Kategori: Makarya

  • Mahasiswa Gizi UPY Lolos Program Nasional SAPA Kampus Berdampak BPOM RI

    Mahasiswa Gizi UPY Lolos Program Nasional SAPA Kampus Berdampak BPOM RI

    Universitas PGRI Yogyakarta kembali menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan kompetensi mahasiswa melalui partisipasi aktif pada program nasional di bidang keamanan pangan. Tiga mahasiswa Program Studi Gizi UPY berhasil lolos dan terpilih mengikuti Program SAPA Kampus Berdampak Batch 8 yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI).

    Mahasiswa yang terpilih dalam program tersebut yaitu Hunalika Yasfa, Septiajati Yudhowanti, dan Fadhilah Nur Azizah. Keikutsertaan mereka menjadi bentuk nyata keterlibatan mahasiswa UPY dalam mendukung peningkatan keamanan pangan dan pemberdayaan usaha mikro kecil (UMK) pangan olahan di Indonesia.

    Program SAPA Kampus Berdampak merupakan program pembentukan mahasiswa sebagai Fasilitator Keamanan Pangan yang memiliki kompetensi dalam mendampingi UMK pangan olahan agar memenuhi standar keamanan pangan dan penerapan CPPOB (Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik).

    Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pembelajaran teoritis, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik langsung dalam pendampingan UMK pangan olahan. Pelaksanaan Program SAPA Kampus Berdampak Batch 8 berlangsung mulai Februari hingga Juni 2026.

    Selama mengikuti program, mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang membantu proses pendampingan UMK pangan olahan, mulai dari memberikan edukasi terkait keamanan pangan, membantu penyusunan dokumen CPPOB, melakukan monitoring penerapan keamanan pangan, hingga mendukung percepatan UMK dalam memperoleh izin penerapan CPPOB dari BPOM RI.

    Keterlibatan mahasiswa Gizi UPY dalam program nasional ini menjadi bagian dari komitmen universitas dalam mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa, khususnya pada bidang keamanan pangan, kesehatan masyarakat, dan pemberdayaan masyarakat berbasis edukasi.

    Selain meningkatkan pengalaman lapangan mahasiswa, program ini juga diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan UMK pangan olahan agar semakin mampu menghasilkan produk yang aman, berkualitas, dan memenuhi standar regulasi pangan nasional.

    Partisipasi mahasiswa dalam SAPA Kampus Berdampak Batch 8 sekaligus menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan lulusan yang kompeten, profesional, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja, khususnya di bidang gizi, keamanan pangan, dan kesehatan masyarakat.

    Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen edukasi pangan yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus mendukung terciptanya budaya keamanan pangan yang lebih baik di Indonesia.

  • Mahasiswa Pendidikan Matematika UPY Gelar Kolaborasi Internasional Bersama Mahasiswa Filipina

    Mahasiswa Pendidikan Matematika UPY Gelar Kolaborasi Internasional Bersama Mahasiswa Filipina

    Universitas PGRI Yogyakarta melalui Program Studi Pendidikan Matematika menghadirkan kegiatan kolaborasi internasional bersama mahasiswa dari Filipina melalui kelas matematika dan sharing session akademik yang berlangsung dalam suasana hangat, interaktif, dan penuh semangat kebersamaan.

    Kegiatan ini diinisiasi oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika sebagai bentuk penguatan jejaring internasional sekaligus upaya membangun ruang belajar lintas budaya yang inspiratif bagi calon pendidik masa depan. Melalui program tersebut, mahasiswa dari kedua negara diajak untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, serta memahami proses pembelajaran matematika yang diterapkan di masing-masing institusi pendidikan.

    Kolaborasi internasional ini bertujuan mempererat hubungan antarmahasiswa dari berbagai negara sekaligus menunjukkan implementasi pembelajaran yang diterapkan mahasiswa Pendidikan Matematika UPY sebagai calon pendidik profesional. Kegiatan juga menjadi sarana untuk menumbuhkan sikap terbuka, toleran, dan kolaboratif di tengah keberagaman budaya dan latar belakang pendidikan.

    Dalam pelaksanaannya, mahasiswa mengadakan sesi sharing session yang membahas berbagai aspek pembelajaran matematika di Indonesia dan Filipina. Diskusi mencakup metode pembelajaran, media pembelajaran yang digunakan, strategi mengajar yang efektif, hingga tantangan yang dihadapi dalam dunia pendidikan modern.

    Melalui forum tersebut, peserta memperoleh banyak wawasan baru mengenai sistem pendidikan dan pendekatan pembelajaran matematika di masing-masing negara. Selain berbagi pengalaman akademik, kegiatan ini juga menjadi ruang bertukar ide, motivasi, serta penguatan kerja sama antarmahasiswa maupun antarprogram studi.

    Sharing session utama dilaksanakan di ruang sidang Program Studi Pendidikan Matematika dengan suasana diskusi yang aktif dan komunikatif. Mahasiswa berdialog mengenai perkembangan pendidikan matematika di era modern sekaligus membahas materi perkuliahan yang dipelajari di universitas masing-masing.

    Tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, program ini juga dikemas secara santai dan penuh nuansa persahabatan internasional. Mahasiswa bersama peserta dari Filipina mengabadikan momen melalui sesi foto dan pembuatan video bersama sebagai simbol terjalinnya hubungan yang hangat dan penuh kekeluargaan.

    Kegiatan semakin menarik ketika mahasiswa memperkenalkan berbagai makanan ringan khas Indonesia kepada mahasiswa Filipina. Momen pertukaran budaya tersebut memunculkan diskusi menarik mengenai makanan khas dari kedua negara, termasuk kesamaan cita rasa dan budaya kuliner yang dimiliki Indonesia dan Filipina.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa Pendidikan Matematika UPY berharap dapat menunjukkan bahwa pendidikan mampu menjadi jembatan dalam membangun persaudaraan internasional. Perbedaan bahasa, budaya, maupun sistem pendidikan bukan menjadi penghalang untuk saling belajar dan berkembang bersama, melainkan menjadi kekuatan yang memperkaya pengalaman dan memperluas wawasan global mahasiswa.

    Program kolaborasi ini juga diharapkan dapat menjadi langkah awal terciptanya kerja sama internasional yang lebih luas di bidang pendidikan, sekaligus memperkuat pengalaman internasional mahasiswa dalam menghadapi tantangan pendidikan global di masa depan.

  • PPG UPY Kembangkan Kompetensi Mahasiswa Lewat Pelatihan Batik dan Wirausaha Kreatif

    PPG UPY Kembangkan Kompetensi Mahasiswa Lewat Pelatihan Batik dan Wirausaha Kreatif

    Universitas PGRI Yogyakarta melalui Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) terus berupaya mengembangkan kompetensi mahasiswa secara holistik. Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan Membatik dan Motivasi Kewirausahaan yang diikuti mahasiswa PPG FKIP UPY pada Sabtu, 11 April 2026 di Batik Musa.

    Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk penguatan kompetensi calon guru, tidak hanya dalam aspek pedagogik, tetapi juga dalam pengembangan keterampilan praktis, kreativitas, serta jiwa kewirausahaan yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini.

    Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa mengikuti secara langsung seluruh proses pembuatan batik, mulai dari penyusunan desain dan pola, proses mencanting menggunakan malam, pewarnaan kain, pelorodan atau penghilangan lilin, hingga proses penjemuran kain batik siap pakai. Praktik langsung ini memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa mengenai proses kreatif dalam menghasilkan karya batik.

    Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Mahasiswa aktif mengikuti setiap tahapan dan berhasil menghasilkan berbagai karya batik dengan motif yang unik serta kreatif. Selain praktik membatik, peserta juga mendapatkan materi mengenai filosofi dan nilai budaya batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia.

    Dalam sesi motivasi, dijelaskan bahwa batik tidak hanya memiliki nilai seni dan budaya, tetapi juga mencerminkan identitas bangsa, menjadi media ekspresi diri, serta memiliki potensi ekonomi yang besar. Oleh karena itu, keterampilan membatik dinilai relevan sebagai bekal tambahan bagi mahasiswa untuk mengembangkan usaha kreatif di masa depan.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengintegrasikan pembelajaran berbasis budaya di lingkungan sekolah sekaligus menjadi pendidik yang inovatif, produktif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

    Suasana kegiatan berlangsung penuh semangat dan kebersamaan. Pada akhir sesi, mahasiswa menampilkan hasil karya batik mereka dengan berbagai variasi motif dan warna yang menarik. Momen tersebut menjadi bukti bahwa pembelajaran berbasis praktik mampu meningkatkan kreativitas serta keterampilan mahasiswa secara signifikan.

    Kegiatan pelatihan membatik dan motivasi kewirausahaan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi mahasiswa PPG FKIP UPY untuk terus mengembangkan potensi diri, melestarikan budaya bangsa, serta membangun jiwa kewirausahaan yang dapat memberikan manfaat di dunia pendidikan maupun masyarakat luas.

  • Mahasiswa UPY Raih Juara 2 Pencak Silat Tingkat Internasional di Ajang Paku Bumi Open ke-14

    Mahasiswa UPY Raih Juara 2 Pencak Silat Tingkat Internasional di Ajang Paku Bumi Open ke-14

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat internasional melalui capaian salah satu mahasiswanya. Subhah Sahal Rizki, mahasiswa Program Studi Gizi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UPY, berhasil meraih Juara 2 dalam cabang olahraga pencak silat tingkat internasional pada ajang Paku Bumi Open ke-14.

    Kejuaraan bergengsi tersebut diselenggarakan oleh Paku Bumi Event Organizer pada 4–5 April 2026 di GOR Lembah UGM. Ajang Paku Bumi Open ke-14 diikuti oleh atlet pencak silat dari berbagai daerah dan negara, sehingga menjadi salah satu kompetisi internasional yang kompetitif dan prestisius.

    Prestasi yang diraih Subhah Sahal Rizki menjadi bukti bahwa mahasiswa UPY mampu menunjukkan kualitas dan daya saing tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga dalam bidang olahraga dan pengembangan prestasi nonakademik.

    Keberhasilan ini sekaligus mencerminkan komitmen UPY dalam mendukung pengembangan minat dan bakat mahasiswa melalui berbagai kegiatan positif yang mampu membangun karakter, sportivitas, disiplin, serta mental kompetitif di tingkat global.

    Pihak universitas menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas capaian tersebut. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan potensi diri dan berani berkompetisi di berbagai ajang nasional maupun internasional.

    Melalui capaian ini, Universitas PGRI Yogyakarta kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang unggul, berprestasi, dan mampu membawa nama baik institusi di tingkat internasional.

  • Prodi Akuntansi UPY Perkuat Sinergi dengan RENJANI dan Tax Center, Dorong Literasi serta Kompetensi Perpajakan

    Prodi Akuntansi UPY Perkuat Sinergi dengan RENJANI dan Tax Center, Dorong Literasi serta Kompetensi Perpajakan

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) melalui Program Studi Akuntansi menggelar kegiatan koordinasi bersama RENJANI dan Tax Center UPY sebagai langkah strategis dalam memperkuat sinergi di bidang edukasi, literasi, dan pengembangan kompetensi perpajakan.

    Kegiatan koordinasi ini menjadi bagian dari komitmen Program Studi Akuntansi UPY dalam menyelaraskan program kerja, memperkuat kolaborasi akademik, serta mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan edukatif yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa maupun masyarakat luas.

    Melalui forum koordinasi tersebut, para pihak membahas berbagai strategi pengembangan program yang berfokus pada peningkatan pemahaman perpajakan, penguatan kapasitas akademik, serta perluasan kontribusi institusi dalam bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.

    Sinergi antara Program Studi Akuntansi, RENJANI, dan Tax Center UPY diharapkan mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih aplikatif, khususnya dalam mendukung mahasiswa agar memiliki kompetensi yang unggul di bidang akuntansi dan perpajakan.

    Selain itu, koordinasi ini juga menjadi langkah penting dalam memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama pada aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi berkelanjutan ini diharapkan dapat menghadirkan berbagai program inovatif, seperti edukasi perpajakan, seminar, pelatihan, riset kolaboratif, hingga kegiatan literasi pajak yang berdampak langsung bagi masyarakat.

    Program Studi Akuntansi UPY menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kerja sama strategis dengan berbagai pihak sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperluas kontribusi nyata dalam pengembangan keilmuan akuntansi serta perpajakan.

    Melalui penguatan sinergi ini, UPY berharap dapat terus mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif, profesional, dan mampu menjawab tantangan dunia kerja serta kebutuhan masyarakat di era perkembangan ekonomi dan regulasi perpajakan yang dinamis.

  • Prestasi Gemilang – Mahasiswa BK Berhasil Selesaikan Skripsi dan Publish Artikel ke Jurnal SINTA 4

    Prestasi Gemilang – Mahasiswa BK Berhasil Selesaikan Skripsi dan Publish Artikel ke Jurnal SINTA 4

    Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menorehkan capaian akademik yang membanggakan. Tiga mahasiswa Program Studi BK angkatan 2022 berhasil menyelesaikan skripsi sekaligus mempublikasikan artikel ilmiah pada jurnal terindeks SINTA 4 sebelum pelaksanaan ujian skripsi. Ketiga mahasiswa tersebut telah melaksanakan ujian skripsi pada 23 April 2026. Pencapaian ini menjadi tonggak baru bagi Program Studi BK UPY, karena untuk pertama kalinya mahasiswa berhasil menyelesaikan proses penelitian, menyusun artikel ilmiah, dan memperoleh publikasi pada jurnal bereputasi nasional sebelum mengikuti ujian skripsi.

    Keberhasilan tersebut mencerminkan peningkatan kualitas akademik mahasiswa, khususnya dalam bidang penelitian dan publikasi ilmiah. Publikasi artikel pada jurnal terindeks SINTA 4 sebelum ujian skripsi menunjukkan bahwa mahasiswa BK UPY tidak hanya mampu memenuhi tuntutan akademik, tetapi juga telah berkontribusi dalam pengembangan keilmuan di bidang bimbingan dan konseling melalui karya ilmiah yang berkualitas. Capaian ini tidak terlepas dari peran dosen pembimbing, Dr. Eko Perianto, S.Pd., M.Si, yang telah memberikan pendampingan secara intensif kepada mahasiswa sejak tahap penyusunan skripsi hingga proses publikasi artikel ilmiah. Bimbingan yang terarah dan berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan mahasiswa mencapai standar akademik yang lebih tinggi.

    Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi ilmiah selama masa studi. Selain menjadi kebanggaan bagi mahasiswa, keberhasilan ini juga memperkuat komitmen Program Studi BK UPY dalam membangun budaya akademik yang unggul, produktif, dan berorientasi pada pengembangan karya ilmiah. Melalui capaian ini, Program Studi BK UPY semakin menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berkontribusi secara nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui publikasi ilmiah yang bermutu.

  • Biar Nugas Nggak Cuma Niat: Tips Supaya Lebih Efektif dan Nggak Keteteran Deadline

    Biar Nugas Nggak Cuma Niat: Tips Supaya Lebih Efektif dan Nggak Keteteran Deadline

    Setelah mengenal berbagai tipe mahasiswa saat nugas di Part 1 dan memahami kelebihan serta kekurangannya di Part 2, sekarang saatnya masuk ke bagian yang paling “krusial”:
    gimana caranya biar nugas benar-benar selesai, bukan cuma direncanakan?

    Karena jujur saja, tantangan terbesar mahasiswa bukan kurang tempat, tapi…
    terlalu banyak alasan untuk menunda. 😄

    Nah, berikut beberapa tips yang bisa membantu kamu jadi lebih efektif saat nugas di mana pun tempatnya.

    ⏰ 1. Gunakan Teknik “Mulai Dulu 10 Menit”

    Sering kali, yang berat itu bukan nugasnya, tapi memulai.

    Solusinya sederhana: “Kerjakan dulu 10 menit saja.”

    Biasanya, setelah mulai, otak akan ikut “panas” dan lebih mudah lanjut. Teknik ini terbukti efektif untuk mengatasi kebiasaan menunda (procrastination).

    📋 2. Pecah Tugas Jadi Bagian Kecil

    Tugas besar sering terasa menakutkan.
    Solusinya: dibagi-bagi.

    Misalnya:

    • Hari ini cari referensi
    • Besok buat kerangka
    • Lusa mulai menulis

    Dengan cara ini, tugas terasa lebih ringan dan lebih mudah diselesaikan.

    📵 3. Kurangi Distraksi (Ini yang Paling Sulit 😄)

    Realitanya:

    Niat nugas kalah sama notifikasi.

    Beberapa cara yang bisa dicoba:

    • Aktifkan mode fokus di HP
    • Jauhkan HP saat nugas
    • Gunakan aplikasi pemblokir distraksi

    Karena satu notifikasi kecil bisa berubah jadi 1 jam scroll tanpa sadar.

    ☕ 4. Pilih Tempat Sesuai Kebutuhan, Bukan Tren

    Tidak semua tugas cocok dikerjakan di semua tempat.

    • Butuh ide? → Coffee shop boleh
    • Butuh fokus tinggi? → Perpustakaan
    • Butuh fleksibel? → Kamar kos

    Intinya: sesuaikan tempat dengan jenis tugas, bukan sekadar ikut-ikutan.

    🧠 5. Gunakan Teknik Pomodoro

    Metode ini cukup populer dan terbukti membantu fokus:

    • 25 menit kerja
    • 5 menit istirahat

    Setelah 4 sesi, istirahat lebih panjang.

    Teknik ini membantu menjaga konsentrasi tanpa merasa terlalu lelah.

    🎯 6. Tetapkan Target Harian yang Realistis

    Jangan langsung:

    “Hari ini harus selesai semua.”

    Cukup:

    • 2 halaman selesai
    • 1 bagian tugas beres

    Target kecil yang tercapai lebih baik daripada target besar yang hanya jadi rencana.

    👥 7. Pilih Teman Nugas yang “Sejalan”

    Kalau nugas bareng, pastikan:

    • Temannya sama-sama ingin produktif
    • Bukan yang baru 5 menit sudah ngajak jajan

    Karena lingkungan sangat memengaruhi kebiasaan.

    😴 8. Jangan Lupakan Istirahat

    Produktif bukan berarti memaksakan diri terus-menerus.

    Istirahat tetap penting agar:

    • Otak tetap fresh
    • Tidak cepat jenuh
    • Hasil kerja tetap maksimal

    Kadang, istirahat sebentar justru membuat pekerjaan lebih cepat selesai.

    Nugas Itu Soal Kebiasaan, Bukan Sekadar Tempat

    Setelah semua pembahasan dari Part 1 sampai Part 3, satu hal yang bisa disimpulkan yaitu Tempat boleh berbeda, gaya boleh beda, tapi kunci utamanya tetap sama konsistensi.

    Karena:

    • Coffee shop tidak menjamin produktif
    • Perpustakaan tidak menjamin fokus
    • Kamar kos tidak selalu jadi penghalang

    Yang menentukan tetap diri sendiri. Jadi kalau hari ini masih belum mulai nugas, coba buka laptop, kerjakan sedikit saja. Karena dalam dunia perkuliahan, yang paling penting bukan rencana sempurna, tapi tugas yang benar-benar selesai. 😄

  • Nugas di Mana Paling Efektif? Ini Kelebihan dan Kekurangan Gaya Mahasiswa (PART 2)

    Nugas di Mana Paling Efektif? Ini Kelebihan dan Kekurangan Gaya Mahasiswa (PART 2)

    Setelah mengenal berbagai tipe mahasiswa saat nugas di Part 1, sekarang saatnya kita bahas hal yang paling penting:
    mana yang benar-benar efektif?

    Jawabannya tidak selalu hitam putih. Setiap tempat punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

    ☕ Coffee Shop: Nyaman, Tapi Perlu Kontrol Diri

    Kelebihan:

    • Suasana santai meningkatkan mood
    • Cocok untuk tugas kreatif
    • Bisa jadi “refreshing” dari rutinitas

    Kekurangan:

    • Biaya tidak sedikit
    • Banyak distraksi
    • Produktivitas tergantung niat

    📚 Kampus: Paling Ideal untuk Fokus

    Kelebihan:

    • Lingkungan mendukung belajar
    • Minim gangguan
    • Akses referensi lengkap

    Kekurangan:

    • Terasa terlalu formal bagi sebagian orang
    • Jam terbatas
    • Bisa terganggu jika bertemu teman

    🛏️ Kamar Kos: Fleksibel Tapi Berisiko

    Kelebihan:

    • Nyaman dan fleksibel
    • Hemat biaya
    • Bisa belajar kapan saja

    Kekurangan:

    • Distraksi tinggi (kasur, HP, dll.)
    • Rentan menunda pekerjaan
    • Butuh disiplin tinggi

    👥 Nugas Bareng: Seru Tapi Harus Terarah

    Kelebihan:

    • Bisa diskusi
    • Lebih menyenangkan
    • Membantu memahami materi

    Kekurangan:

    • Mudah berubah jadi ngobrol
    • Fokus terbagi
    • Tidak semua anggota aktif

    💻 Digital: Cepat Tapi Harus Selektif

    Kelebihan:

    • Akses informasi luas
    • Praktis dan efisien
    • Mendukung pembelajaran modern

    Kekurangan:

    • Rentan distraksi
    • Banyak informasi tidak valid
    • Fokus mudah hilang

    🧠 Jadi, Mana yang Terbaik?

    Jawabannya sederhana:
    yang membuatmu benar-benar produktif.

    Karena pada akhirnya:

    • Tempat hanya faktor pendukung
    • Kebiasaan dan disiplin adalah kunci utama

    ✨ Penutup

    Setiap mahasiswa punya gaya masing-masing. Tidak perlu memaksakan diri mengikuti orang lain.

    Mau di coffee shop, kampus, atau kamar kos—semua sah.
    Yang penting:

    • Tugas selesai
    • Materi dipahami
    • Dan tidak hanya terlihat sibuk

    Karena pada akhirnya, mahasiswa yang berhasil bukan yang paling estetik saat nugas,
    tapi yang konsisten dan bertanggung jawab.

    Dan kalau hari ini masih bingung mau nugas di mana…
    coba mulai dulu saja.
    Tempat bisa menyusul,
    yang penting progress jalan. 😄

  • Perkuat Kompetensi Profesional, Mahasiswa Pendidikan Sejarah UPY Ikuti Sertifikasi Pemandu Museum

    Perkuat Kompetensi Profesional, Mahasiswa Pendidikan Sejarah UPY Ikuti Sertifikasi Pemandu Museum

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) terus berkomitmen meningkatkan kualitas lulusan melalui penguatan kompetensi profesional. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui partisipasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dalam kegiatan Sertifikasi Pemandu Museum.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi pengembangan profil lulusan Program Studi Pendidikan Sejarah UPY sebagai Edukator Museum, yang tidak hanya menguasai pengetahuan sejarah, tetapi juga mampu menyampaikannya secara edukatif, komunikatif, dan inspiratif kepada masyarakat.

    Sebelum mengikuti sertifikasi, mahasiswa telah menempuh mata kuliah Museologi selama satu semester dengan bobot 3 SKS. Mata kuliah ini memberikan pemahaman komprehensif mengenai konsep dasar museum, pengelolaan koleksi, konservasi, interpretasi sejarah, hingga peran museum sebagai media pendidikan publik.

    Pengetahuan tersebut kemudian diperkuat melalui kegiatan magang di museum selama tiga bulan. Dalam proses ini, mahasiswa terlibat langsung dalam berbagai aktivitas, seperti pendataan koleksi, pelayanan pengunjung, serta praktik pemanduan. Pengalaman lapangan ini menjadi bekal penting sebelum mengikuti uji kompetensi.

    Dalam proses sertifikasi, mahasiswa diuji dalam berbagai aspek, antara lain penguasaan materi sejarah koleksi museum, teknik komunikasi dan interpretasi, serta kemampuan menyampaikan informasi sejarah secara menarik dan mudah dipahami. Uji kompetensi ini bertujuan memastikan mahasiswa memiliki standar profesional sebagai pemandu museum.

    Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UPY, Dr. Muhammad Iqbal Birsyada, M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja.

    “Kegiatan ini memperkuat profil lulusan sebagai Edukator Museum, yang tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga mampu menyampaikannya secara hidup, kontekstual, dan menginspirasi pengunjung museum,” ujarnya.

    Melalui kombinasi pembelajaran akademik, praktik lapangan, dan sertifikasi profesional, mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP UPY diharapkan mampu berperan sebagai jembatan antara pengetahuan sejarah dan masyarakat luas. Museum pun tidak hanya menjadi ruang penyimpanan artefak, tetapi juga berkembang sebagai ruang belajar yang hidup, interaktif, dan inspiratif.

    UPY berharap, langkah ini dapat terus meningkatkan daya saing lulusan sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan literasi sejarah di masyarakat.

  • Bukan Soal Tempat, Tapi Niat: Tipe Mahasiswa Saat Nugas (PART 1)

    Bukan Soal Tempat, Tapi Niat: Tipe Mahasiswa Saat Nugas (PART 1)

    Setiap mahasiswa punya gaya masing-masing saat mengerjakan tugas. Ada yang harus ke coffee shop biar dapat “feel”, ada yang setia di perpustakaan kampus, dan ada juga yang cukup di kamar kos asal WiFi lancar dan kasur tidak terlalu menggoda.

    Fenomena ini sebenarnya bukan hal sepele. Cara dan tempat belajar sangat berpengaruh terhadap produktivitas, fokus, dan kualitas hasil belajar mahasiswa. Di era digital saat ini, tantangan terbesar bukan lagi kekurangan sumber belajar, tetapi justru terlalu banyak distraksi.

    Menariknya, berbagai studi menunjukkan bahwa kebiasaan belajar mahasiswa, termasuk durasi membaca, masih perlu ditingkatkan. Artinya, menemukan gaya belajar yang tepat menjadi penting agar proses akademik bisa berjalan optimal.

    Nah, berikut beberapa tipe mahasiswa saat nugas yang sering kita temui di lingkungan kampus.

    Tipe Coffee Shop: Nugas Harus Ada Suasana

    Mahasiswa tipe ini percaya bahwa suasana menentukan hasil. Coffee shop menjadi pilihan karena dianggap nyaman, estetik, dan mendukung kreativitas.

    Biasanya datang dengan laptop, pesan minuman, lalu mulai membuka tugas. Walaupun… tidak jarang diawali dengan membuka kamera dulu untuk “dokumentasi”.

    Tipe ini umumnya cocok untuk:

    • Mencari ide
    • Brainstorming
    • Tugas yang butuh kreativitas

    Tipe Kampus: Perpustakaan Adalah Zona Fokus

    Ini adalah tipe mahasiswa yang identik dengan keseriusan. Perpustakaan, ruang baca, atau sudut kampus menjadi tempat favorit.

    Lingkungan yang tenang dan akademik membuat mereka lebih mudah fokus. Ditambah lagi, akses ke referensi seperti buku dan jurnal menjadi nilai tambah.

    Tipe ini biasanya:

    • Lebih terstruktur
    • Fokus pada penyelesaian tugas
    • Minim distraksi

    Tipe Kamar Kos: Nyaman adalah Segalanya

    Tipe ini paling umum ditemui. Tidak perlu keluar, tidak perlu biaya tambahan, cukup buka laptop di kamar.

    Namun, ada satu “tantangan besar”:
    kasur.

    Mahasiswa tipe ini sering memulai dengan niat serius, tapi berakhir dengan kalimat klasik:

    “Rebahan bentar, lanjut lagi nanti…”

    Tipe Nugas Bareng: Produktif atau Produktif Semu?

    Ada juga mahasiswa yang lebih suka nugas bersama teman. Awalnya untuk diskusi, tapi sering kali berubah menjadi sesi ngobrol santai.

    Meski begitu, jika dilakukan dengan benar, belajar bersama bisa meningkatkan pemahaman karena adanya pertukaran ide.

    Tipe Digital: Serba Online dan Serba Cepat

    Di era sekarang, banyak mahasiswa mengandalkan internet sepenuhnya. Semua bahan ada di laptop, semua referensi dari internet.

    Namun, tantangannya adalah:

    • Banyak distraksi
    • Informasi belum tentu valid
    • Fokus mudah terpecah

    Setiap tipe mahasiswa memiliki cara masing-masing dalam menyelesaikan tugas. Tidak ada yang salah, selama tetap bisa mendukung proses belajar.

    Lalu pertanyaannya:
    mana yang paling efektif?

    Di Part 2, kita akan membahas kelebihan dan kekurangan dari masing-masing tipe dan mungkin, kamu akan menemukan gaya nugas yang paling cocok untukmu.