Yogyakarta, 5 Mei 2025 — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta. Dendi Aam Priyatna, mahasiswa Program Studi Manajemen, berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Pemilihan Duta Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2025 yang diselenggarakan pada 27 April 2025 di Sleman City Hall.
Ajang bergengsi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya pelestarian lingkungan hidup. Para finalis tidak hanya dinilai dari kemampuan intelektual, tetapi juga dari komitmen, ide, serta peran aktif mereka dalam mengampanyekan gaya hidup berkelanjutan.
“Saya ingin menginspirasi lebih banyak orang, terutama generasi muda, untuk lebih peduli terhadap isu-isu lingkungan seperti pengelolaan sampah, pelestarian alam, dan penggunaan energi berkelanjutan,” ujar Dendi dalam sesi wawancara usai menerima penghargaan.
Sebagai Duta Lingkungan DIY 2025, Dendi akan mengemban tanggung jawab untuk menjadi agen perubahan dalam berbagai program edukasi dan pelestarian lingkungan. Ia juga menyampaikan keinginannya untuk menjalin kolaborasi dengan komunitas, pemerintah, dan masyarakat dalam menciptakan program nyata yang berdampak positif.
“Kemenangan ini adalah langkah awal, bukan sekadar gelar. Ini adalah tanggung jawab yang harus saya jalankan dengan penuh dedikasi,” tegasnya.
Penyelenggaraan Pemilihan Duta Lingkungan ini juga merupakan bagian dari upaya mendukung visi pemerintah daerah dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan berbasis lingkungan. Dengan semakin banyaknya generasi muda yang terlibat aktif, diharapkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam akan semakin meningkat.
Universitas PGRI Yogyakarta turut menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih oleh Dendi dan berharap pencapaian ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan.
Yogyakarta, 23 April 2025 — Dalam semangat mempererat tali silaturahmi akademik dan memperkuat sinergi kelembagaan, Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas PGRI Silampari melaksanakan kunjungan studi banding ke Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang FKIP UPY dan Ruang Multimedia Gedung A Kampus 1 UPY dengan diikuti oleh 62 mahasiswa Universitas PGRI Silampari beserta dosen pendamping, Kaprodi, dan Dekan Fakultas Sains dan Teknologi. Mereka disambut hangat oleh 25 mahasiswa FKIP UPY serta jajaran dosen dan pimpinan fakultas.
Momentum ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoA) di tingkat universitas yang kemudian diperkuat dengan penandatanganan kerja sama lanjutan di tingkat fakultas dan program studi, melalui MoA Fakultas dan Implementation Agreement (IA) Prodi. Ini menjadi bukti nyata keseriusan kedua belah pihak dalam membangun kemitraan akademik yang produktif dan berkelanjutan.
Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan pemutaran video profil FKIP UPY, dilanjutkan dengan sharing session dosen antar institusi yang membahas kurikulum, profil tenaga pengajar, serta potensi pengembangan program Merdeka Belajar. Diskusi yang berlangsung interaktif ini membuka peluang kerja sama dalam riset, pertukaran dosen, dan pengembangan kurikulum inovatif.
Tak kalah menarik, mahasiswa dari kedua universitas juga aktif dalam sesi presentasi organisasi kemahasiswaan. Mereka berbagi praktik baik dalam pengelolaan himpunan, program kerja kreatif, dan kegiatan pembinaan mahasiswa.
Sebagai bagian dari kunjungan, mahasiswa Silampari diajak melihat fasilitas unggulan Prodi Pendidikan Matematika UPY seperti ruang display, ruang baca, laboratorium Pembelajaran Berbasis Inkuiri (PBI), dan laboratorium multimedia. Kegiatan ini memberikan inspirasi dan referensi baru dalam pengembangan fasilitas pembelajaran di lingkungan mereka. Puncak kegiatan ditandai dengan penandatanganan MoA dan IA oleh pimpinan kedua institusi, disusul dengan sesi foto bersama.
“Semoga kolaborasi ini tidak berhenti di sini. Justru ini menjadi awal dari kerja sama jangka panjang yang lebih konkret, khususnya dalam menghadirkan inovasi di dunia pendidikan matematika,” ungkap salah satu dosen yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi kolaborasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat antara UPY dan Universitas PGRI Silampari, sekaligus membangun jejaring akademik yang lebih luas dan berdampak.
Pendidikan bukan tugas guru semata. Ia adalah hasil dari kerja bersama—orang tua yang sabar menemani anaknya belajar, petani yang mengajarkan nilai kerja keras, mahasiswa yang mengajar sukarela di desa, bahkan tukang ojek yang dengan sabar mengantar anak-anak ke sekolah. Semua ambil bagian, semua punya peran.
Namun, partisipasi tak akan berarti tanpa keadilan. Karena masih ada anak-anak yang harus menyeberangi sungai demi sampai di kelas. Masih ada sekolah yang kekurangan guru, dan guru yang kekurangan pengakuan. Maka bicara tentang pendidikan bermutu untuk semua bukan sekadar soal fasilitas atau kurikulum, tapi soal keberpihakan—pada yang tertinggal, yang terpinggirkan, yang hampir putus asa.
Pendidikan yang bermutu adalah yang membentuk karakter, bukan hanya nilai. Yang membuka ruang untuk bertanya, bukan hanya menyuruh menghafal. Yang melihat anak sebagai individu, bukan angka statistik. Dan itu hanya bisa tercapai jika semua pihak bersedia turun tangan—bukan hanya mengkritik dari kejauhan.
Di tengah gempuran teknologi, tantangan global, dan ketimpangan sosial, pendidikan menjadi jangkar yang menyatukan kita. Karena lewat pendidikan, kita membentuk masa depan: bukan hanya untuk generasi mendatang, tetapi juga untuk bangsa yang lebih adil, inklusif, dan manusiawi.
Hari ini, mari kita rayakan bukan hanya dengan upacara atau seremonial, tapi dengan komitmen baru: bahwa siapa pun kita, di mana pun kita berada, kita bisa berkontribusi. Sebab ketika semesta ikut serta, pendidikan tak lagi jadi impian, melainkan kenyataan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2025. Untuk semua guru, semua anak, semua warga—terima kasih telah menjaga nyala api pendidikan.
Setiap 1 Mei, jalanan di berbagai kota dipenuhi suara dan langkah. Spanduk-spanduk terbentang tinggi, orasi bergema, dan ribuan pekerja dari berbagai sektor turun ke jalan bukan sekadar untuk unjuk rasa, tapi untuk didengar. Hari Buruh bukan hanya hari libur nasional—ia adalah hari untuk mengenang, menghargai, dan memperjuangkan mereka yang setiap hari membuat dunia tetap berjalan.
Di balik baju seragam, helm proyek, hingga jas kantor, ada manusia. Ada cerita tentang Ayah yang berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat anak-anak sudah tertidur. Ada Ibu yang bekerja ganda, di kantor dan di rumah. Ada mereka yang tidak punya pilihan selain lembur demi selembar upah yang cukup untuk sekadar bertahan hidup.
Tahun 2025 membawa banyak tantangan baru. Dunia kerja terus berubah, digitalisasi merambah, tetapi tak semua buruh mendapat akses yang sama. Masih ada yang digaji tak layak. Masih banyak yang tidak terlindungi secara hukum. Dan masih terlalu sering kita lupa, bahwa di balik produk yang kita pakai, layanan yang kita nikmati, makanan yang kita santap—ada keringat manusia yang bekerja dalam diam.
Namun, Hari Buruh bukan hanya tentang penderitaan. Ini juga tentang dignitas, harga diri. Tentang buruh yang memilih untuk tidak menyerah. Tentang mereka yang tetap berdiri tegak walau hak belum sepenuhnya ditegakkan. Ini hari yang mengingatkan kita bahwa pekerja bukan mesin. Mereka punya harapan, keluarga, dan impian.
Di Hari Buruh 1 Mei 2025 ini, mari berhenti sejenak. Bukan hanya untuk berlibur, tapi untuk mengingat. Bahwa pekerjaan adalah bentuk pengabdian. Bahwa keadilan di dunia kerja bukan hal mewah, tapi hak. Dan bahwa perubahan tak datang dari diam, melainkan dari keberanian untuk bersuara.
Yogyakarta, 22 April 2025 – Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), menggelar kegiatan Penyebarluasan Informasi Kekayaan Intelektual (KI) dan Sosialisasi Apostille pada Selasa, 22 April 2025, di Ruang Multimedia UPY. Kegiatan ini melibatkan dosen dan mahasiswa UPY serta narasumber dari Guru Kekayaan Intelektual (RuKI), yang berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai aspek legalitas dan perlindungan hak atas karya ilmiah, produk, dan inovasi.
Hadir juga di antaranya Kepala LPPM UPY, Dr. Marti Widya Sari, S.T., M.Eng, yang membuka acara dengan sambutannya, serta Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kanwil Kemenkumham DIY, Eem Nurmanah, S.Sos, M.Si, yang juga memberikan sambutan. Keduanya menyampaikan betapa pentingnya perlindungan terhadap karya intelektual, terutama bagi para akademisi yang terlibat dalam riset, pengembangan produk, dan publikasi ilmiah.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman sivitas akademika, khususnya dosen dan mahasiswa, tentang pentingnya perlindungan Kekayaan Intelektual (KI) di tengah berkembangnya dinamika inovasi dan kreativitas di era digital. Dalam sesi diskusi yang berlangsung antusias, peserta diberikan informasi terkait langkah-langkah untuk mendaftarkan hak kekayaan intelektual, serta bagaimana proses Apostille dapat berperan dalam pengesahan dokumen internasional.
Antusiasme peserta sangat terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi diskusi. Mahasiswa dan dosen dari berbagai program studi mengungkapkan bahwa sosialisasi ini sangat bermanfaat, terutama bagi mereka yang terlibat dalam pengembangan produk, penelitian, dan karya tulis ilmiah. Para peserta menyadari bahwa kreativitas dan inovasi harus diimbangi dengan pemahaman yang baik mengenai legalitas serta perlindungan hak atas karya yang dihasilkan.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dan dosen UPY tidak hanya kreatif, tetapi juga semakin sadar akan pentingnya perlindungan hukum atas karya mereka. Ini adalah langkah awal yang penting dalam mewujudkan iklim akademik yang tidak hanya produktif, tetapi juga melindungi hasil karya intelektual mereka,” ujar Retno Widati, SH, MPA, salah satu narasumber dari Guru Kekayaan Intelektual (RuKI).
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi titik awal bagi mahasiswa dan dosen untuk lebih memahami aspek hukum yang menyertai karya-karya ilmiah mereka. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka wawasan mengenai pentingnya memperhatikan legalitas dalam setiap karya yang dihasilkan.
Halo, teman-teman mahasiswa! Saat berada di kampus, kita pasti bertemu dengan berbagai jenis orang. Ada yang serius banget sama kuliah, ada yang lebih suka ngelamun di kantin, dan ada juga yang sibuk di organisasi. Ternyata, berdasarkan cara mereka menjalani kehidupan kampus, mahasiswa bisa dibagi menjadi dua tipe besar: akademik dan non-akademik. Kamu termasuk yang mana?
Yuk, kita cari tahu!
Mahasiswa Tipe Akademik: Si Cinta Buku
Mahasiswa tipe akademik adalah mereka yang menganggap kuliah adalah misi utama mereka di dunia ini. Bagi mereka, skripsi adalah semacam tiket emas yang harus diselesaikan dengan sempurna. Jadwal kuliah, ujian, tugas, dan segala hal yang berhubungan dengan akademik adalah “main course” dalam hidup mereka.
Contoh di Kampus:
Setiap kali ada dosen datang, mereka selalu di barisan depan dengan notebook dan pulpen yang siap pakai. Kalau ada quiz dadakan, mereka sudah siap dengan bahan bacaan yang entah dari mana mereka dapatkan (dan pastinya bukan dari Wikipedia).
Mereka adalah orang yang selalu terlihat di ruang perpustakaan, di depan komputer, atau di grup WhatsApp kelas. Kalau ada yang tanya “Eh, tugasnya gimana?”, mereka pasti udah siap jawab, “Tugasnya? Udah selesai tadi malam.”
Laporan, makalah, dan ujian? No problem. Mereka menghadapi semua itu dengan senyum di wajah, seperti seseorang yang siap menaklukkan dunia.
Tapi jangan salah, meskipun kelihatan serius banget, mahasiswa tipe akademik juga punya sisi humor. Coba deh tanya mereka soal deadline, mereka bisa tertawa sambil bilang, “Bahkan deadline aja nggak bisa mengalahkan tekad aku!”
Mahasiswa Tipe Non-Akademik: Si Penguasa Organisasi
Di sisi lain, ada mahasiswa tipe non-akademik yang lebih tertarik menghabiskan waktunya di luar kelas daripada duduk berjam-jam di ruang kuliah. Mereka adalah para pengurus organisasi, anggota klub, atau sekadar orang yang selalu ada di acara kampus. Kuliah adalah bagian dari hidup mereka, tetapi bukan segalanya.
Contoh di Kampus:
Mereka adalah orang yang selalu muncul di setiap acara kampus. Mulai dari seminar, konser, hingga acara bazar. Kalau ada acara, mereka pasti terlibat—baik jadi panitia, pengisi acara, atau bahkan sekadar jadi penonton yang tidak pernah ketinggalan.
Tugas kuliah? Oh, mereka juga menyelesaikan, tapi biasanya di waktu-waktu terakhir, sambil menyelipkan sedikit kegiatan organisasi di sela-sela pekerjaan rumah. “Kalau bisa multitasking, kenapa enggak?”
Mereka juga dikenal dengan kemampuan luar biasa dalam bernegosiasi, baik dalam hal mencari sponsor untuk acara atau meminta teman sekelas untuk menunda pengumpulan tugas sampai dua hari lagi.
Meskipun nggak selalu terjun ke dunia akademik, mahasiswa tipe non-akademik punya kreativitas yang nggak kalah hebatnya. Mereka bisa bikin acara keren dengan anggaran yang pas-pasan, dan kalau ditanya soal laporan, mereka akan menjawab, “Yang penting ide kreatif saya jalan, nanti tugas bisa dikerjain malam minggu.”
Akademik vs Non-Akademik: Siapa yang Lebih Hebat?
Banyak orang suka berdebat, mana yang lebih penting, akademik atau non-akademik? Jawabannya, keduanya punya peran yang sama penting!
Mahasiswa akademik memberikan kontribusi besar untuk dunia pendidikan dengan menyelesaikan tugas dan penelitian, sedangkan mahasiswa non-akademik memberikan warna dan kegembiraan di kampus dengan berbagai acara dan organisasi.
Akademik tanpa organisasi bisa terasa kering, sementara organisasi tanpa akademik bisa kehilangan arah. Jadi, keduanya saling melengkapi!
Kesimpulan: Jangan Terjebak di Stereotip
Jadi, jangan khawatir kalau kamu merasa tidak cocok sepenuhnya dengan tipe akademik atau non-akademik. Sebagai mahasiswa, kita bisa menyeimbangkan keduanya. Terkadang, kita butuh buku untuk ujian, dan di lain waktu kita butuh berorganisasi untuk memperluas jaringan. Yang terpenting adalah menikmati setiap pengalaman dan tidak lupa untuk selalu memiliki waktu untuk diri sendiri.
Dan yang pasti, jangan lupa, kampus bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat bersenang-senang. Jadi, apakah kamu lebih sering di ruang kelas atau ruang organisasi, yang penting tetap semangat dan jangan pernah kehilangan humor!
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY). Andreyan Lintang Saputra, mahasiswa dari Program Studi Bimbingan dan Konseling, berhasil meraih Juara 1 kategori Dewasa Putra Kelas C dalam ajang bergengsi Diponegoro Championship II 2025, kejuaraan pencak silat tingkat nasional yang digelar pada 18–20 April 2025 di GOR Samapta, Kota Magelang.
Kemenangan ini bukanlah yang pertama bagi Andreyan. Mahasiswa berprestasi ini telah berulang kali mengharumkan nama kampus melalui berbagai kejuaraan pencak silat yang diikutinya. Konsistensinya dalam meraih gelar juara menjadi bukti nyata dedikasi dan semangat juangnya, baik sebagai atlet maupun sebagai duta kampus dalam bidang non-akademik.
Dalam pernyataannya, Andreyan menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas pencapaian tersebut.
“Saya sangat bersyukur atas hasil ini. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan mendoakan. Semoga ini bisa menjadi penyemangat juga bagi teman-teman mahasiswa UPY lainnya untuk terus berprestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik,” ujarnya.
Apresiasi tinggi juga datang dari Wakil Rektor III UPY Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, Dr. Septian Aji Permana, M.Pd, yang menyampaikan rasa bangganya terhadap pencapaian Andreyan.
“Prestasi Andreyan adalah bukti bahwa mahasiswa UPY mampu bersaing dan unggul di tingkat nasional. Kami berharap pencapaian ini dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan potensi mereka dan meraih prestasi di berbagai bidang, baik nasional maupun internasional,” ungkapnya.
Kemenangan ini sekaligus mempertegas komitmen UPY dalam mendukung pengembangan minat dan bakat mahasiswa secara menyeluruh, tidak hanya pada aspek akademik, tetapi juga dalam kegiatan olahraga dan seni yang turut membentuk karakter unggul dan berdaya saing global.
LLDIKTI Wilayah V bersama BAN-PT mengundang seluruh perguruan tinggi untuk mengikuti kegiatan penting ini dalam rangka peningkatan mutu eksternal perguruan tinggi melalui pemahaman lebih dalam tentang instrumen akreditasi 4.0 dan aplikasi SAPTO 2.0.
Senin, 28 April 2025
08.00 WIB – selesai
Terbuka untuk seluruh perguruan tinggi secara daring
Keynote Speech: Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D. (Kepala LLDIKTI Wilayah V)
Narasumber: – Prof. Dr. Ir. Ari Purbayanto, M.Sc. (Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT) – Dewan Eksekutif BAN-PT lainnya
Ikuti melalui Zoom ID: 862 8509 5743 | Passcode: 55231
Yogyakarta, 23 April 2025 – Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menyambut penuh suka cita kehadiran mahasiswa peserta program SEA-Teacher (Southeast Asian Teacher Project) batch ke 10 gelombang 2 tahun 2025 dari Northern Iloilo State University (NISU) dan University of San Jose-Recoletos, Filipina. Acara penyambutan resmi digelar di Ruang Sidang Rektorat UPY dan dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas.
Acara ini turut dihadiri oleh Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P, dan Ketua Yayasan Pembina UPY, Drs. John Sabari, M.Si, serta para dekan dari berbagai fakultas di lingkungan UPY. Dalam suasana hangat dan penuh semangat kolaborasi, penyambutan ini juga disertai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UPY dengan NISU, Filipina.
Penandatanganan MoA dilakukan oleh Dekan FKIP UPY, Dr. Esti Setiawati, M.Pd, dan Chairperson of BEED, NISU Main Campus, Dr. Ave Marie P. Genodia, sebagai bentuk penguatan kerja sama internasional dalam bidang pendidikan.
Dalam batch ke-10 program SEA-Teacher ini, terdapat total 9 mahasiswa dari dua universitas di Filipina yang akan mengikuti berbagai aktivitas akademik dan kultural di UPY. Para peserta akan menjalani program pengajaran di sekolah mitra, yakni Sekolah Mutiara Persada, sekaligus merasakan langsung sistem pendidikan serta budaya Indonesia.
SEA-Teacher Project merupakan inisiatif internasional yang digagas oleh The Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO). Program ini bertujuan untuk memperluas wawasan dan pengalaman mahasiswa keguruan dalam praktik mengajar lintas negara serta mendorong pertukaran budaya dan pemahaman antarbangsa.
Program ini bukan hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan dan metode pendidikan, tetapi juga memperkuat nilai-nilai persahabatan dan kolaborasi antar negara Asia Tenggara. UPY berharap kehadiran mahasiswa SEA-Teacher ini menjadi bagian dari komitmen bersama dalam mencetak pendidik-pendidik masa depan yang tangguh, terbuka, dan berwawasan global.
Periode kuliah dan berstatus sebagai mahasiswa, jadi momen yang dioptimalkan Ishma Aulya Warliani. Mahasiswi prodi ManajemenUniversitas PGRI Yogyakarta (UPY) angkatan 2021 ini, banyak mengeksplorasi diri dengan berbagai organisasi, kegiatan, hingga bekerja.
Perempuan kelahiran Bantul ini, selain kuliah juga bekerja di sebuah perusahaan digital marketing di daerah Sleman. Ia sendiri bekerja sejak tahun 2020 silam. “Kebetulan bulan ini kontrakku udah habis dan alhmdulillah aku lolos di KAI sebagai pramugari,”katanya.
Diakui, kesempatan untuk bekerja di KAI akan ia ambil sembari menyelesaikan tugas akhirnya. “Kebetulan aku tinggal skripsi dan saat ini juga masih nunggu info penempatan. Jadi aku akan kebut skripsinya,”jelasnya.
Selain memiliki beberapa pengalaman kerja, Ishma juga masih aktif di Duta Budaya DIY. Ia sendiri diamanahi sebagai runner up 3. Selain itu juga masih aktif di dunia modelling sebagai muse, hingga talent.
Perempuan yang bercita-cita menjadi pengusaha ini memaparkan, dalam konteks individu, ia juga telah menorehkan berbagai prestasi. Baik di konteks akademik maupun non-akademik.
Beberapa capaiannya di bidang akademik meliputi, menjadi mahasiwa program pembinaan wirausaha dari kemendikbudristek, Runner Up 3 Duta Budaya DIY 2025. “Sementara di dunia kerja saya meraih Best Customer Service 2022, dan Best Leader 2023 juga 2024,” ulasnya.
Di luar ragam kesibukan dan pencapaian itu, ia juga masih berusaha konsisten menekuni hobinya. Diakui, hobi dan kegiatan lain yang ia jalani sekarang adalah sebagai make-up artist (MUA). Ia suka dengan dunia kecantikan, akhirnya otodidak belajar make-up dan membuat usaha jasa make-up.
“Aku juga suka masak, aku mulai buka katering kecil-kecilan. Selain itu aku hobi menyanyi dan menari, aku gunakan itu di kegiatan budayaku,” tandasnya.