Category: Berita Utama

  • PPG UPY Gelar Kursus Keterampilan Kepramukaan 2026, Cetak Calon Guru Berkarakter dan Berjiwa Pemimpin

    PPG UPY Gelar Kursus Keterampilan Kepramukaan 2026, Cetak Calon Guru Berkarakter dan Berjiwa Pemimpin

    Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menunjukkan komitmennya dalam menyiapkan calon guru profesional yang tidak hanya unggul dalam kompetensi akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, jiwa kepemimpinan, dan kemampuan sosial yang baik. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Kursus Keterampilan Kepramukaan PPG UPY 2026 yang dilaksanakan di kawasan wisata edukatif Kebun Buah Mangunan, Bantul.

    Kegiatan ini menjadi salah satu program penguatan kompetensi mahasiswa PPG yang dirancang untuk membekali calon pendidik dengan keterampilan kepramukaan yang relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan saat ini. Melalui perpaduan materi teoritis dan praktik lapangan, peserta diajak memahami bagaimana nilai-nilai kepramukaan dapat menjadi sarana efektif dalam membentuk karakter peserta didik di sekolah.

    Dalam pelaksanaannya, kursus ini bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap Gerakan Pramuka sekaligus memperkuat kemampuan kepemimpinan, pembinaan karakter, manajemen kegiatan ekstrakurikuler, serta pengembangan keterampilan sosial yang menjadi bagian penting dari profesi guru.

    “Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penguasaan materi kepramukaan, tetapi juga menjadi wahana pembentukan karakter calon guru yang adaptif, bertanggung jawab, dan mampu menjadi teladan bagi peserta didik,” demikian disampaikan oleh tim penyelenggara PPG UPY.

    Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh berbagai materi yang mencakup aspek dasar hingga praktik aplikatif dalam dunia kepramukaan. Materi yang diberikan meliputi pemahaman mengenai Undang-Undang Gerakan Pramuka, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Gerakan Pramuka, prinsip dasar kepramukaan, hingga metode pembinaan yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah.

    Selain itu, peserta juga mengikuti pelatihan kepemimpinan dan dinamika kelompok yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, kerja sama tim, pemecahan masalah, serta keterampilan memimpin dalam berbagai situasi. Berbagai aktivitas kelompok yang dilakukan di alam terbuka menjadi pengalaman berharga dalam membangun solidaritas dan rasa tanggung jawab bersama.

    Tidak kalah penting, mahasiswa juga mendapatkan pelatihan keterampilan kepramukaan yang dapat diterapkan dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Berbagai simulasi dan praktik lapangan memberikan pengalaman nyata bagi peserta dalam merancang serta melaksanakan kegiatan kepramukaan yang edukatif dan menarik.

    Sebagai bentuk kesiapan menghadapi berbagai tantangan kegiatan luar ruang, peserta juga dibekali materi mengenai manajemen risiko dalam kegiatan pramuka. Materi ini mencakup identifikasi risiko, mitigasi, hingga penerapan prosedur keselamatan yang penting untuk menjamin keamanan peserta didik dalam setiap kegiatan.

    Suasana kebersamaan semakin terasa melalui kegiatan api unggun dan pentas seni yang menjadi bagian dari rangkaian pelatihan. Aktivitas tersebut tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media untuk menumbuhkan kreativitas, rasa percaya diri, kebersamaan, dan semangat gotong royong di antara peserta.

    Pelaksanaan kursus menggunakan pendekatan experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman. Metode ini memungkinkan peserta belajar secara langsung melalui praktik dan refleksi, sehingga pemahaman yang diperoleh menjadi lebih mendalam dan aplikatif.

    Strategi pembelajaran yang diterapkan meliputi pembelajaran partisipatif, praktik lapangan, dinamika kelompok, serta evaluasi berkelanjutan melalui pre-test, post-test, observasi praktik, dan penyusunan rencana tindak lanjut. Seluruh proses dirancang untuk memastikan peserta mampu menguasai kompetensi yang diperlukan sebagai calon pembina pramuka sekaligus pendidik profesional.

    Lebih dari sekadar pelatihan keterampilan, kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan pendidikan karakter yang menanamkan nilai-nilai disiplin, integritas, tanggung jawab, kepedulian sosial, serta semangat pengabdian. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi penting yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik dan pembentuk karakter generasi bangsa.

    Melalui Kursus Keterampilan Kepramukaan 2026 ini, Program Studi PPG Universitas PGRI Yogyakarta berharap dapat melahirkan calon guru yang tidak hanya kompeten dalam aspek pedagogik dan profesional, tetapi juga mampu menjadi pembina yang inspiratif serta agen perubahan di lingkungan sekolah dan masyarakat.

    Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas lulusan, UPY terus menghadirkan berbagai program penguatan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan. Dengan bekal keterampilan, karakter, dan kepemimpinan yang kuat, mahasiswa PPG diharapkan siap menjadi guru masa depan yang mampu mencetak generasi unggul, berkarakter, dan berdaya saing global.

  • Program Pelatihan Digital Gratis — Dicoding Bangun Negeri 2026

    Program Pelatihan Digital Gratis — Dicoding Bangun Negeri 2026

    Program Dicoding Bangun Negeri (DBN) 2026, sebuah program Pelatihan Gratis akses pembelajaran digital yang diselenggarakan oleh Dicoding Indonesia dan diperuntukkan bagi mahasiswa aktif D3, D4, dan S1 di seluruh Indonesia.

    Program ini memberikan akses gratis terhadap 2 kelas dasar dari 14 learning path di bidang teknologi, antara lain AI Engineer, Data Science, Front-End Web, Android, dan Gen AI Engineer. Setiap kelas dilengkapi dengan modul pembelajaran terstruktur, ujian, proyek akhir, serta ulasan dari praktisi industri.

    Mahasiswa yang berminat dapat mendaftarkan diri secara mandiri melalui situs resmi program di www.dicoding.com/dbn menggunakan email institusi, tanpa dipungut biaya pendaftaran.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai program, mahasiswa dan pihak perguruan tinggi dapat menghubungi perwakilan Dicoding Indonesia atas nama Salma Nadhira Danuningrat melalui nomor 0851 8457 5563.

    sumber: https://lldikti5.kemdiktisaintek.go.id/home/detailpost/informasi-program-pelatihan-digital-gratis-dicoding-bangun-negeri-2026

  • Bangun Generasi Kritis dan Berkarakter, Pendidikan Sejarah UPY Gelar Webinar Pedagogi Kreatif

    Bangun Generasi Kritis dan Berkarakter, Pendidikan Sejarah UPY Gelar Webinar Pedagogi Kreatif

    Di tengah tantangan pendidikan abad ke-21 yang semakin dinamis, kreativitas menjadi salah satu kunci penting dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna dan relevan bagi peserta didik. Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menyelenggarakan Webinar Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 secara daring pada Jumat, 8 Mei 2026.

    Kegiatan yang mengusung tema “Pedagogi Kreatif dalam Pembelajaran Sejarah” ini menjadi ruang akademik yang mempertemukan guru, akademisi, mahasiswa, praktisi pendidikan, serta masyarakat umum untuk bersama-sama membahas inovasi pembelajaran sejarah yang lebih kreatif, inspiratif, dan sesuai dengan perkembangan zaman.

    Webinar ini terselenggara melalui kolaborasi antara Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UPY dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) serta Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Jawa Tengah. Kolaborasi tersebut menjadi wujud komitmen bersama dalam memperkuat kualitas pendidikan sejarah melalui sinergi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan komunitas guru.

    Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UPY, Dr. Muhammad Iqbal Birsyada, M.Pd., menyampaikan bahwa pembelajaran sejarah saat ini tidak lagi dapat dilakukan dengan pendekatan konvensional semata. Guru dituntut untuk mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aktif, menarik, dan kontekstual agar peserta didik dapat memahami sejarah secara lebih mendalam.

    “Pembelajaran sejarah memiliki peran strategis dalam membangun kemampuan berpikir kritis, kesadaran sejarah, dan karakter kebangsaan. Oleh karena itu, diperlukan berbagai pendekatan kreatif agar sejarah dapat dipahami sebagai ilmu yang hidup dan relevan dengan kehidupan masa kini,” ujarnya.

    Tema yang diangkat dalam webinar ini dipilih sebagai respons terhadap tantangan pendidikan modern yang menuntut adanya inovasi dalam proses pembelajaran. Sejarah tidak hanya dipandang sebagai rangkaian peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai sarana refleksi untuk memahami masa kini dan merancang masa depan yang lebih baik.

    Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Hal tersebut terlihat dari aktifnya diskusi, sesi tanya jawab, serta pertukaran pengalaman terkait praktik pembelajaran sejarah di berbagai daerah. Kehadiran peserta dari beragam latar belakang turut memperkaya perspektif dan memperluas wawasan mengenai strategi pembelajaran sejarah yang efektif di era digital.

    Selain menjadi forum ilmiah, webinar ini juga menjadi sarana penguatan jejaring akademik dan profesional bagi para pendidik sejarah. Melalui kolaborasi yang terjalin, berbagai gagasan, inovasi, dan praktik baik dalam pembelajaran sejarah dapat disebarluaskan sehingga memberikan dampak yang lebih luas bagi dunia pendidikan.

    Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UPY menegaskan bahwa penyelenggaraan webinar ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan dalam mendukung peningkatan kompetensi akademik dan profesional tenaga pendidik sejarah. Kegiatan semacam ini diharapkan dapat menjadi wadah yang produktif untuk berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas pendidikan.

    Melalui Webinar Hardiknas 2026 ini, diharapkan lahir berbagai gagasan baru serta praktik pembelajaran sejarah yang lebih kreatif, inovatif, dan kontekstual. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan minat generasi muda terhadap sejarah sekaligus memperkuat nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat.

    Sebagai institusi pendidikan yang berkomitmen pada pengembangan keilmuan dan pendidikan karakter, Universitas PGRI Yogyakarta akan terus menghadirkan berbagai kegiatan akademik yang adaptif terhadap kebutuhan zaman. Melalui kontribusi nyata tersebut, UPY berharap dapat terus berperan aktif dalam memajukan pendidikan sejarah dan mencetak generasi muda yang cerdas, kritis, serta memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.

  • Tenang, Kamu Tidak Sendiri: Semangat Menghadapi Ujian Semester

    Tenang, Kamu Tidak Sendiri: Semangat Menghadapi Ujian Semester

    Memasuki akhir semester, suasana kampus biasanya mulai berubah. Perpustakaan menjadi lebih ramai, grup kelas mendadak aktif, dan mahasiswa yang sebelumnya sulit ditemukan kini mulai sering terlihat membawa buku atau laptop ke berbagai sudut kampus.

    Ya, musim ujian semester telah tiba.

    Bagi sebagian mahasiswa, ujian adalah momen untuk membuktikan hasil belajar selama satu semester. Namun bagi sebagian lainnya, ujian juga menjadi waktu yang penuh tantangan, mulai dari mengejar materi yang belum sempat dipelajari, menyelesaikan tugas akhir perkuliahan, hingga berusaha menjaga fokus di tengah godaan rebahan yang semakin kuat.

    Meski demikian, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa setiap mahasiswa pernah berada di titik yang sama: merasa cemas, gugup, bahkan sedikit panik menjelang ujian. Dan kabar baiknya, semua itu adalah hal yang wajar.

    Ujian Bukan Musuh, Tapi Teman Evaluasi

    Ketika mendengar kata “ujian”, tidak sedikit mahasiswa yang langsung membayangkan lembar soal yang panjang, rumus yang tiba-tiba lupa, atau dosen yang memberikan pertanyaan di luar dugaan.

    Padahal, pada hakikatnya ujian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Ujian merupakan salah satu cara untuk mengukur sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap materi yang telah dipelajari selama satu semester.

    Ibarat seorang atlet yang mengikuti pertandingan setelah berlatih berbulan-bulan, mahasiswa juga sedang menunjukkan hasil dari proses belajar yang telah dijalani. Jadi, ujian bukan tentang mencari kesalahan, melainkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik.

    Jangan Bandingkan Proses Belajarmu dengan Orang Lain

    Di masa ujian, media sosial kadang menjadi sumber tekanan tambahan. Ada teman yang mengunggah foto belajar dengan tumpukan buku setinggi gunung. Ada yang sudah selesai membuat rangkuman berwarna-warni. Bahkan ada yang terlihat begitu tenang seolah ujian hanyalah formalitas.

    Tenang saja.

    Setiap mahasiswa memiliki cara belajar yang berbeda. Ada yang nyaman belajar sendiri, ada yang lebih memahami materi melalui diskusi kelompok, dan ada juga yang membutuhkan suasana tenang di perpustakaan atau kedai kopi.

    Yang terpenting bukan seberapa mirip proses belajar kita dengan orang lain, tetapi seberapa konsisten kita mempersiapkan diri.

    Istirahat Juga Bagian dari Strategi Belajar

    Salah satu kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa menjelang ujian adalah memaksakan diri belajar tanpa jeda. Akibatnya, tubuh menjadi lelah dan konsentrasi menurun.

    Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa otak membutuhkan waktu istirahat untuk memproses informasi dengan lebih baik. Tidur yang cukup, makan teratur, dan menjaga kesehatan fisik justru dapat membantu meningkatkan performa saat ujian.

    Jadi, jika hari ini Anda memilih tidur lebih awal dibandingkan memaksakan membaca satu bab tambahan, itu bukan berarti malas. Bisa jadi itu adalah strategi belajar yang lebih cerdas.

    Tentang Sistem Kebut Semalam

    Mari jujur sejenak.

    Setiap kampus pasti memiliki kelompok mahasiswa yang sangat percaya pada kekuatan “Sistem Kebut Semalam” atau yang lebih dikenal dengan singkatan legendaris: SKS.

    Mereka biasanya baru membuka seluruh materi ketika kalender menunjukkan bahwa ujian tinggal beberapa jam lagi.

    Meski terkadang strategi ini menghasilkan cerita sukses yang menarik untuk dibagikan kepada teman-teman, para ahli pendidikan sepakat bahwa belajar secara bertahap jauh lebih efektif dibandingkan menghafal banyak materi dalam waktu singkat.

    Jadi, jika masih ada waktu, mulailah belajar dari sekarang. Jangan menunggu sampai kopi ketiga dan rasa panik datang bersamaan.

    Nilai Penting, Tapi Proses Lebih Penting

    Setiap mahasiswa tentu menginginkan hasil terbaik. Namun, perlu dipahami bahwa nilai bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

    Proses belajar yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, kemampuan mengelola waktu, disiplin, serta keberanian menghadapi tantangan juga merupakan bagian penting dari perjalanan pendidikan.

    Tidak ada mahasiswa yang sempurna. Ada kalanya hasil sesuai harapan, ada pula saat hasil belum maksimal. Yang terpenting adalah terus belajar, memperbaiki diri, dan tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan.

    Tetap Semangat, Pejuang Semester!

    Ujian semester memang dapat membuat suasana hati naik turun. Hari ini merasa percaya diri, besok tiba-tiba lupa materi yang kemarin sudah dipahami. Semua itu merupakan bagian dari perjalanan yang hampir dialami setiap mahasiswa.

    Universitas PGRI Yogyakarta mengajak seluruh mahasiswa untuk menghadapi ujian dengan penuh semangat, optimisme, dan persiapan yang matang. Percayalah bahwa setiap usaha yang dilakukan hari ini akan memberikan hasil yang berharga di masa depan.

    Jadi, tarik napas, siapkan catatan, buka kembali materi kuliah, dan hadapi ujian dengan percaya diri.

    Karena pada akhirnya, semester boleh berganti, soal boleh berbeda, tetapi semangat mahasiswa untuk terus belajar dan berkembang harus tetap menyala.

    Selamat menempuh ujian semester. Semoga lancar, dimudahkan, dan mendapatkan hasil terbaik sesuai usaha yang telah dilakukan.

  • Minggu Tenang Sebelum Ujian, Ehh… Hati Malah Deg-degan. Apakah Ini Jatuh Cinta?

    Minggu Tenang Sebelum Ujian, Ehh… Hati Malah Deg-degan. Apakah Ini Jatuh Cinta?

    Minggu tenang sebelum ujian akhirnya tiba. Jadwal kuliah mulai berkurang, tugas sudah mulai dikumpulkan, dan suasana kampus perlahan terasa lebih lengang dari biasanya. Namun anehnya, di tengah kondisi yang seharusnya lebih santai, justru banyak mahasiswa yang merasakan satu hal yang sama: hati mulai berdebar-debar tanpa sebab yang jelas.

    “Minggu tenang sebelum ujian, ehh… hati malah deg-degan. Apakah ini jatuh cinta?”

    Tunggu dulu. Sebelum buru-buru menyusun playlist lagu galau atau mencari tahu siapa yang diam-diam membuat jantung berdebar, ada kemungkinan besar penyebabnya bukan karena cinta, melainkan karena jadwal ujian akhir semester yang sudah semakin dekat.

    Fenomena ini hampir selalu muncul setiap akhir semester. Buku-buku yang sebelumnya tersimpan rapi di rak mendadak dicari. Slide perkuliahan yang sempat dianggap “nanti saja dibaca” tiba-tiba menjadi prioritas utama. Bahkan grup kelas yang biasanya hanya berisi informasi absensi mendadak berubah menjadi pusat diskusi akademik darurat.

    Minggu tenang memang memiliki nama yang menenangkan, tetapi bagi sebagian mahasiswa, periode ini justru menjadi masa paling menegangkan. Di satu sisi ada keinginan untuk beristirahat setelah menjalani satu semester penuh aktivitas akademik. Di sisi lain, ada kesadaran bahwa ujian sudah tinggal menghitung hari.

    Namun, di balik rasa cemas tersebut, ada satu hal yang perlu diingat. Deg-degan menjelang ujian adalah hal yang wajar. Itu merupakan tanda bahwa mahasiswa peduli terhadap proses belajar dan ingin memberikan hasil terbaik. Yang terpenting bukan menghilangkan rasa gugup sepenuhnya, melainkan mengelolanya menjadi energi positif untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik.

    Ketika Kalender Akademik Menjadi Pengingat Realitas

    Bagi sebagian mahasiswa, Minggu Tenang adalah kesempatan emas untuk menyusun strategi menghadapi ujian. Ada yang mulai membuat jadwal belajar, merangkum materi, hingga berdiskusi dengan teman-teman sekelas.

    Namun, ada juga tipe mahasiswa yang baru tersadar setelah melihat unggahan teman di media sosial yang sedang belajar di perpustakaan.

    “Wah, ternyata minggu depan sudah UAS?”

    Fenomena ini mungkin terdengar lucu, tetapi cukup umum terjadi. Kesibukan organisasi, kegiatan kampus, pekerjaan paruh waktu, hingga berbagai aktivitas lainnya sering membuat mahasiswa lupa bahwa semester berjalan lebih cepat daripada perkiraan.

    Beragam Tipe Mahasiswa Saat Minggu Tenang

    Menjelang ujian, biasanya muncul berbagai karakter mahasiswa yang cukup mudah dikenali.

    Pertama, ada tim persiapan jauh hari. Mereka sudah memiliki catatan lengkap, rangkuman warna-warni, dan jadwal belajar yang tertata rapi. Ketika ditanya sudah belajar atau belum, jawabannya sering membuat teman-temannya semakin panik.

    “Lumayan, tinggal review sedikit.”

    Kedua, ada tim belajar kelompok. Niat awalnya belajar bersama, tetapi dalam praktiknya bisa berubah menjadi sesi berbagi cerita, membahas makanan favorit, hingga merencanakan liburan setelah ujian.

    Ketiga, ada tim sistem kebut semalam (SKS). Mereka percaya bahwa kemampuan otak manusia dapat bekerja sangat maksimal ketika waktu tersisa kurang dari 24 jam sebelum ujian. Walaupun metode ini sering berhasil dalam cerita, para ahli pendidikan sebenarnya tidak merekomendasikannya sebagai strategi belajar yang ideal.

    Deg-degan Itu Wajar

    Perasaan cemas menjelang ujian merupakan hal yang normal. Menurut berbagai penelitian di bidang psikologi pendidikan, tingkat kecemasan yang moderat justru dapat membantu seseorang menjadi lebih fokus dan termotivasi untuk belajar.

    Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengelola kecemasan tersebut agar tidak berubah menjadi stres berlebihan. Salah satu cara yang efektif adalah dengan membuat perencanaan belajar yang realistis, menjaga pola tidur, mengonsumsi makanan bergizi, serta tetap meluangkan waktu untuk beristirahat.

    Belajar selama delapan jam tanpa jeda belum tentu lebih efektif dibandingkan belajar secara teratur dengan waktu yang terstruktur. Tubuh dan pikiran juga membutuhkan waktu untuk memproses informasi dengan baik.

    Ujian Bukan Hanya Tentang Nilai

    Dalam dunia pendidikan tinggi, ujian memang menjadi salah satu alat untuk mengukur pemahaman mahasiswa terhadap materi yang telah dipelajari. Namun, lebih dari itu, ujian juga melatih berbagai keterampilan penting seperti disiplin, manajemen waktu, tanggung jawab, serta kemampuan menghadapi tekanan.

    Tidak semua hasil ujian akan selalu sempurna. Yang terpenting adalah proses belajar yang dijalani dengan sungguh-sungguh dan kemauan untuk terus berkembang. Nilai yang baik tentu membanggakan, tetapi pengalaman belajar yang bermakna akan memberikan manfaat jauh lebih panjang dalam kehidupan.

    Tetap Semangat dan Jaga Kesehatan

    Minggu Tenang seharusnya menjadi waktu untuk mempersiapkan diri, bukan menambah kepanikan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memanfaatkan waktu ini dengan bijak. Mulailah belajar secara bertahap, kurangi distraksi yang tidak perlu, dan jangan lupa menjaga kesehatan fisik maupun mental.

    Universitas PGRI Yogyakarta mengajak seluruh mahasiswa untuk menghadapi masa ujian dengan optimisme, persiapan yang matang, dan semangat belajar yang tinggi. Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak materi yang dihafal, tetapi juga oleh konsistensi, usaha, dan ketekunan dalam proses belajar.

    Dan jika saat ini Anda sedang memasuki Minggu Tenang sambil merasakan jantung berdebar lebih cepat dari biasanya, tenang saja. Kemungkinan besar Anda tidak sendirian. Hampir seluruh mahasiswa di berbagai penjuru kampus sedang merasakan hal yang sama.

    Selamat menjalani Minggu Tenang. Semoga tenang jadwalnya, tenang pikirannya, dan tentu saja… lancar ujianya!

  • Bertambah Lagi, Dosen Bergelar Doktor Perkuat Kualitas Akademik UPY

    Bertambah Lagi, Dosen Bergelar Doktor Perkuat Kualitas Akademik UPY

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menorehkan capaian membanggakan dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kali ini, keluarga besar UPY menyambut bertambahnya dosen bergelar doktor melalui keberhasilan Dr. Hermawan Wahyu Setiadi, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dalam meraih gelar doktor.

    Pencapaian ini menjadi kabar menggembirakan sekaligus menambah deretan akademisi bergelar doktor di lingkungan Universitas PGRI Yogyakarta. Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen institusi dalam memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

    Gelar doktor yang diraih Dr. Hermawan Wahyu Setiadi menjadi bukti dedikasi, kerja keras, dan semangat belajar yang terus dijaga di tengah berbagai tanggung jawab sebagai pendidik. Capaian ini sekaligus memperkuat kapasitas akademik Program Studi PGSD FKIP UPY dalam mencetak calon guru sekolah dasar yang profesional, inovatif, dan berdaya saing.

    Rektor UPY, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P., menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat atas pencapaian tersebut. Menurutnya, peningkatan kualifikasi akademik dosen merupakan bagian penting dalam mendukung transformasi perguruan tinggi yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

    “Kami mengucapkan selamat dan turut berbangga atas capaian Dr. Hermawan Wahyu Setiadi, M.Pd. yang berhasil meraih gelar doktor. Prestasi ini menjadi motivasi bagi seluruh dosen untuk terus meningkatkan kompetensi dan kapasitas akademiknya. Kehadiran dosen bergelar doktor tentu akan semakin memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat di Universitas PGRI Yogyakarta,” ujar Prof. Paiman.

    Sebagai salah satu program studi yang memiliki peran strategis dalam mencetak calon pendidik sekolah dasar, PGSD FKIP UPY terus berupaya meningkatkan mutu akademik melalui penguatan sumber daya manusia. Bertambahnya dosen bergelar doktor di lingkungan program studi diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kurikulum, inovasi pembelajaran, serta peningkatan kualitas riset pendidikan dasar.

    Lebih dari sekadar capaian akademik, keberhasilan ini juga mencerminkan budaya ilmiah yang terus tumbuh di lingkungan UPY. Semangat untuk terus belajar, meneliti, dan berkarya menjadi fondasi penting dalam mewujudkan perguruan tinggi yang unggul, profesional, dan berdampak bagi masyarakat.

    Kehadiran Dr. Hermawan Wahyu Setiadi sebagai dosen bergelar doktor diharapkan dapat semakin memperkuat atmosfer akademik di Program Studi PGSD FKIP UPY. Selain mendukung peningkatan kualitas pembelajaran, pengalaman dan keilmuan yang dimiliki juga diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa untuk terus berprestasi dan mengembangkan potensi terbaiknya.

    Universitas PGRI Yogyakarta terus berkomitmen mendorong peningkatan kompetensi dosen melalui berbagai program pengembangan akademik. Dengan semakin bertambahnya dosen berkualifikasi doktor, UPY optimistis dapat terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan serta menghasilkan lulusan yang unggul, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

    Selamat dan sukses kepada Dr. Hermawan Wahyu Setiadi, M.Pd. atas pencapaian gelar doktor. Semoga ilmu dan dedikasi yang dimiliki senantiasa membawa manfaat yang luas bagi dunia pendidikan, kemajuan Program Studi PGSD FKIP UPY, serta masyarakat Indonesia.

  • “Daftar Nama Calon Wisudawan/Wisudawati Periode III (Offline 27 Juni 2026) Tahun Akademik 2025/2026”

    “Daftar Nama Calon Wisudawan/Wisudawati Periode III (Offline 27 Juni 2026) Tahun Akademik 2025/2026”

    Berikut adalah Daftar Nama Calon Wisudawan/Wisudawati Periode III (Offline 27 Juni 2026) Tahun Akademik 2025/2026. Silahkan unduh dokumen di sini

  • Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H: Saatnya Berbenah Diri, Menebar Kebaikan, dan Meraih Keberkahan

    Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H: Saatnya Berbenah Diri, Menebar Kebaikan, dan Meraih Keberkahan

    Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar perubahan angka dan penanda waktu. Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang diperingati pada 16 Juni 2026 menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan refleksi diri, memperkuat keimanan, serta memperbarui semangat dalam menjalani kehidupan yang lebih baik.

    “Saatnya Berbenah Diri, Menebar Kebaikan, dan Meraih Keberkahan”, peringatan Tahun Baru Islam mengajak setiap individu untuk menjadikan hijrah sebagai inspirasi dalam meningkatkan kualitas diri, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun profesional. Semangat hijrah yang diwariskan oleh Rasulullah SAW bukan hanya perpindahan secara fisik, melainkan perubahan menuju pribadi yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada nilai-nilai kebaikan.

    Muharram: Bulan Mulia yang Penuh Makna

    Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Kehadirannya menjadi awal perjalanan baru dalam kalender Hijriah sekaligus kesempatan bagi umat Muslim untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan hidup yang telah dilalui.

    Momentum pergantian tahun ini mengingatkan bahwa waktu terus berjalan dan setiap manusia diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Apa yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya menjadi bahan refleksi, sementara tahun yang baru menjadi ruang untuk menata harapan, memperbaiki kekurangan, dan memperkuat komitmen dalam menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

    Bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh sivitas akademika, semangat Tahun Baru Islam dapat dimaknai sebagai dorongan untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi terbaik bagi lingkungan sekitar.

    Saatnya Berbenah Diri

    Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, berbenah diri menjadi langkah penting yang perlu dilakukan setiap individu. Berbenah tidak selalu berarti melakukan perubahan besar, tetapi dimulai dari hal-hal sederhana seperti memperbaiki kebiasaan, meningkatkan disiplin, menjaga integritas, dan memperkuat hubungan dengan sesama.

    Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, momen Tahun Baru Islam dapat menjadi kesempatan untuk menyusun kembali tujuan hidup, meningkatkan semangat belajar, memperluas wawasan, serta mengembangkan karakter yang kuat dan berakhlak mulia.

    Dalam dunia pendidikan, keberhasilan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan membangun sikap tanggung jawab, kepedulian sosial, dan semangat untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

    Menebar Kebaikan di Tengah Masyarakat

    Nilai penting lainnya yang terkandung dalam peringatan 1 Muharram adalah semangat untuk menebar kebaikan. Kebaikan tidak selalu diwujudkan dalam tindakan besar. Senyuman, kepedulian kepada sesama, membantu teman yang kesulitan, menjaga lingkungan, hingga berbagi ilmu pengetahuan merupakan bentuk-bentuk kebaikan yang memiliki dampak positif bagi kehidupan.

    Di era digital saat ini, menebar kebaikan juga dapat dilakukan melalui pemanfaatan media sosial secara bijak. Generasi muda memiliki peran besar dalam menciptakan ruang digital yang sehat dengan menyebarkan informasi yang bermanfaat, menghindari ujaran kebencian, serta membangun komunikasi yang santun dan produktif.

    Semangat berbagi dan peduli terhadap sesama menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang harmonis, inklusif, dan penuh toleransi.

    Meraih Keberkahan dalam Kehidupan

    Keberkahan tidak selalu diukur dari banyaknya harta atau pencapaian yang dimiliki. Dalam makna yang lebih luas, keberkahan hadir ketika kehidupan dijalani dengan penuh rasa syukur, keikhlasan, dan manfaat bagi orang lain.

    Melalui semangat Tahun Baru Islam, setiap individu diajak untuk memperkuat nilai-nilai kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan kepedulian sosial sebagai bekal dalam meraih keberkahan hidup. Ketika ilmu yang dimiliki digunakan untuk kebaikan, pekerjaan dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan hubungan dengan sesama dijaga dengan baik, maka keberkahan akan tumbuh dalam berbagai aspek kehidupan.

    Momentum Hijrah Menuju Masa Depan yang Lebih Baik

    Universitas PGRI Yogyakarta memaknai Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H sebagai momentum untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, karakter, dan kebersamaan dalam lingkungan akademik. Sebagai institusi pendidikan tinggi, UPY terus berkomitmen membentuk generasi yang unggul, berintegritas, berwawasan global, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.

    Tahun Baru Islam bukan hanya tentang memulai lembaran baru, tetapi juga tentang keberanian untuk berubah menjadi lebih baik dari hari kemarin. Semangat hijrah harus terus hidup dalam diri setiap insan untuk menghadapi tantangan zaman dengan optimisme, keteguhan hati, dan semangat berkarya.

  • Melalui Pengabdian Masyarakat, Dosen PBI UPY Dorong Pembelajaran Bahasa Inggris yang Interaktif

    Melalui Pengabdian Masyarakat, Dosen PBI UPY Dorong Pembelajaran Bahasa Inggris yang Interaktif

    Komitmen Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan terus diwujudkan melalui berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut ditunjukkan oleh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMA Negeri 1 Imogiri pada 16 April 2026.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, yang bertujuan memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Inggris di tingkat sekolah menengah. Melalui pendekatan yang interaktif dan kontekstual, para dosen berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik, efektif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik di era global.

    Mengusung tema peningkatan kompetensi bahasa Inggris bagi siswa dan guru, kegiatan ini menghadirkan berbagai sesi pelatihan dan pendampingan yang dirancang untuk memperkuat kemampuan berbahasa sekaligus memperkaya metode pembelajaran di sekolah. Materi yang diberikan mencakup strategi pembelajaran bahasa Inggris yang komunikatif, pemanfaatan media pembelajaran berbasis teknologi, serta penguatan keterampilan listening dan speaking yang menjadi kompetensi penting dalam komunikasi global.

    Tidak hanya berfokus pada teori, kegiatan ini juga menghadirkan sesi praktik langsung yang mendorong siswa untuk lebih aktif menggunakan bahasa Inggris dalam berbagai situasi sehari-hari. Melalui aktivitas yang interaktif dan partisipatif, siswa diajak untuk membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa mereka secara alami.

    Sementara itu, para guru mendapatkan wawasan baru mengenai berbagai pendekatan pembelajaran yang inovatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian khusus, mengingat pentingnya integrasi teknologi dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif dan menarik bagi generasi saat ini.

    Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Baik siswa maupun guru menunjukkan partisipasi aktif selama pelatihan berlangsung. Interaksi yang terjalin antara dosen dan peserta menciptakan ruang belajar yang kolaboratif, di mana berbagai pengalaman dan gagasan dapat saling dipertukarkan untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran.

    Kepala SMA Negeri 1 Imogiri menyampaikan apresiasi atas kontribusi yang diberikan oleh tim dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UPY. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat dalam mendukung pengembangan kompetensi guru dan siswa sekaligus membuka wawasan baru mengenai strategi pembelajaran bahasa Inggris yang lebih inovatif.

    “Kami sangat mengapresiasi kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh Universitas PGRI Yogyakarta. Materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan sekolah saat ini dan memberikan manfaat nyata bagi guru maupun siswa. Kami berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut di masa mendatang,” ungkapnya.

    Melalui kegiatan pengabdian ini, Universitas PGRI Yogyakarta kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik di lingkungan kampus, tetapi juga hadir untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem pendidikan yang saling mendukung dan berkelanjutan.

    Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya dalam penguasaan bahasa Inggris yang semakin penting di era globalisasi. Dengan pembelajaran yang inovatif, interaktif, dan relevan dengan perkembangan zaman, diharapkan lahir generasi muda yang lebih siap menghadapi tantangan dunia global serta mampu berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional.

  • Jangan Mudah Terpecah Belah: Tantangan Mahasiswa dan Generasi Muda di Era Digital

    Jangan Mudah Terpecah Belah: Tantangan Mahasiswa dan Generasi Muda di Era Digital

    Hidup di era digital memberikan banyak kemudahan bagi generasi muda. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, komunikasi menjadi lebih cepat, dan berbagai peluang belajar terbuka tanpa batas. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat tantangan besar yang perlu dihadapi bersama, yaitu meningkatnya potensi perpecahan akibat informasi yang tidak terverifikasi, polarisasi opini, dan penggunaan media sosial yang kurang bijak.

    Mahasiswa sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan memiliki peran penting dalam menjaga persatuan, memperkuat literasi digital, serta menjadi teladan dalam membangun ruang diskusi yang sehat dan konstruktif. Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda dituntut tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi individu yang mampu berpikir kritis dan bertanggung jawab.

    Ketika Informasi Bergerak Lebih Cepat daripada Verifikasi

    Media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi. Berita, opini, foto, hingga video dapat tersebar luas hanya dalam beberapa menit. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar memiliki sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Fenomena hoaks, disinformasi, dan potongan informasi yang keluar dari konteks sering kali menjadi pemicu kesalahpahaman di tengah masyarakat. Tidak jarang seseorang langsung membagikan sebuah informasi hanya karena judulnya menarik atau sesuai dengan pandangannya, tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenarannya.

    Akibatnya, media sosial yang seharusnya menjadi sarana berbagi pengetahuan justru dapat menjadi ruang yang memicu konflik, perdebatan tidak sehat, bahkan perpecahan.

    Mahasiswa Harus Menjadi Agen Pemersatu

    Sebagai insan akademik, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk mengedepankan rasionalitas dan fakta dalam setiap diskusi. Kampus merupakan ruang yang mempertemukan individu dari berbagai latar belakang suku, agama, budaya, daerah, dan pandangan. Perbedaan tersebut bukanlah ancaman, melainkan kekayaan yang dapat memperluas wawasan dan memperkuat persatuan.

    Dalam kehidupan akademik, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Justru melalui perbedaan itulah lahir gagasan baru, inovasi, dan solusi terhadap berbagai persoalan. Yang perlu dihindari adalah sikap merasa paling benar, menolak mendengarkan orang lain, atau menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjatuhkan.

    Mahasiswa yang matang bukanlah mereka yang selalu menang dalam perdebatan, melainkan mereka yang mampu berdialog dengan santun, menghargai perbedaan, dan mencari titik temu demi kebaikan bersama.

    Media Sosial Boleh Bebas, Tetapi Tetap Harus Bertanggung Jawab

    Kebebasan berekspresi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut harus diiringi dengan tanggung jawab. Apa yang ditulis, dibagikan, atau dikomentari di media sosial dapat memberikan dampak yang luas, baik positif maupun negatif.

    Generasi muda perlu memahami bahwa jejak digital tidak mudah hilang. Sebuah unggahan yang dibuat dalam hitungan detik bisa bertahan selama bertahun-tahun dan memengaruhi reputasi seseorang.

    Oleh karena itu, sebelum membagikan suatu informasi, penting untuk bertanya kepada diri sendiri:

    • Apakah informasi ini benar?
    • Apakah sumbernya dapat dipercaya?
    • Apakah unggahan ini bermanfaat?
    • Apakah tulisan ini dapat menyakiti atau memicu konflik?

    Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan budaya digital yang lebih sehat.

    Menjaga Persatuan di Tengah Perbedaan

    Indonesia adalah negara yang dibangun di atas keberagaman. Lebih dari 17.000 pulau, ratusan suku bangsa, bahasa daerah, dan berbagai agama hidup berdampingan dalam satu identitas sebagai bangsa Indonesia.

    Keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang harus dijaga bersama. Di era digital, menjaga persatuan tidak lagi hanya dilakukan di ruang fisik, tetapi juga di ruang virtual. Menghormati perbedaan pendapat, menghindari ujaran kebencian, serta mengedepankan dialog yang konstruktif merupakan bentuk nyata kontribusi generasi muda dalam menjaga keutuhan bangsa.

    Perbedaan pilihan, pandangan, maupun latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling membenci. Justru melalui keberagaman itulah masyarakat dapat belajar memahami perspektif yang berbeda dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.

    Menjadi Generasi yang Cerdas, Kritis, dan Bijaksana

    Di tengah derasnya arus informasi, mahasiswa dan generasi muda memiliki posisi strategis sebagai penggerak perubahan. Kecerdasan tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga dari kemampuan menyaring informasi, mengelola emosi, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

    Kemajuan teknologi akan terus berkembang. Media sosial akan terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, nilai-nilai persatuan, toleransi, dan gotong royong harus tetap menjadi pegangan utama dalam menghadapi berbagai perubahan zaman.

    Universitas PGRI Yogyakarta mengajak seluruh mahasiswa dan generasi muda untuk menjadi pengguna media digital yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Mari bersama-sama menjaga ruang digital yang sehat, menghormati perbedaan, serta memperkuat semangat persatuan demi masa depan Indonesia yang lebih harmonis dan berdaya saing.

    Karena pada akhirnya, bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang bebas dari perbedaan, melainkan bangsa yang mampu bersatu dan bertumbuh di tengah keberagaman. Jangan mudah terpecah belah, karena masa depan Indonesia ada di tangan generasi mudanya.