Kategori: Berita Utama

  • kegiatan Pemilihan Umum Mahasiswa 2025

    kegiatan Pemilihan Umum Mahasiswa 2025

    ✨Hallo Agen Demokrasi Universitas PGRI Yogyakarta 2025✨

    Sehubungan akan diadakannya kegiatan Pemilihan Umum Mahasiswa 2025. Kami meminta kepada seluruh Mahasiswa Aktif untuk mengisi isi link bardcode berikut ini, agar terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Jangan sampai ketinggalan batas waktu dari tanggal 6 Mei sampai 18 Mei 2025 🤗

    Ciderakan Golput Gunakan Hak Pilihmu

  • Selamat Hari Raya Waisak 12 Mei 2025 / 2569 BE

    Selamat Hari Raya Waisak 12 Mei 2025 / 2569 BE

    Selamat Hari Raya Waisak

    12 Mei 2025 / 2569 BE

    Kepada segenap saudara kita yang merayakan,
    semoga damai, kebijaksanaan, dan cinta kasih selalu menyertai setiap langkah kehidupan.
    Mari bersama kita jaga harmoni dalam keberagaman.

    Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
    Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

  • Tipe-Tipe Mahasiswa di Kampus: Dari Si Rajin Sampai Si Pemelas, Semua Ada Warnanya

    Tipe-Tipe Mahasiswa di Kampus: Dari Si Rajin Sampai Si Pemelas, Semua Ada Warnanya

    Setiap kampus adalah miniatur kehidupan. Di dalamnya, kita bisa menemukan beragam karakter mahasiswa yang, secara tidak tertulis, membentuk “ekosistem” unik di setiap kelas. Mereka punya cara masing-masing dalam menjalani dunia perkuliahan—ada yang santai, ada yang super sibuk, dan ada juga yang seakan hidupnya bergantung pada deadline extension.

    Berikut ini adalah beberapa tipe mahasiswa yang sering kita temui di kampus. Kalau kamu tidak menemukan dirimu di salah satu tipe, mungkin kamu sedang denial. 😉


    1. Si Paling Rajin: Alarmnya Lebih Disiplin dari Kalender Akademik

    Tipe ini datang ke kelas sebelum dosennya duduk. Duduknya selalu di barisan depan, catatannya lengkap dan berwarna-warni, dan kalau dosen tanya “Siapa yang mau presentasi duluan?”, dia akan langsung angkat tangan (dengan senyum).

    📚 Ciri khas: Punya folder khusus tiap mata kuliah, ikut semua webinar, dan daftar volunteer sampai hari Minggunya penuh.

    💬 “Buat aku, belajar tuh bukan beban, tapi investasi jangka panjang.”
    (Sementara teman di sebelahnya investasi tidur siang.)


    2. Si Pemelas: Ahli Negosiasi dan Jurus Seribu Alasan

    Tugas belum dikumpulkan? “Laptop-nya error, Pak.”
    Nilai ujian kurang? “Soalnya terlalu susah, Bu.”
    Terlambat masuk kelas? “Macet… dari kantin.”

    Mahasiswa tipe ini sangat kreatif dalam merangkai alasan. Kadang saking seringnya minta toleransi, dosen sampai hafal wajah dan nada suaranya.

    📩 Ciri khas: Inbox dosen penuh dengan kalimat “Mohon maaf sebelumnya, Pak/Bu…”
    Tapi ya, setidaknya mereka mencoba. Kadang.


    3. Si Sok Sibuk: Kalender Penuh, Tapi Tugas Kosong

    Mahasiswa ini selalu terlihat tergesa-gesa. Kalau ditanya, jawabannya pasti, “Aduh, banyak banget nih kerjaan.” Tapi entah kenapa, kerjaan itu jarang terlihat hasilnya.

    📆 Ciri khas: Punya planner mahal, tapi isinya cuma coretan deadline yang tidak pernah dikerjakan.
    Status WhatsApp: “Meeting lagi. Capek.”

    💬 “Gue tuh sebenarnya niat ngerjain, tapi ya gitu deh… hidup.”


    4. Si Aktivis: Hidupnya untuk Organisasi dan Perubahan Sosial

    Bisa jadi dia lebih sering ada di sekretariat organisasi daripada di kelas. Kalau ngomong, suka panjang, penuh idealisme, dan sering diselipi kutipan tokoh nasional atau filsuf luar negeri.

    🗣️ Ciri khas: Pegang megafon waktu demo, rajin ikut rapat BEM, dan sangat peka terhadap isu sosial.

    💬 “Kita harus jadi agen perubahan! Tapi… nanti tugas dikumpulin menyusul, ya.”


    5. Si Paling Pintar: Otaknya Google, Hatinya Chill

    Mahasiswa ini jarang terlihat panik, tapi nilai ujiannya selalu di atas rata-rata. Dia jarang pamer, tapi teman-teman tahu: kalau butuh penjelasan materi, tinggal cari dia.

    🧠 Ciri khas: Bisa menjelaskan teori ribet dalam lima menit. Kadang nanya ke dosen cuma buat “cek” pemahamannya sendiri.

    💬 “Sebenernya simple kok, asal ngerti konsep dasarnya.”
    (Terus semua langsung buka YouTube.)


    6. Si Pendiam: Ada, Tapi Seperti Tidak Terlihat

    Mahasiswa ini tipe yang tidak pernah bikin ribut, tapi juga tidak pernah bikin masalah. Duduk di tengah atau belakang, nyimak dengan tenang, dan selalu tepat waktu mengumpulkan tugas.

    🤫 Ciri khas: Namanya baru dikenal saat daftar wisuda. Tapi IPK-nya? Di atas rata-rata.

    💬 “Saya lebih nyaman jadi pendengar, Kak.”
    Dan diam-diam dia jadi pengamat terbaik di kelas.


    7. Si All-Rounder: Bisa Akademik, Aktif Organisasi, Tapi Tetap Waras

    Tipe ini adalah perpaduan ideal: nilainya bagus, aktif di organisasi, dan tetap punya waktu untuk nongkrong bareng teman. Mereka tahu kapan harus serius, dan kapan harus bersantai.

    🎯 Ciri khas: Diundang jadi pembicara di acara kampus, jadi moderator, kadang MC, kadang tutor juga. Multi-talenta.

    💬 “Kuncinya bukan sibuk, tapi pintar ngatur prioritas.”
    (Habis bilang gitu, langsung jadi panitia seminar.)

    8. Si Tukang Nanya: Aktif, Tapi Sering Bikin Waktu Mepet

    Mahasiswa ini sangat antusias. Setiap selesai penjelasan, tangannya langsung angkat. Pertanyaannya tajam… kadang terlalu tajam sampai bikin dosen harus buka catatan sendiri. Tapi tak jarang juga nanyanya out of topic—niatnya baik, tapi bikin kelas molor.

    🙋 Ciri khas: “Izin bertanya, Pak/Bu…” sudah seperti salam pembuka wajib. Kadang nanyanya panjang, lebih dari jawaban dosennya.

    💬 “Kalau boleh beropini, saya merasa teori ini relevan dengan isu geopolitik regional terkini…”


    9. Si Influencer Kampus: Lebih Dikenal di Instagram daripada di Kelas

    Mahasiswa ini jago branding. Feed Instagram-nya rapi, kontennya konsisten, dan endorse-nya jalan terus. Kehadirannya di kelas? Kadang ada, kadang di Bali (untuk “kegiatan kolaborasi”).

    📱 Ciri khas: Punya ring light di kos, jadi duta skincare, dan sering banget jadi MC atau host acara kampus.

    💬 “Maaf nggak sempat ikut Zoom, tadi ada collab bareng brand lokal.”


    10. Si Penghibur Kelas: Komedi On, Tapi Tugas Aman

    Tipe ini bikin kelas jadi cair. Setiap dosen serius, dia lempar intermezzo. Kadang dosennya ikut ketawa, kadang malah geleng-geleng. Tapi jangan salah, dia tetap tahu batas, dan biasanya tetap bertanggung jawab pada tugas dan kelompok.

    🎭 Ciri khas: Bahan becandanya nggak habis-habis. Tapi saat kerja kelompok, justru dia yang nyelesain diam-diam.

    💬 “Tenang aja, yang penting santai tapi selesai.”


    11. Si Petualang Akademik: Suka Ikut Kelas yang Bukan Jurusannya

    Dia bisa jadi anak Teknik, tapi suka ikutan kelas Filsafat atau Psikologi. Bukan karena terpaksa, tapi karena penasaran. Mahasiswa ini sangat eksploratif dan haus wawasan lintas disiplin.

    🧳 Ciri khas: Punya catatan dari kelas yang bahkan teman sejurusannya nggak tahu itu mata kuliah apa.

    💬 “Aku ikut kuliah tamu tentang etika media kemarin. Seru banget, loh!”


    12. Si Ghosting: Terdaftar di KRS, Tapi Tak Terlihat di Kehidupan Nyata

    Mereka ada di daftar absen, tapi tak pernah hadir. Di grup WhatsApp juga pasif. Lalu tiba-tiba muncul saat ujian… atau bahkan tidak muncul sama sekali.

    👻 Ciri khas: Saat pembagian tugas kelompok, semua saling tanya: “Itu siapa ya?”

    💬 “Maaf baru aktif, aku baru sembuh sakit. Bisa tolong recap materi dari awal semester?”
    (Padahal semester sudah UAS.)


    Karena Kampus Penuh Warna, Bukan Satu Warna

    Dengan tambahan ini, kita semakin sadar bahwa dinamika kampus adalah potret kehidupan mini. Tiap mahasiswa punya karakter, cara berpikir, dan gaya belajar yang unik. Apakah dia rajin, pemikir, pendiam, aktif, atau bahkan tukang ngilang—semuanya bagian dari cerita besar bernama masa kuliah.

    Yang penting, tetap bergerak, tetap belajar, dan tetap tumbuh. Karena tidak semua orang harus sama. Tapi semua orang bisa jadi lebih baik.

  • UPY Jalin Kerja Sama Internasional dengan Dua Universitas Filipina: USJR dan NISU

    UPY Jalin Kerja Sama Internasional dengan Dua Universitas Filipina: USJR dan NISU

    Yogyakarta, 29 April 2025 — Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) memperkuat jejaring akademik internasional dengan menjalin kerja sama strategis bersama dua universitas ternama dari Filipina, yakni University of San Jose – Recoletos (USJR) dan Northern Iloilo State University (NISU). Kegiatan berlangsung pada Selasa, 29 April 2025, bertempat di Ruang Sidang Rektorat UPY dan disiarkan secara daring melalui platform Zoom Meeting.

    Acara ini mencakup serangkaian agenda penting, yakni:

    • Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara UPY dan USJR
    • Penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UPY dan USJR
    • Penandatanganan Implementation Arrangement (IA) antara FKIP UPY dan USJR
    • Penandatanganan Implementation Arrangement (IA) antara FKIP UPY dan NISU

    Turut hadir dan menandatangani dokumen kerja sama tersebut adalah Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P, Dekan FKIP, Dr. Esti Setiawati, M.Pd, dan Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UPY, Taufik Muhtarom, Ph.D. Sementara dari pihak universitas mitra Filipina, hadir Prof. Kylle T. Pulmones dari USJR dan Dr. Ave Marie P. Genodia dari NISU.

    Kegiatan ini tidak hanya ditandai dengan penandatanganan dokumen kerja sama, tetapi juga diisi dengan program Visiting Lecturer yang menghadirkan dua pembicara ahli dari Filipina:

    1. Prof. Kylle T. Pulmones, Professor di School of Education, USJR, yang membawakan topik “Optimizing Teaching with Artificial Intelligence vis-a-vis Ethics”
    2. Dr. Ave Marie P. Genodia, Chairperson of Bachelor of Elementary Education Department, NISU, dengan materi “Contextualized Learning in Science: Bridging Concepts with Real-World Applications”

    Acara ini diikuti secara antusias oleh mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), serta peserta daring dari berbagai prodi di lingkungan UPY.

    Rektor UPY, Prof. Paiman, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari strategi internasionalisasi kampus untuk membuka ruang kolaborasi akademik yang lebih luas, sekaligus memperkaya wawasan mahasiswa dalam konteks nasional dan global.

    “Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa bisa belajar langsung dari perspektif internasional, sekaligus mempererat kemitraan akademik dengan institusi luar negeri yang kredibel,” ujar beliau.

    Secara keseluruhan, acara berjalan lancar dan penuh antusiasme. Seluruh dokumen kerja sama ditandatangani dengan tuntas, dan diskusi antara mahasiswa serta para pembicara berlangsung aktif dan interaktif.

    Dengan terlaksananya kegiatan ini, UPY menegaskan komitmennya sebagai kampus yang terbuka, progresif, dan berdaya saing global.

  • Ciri-Ciri Dosen yang Disukai Mahasiswa Saat Mengajar: Antara Ilmu, Empati, dan Guyonan Ringan

    Ciri-Ciri Dosen yang Disukai Mahasiswa Saat Mengajar: Antara Ilmu, Empati, dan Guyonan Ringan

    Di setiap kampus, selalu ada satu atau dua nama dosen yang jadi legenda. Bukan hanya karena ilmunya yang luar biasa, tapi karena cara mengajarnya yang ngena di hati mahasiswa. Ruang kelas jadi tempat yang ditunggu, bukan ditakuti. Slide materi jadi menarik, bukan mengantuk. Dan yang paling penting, mahasiswa merasa belajar, bukan sekadar hadir.

    Nah, seperti apa sih dosen yang jadi favorit mahasiswa? Ini dia beberapa ciri-cirinya—ditulis dengan gaya santai tapi tetap serius. Serius santai, begitu istilahnya.


    1. Menguasai Materi, Tapi Gaya Ngajarnya Nggak Bikin Kepala Berdenyut

    Dosen yang disukai bukan cuma tahu ilmunya, tapi tahu cara menyampaikannya. Mereka bisa menjelaskan teori yang rumit dengan bahasa yang sederhana—bahkan kadang dibumbui analogi yang relate banget sama kehidupan sehari-hari mahasiswa.

    📘 “Teori ini tuh kayak kamu ngerjain tugas kelompok. Di atas kertas, semua punya peran. Tapi kenyataannya? Ya, gitu deh.”

    Dengan begini, mahasiswa bukan cuma paham, tapi juga terhibur.


    2. Humoris Tapi Tetap Berkelas

    Humor yang tepat adalah pelengkap yang sempurna dalam proses belajar. Dosen yang tahu kapan harus serius dan kapan boleh bercanda akan membuat kelas terasa hidup. Candaan ringan yang muncul alami—bukan dipaksakan—bisa memecah kebekuan dan bikin suasana lebih menyenangkan.

    😂 Tapi ingat, bukan lawak murahan. Candaan yang menghormati semua pihak jauh lebih berkelas dan mengesankan.


    3. Menghargai Mahasiswa Sebagai Mitra Belajar

    Dosen favorit tidak melihat mahasiswa sebagai objek ceramah, tapi sebagai mitra berdiskusi. Mereka membuka ruang untuk dialog, menampung pendapat, dan tidak ragu mengakui jika ada hal yang mereka sendiri perlu telusuri lebih lanjut.

    🧑‍🏫 “Itu pertanyaan bagus. Saya juga belum kepikiran. Gimana kalau kita cari tahu bareng minggu depan?”

    Itu bukan kelemahan. Justru menunjukkan kerendahan hati dan semangat belajar sepanjang hayat.


    4. Humanis: Mengerti Bahwa Mahasiswa Itu Manusia, Bukan Robot IPK

    Ada tugas numpuk, organisasi, kerja part-time, dan urusan pribadi yang kadang rumit. Dosen yang disukai tahu kapan harus tegas, dan kapan perlu memberi ruang. Empati kecil seperti memberi perpanjangan waktu dengan alasan yang jelas, atau sekadar bertanya kabar mahasiswa sebelum mulai kelas, punya dampak besar.

    🧡 Dosen yang “berhati” akan selalu lebih diingat daripada yang hanya “berotak”.


    5. Tegas, Tapi Tidak Kaku

    Tegas bukan berarti keras kepala. Dosen favorit punya prinsip, tapi fleksibel dalam pendekatan. Mereka bisa bersikap adil terhadap aturan kelas, tapi tetap terbuka terhadap kondisi individual. Tegas dalam nilai, tapi tidak semena-mena dalam menilai.

    📏 “Saya tidak bisa terima tugas yang telat seminggu tanpa alasan. Tapi kalau kamu punya kondisi darurat, kita bicarakan baik-baik, ya.”


    6. Punya Sense of Relevance: Materi Dihubungkan dengan Dunia Nyata

    Kuliah terasa membumi kalau dosen bisa mengaitkan materi dengan situasi terkini. Entah itu tren sosial, isu global, bahkan meme viral sekalipun—selama relevan, mahasiswa akan lebih mudah terhubung dengan materi.

    🌍 “Etika digital itu penting. Jangan sampai kamu pintar teknologi, tapi nggak tahu batas sopan santun online. Hati-hati, jejak digital lebih panjang dari skripsi.”


    7. Responsif dan Mau Terlibat di Luar Kelas

    Bukan berarti harus balas chat jam 11 malam. Tapi dosen yang terbuka untuk konsultasi, cepat merespons email dengan sopan, atau bahkan hadir di kegiatan mahasiswa akan mendapatkan tempat khusus di hati mereka. Kehadirannya terasa, tidak hanya sebagai pengajar, tapi juga sebagai pembimbing.

    📬 “Silakan kirim draft kamu via email, saya coba lihat akhir pekan ini. Tapi kalau urgent, ingatkan saya ya.”


    Menjadi Dosen yang Tidak Hanya Dikenang Karena Nilai

    Di mata mahasiswa, nilai A itu penting. Tapi dosen yang membuat mereka merasa dihargai, didengarkan, dan diberdayakan akan lebih membekas. Mahasiswa tidak selalu ingat apa isi slide kuliah minggu ketiga, tapi mereka akan ingat bagaimana perasaan mereka selama diajar.

    Dan pada akhirnya, menjadi dosen yang profesional, humoris, asik, dan humanis bukan sekadar strategi mengajar—tapi sebuah sikap hidup.

  • Mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta Raih Juara 1 Duta Lingkungan DIY 2025

    Mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta Raih Juara 1 Duta Lingkungan DIY 2025

    Yogyakarta, 5 Mei 2025 — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta. Dendi Aam Priyatna, mahasiswa Program Studi Manajemen, berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Pemilihan Duta Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2025 yang diselenggarakan pada 27 April 2025 di Sleman City Hall.

    Ajang bergengsi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya pelestarian lingkungan hidup. Para finalis tidak hanya dinilai dari kemampuan intelektual, tetapi juga dari komitmen, ide, serta peran aktif mereka dalam mengampanyekan gaya hidup berkelanjutan.

    “Saya ingin menginspirasi lebih banyak orang, terutama generasi muda, untuk lebih peduli terhadap isu-isu lingkungan seperti pengelolaan sampah, pelestarian alam, dan penggunaan energi berkelanjutan,” ujar Dendi dalam sesi wawancara usai menerima penghargaan.

    Sebagai Duta Lingkungan DIY 2025, Dendi akan mengemban tanggung jawab untuk menjadi agen perubahan dalam berbagai program edukasi dan pelestarian lingkungan. Ia juga menyampaikan keinginannya untuk menjalin kolaborasi dengan komunitas, pemerintah, dan masyarakat dalam menciptakan program nyata yang berdampak positif.

    “Kemenangan ini adalah langkah awal, bukan sekadar gelar. Ini adalah tanggung jawab yang harus saya jalankan dengan penuh dedikasi,” tegasnya.

    Penyelenggaraan Pemilihan Duta Lingkungan ini juga merupakan bagian dari upaya mendukung visi pemerintah daerah dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan berbasis lingkungan. Dengan semakin banyaknya generasi muda yang terlibat aktif, diharapkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam akan semakin meningkat.

    Universitas PGRI Yogyakarta turut menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih oleh Dendi dan berharap pencapaian ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan.

  • Menjalin Kemitraan, Membangun Masa Depan: Studi Banding Prodi Pendidikan Matematika UPY dan Universitas PGRI Silampari

    Menjalin Kemitraan, Membangun Masa Depan: Studi Banding Prodi Pendidikan Matematika UPY dan Universitas PGRI Silampari

    Yogyakarta, 23 April 2025 — Dalam semangat mempererat tali silaturahmi akademik dan memperkuat sinergi kelembagaan, Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas PGRI Silampari melaksanakan kunjungan studi banding ke Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY).

    Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang FKIP UPY dan Ruang Multimedia Gedung A Kampus 1 UPY dengan diikuti oleh 62 mahasiswa Universitas PGRI Silampari beserta dosen pendamping, Kaprodi, dan Dekan Fakultas Sains dan Teknologi. Mereka disambut hangat oleh 25 mahasiswa FKIP UPY serta jajaran dosen dan pimpinan fakultas.

    Momentum ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoA) di tingkat universitas yang kemudian diperkuat dengan penandatanganan kerja sama lanjutan di tingkat fakultas dan program studi, melalui MoA Fakultas dan Implementation Agreement (IA) Prodi. Ini menjadi bukti nyata keseriusan kedua belah pihak dalam membangun kemitraan akademik yang produktif dan berkelanjutan.

    Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan pemutaran video profil FKIP UPY, dilanjutkan dengan sharing session dosen antar institusi yang membahas kurikulum, profil tenaga pengajar, serta potensi pengembangan program Merdeka Belajar. Diskusi yang berlangsung interaktif ini membuka peluang kerja sama dalam riset, pertukaran dosen, dan pengembangan kurikulum inovatif.

    Tak kalah menarik, mahasiswa dari kedua universitas juga aktif dalam sesi presentasi organisasi kemahasiswaan. Mereka berbagi praktik baik dalam pengelolaan himpunan, program kerja kreatif, dan kegiatan pembinaan mahasiswa.

    Sebagai bagian dari kunjungan, mahasiswa Silampari diajak melihat fasilitas unggulan Prodi Pendidikan Matematika UPY seperti ruang display, ruang baca, laboratorium Pembelajaran Berbasis Inkuiri (PBI), dan laboratorium multimedia. Kegiatan ini memberikan inspirasi dan referensi baru dalam pengembangan fasilitas pembelajaran di lingkungan mereka. Puncak kegiatan ditandai dengan penandatanganan MoA dan IA oleh pimpinan kedua institusi, disusul dengan sesi foto bersama.

    “Semoga kolaborasi ini tidak berhenti di sini. Justru ini menjadi awal dari kerja sama jangka panjang yang lebih konkret, khususnya dalam menghadirkan inovasi di dunia pendidikan matematika,” ungkap salah satu dosen yang hadir dalam kegiatan tersebut.

    Kegiatan ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi kolaborasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat antara UPY dan Universitas PGRI Silampari, sekaligus membangun jejaring akademik yang lebih luas dan berdampak.

  • “Ketika Semua Terlibat, Pendidikan Menjadi Harapan yang Nyata”

    “Ketika Semua Terlibat, Pendidikan Menjadi Harapan yang Nyata”

    Pendidikan bukan tugas guru semata. Ia adalah hasil dari kerja bersama—orang tua yang sabar menemani anaknya belajar, petani yang mengajarkan nilai kerja keras, mahasiswa yang mengajar sukarela di desa, bahkan tukang ojek yang dengan sabar mengantar anak-anak ke sekolah. Semua ambil bagian, semua punya peran.

    Namun, partisipasi tak akan berarti tanpa keadilan. Karena masih ada anak-anak yang harus menyeberangi sungai demi sampai di kelas. Masih ada sekolah yang kekurangan guru, dan guru yang kekurangan pengakuan. Maka bicara tentang pendidikan bermutu untuk semua bukan sekadar soal fasilitas atau kurikulum, tapi soal keberpihakan—pada yang tertinggal, yang terpinggirkan, yang hampir putus asa.

    Pendidikan yang bermutu adalah yang membentuk karakter, bukan hanya nilai. Yang membuka ruang untuk bertanya, bukan hanya menyuruh menghafal. Yang melihat anak sebagai individu, bukan angka statistik. Dan itu hanya bisa tercapai jika semua pihak bersedia turun tangan—bukan hanya mengkritik dari kejauhan.

    Di tengah gempuran teknologi, tantangan global, dan ketimpangan sosial, pendidikan menjadi jangkar yang menyatukan kita. Karena lewat pendidikan, kita membentuk masa depan: bukan hanya untuk generasi mendatang, tetapi juga untuk bangsa yang lebih adil, inklusif, dan manusiawi.

    Hari ini, mari kita rayakan bukan hanya dengan upacara atau seremonial, tapi dengan komitmen baru: bahwa siapa pun kita, di mana pun kita berada, kita bisa berkontribusi. Sebab ketika semesta ikut serta, pendidikan tak lagi jadi impian, melainkan kenyataan.

    Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2025.
    Untuk semua guru, semua anak, semua warga—terima kasih telah menjaga nyala api pendidikan.

  • “Mereka yang Tak Pernah Libur: Refleksi Kemanusiaan di Hari Buruh 1 Mei 2025”

    “Mereka yang Tak Pernah Libur: Refleksi Kemanusiaan di Hari Buruh 1 Mei 2025”

    Setiap 1 Mei, jalanan di berbagai kota dipenuhi suara dan langkah. Spanduk-spanduk terbentang tinggi, orasi bergema, dan ribuan pekerja dari berbagai sektor turun ke jalan bukan sekadar untuk unjuk rasa, tapi untuk didengar. Hari Buruh bukan hanya hari libur nasional—ia adalah hari untuk mengenang, menghargai, dan memperjuangkan mereka yang setiap hari membuat dunia tetap berjalan.

    Di balik baju seragam, helm proyek, hingga jas kantor, ada manusia. Ada cerita tentang Ayah yang berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat anak-anak sudah tertidur. Ada Ibu yang bekerja ganda, di kantor dan di rumah. Ada mereka yang tidak punya pilihan selain lembur demi selembar upah yang cukup untuk sekadar bertahan hidup.

    Tahun 2025 membawa banyak tantangan baru. Dunia kerja terus berubah, digitalisasi merambah, tetapi tak semua buruh mendapat akses yang sama. Masih ada yang digaji tak layak. Masih banyak yang tidak terlindungi secara hukum. Dan masih terlalu sering kita lupa, bahwa di balik produk yang kita pakai, layanan yang kita nikmati, makanan yang kita santap—ada keringat manusia yang bekerja dalam diam.

    Namun, Hari Buruh bukan hanya tentang penderitaan. Ini juga tentang dignitas, harga diri. Tentang buruh yang memilih untuk tidak menyerah. Tentang mereka yang tetap berdiri tegak walau hak belum sepenuhnya ditegakkan. Ini hari yang mengingatkan kita bahwa pekerja bukan mesin. Mereka punya harapan, keluarga, dan impian.

    Di Hari Buruh 1 Mei 2025 ini, mari berhenti sejenak. Bukan hanya untuk berlibur, tapi untuk mengingat. Bahwa pekerjaan adalah bentuk pengabdian. Bahwa keadilan di dunia kerja bukan hal mewah, tapi hak. Dan bahwa perubahan tak datang dari diam, melainkan dari keberanian untuk bersuara.

  • Sosialisasi Kekayaan Intelektual dan Apostille di Universitas PGRI Yogyakarta: Meningkatkan Pemahaman dan Perlindungan Hak Cipta

    Sosialisasi Kekayaan Intelektual dan Apostille di Universitas PGRI Yogyakarta: Meningkatkan Pemahaman dan Perlindungan Hak Cipta

    Yogyakarta, 22 April 2025 – Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), menggelar kegiatan Penyebarluasan Informasi Kekayaan Intelektual (KI) dan Sosialisasi Apostille pada Selasa, 22 April 2025, di Ruang Multimedia UPY. Kegiatan ini melibatkan dosen dan mahasiswa UPY serta narasumber dari Guru Kekayaan Intelektual (RuKI), yang berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai aspek legalitas dan perlindungan hak atas karya ilmiah, produk, dan inovasi.

    Hadir juga di antaranya Kepala LPPM UPY, Dr. Marti Widya Sari, S.T., M.Eng, yang membuka acara dengan sambutannya, serta Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kanwil Kemenkumham DIY, Eem Nurmanah, S.Sos, M.Si, yang juga memberikan sambutan. Keduanya menyampaikan betapa pentingnya perlindungan terhadap karya intelektual, terutama bagi para akademisi yang terlibat dalam riset, pengembangan produk, dan publikasi ilmiah.

    Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman sivitas akademika, khususnya dosen dan mahasiswa, tentang pentingnya perlindungan Kekayaan Intelektual (KI) di tengah berkembangnya dinamika inovasi dan kreativitas di era digital. Dalam sesi diskusi yang berlangsung antusias, peserta diberikan informasi terkait langkah-langkah untuk mendaftarkan hak kekayaan intelektual, serta bagaimana proses Apostille dapat berperan dalam pengesahan dokumen internasional.

    Antusiasme peserta sangat terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi diskusi. Mahasiswa dan dosen dari berbagai program studi mengungkapkan bahwa sosialisasi ini sangat bermanfaat, terutama bagi mereka yang terlibat dalam pengembangan produk, penelitian, dan karya tulis ilmiah. Para peserta menyadari bahwa kreativitas dan inovasi harus diimbangi dengan pemahaman yang baik mengenai legalitas serta perlindungan hak atas karya yang dihasilkan.

    “Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dan dosen UPY tidak hanya kreatif, tetapi juga semakin sadar akan pentingnya perlindungan hukum atas karya mereka. Ini adalah langkah awal yang penting dalam mewujudkan iklim akademik yang tidak hanya produktif, tetapi juga melindungi hasil karya intelektual mereka,” ujar Retno Widati, SH, MPA, salah satu narasumber dari Guru Kekayaan Intelektual (RuKI).

    Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi titik awal bagi mahasiswa dan dosen untuk lebih memahami aspek hukum yang menyertai karya-karya ilmiah mereka. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka wawasan mengenai pentingnya memperhatikan legalitas dalam setiap karya yang dihasilkan.