: Antara Ilmu, Empati, dan Guyonan Ringan

    Ciri-Ciri Dosen yang Disukai Mahasiswa Saat Mengajar: Antara Ilmu, Empati, dan Guyonan Ringan

    Di setiap kampus, selalu ada satu atau dua nama dosen yang jadi legenda. Bukan hanya karena ilmunya yang luar biasa, tapi karena cara mengajarnya yang ngena di hati mahasiswa. Ruang kelas jadi tempat yang ditunggu, bukan ditakuti. Slide materi jadi menarik, bukan mengantuk. Dan yang paling penting, mahasiswa merasa belajar, bukan sekadar hadir.

    Nah, seperti apa sih dosen yang jadi favorit mahasiswa? Ini dia beberapa ciri-cirinya—ditulis dengan gaya santai tapi tetap serius. Serius santai, begitu istilahnya.


    1. Menguasai Materi, Tapi Gaya Ngajarnya Nggak Bikin Kepala Berdenyut

    Dosen yang disukai bukan cuma tahu ilmunya, tapi tahu cara menyampaikannya. Mereka bisa menjelaskan teori yang rumit dengan bahasa yang sederhana—bahkan kadang dibumbui analogi yang relate banget sama kehidupan sehari-hari mahasiswa.

    📘 “Teori ini tuh kayak kamu ngerjain tugas kelompok. Di atas kertas, semua punya peran. Tapi kenyataannya? Ya, gitu deh.”

    Dengan begini, mahasiswa bukan cuma paham, tapi juga terhibur.


    2. Humoris Tapi Tetap Berkelas

    Humor yang tepat adalah pelengkap yang sempurna dalam proses belajar. Dosen yang tahu kapan harus serius dan kapan boleh bercanda akan membuat kelas terasa hidup. Candaan ringan yang muncul alami—bukan dipaksakan—bisa memecah kebekuan dan bikin suasana lebih menyenangkan.

    😂 Tapi ingat, bukan lawak murahan. Candaan yang menghormati semua pihak jauh lebih berkelas dan mengesankan.


    3. Menghargai Mahasiswa Sebagai Mitra Belajar

    Dosen favorit tidak melihat mahasiswa sebagai objek ceramah, tapi sebagai mitra berdiskusi. Mereka membuka ruang untuk dialog, menampung pendapat, dan tidak ragu mengakui jika ada hal yang mereka sendiri perlu telusuri lebih lanjut.

    🧑‍🏫 “Itu pertanyaan bagus. Saya juga belum kepikiran. Gimana kalau kita cari tahu bareng minggu depan?”

    Itu bukan kelemahan. Justru menunjukkan kerendahan hati dan semangat belajar sepanjang hayat.


    4. Humanis: Mengerti Bahwa Mahasiswa Itu Manusia, Bukan Robot IPK

    Ada tugas numpuk, organisasi, kerja part-time, dan urusan pribadi yang kadang rumit. Dosen yang disukai tahu kapan harus tegas, dan kapan perlu memberi ruang. Empati kecil seperti memberi perpanjangan waktu dengan alasan yang jelas, atau sekadar bertanya kabar mahasiswa sebelum mulai kelas, punya dampak besar.

    🧡 Dosen yang “berhati” akan selalu lebih diingat daripada yang hanya “berotak”.


    5. Tegas, Tapi Tidak Kaku

    Tegas bukan berarti keras kepala. Dosen favorit punya prinsip, tapi fleksibel dalam pendekatan. Mereka bisa bersikap adil terhadap aturan kelas, tapi tetap terbuka terhadap kondisi individual. Tegas dalam nilai, tapi tidak semena-mena dalam menilai.

    📏 “Saya tidak bisa terima tugas yang telat seminggu tanpa alasan. Tapi kalau kamu punya kondisi darurat, kita bicarakan baik-baik, ya.”


    6. Punya Sense of Relevance: Materi Dihubungkan dengan Dunia Nyata

    Kuliah terasa membumi kalau dosen bisa mengaitkan materi dengan situasi terkini. Entah itu tren sosial, isu global, bahkan meme viral sekalipun—selama relevan, mahasiswa akan lebih mudah terhubung dengan materi.

    🌍 “Etika digital itu penting. Jangan sampai kamu pintar teknologi, tapi nggak tahu batas sopan santun online. Hati-hati, jejak digital lebih panjang dari skripsi.”


    7. Responsif dan Mau Terlibat di Luar Kelas

    Bukan berarti harus balas chat jam 11 malam. Tapi dosen yang terbuka untuk konsultasi, cepat merespons email dengan sopan, atau bahkan hadir di kegiatan mahasiswa akan mendapatkan tempat khusus di hati mereka. Kehadirannya terasa, tidak hanya sebagai pengajar, tapi juga sebagai pembimbing.

    📬 “Silakan kirim draft kamu via email, saya coba lihat akhir pekan ini. Tapi kalau urgent, ingatkan saya ya.”


    Menjadi Dosen yang Tidak Hanya Dikenang Karena Nilai

    Di mata mahasiswa, nilai A itu penting. Tapi dosen yang membuat mereka merasa dihargai, didengarkan, dan diberdayakan akan lebih membekas. Mahasiswa tidak selalu ingat apa isi slide kuliah minggu ketiga, tapi mereka akan ingat bagaimana perasaan mereka selama diajar.

    Dan pada akhirnya, menjadi dosen yang profesional, humoris, asik, dan humanis bukan sekadar strategi mengajar—tapi sebuah sikap hidup.