Author: Administrator

  • Jangan Mudah Terpecah Belah: Tantangan Mahasiswa dan Generasi Muda di Era Digital

    Jangan Mudah Terpecah Belah: Tantangan Mahasiswa dan Generasi Muda di Era Digital

    Hidup di era digital memberikan banyak kemudahan bagi generasi muda. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, komunikasi menjadi lebih cepat, dan berbagai peluang belajar terbuka tanpa batas. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat tantangan besar yang perlu dihadapi bersama, yaitu meningkatnya potensi perpecahan akibat informasi yang tidak terverifikasi, polarisasi opini, dan penggunaan media sosial yang kurang bijak.

    Mahasiswa sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan memiliki peran penting dalam menjaga persatuan, memperkuat literasi digital, serta menjadi teladan dalam membangun ruang diskusi yang sehat dan konstruktif. Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda dituntut tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi individu yang mampu berpikir kritis dan bertanggung jawab.

    Ketika Informasi Bergerak Lebih Cepat daripada Verifikasi

    Media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi. Berita, opini, foto, hingga video dapat tersebar luas hanya dalam beberapa menit. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar memiliki sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Fenomena hoaks, disinformasi, dan potongan informasi yang keluar dari konteks sering kali menjadi pemicu kesalahpahaman di tengah masyarakat. Tidak jarang seseorang langsung membagikan sebuah informasi hanya karena judulnya menarik atau sesuai dengan pandangannya, tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenarannya.

    Akibatnya, media sosial yang seharusnya menjadi sarana berbagi pengetahuan justru dapat menjadi ruang yang memicu konflik, perdebatan tidak sehat, bahkan perpecahan.

    Mahasiswa Harus Menjadi Agen Pemersatu

    Sebagai insan akademik, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk mengedepankan rasionalitas dan fakta dalam setiap diskusi. Kampus merupakan ruang yang mempertemukan individu dari berbagai latar belakang suku, agama, budaya, daerah, dan pandangan. Perbedaan tersebut bukanlah ancaman, melainkan kekayaan yang dapat memperluas wawasan dan memperkuat persatuan.

    Dalam kehidupan akademik, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Justru melalui perbedaan itulah lahir gagasan baru, inovasi, dan solusi terhadap berbagai persoalan. Yang perlu dihindari adalah sikap merasa paling benar, menolak mendengarkan orang lain, atau menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjatuhkan.

    Mahasiswa yang matang bukanlah mereka yang selalu menang dalam perdebatan, melainkan mereka yang mampu berdialog dengan santun, menghargai perbedaan, dan mencari titik temu demi kebaikan bersama.

    Media Sosial Boleh Bebas, Tetapi Tetap Harus Bertanggung Jawab

    Kebebasan berekspresi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut harus diiringi dengan tanggung jawab. Apa yang ditulis, dibagikan, atau dikomentari di media sosial dapat memberikan dampak yang luas, baik positif maupun negatif.

    Generasi muda perlu memahami bahwa jejak digital tidak mudah hilang. Sebuah unggahan yang dibuat dalam hitungan detik bisa bertahan selama bertahun-tahun dan memengaruhi reputasi seseorang.

    Oleh karena itu, sebelum membagikan suatu informasi, penting untuk bertanya kepada diri sendiri:

    • Apakah informasi ini benar?
    • Apakah sumbernya dapat dipercaya?
    • Apakah unggahan ini bermanfaat?
    • Apakah tulisan ini dapat menyakiti atau memicu konflik?

    Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan budaya digital yang lebih sehat.

    Menjaga Persatuan di Tengah Perbedaan

    Indonesia adalah negara yang dibangun di atas keberagaman. Lebih dari 17.000 pulau, ratusan suku bangsa, bahasa daerah, dan berbagai agama hidup berdampingan dalam satu identitas sebagai bangsa Indonesia.

    Keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang harus dijaga bersama. Di era digital, menjaga persatuan tidak lagi hanya dilakukan di ruang fisik, tetapi juga di ruang virtual. Menghormati perbedaan pendapat, menghindari ujaran kebencian, serta mengedepankan dialog yang konstruktif merupakan bentuk nyata kontribusi generasi muda dalam menjaga keutuhan bangsa.

    Perbedaan pilihan, pandangan, maupun latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling membenci. Justru melalui keberagaman itulah masyarakat dapat belajar memahami perspektif yang berbeda dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.

    Menjadi Generasi yang Cerdas, Kritis, dan Bijaksana

    Di tengah derasnya arus informasi, mahasiswa dan generasi muda memiliki posisi strategis sebagai penggerak perubahan. Kecerdasan tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga dari kemampuan menyaring informasi, mengelola emosi, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

    Kemajuan teknologi akan terus berkembang. Media sosial akan terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, nilai-nilai persatuan, toleransi, dan gotong royong harus tetap menjadi pegangan utama dalam menghadapi berbagai perubahan zaman.

    Universitas PGRI Yogyakarta mengajak seluruh mahasiswa dan generasi muda untuk menjadi pengguna media digital yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Mari bersama-sama menjaga ruang digital yang sehat, menghormati perbedaan, serta memperkuat semangat persatuan demi masa depan Indonesia yang lebih harmonis dan berdaya saing.

    Karena pada akhirnya, bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang bebas dari perbedaan, melainkan bangsa yang mampu bersatu dan bertumbuh di tengah keberagaman. Jangan mudah terpecah belah, karena masa depan Indonesia ada di tangan generasi mudanya.

  • PPG FKIP UPY Gelar Workshop Anti Bullying, Perkuat Peran Calon Guru dalam Mewujudkan Sekolah Aman dan Ramah Peserta Didik

    PPG FKIP UPY Gelar Workshop Anti Bullying, Perkuat Peran Calon Guru dalam Mewujudkan Sekolah Aman dan Ramah Peserta Didik

    Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menegaskan komitmennya dalam menyiapkan calon guru yang profesional, berkarakter, dan peduli terhadap perlindungan peserta didik melalui penyelenggaraan Workshop Anti Bullying, Kesehatan Mental, serta Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan.

    Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 23 Mei 2026, di Hotel Galery Prawirotaman Yogyakarta ini diikuti oleh berbagai unsur civitas akademika PPG FKIP UPY, mulai dari pimpinan universitas, pengelola program PPG, dosen, guru pamong, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa PPG Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026.

    Workshop ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan pemahaman calon guru dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu perundungan, kesehatan mental, dan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, guru dituntut tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan pedagogik, tetapi juga kepekaan sosial serta kemampuan dalam memberikan perlindungan kepada peserta didik.

    Dalam sambutannya, pihak penyelenggara menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi setiap anak untuk belajar, berkembang, dan mengekspresikan potensinya tanpa rasa takut. Oleh karena itu, pendidikan profesi guru perlu membekali calon pendidik dengan pemahaman yang komprehensif mengenai berbagai tantangan yang dihadapi peserta didik di era saat ini.

    Workshop menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya. Materi pertama bertajuk “Kampanye Anti Bullying dan Kesehatan Mental” disampaikan oleh Diana Septi Purnama, M.Pd., Ph.D., Kepala Unit Layanan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam paparannya, Diana menjelaskan pentingnya membangun budaya sekolah yang sehat, inklusif, dan mendukung kesejahteraan psikologis peserta didik.

    Ia menekankan bahwa kesehatan mental menjadi salah satu aspek penting dalam proses pendidikan. Guru diharapkan mampu mengenali tanda-tanda awal permasalahan psikologis pada peserta didik serta menciptakan iklim pembelajaran yang mendorong rasa aman, penghargaan, dan empati.

    Sementara itu, materi kedua bertajuk “Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan” disampaikan oleh Febria Gupita, S.H., M.H., Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Universitas PGRI Yogyakarta. Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai bentuk-bentuk kekerasan seksual, mekanisme pencegahan, prosedur penanganan kasus, serta pentingnya membangun budaya kampus dan sekolah yang bebas dari kekerasan.

    Kedua materi tersebut saling melengkapi dalam membangun kompetensi calon guru. Jika sesi pertama memperkuat aspek psikologis dan kesejahteraan peserta didik, sesi kedua memberikan pemahaman mengenai perlindungan hak-hak peserta didik serta langkah-langkah preventif dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bermartabat.

    Peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi yang berlangsung. Diskusi interaktif yang terbangun menunjukkan tingginya kepedulian calon guru terhadap berbagai isu yang berkembang di dunia pendidikan. Berbagai pertanyaan dan studi kasus yang dibahas menjadi ruang refleksi sekaligus pembelajaran nyata bagi peserta dalam menghadapi tantangan di lapangan nantinya.

    Selain sesi workshop, kegiatan juga dimanfaatkan sebagai forum koordinasi internal Program PPG FKIP UPY. Setelah penyampaian materi, agenda dilanjutkan dengan koordinasi pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) Semester 1 serta pembahasan berbagai program kemahasiswaan yang akan dilaksanakan dalam waktu mendatang.

    Melalui kegiatan ini, PPG FKIP UPY berharap para calon guru memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menjalankan peran sebagai pendidik sekaligus pelindung peserta didik. Guru masa depan tidak hanya dituntut menguasai materi pembelajaran, tetapi juga mampu membangun lingkungan pendidikan yang sehat, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan peserta didik.

    Workshop ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Universitas PGRI Yogyakarta dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan melalui penguatan karakter dan kompetensi calon guru. Dengan pemahaman yang kuat mengenai anti bullying, kesehatan mental, serta pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, diharapkan lahir generasi pendidik yang mampu menghadirkan sekolah sebagai ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan membahagiakan bagi seluruh peserta didik.

  • Sekolah Cagar Budaya HMPS Pendidikan Sejarah UPY: Belajar Melestarikan Warisan Bangsa dari Situs Dawangsari

    Sekolah Cagar Budaya HMPS Pendidikan Sejarah UPY: Belajar Melestarikan Warisan Bangsa dari Situs Dawangsari

    Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi sejarah sekaligus menumbuhkan kesadaran pelestarian budaya di kalangan generasi muda. Melalui kegiatan bertajuk Sekolah Cagar Budaya, mahasiswa diajak untuk belajar langsung mengenai pentingnya konservasi warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa.

    Kegiatan yang diselenggarakan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X tersebut berlangsung pada Senin, 20 April 2026, di Situs Dawangsari, salah satu kawasan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah penting di Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Diinisiasi oleh Divisi Literasi, Sejarah, dan Humaniora (LSH) HMPS Pendidikan Sejarah UPY, kegiatan ini mengangkat tema “Pembelajaran Konservasi Cagar Budaya”. Tema tersebut dipilih untuk memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif melalui interaksi langsung dengan situs bersejarah dan para praktisi pelestarian budaya.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran cagar budaya sebagai sumber pembelajaran sejarah sekaligus warisan yang harus dijaga keberlangsungannya. Peserta diajak memahami berbagai aspek konservasi, mulai dari pengenalan nilai penting situs, teknik dasar pelestarian, hingga strategi perlindungan cagar budaya yang berkelanjutan.

    Suasana pembelajaran berlangsung dinamis karena mahasiswa tidak hanya mendengarkan pemaparan materi, tetapi juga terlibat dalam diskusi dan observasi lapangan. Pendampingan langsung dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X memberikan kesempatan bagi peserta untuk memahami tantangan dan praktik nyata dalam pengelolaan serta perlindungan cagar budaya.

    Sebagai bentuk implementasi nilai-nilai konservasi, kegiatan ini juga diisi dengan aksi penanaman bibit pohon di kawasan Situs Dawangsari. Kegiatan tersebut menjadi simbol sekaligus tindakan nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di sekitar situs bersejarah.

    Penanaman pohon dipandang sebagai bagian penting dari upaya pelestarian yang holistik. Sebab, menjaga warisan budaya tidak hanya berkaitan dengan bangunan atau artefak sejarah, tetapi juga mencakup lingkungan yang menjadi bagian dari ekosistem cagar budaya itu sendiri.

    Ketua HMPS Pendidikan Sejarah UPY menyampaikan bahwa Sekolah Cagar Budaya merupakan upaya untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya bangsa.

    “Cagar budaya adalah sumber belajar yang sangat berharga. Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi juga menjadi tanggung jawab generasi muda sebagai pewaris sejarah bangsa,” ujarnya.

    Lebih lanjut, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat kolaborasi antara mahasiswa dan lembaga pelestarian budaya. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan berbagai program edukatif yang mendukung upaya pelestarian sejarah dan budaya secara berkelanjutan.

    Bagi mahasiswa Pendidikan Sejarah, pengalaman belajar di lapangan seperti ini menjadi bagian penting dalam memperkaya pemahaman akademik. Sejarah tidak hanya dipelajari melalui buku dan ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan jejak-jejak masa lalu yang masih dapat disaksikan hingga saat ini.

    Melalui penyelenggaraan Sekolah Cagar Budaya, HMPS Pendidikan Sejarah UPY berharap dapat terus berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang memiliki kesadaran historis, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap pelestarian warisan budaya bangsa. Dengan memahami dan merawat peninggalan sejarah, generasi muda tidak hanya menjaga identitas bangsa, tetapi juga mewariskan nilai-nilai penting tersebut kepada generasi yang akan datang.

  • Kenapa Mahasiswa Tidak Boleh Terjebak dalam Satu Cara Pandang?

    Kenapa Mahasiswa Tidak Boleh Terjebak dalam Satu Cara Pandang?

    Kehidupan mahasiswa tidak hanya dipenuhi oleh tugas kuliah, ujian, dan kegiatan organisasi. Di balik berbagai aktivitas akademik tersebut, terdapat satu kemampuan penting yang perlu terus dikembangkan, yaitu kemampuan memahami dan menghargai sudut pandang yang berbeda.

    Di era digital saat ini, mahasiswa hidup dalam lingkungan yang sangat dinamis. Informasi datang dari berbagai arah dengan begitu cepat. Tidak jarang, perbedaan pendapat muncul dalam diskusi kelas, organisasi kemahasiswaan, media sosial, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap perbedaan pandangan sebagai ancaman, padahal justru perbedaan itulah yang dapat memperkaya cara berpikir dan memperluas wawasan.

    Perbedaan Bukan untuk Dipertentangkan

    Sebagai insan akademik, mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis dan terbuka terhadap berbagai perspektif. Dalam dunia pendidikan tinggi, tidak semua persoalan memiliki jawaban yang mutlak benar atau salah. Banyak isu yang dapat dilihat dari berbagai sisi, tergantung latar belakang, pengalaman, dan sudut pandang masing-masing individu.

    Misalnya, dalam membahas perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Sebagian pihak melihat AI sebagai peluang besar untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi. Di sisi lain, ada yang mengkhawatirkan dampaknya terhadap lapangan pekerjaan dan etika penggunaan teknologi. Kedua pandangan tersebut sama-sama memiliki dasar yang kuat dan layak untuk didiskusikan.

    Melalui perbedaan pandangan itulah mahasiswa belajar untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, melainkan mengumpulkan informasi dan mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menentukan sikap.

    Melatih Berpikir Kritis dan Objektif

    Salah satu manfaat terbesar dari memahami dua sudut pandang yang berbeda adalah meningkatnya kemampuan berpikir kritis. Mahasiswa yang terbiasa mendengarkan pendapat yang berbeda cenderung lebih mampu menganalisis suatu masalah secara komprehensif.

    Dalam dunia akademik, kemampuan ini sangat penting. Saat menyusun makalah, proposal penelitian, maupun skripsi, mahasiswa dituntut untuk mengkaji berbagai teori dan hasil penelitian yang terkadang memiliki kesimpulan yang berbeda. Dengan memahami berbagai perspektif, mahasiswa dapat menghasilkan analisis yang lebih objektif dan mendalam.

    Kemampuan melihat masalah dari berbagai sisi juga membantu mahasiswa menghindari bias dalam mengambil keputusan. Mereka tidak hanya berpegang pada asumsi pribadi, tetapi juga mempertimbangkan fakta dan pandangan orang lain.

    Menumbuhkan Sikap Toleransi dan Empati

    Perbedaan sudut pandang juga berperan penting dalam membangun karakter mahasiswa yang toleran dan berempati. Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial. Di lingkungan kampus, mahasiswa bertemu dengan banyak individu yang memiliki pengalaman hidup yang berbeda.

    Ketika mahasiswa mampu memahami alasan di balik pendapat seseorang, mereka akan lebih mudah menghargai perbedaan tersebut. Sikap ini menjadi modal penting dalam membangun hubungan yang harmonis, baik di lingkungan kampus maupun di masyarakat.

    Toleransi bukan berarti selalu setuju dengan pendapat orang lain. Toleransi adalah kemampuan untuk menghormati hak orang lain dalam menyampaikan pandangannya, meskipun berbeda dengan keyakinan kita.

    Bekal Penting untuk Dunia Kerja

    Kemampuan memahami berbagai perspektif juga menjadi salah satu keterampilan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja. Dalam sebuah organisasi atau perusahaan, seseorang akan bekerja dengan rekan yang memiliki karakter, pemikiran, dan cara kerja yang berbeda-beda.

    Karyawan yang mampu mendengarkan, berdiskusi, dan mencari solusi dari berbagai sudut pandang biasanya lebih mudah beradaptasi serta memiliki kemampuan kerja sama yang baik. Oleh karena itu, kebiasaan menghargai perbedaan pendapat sejak masa kuliah akan menjadi bekal berharga untuk menghadapi tantangan profesional di masa depan.

    Menjadi Mahasiswa yang Terbuka dan Bijaksana

    Di tengah derasnya arus informasi dan berkembangnya media sosial, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi secara bijak. Tidak semua hal harus diperdebatkan, dan tidak semua perbedaan harus berakhir dengan konflik.

    Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang belajar yang berharga. Dengan memahami dua sudut pandang yang berbeda, mahasiswa akan lebih terbuka, bijaksana, dan mampu melihat persoalan secara lebih utuh.

    Pada akhirnya, dunia tidak hanya terdiri dari hitam dan putih. Ada banyak warna di antaranya yang perlu dipahami. Dan sebagai generasi intelektual, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menjadi jembatan dialog, membangun pemahaman, serta menciptakan lingkungan yang menghargai keberagaman pemikiran.

    Karena sering kali, kemajuan lahir bukan dari kesamaan pandangan, melainkan dari kemampuan untuk berdialog dan belajar dari perbedaan. Itulah esensi pendidikan yang sesungguhnya.

  • Intelektual Muda untuk Kedaulatan Bangsa, Mahasiswa UPY Aktif dalam Forum Nasional

    Intelektual Muda untuk Kedaulatan Bangsa, Mahasiswa UPY Aktif dalam Forum Nasional

    Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menunjukkan kiprah akademiknya melalui partisipasi aktif dalam Simposium Nasional yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Penegakan Kedaulatan Negara. Kegiatan yang berlangsung pada 15–16 April 2026 di The Rich Jogja Hotel ini menjadi wadah strategis bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan kebangsaan sekaligus memperkuat kapasitas intelektual dalam memahami berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia.

    Simposium yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut mengangkat tema “Intelektual Muda dan Pemecahan Masalah Kedaulatan”. Tema ini menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam memberikan gagasan, analisis, dan solusi terhadap berbagai persoalan yang berkaitan dengan kedaulatan negara di tengah dinamika global yang terus berkembang.

    Kegiatan menghadirkan pemakalah dari berbagai bidang kajian, mulai dari ekonomi, budaya, hingga politik. Para narasumber memaparkan beragam perspektif mengenai tantangan dan peluang dalam menjaga kedaulatan bangsa, mulai dari dampak ekonomi global terhadap kemandirian nasional, pentingnya pelestarian budaya sebagai identitas bangsa, hingga strategi politik dalam memperkuat posisi Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

    Dalam forum ilmiah tersebut, mahasiswa Pendidikan Sejarah UPY tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi juga terlibat aktif dalam sesi diskusi dan pertukaran gagasan. Melalui dialog yang berlangsung dinamis, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, serta solutif dalam menanggapi berbagai isu kebangsaan yang aktual.

    Partisipasi ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menghubungkan kajian sejarah dengan realitas sosial dan politik masa kini. Sejarah tidak lagi dipahami sekadar sebagai rekaman masa lalu, tetapi sebagai sumber pembelajaran yang relevan dalam membaca tantangan zaman dan merumuskan langkah-langkah strategis untuk masa depan bangsa.

    Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UPY, Dr. Muhammad Iqbal Birsyada, M.Pd., menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ilmiah berskala nasional merupakan bagian penting dari proses pembentukan intelektual muda yang berwawasan luas dan memiliki kepedulian terhadap persoalan kebangsaan.

    “Partisipasi mahasiswa dalam forum ilmiah seperti simposium nasional ini sangat penting untuk memperkaya wawasan, memperkuat kemampuan berpikir kritis, serta menumbuhkan kesadaran akan peran mereka sebagai generasi penerus bangsa. Mahasiswa perlu hadir di ruang-ruang diskusi strategis agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia,” ujarnya.

    Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kegiatan semacam ini merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang mendukung capaian akademik mahasiswa sekaligus memperluas pengalaman mereka dalam memahami isu-isu kebangsaan secara multidisipliner.

    Melalui keikutsertaan dalam Simposium Nasional Hari Penegakan Kedaulatan Negara, mahasiswa Pendidikan Sejarah UPY diharapkan semakin aktif berpartisipasi dalam berbagai forum akademik, baik di tingkat regional maupun nasional. Selain memperkaya pengetahuan, keterlibatan tersebut juga menjadi sarana untuk mengasah kemampuan intelektual dan kepemimpinan yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan masa depan.

    Sebagai bagian dari generasi muda Indonesia, mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga dan memperkuat kedaulatan bangsa. Melalui pemikiran kritis, kepedulian sosial, dan semangat kebangsaan yang kuat, mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang berkontribusi nyata bagi kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  • PENGUMUMAN PELAKSANAAN UJIAN ACTION PROGRAM PERIODE II BULAN JUNI Th 2026

    PENGUMUMAN PELAKSANAAN UJIAN ACTION PROGRAM PERIODE II BULAN JUNI Th 2026

    Ujian Action Program (AP) Periode II, Juni Th 2026 secara daring/online akan dilaksanakan pada :

    Pemberian Materi : 08 Juni 2026 (Via Grup Telegram)

    Ujian : 11 – 12 Juni 2026 *jika ada perubahan akan diumumkan via grup telegram*

    Tempat : Daring

    Berikut daftar peserta & kelompok ujian Action Program Periode II 2026 :

    Download Daftar Peserta AP

    Bagi peserta yang namanya sudah terdaftar dimohon untuk join grub TELEGRAM untuk mengikuti informasi berikutnya, untuk join silahkan klik link atau scan barcode berikut :

    JOIN GRUP =>> KLIK DISINI

  • Perkuat Kompetensi Mahasiswa, Prodi Hukum Bisnis UPY Gelar Kuliah Umum Paralegal Bersama Praktisi

    Perkuat Kompetensi Mahasiswa, Prodi Hukum Bisnis UPY Gelar Kuliah Umum Paralegal Bersama Praktisi

    Program Studi Hukum Bisnis Fakultas Bisnis dan Hukum (FBH) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa melalui penyelenggaraan Kuliah Umum Paralegal bekerja sama dengan HAIMUKTI Law Firm. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 9 Januari 2026 ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Hukum Bisnis UPY sebagai bagian dari penguatan kapasitas akademik dan profesional di bidang hukum.

    Kuliah umum tersebut merupakan implementasi nyata dari kerja sama antara Program Studi Hukum Bisnis UPY dan HAIMUKTI Law Firm yang berfokus pada pengembangan wawasan serta keterampilan praktis mahasiswa. Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari praktisi hukum mengenai peran strategis paralegal dalam mendukung pelayanan dan pendampingan hukum di tengah masyarakat.

    Ketua Program Studi Hukum Bisnis UPY, Adv. Dr. Sigit Handoko, S.H., M.H., C.Me., menegaskan bahwa penguasaan teori hukum perlu diimbangi dengan pemahaman praktik yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

    “Mahasiswa hukum tidak cukup hanya memahami teori di ruang kelas. Mereka juga perlu dibekali pengalaman dan wawasan praktis agar memiliki kesiapan yang lebih baik ketika memasuki dunia profesional. Pendidikan paralegal menjadi salah satu sarana penting untuk membangun kepekaan terhadap persoalan hukum di masyarakat, meningkatkan kemampuan analisis, serta memperluas jejaring profesional,” ujarnya.

    Dalam kesempatan tersebut, materi kuliah umum disampaikan oleh Dr. (Cand) Muhlis Muhiddin, S.Sn., S.H., M.H. dari HAIMUKTI Law Firm. Ia menjelaskan secara komprehensif mengenai konsep, fungsi, serta dasar hukum paralegal di Indonesia.

    Menurutnya, paralegal merupakan individu yang telah memperoleh pendidikan dan pelatihan hukum tertentu serta memiliki peran dalam memberikan pendampingan hukum non-litigasi di bawah koordinasi advokat atau lembaga bantuan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Melalui pemaparan tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai posisi dan kontribusi paralegal dalam sistem hukum Indonesia, termasuk tantangan dan peluang profesi yang dapat dikembangkan di masa depan.

    Suasana kuliah umum berlangsung interaktif dengan berbagai diskusi dan pertanyaan dari mahasiswa terkait praktik hukum yang dihadapi masyarakat. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat mahasiswa untuk memahami dunia profesi hukum secara lebih dekat dan aplikatif.

    Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga memperkuat sinergi antara dunia akademik dan praktisi hukum dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan hukum. Kolaborasi semacam ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan kebutuhan profesi hukum.

    Melalui penyelenggaraan Kuliah Umum Paralegal ini, Program Studi Hukum Bisnis UPY berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi praktis, profesionalisme, serta kemampuan adaptif dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin dinamis.

    Sebagai institusi pendidikan tinggi yang berorientasi pada kualitas dan relevansi, UPY terus berupaya menghadirkan berbagai program pengembangan kompetensi yang mampu menjembatani kebutuhan akademik dengan praktik profesional, sehingga lulusan memiliki daya saing dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

  • Prodi Pendidikan Sejarah UPY Perkuat Jejaring Internasional melalui Kerja Sama Pendidikan dan Budaya di Malaysia

    Prodi Pendidikan Sejarah UPY Perkuat Jejaring Internasional melalui Kerja Sama Pendidikan dan Budaya di Malaysia

    Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring internasional melalui penandatanganan kerja sama strategis dengan sejumlah mitra pendidikan di Malaysia. Kegiatan yang berlangsung pada 5–6 April 2026 tersebut dilaksanakan di Institut Pendidikan Guru Kampus Darulaman Kedah, Malaysia.

    Dalam agenda tersebut, dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), Memorandum of Agreement (MoA), dan Implementation Agreement (IA) antara Program Studi Pendidikan Sejarah UPY dengan Persatuan Guru-Guru Melayu Kedah. Selain itu, penandatanganan Implementation Agreement juga dilakukan bersama Kesatuan Guru-Guru Melayu Malaysia Barat sebagai langkah konkret dalam memperkuat kolaborasi pendidikan di tingkat regional.

    Kerja sama yang terjalin mencakup berbagai bidang strategis, antara lain pengajaran, penelitian, publikasi ilmiah, serta pemberdayaan masyarakat. Melalui kemitraan ini, kedua belah pihak berkomitmen untuk mengembangkan berbagai program kolaboratif yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan jejaring akademik internasional.

    Sebagai implementasi awal dari kerja sama tersebut, diselenggarakan sejumlah kegiatan akademik dan budaya, seperti benchmarking, visiting lecture, pelatihan membatik, serta pengenalan kesenian tradisional Jawa. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarpendidik, tetapi juga menjadi media promosi budaya Indonesia di lingkungan internasional.

    Pada sesi visiting lecture, Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah UPY, Dr. Muhammad Iqbal Birsyada, M.Pd., menyampaikan materi mengenai pendidikan karakter berbasis budaya Jawa. Paparan tersebut mendapat sambutan dan antusiasme tinggi dari para peserta karena dinilai relevan dalam menjawab tantangan penguatan karakter peserta didik di era global.

    “Budaya lokal memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Melalui pendekatan berbasis budaya, pendidikan dapat menjadi sarana yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai moral, identitas, dan kebangsaan,” ungkap Dr. Muhammad Iqbal Birsyada dalam sesi presentasinya.

    Kegiatan ini semakin mempererat hubungan kelembagaan antara Universitas PGRI Yogyakarta, Institut Pendidikan Guru Kampus Darulaman Kedah, serta Kesatuan Guru-Guru Melayu Malaysia Barat. Ke depan, kolaborasi tersebut akan terus dikembangkan melalui wadah Persatuan Guru Nusantara sebagai platform penguatan kerja sama pendidikan dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara.

    Melalui kegiatan ini, Program Studi Pendidikan Sejarah UPY menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas jaringan internasional, serta memperkuat diplomasi budaya Indonesia di kancah global. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya UPY dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang unggul, berdaya saing internasional, dan berkontribusi nyata bagi pengembangan masyarakat global.

  • Hari Lahir Pancasila 2026: Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia

    Hari Lahir Pancasila 2026: Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia

    Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai momentum penting untuk mengenang sekaligus menguatkan kembali nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada tahun 2026, peringatan Hari Lahir Pancasila jatuh pada hari Senin, 1 Juni 2026 dengan mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.”

    Tema tersebut mengandung makna yang sangat mendalam dan relevan dengan kondisi masyarakat global saat ini. Di tengah berbagai tantangan dunia, seperti konflik antarnegara, perbedaan ideologi, krisis kemanusiaan, serta meningkatnya polarisasi sosial, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila hadir sebagai pedoman untuk membangun kehidupan yang damai, harmonis, dan berkeadilan.

    Sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia, Pancasila telah terbukti menjadi perekat yang menyatukan keberagaman suku, agama, ras, budaya, dan bahasa yang dimiliki bangsa Indonesia. Dalam keberagaman tersebut, Pancasila mengajarkan pentingnya menghormati perbedaan, menjunjung tinggi persatuan, mengedepankan musyawarah, serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Lebih dari sekadar dasar negara, Pancasila juga mengandung nilai-nilai universal yang dapat menjadi kontribusi Indonesia dalam membangun perdamaian dunia. Nilai kemanusiaan, toleransi, gotong royong, dan penghormatan terhadap martabat manusia merupakan prinsip-prinsip yang dibutuhkan oleh masyarakat global dalam menghadapi berbagai tantangan bersama.

    Universitas PGRI Yogyakarta memaknai Hari Lahir Pancasila sebagai momentum untuk terus menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada seluruh sivitas akademika. Sebagai institusi pendidikan tinggi, UPY memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat, menjunjung tinggi toleransi, serta mampu menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat.

    Di lingkungan kampus yang terdiri dari mahasiswa dan dosen dengan latar belakang yang beragam, nilai-nilai Pancasila menjadi landasan penting dalam membangun budaya akademik yang inklusif, menghargai perbedaan, dan mendorong kolaborasi. Semangat gotong royong, persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman merupakan bagian dari implementasi nyata Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

    Peringatan Hari Lahir Pancasila juga menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan bangsa adalah tanggung jawab bersama. Di era digital yang serba cepat, masyarakat dituntut untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi, menghindari penyebaran ujaran kebencian, serta terus membangun ruang dialog yang sehat dan produktif demi menjaga keutuhan bangsa.

    Melalui momentum ini, seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat semakin memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menjadikan Pancasila sebagai pedoman, Indonesia dapat terus tumbuh sebagai bangsa yang kuat, damai, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi dunia.

    Segenap Pimpinan dan Sivitas Akademika
    Universitas PGRI Yogyakarta

    mengucapkan:

    Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila

    1 Juni 2026

    “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”

    Mari bersama memperkuat persatuan, menumbuhkan semangat gotong royong, serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi Indonesia yang maju, harmonis, dan berdaya saing global.

  • Hari Raya Waisak 2570 BE: Dharma Menjaga Perdamaian Dunia

    Hari Raya Waisak 2570 BE: Dharma Menjaga Perdamaian Dunia

    Hari Raya Waisak merupakan momen suci yang diperingati oleh umat Buddha di seluruh dunia untuk mengenang tiga peristiwa agung dalam kehidupan Siddharta Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, dan Parinibbana Sang Buddha. Pada tahun 2026, umat Buddha memperingati Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE) yang jatuh pada tanggal 31 Mei 2026 dengan mengusung tema “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia.”

    Tema tersebut memiliki makna yang sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Di tengah berbagai tantangan global, mulai dari konflik kemanusiaan, ketegangan sosial, perubahan iklim, hingga berbagai bentuk intoleransi dan perpecahan, nilai-nilai Dharma menjadi pengingat penting akan perlunya kebijaksanaan, kasih sayang, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama manusia.

    Dharma mengajarkan bahwa perdamaian tidak hanya dimulai dari lingkungan yang luas, tetapi juga dari diri sendiri. Ketika setiap individu mampu mengendalikan pikiran, ucapan, dan tindakan dengan penuh kebajikan, maka akan tercipta kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat yang beragam. Perdamaian dunia pada hakikatnya dibangun dari perdamaian dalam hati setiap manusia.

    Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai keberagaman dan persatuan, Indonesia memiliki kekayaan budaya, agama, dan tradisi yang menjadi modal penting dalam membangun kehidupan yang damai. Semangat Waisak menjadi momentum untuk memperkuat rasa saling menghormati, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa perbedaan merupakan kekuatan yang dapat menyatukan, bukan memisahkan.

    Universitas PGRI Yogyakarta memaknai Hari Raya Waisak sebagai refleksi nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Dunia pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan sikap toleransi, moderasi, kepedulian sosial, dan penghargaan terhadap keberagaman. Kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang pembelajaran untuk membangun karakter, memperkuat dialog, dan menumbuhkan semangat hidup berdampingan secara damai.

    Di era global yang semakin terhubung, generasi muda dituntut tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan sosial dan moral. Nilai-nilai Dharma yang mengajarkan kebijaksanaan, kasih sayang, serta tanggung jawab terhadap sesama menjadi bekal penting dalam membangun masa depan yang lebih harmonis dan berkelanjutan.

    Momentum Hari Raya Waisak 2570 BE mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menebarkan kebaikan, mengedepankan dialog, serta menjaga persatuan dan perdamaian. Dengan semangat Dharma, setiap individu dapat berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih damai, inklusif, dan penuh empati.

    Segenap Pimpinan dan Sivitas Akademika
    Universitas PGRI Yogyakarta
    mengucapkan:

    Selamat Hari Raya Waisak 2570 BE

    31 Mei 2026

    Semoga peringatan Hari Raya Waisak menjadi momentum untuk memperkuat kebijaksanaan, menumbuhkan kasih sayang, serta menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

    “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”

    Mari bersama menebarkan kedamaian, mempererat persaudaraan, dan membangun masa depan yang lebih baik bagi seluruh umat manusia.