Kategori: Makarya

  • Prestasi Gemilang – Mahasiswa BK Berhasil Selesaikan Skripsi dan Publish Artikel ke Jurnal SINTA 4

    Prestasi Gemilang – Mahasiswa BK Berhasil Selesaikan Skripsi dan Publish Artikel ke Jurnal SINTA 4

    Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kembali menorehkan capaian akademik yang membanggakan. Tiga mahasiswa Program Studi BK angkatan 2022 berhasil menyelesaikan skripsi sekaligus mempublikasikan artikel ilmiah pada jurnal terindeks SINTA 4 sebelum pelaksanaan ujian skripsi. Ketiga mahasiswa tersebut telah melaksanakan ujian skripsi pada 23 April 2026. Pencapaian ini menjadi tonggak baru bagi Program Studi BK UPY, karena untuk pertama kalinya mahasiswa berhasil menyelesaikan proses penelitian, menyusun artikel ilmiah, dan memperoleh publikasi pada jurnal bereputasi nasional sebelum mengikuti ujian skripsi.

    Keberhasilan tersebut mencerminkan peningkatan kualitas akademik mahasiswa, khususnya dalam bidang penelitian dan publikasi ilmiah. Publikasi artikel pada jurnal terindeks SINTA 4 sebelum ujian skripsi menunjukkan bahwa mahasiswa BK UPY tidak hanya mampu memenuhi tuntutan akademik, tetapi juga telah berkontribusi dalam pengembangan keilmuan di bidang bimbingan dan konseling melalui karya ilmiah yang berkualitas. Capaian ini tidak terlepas dari peran dosen pembimbing, Dr. Eko Perianto, S.Pd., M.Si, yang telah memberikan pendampingan secara intensif kepada mahasiswa sejak tahap penyusunan skripsi hingga proses publikasi artikel ilmiah. Bimbingan yang terarah dan berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan mahasiswa mencapai standar akademik yang lebih tinggi.

    Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi ilmiah selama masa studi. Selain menjadi kebanggaan bagi mahasiswa, keberhasilan ini juga memperkuat komitmen Program Studi BK UPY dalam membangun budaya akademik yang unggul, produktif, dan berorientasi pada pengembangan karya ilmiah. Melalui capaian ini, Program Studi BK UPY semakin menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berkontribusi secara nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui publikasi ilmiah yang bermutu.

  • Biar Nugas Nggak Cuma Niat: Tips Supaya Lebih Efektif dan Nggak Keteteran Deadline

    Biar Nugas Nggak Cuma Niat: Tips Supaya Lebih Efektif dan Nggak Keteteran Deadline

    Setelah mengenal berbagai tipe mahasiswa saat nugas di Part 1 dan memahami kelebihan serta kekurangannya di Part 2, sekarang saatnya masuk ke bagian yang paling “krusial”:
    gimana caranya biar nugas benar-benar selesai, bukan cuma direncanakan?

    Karena jujur saja, tantangan terbesar mahasiswa bukan kurang tempat, tapi…
    terlalu banyak alasan untuk menunda. 😄

    Nah, berikut beberapa tips yang bisa membantu kamu jadi lebih efektif saat nugas di mana pun tempatnya.

    1. Gunakan Teknik “Mulai Dulu 10 Menit”

    Sering kali, yang berat itu bukan nugasnya, tapi memulai.

    Solusinya sederhana: “Kerjakan dulu 10 menit saja.”

    Biasanya, setelah mulai, otak akan ikut “panas” dan lebih mudah lanjut. Teknik ini terbukti efektif untuk mengatasi kebiasaan menunda (procrastination).

    📋 2. Pecah Tugas Jadi Bagian Kecil

    Tugas besar sering terasa menakutkan.
    Solusinya: dibagi-bagi.

    Misalnya:

    • Hari ini cari referensi
    • Besok buat kerangka
    • Lusa mulai menulis

    Dengan cara ini, tugas terasa lebih ringan dan lebih mudah diselesaikan.

    📵 3. Kurangi Distraksi (Ini yang Paling Sulit 😄)

    Realitanya:

    Niat nugas kalah sama notifikasi.

    Beberapa cara yang bisa dicoba:

    • Aktifkan mode fokus di HP
    • Jauhkan HP saat nugas
    • Gunakan aplikasi pemblokir distraksi

    Karena satu notifikasi kecil bisa berubah jadi 1 jam scroll tanpa sadar.

    4. Pilih Tempat Sesuai Kebutuhan, Bukan Tren

    Tidak semua tugas cocok dikerjakan di semua tempat.

    • Butuh ide? → Coffee shop boleh
    • Butuh fokus tinggi? → Perpustakaan
    • Butuh fleksibel? → Kamar kos

    Intinya: sesuaikan tempat dengan jenis tugas, bukan sekadar ikut-ikutan.

    🧠 5. Gunakan Teknik Pomodoro

    Metode ini cukup populer dan terbukti membantu fokus:

    • 25 menit kerja
    • 5 menit istirahat

    Setelah 4 sesi, istirahat lebih panjang.

    Teknik ini membantu menjaga konsentrasi tanpa merasa terlalu lelah.

    🎯 6. Tetapkan Target Harian yang Realistis

    Jangan langsung:

    “Hari ini harus selesai semua.”

    Cukup:

    • 2 halaman selesai
    • 1 bagian tugas beres

    Target kecil yang tercapai lebih baik daripada target besar yang hanya jadi rencana.

    👥 7. Pilih Teman Nugas yang “Sejalan”

    Kalau nugas bareng, pastikan:

    • Temannya sama-sama ingin produktif
    • Bukan yang baru 5 menit sudah ngajak jajan

    Karena lingkungan sangat memengaruhi kebiasaan.

    😴 8. Jangan Lupakan Istirahat

    Produktif bukan berarti memaksakan diri terus-menerus.

    Istirahat tetap penting agar:

    • Otak tetap fresh
    • Tidak cepat jenuh
    • Hasil kerja tetap maksimal

    Kadang, istirahat sebentar justru membuat pekerjaan lebih cepat selesai.

    Nugas Itu Soal Kebiasaan, Bukan Sekadar Tempat

    Setelah semua pembahasan dari Part 1 sampai Part 3, satu hal yang bisa disimpulkan yaitu Tempat boleh berbeda, gaya boleh beda, tapi kunci utamanya tetap sama konsistensi.

    Karena:

    • Coffee shop tidak menjamin produktif
    • Perpustakaan tidak menjamin fokus
    • Kamar kos tidak selalu jadi penghalang

    Yang menentukan tetap diri sendiri. Jadi kalau hari ini masih belum mulai nugas, coba buka laptop, kerjakan sedikit saja. Karena dalam dunia perkuliahan, yang paling penting bukan rencana sempurna, tapi tugas yang benar-benar selesai. 😄

  • Nugas di Mana Paling Efektif? Ini Kelebihan dan Kekurangan Gaya Mahasiswa (PART 2)

    Nugas di Mana Paling Efektif? Ini Kelebihan dan Kekurangan Gaya Mahasiswa (PART 2)

    Setelah mengenal berbagai tipe mahasiswa saat nugas di Part 1, sekarang saatnya kita bahas hal yang paling penting:
    mana yang benar-benar efektif?

    Jawabannya tidak selalu hitam putih. Setiap tempat punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

    Coffee Shop: Nyaman, Tapi Perlu Kontrol Diri

    Kelebihan:

    • Suasana santai meningkatkan mood
    • Cocok untuk tugas kreatif
    • Bisa jadi “refreshing” dari rutinitas

    Kekurangan:

    • Biaya tidak sedikit
    • Banyak distraksi
    • Produktivitas tergantung niat

    📚 Kampus: Paling Ideal untuk Fokus

    Kelebihan:

    • Lingkungan mendukung belajar
    • Minim gangguan
    • Akses referensi lengkap

    Kekurangan:

    • Terasa terlalu formal bagi sebagian orang
    • Jam terbatas
    • Bisa terganggu jika bertemu teman

    🛏️ Kamar Kos: Fleksibel Tapi Berisiko

    Kelebihan:

    • Nyaman dan fleksibel
    • Hemat biaya
    • Bisa belajar kapan saja

    Kekurangan:

    • Distraksi tinggi (kasur, HP, dll.)
    • Rentan menunda pekerjaan
    • Butuh disiplin tinggi

    👥 Nugas Bareng: Seru Tapi Harus Terarah

    Kelebihan:

    • Bisa diskusi
    • Lebih menyenangkan
    • Membantu memahami materi

    Kekurangan:

    • Mudah berubah jadi ngobrol
    • Fokus terbagi
    • Tidak semua anggota aktif

    💻 Digital: Cepat Tapi Harus Selektif

    Kelebihan:

    • Akses informasi luas
    • Praktis dan efisien
    • Mendukung pembelajaran modern

    Kekurangan:

    • Rentan distraksi
    • Banyak informasi tidak valid
    • Fokus mudah hilang

    🧠 Jadi, Mana yang Terbaik?

    Jawabannya sederhana:
    yang membuatmu benar-benar produktif.

    Karena pada akhirnya:

    • Tempat hanya faktor pendukung
    • Kebiasaan dan disiplin adalah kunci utama

    Penutup

    Setiap mahasiswa punya gaya masing-masing. Tidak perlu memaksakan diri mengikuti orang lain.

    Mau di coffee shop, kampus, atau kamar kos—semua sah.
    Yang penting:

    • Tugas selesai
    • Materi dipahami
    • Dan tidak hanya terlihat sibuk

    Karena pada akhirnya, mahasiswa yang berhasil bukan yang paling estetik saat nugas,
    tapi yang konsisten dan bertanggung jawab.

    Dan kalau hari ini masih bingung mau nugas di mana…
    coba mulai dulu saja.
    Tempat bisa menyusul,
    yang penting progress jalan. 😄

  • Perkuat Kompetensi Profesional, Mahasiswa Pendidikan Sejarah UPY Ikuti Sertifikasi Pemandu Museum

    Perkuat Kompetensi Profesional, Mahasiswa Pendidikan Sejarah UPY Ikuti Sertifikasi Pemandu Museum

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) terus berkomitmen meningkatkan kualitas lulusan melalui penguatan kompetensi profesional. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui partisipasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dalam kegiatan Sertifikasi Pemandu Museum.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi pengembangan profil lulusan Program Studi Pendidikan Sejarah UPY sebagai Edukator Museum, yang tidak hanya menguasai pengetahuan sejarah, tetapi juga mampu menyampaikannya secara edukatif, komunikatif, dan inspiratif kepada masyarakat.

    Sebelum mengikuti sertifikasi, mahasiswa telah menempuh mata kuliah Museologi selama satu semester dengan bobot 3 SKS. Mata kuliah ini memberikan pemahaman komprehensif mengenai konsep dasar museum, pengelolaan koleksi, konservasi, interpretasi sejarah, hingga peran museum sebagai media pendidikan publik.

    Pengetahuan tersebut kemudian diperkuat melalui kegiatan magang di museum selama tiga bulan. Dalam proses ini, mahasiswa terlibat langsung dalam berbagai aktivitas, seperti pendataan koleksi, pelayanan pengunjung, serta praktik pemanduan. Pengalaman lapangan ini menjadi bekal penting sebelum mengikuti uji kompetensi.

    Dalam proses sertifikasi, mahasiswa diuji dalam berbagai aspek, antara lain penguasaan materi sejarah koleksi museum, teknik komunikasi dan interpretasi, serta kemampuan menyampaikan informasi sejarah secara menarik dan mudah dipahami. Uji kompetensi ini bertujuan memastikan mahasiswa memiliki standar profesional sebagai pemandu museum.

    Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UPY, Dr. Muhammad Iqbal Birsyada, M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja.

    “Kegiatan ini memperkuat profil lulusan sebagai Edukator Museum, yang tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga mampu menyampaikannya secara hidup, kontekstual, dan menginspirasi pengunjung museum,” ujarnya.

    Melalui kombinasi pembelajaran akademik, praktik lapangan, dan sertifikasi profesional, mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP UPY diharapkan mampu berperan sebagai jembatan antara pengetahuan sejarah dan masyarakat luas. Museum pun tidak hanya menjadi ruang penyimpanan artefak, tetapi juga berkembang sebagai ruang belajar yang hidup, interaktif, dan inspiratif.

    UPY berharap, langkah ini dapat terus meningkatkan daya saing lulusan sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan literasi sejarah di masyarakat.

  • Bukan Soal Tempat, Tapi Niat: Tipe Mahasiswa Saat Nugas (PART 1)

    Bukan Soal Tempat, Tapi Niat: Tipe Mahasiswa Saat Nugas (PART 1)

    Setiap mahasiswa punya gaya masing-masing saat mengerjakan tugas. Ada yang harus ke coffee shop biar dapat “feel”, ada yang setia di perpustakaan kampus, dan ada juga yang cukup di kamar kos asal WiFi lancar dan kasur tidak terlalu menggoda.

    Fenomena ini sebenarnya bukan hal sepele. Cara dan tempat belajar sangat berpengaruh terhadap produktivitas, fokus, dan kualitas hasil belajar mahasiswa. Di era digital saat ini, tantangan terbesar bukan lagi kekurangan sumber belajar, tetapi justru terlalu banyak distraksi.

    Menariknya, berbagai studi menunjukkan bahwa kebiasaan belajar mahasiswa, termasuk durasi membaca, masih perlu ditingkatkan. Artinya, menemukan gaya belajar yang tepat menjadi penting agar proses akademik bisa berjalan optimal.

    Nah, berikut beberapa tipe mahasiswa saat nugas yang sering kita temui di lingkungan kampus.

    Tipe Coffee Shop: Nugas Harus Ada Suasana

    Mahasiswa tipe ini percaya bahwa suasana menentukan hasil. Coffee shop menjadi pilihan karena dianggap nyaman, estetik, dan mendukung kreativitas.

    Biasanya datang dengan laptop, pesan minuman, lalu mulai membuka tugas. Walaupun… tidak jarang diawali dengan membuka kamera dulu untuk “dokumentasi”.

    Tipe ini umumnya cocok untuk:

    • Mencari ide
    • Brainstorming
    • Tugas yang butuh kreativitas

    Tipe Kampus: Perpustakaan Adalah Zona Fokus

    Ini adalah tipe mahasiswa yang identik dengan keseriusan. Perpustakaan, ruang baca, atau sudut kampus menjadi tempat favorit.

    Lingkungan yang tenang dan akademik membuat mereka lebih mudah fokus. Ditambah lagi, akses ke referensi seperti buku dan jurnal menjadi nilai tambah.

    Tipe ini biasanya:

    • Lebih terstruktur
    • Fokus pada penyelesaian tugas
    • Minim distraksi

    Tipe Kamar Kos: Nyaman adalah Segalanya

    Tipe ini paling umum ditemui. Tidak perlu keluar, tidak perlu biaya tambahan, cukup buka laptop di kamar.

    Namun, ada satu “tantangan besar”:
    kasur.

    Mahasiswa tipe ini sering memulai dengan niat serius, tapi berakhir dengan kalimat klasik:

    “Rebahan bentar, lanjut lagi nanti…”

    Tipe Nugas Bareng: Produktif atau Produktif Semu?

    Ada juga mahasiswa yang lebih suka nugas bersama teman. Awalnya untuk diskusi, tapi sering kali berubah menjadi sesi ngobrol santai.

    Meski begitu, jika dilakukan dengan benar, belajar bersama bisa meningkatkan pemahaman karena adanya pertukaran ide.

    Tipe Digital: Serba Online dan Serba Cepat

    Di era sekarang, banyak mahasiswa mengandalkan internet sepenuhnya. Semua bahan ada di laptop, semua referensi dari internet.

    Namun, tantangannya adalah:

    • Banyak distraksi
    • Informasi belum tentu valid
    • Fokus mudah terpecah

    Setiap tipe mahasiswa memiliki cara masing-masing dalam menyelesaikan tugas. Tidak ada yang salah, selama tetap bisa mendukung proses belajar.

    Lalu pertanyaannya:
    mana yang paling efektif?

    Di Part 2, kita akan membahas kelebihan dan kekurangan dari masing-masing tipe dan mungkin, kamu akan menemukan gaya nugas yang paling cocok untukmu.

  • PGSD UPY Bersinergi dengan Pusdiklatcab Bantul Gelar Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar

    PGSD UPY Bersinergi dengan Pusdiklatcab Bantul Gelar Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar

    Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) melalui Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) menjalin sinergi dengan Pusdiklatcab Bantul dalam penyelenggaraan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD). Kegiatan ini secara resmi dimulai pada Rabu (8/4/2026) dengan diikuti sebanyak 257 peserta.

    Pelaksanaan KMD dijadwalkan dalam dua sesi, yakni pada 8–9 April 2026 dan dilanjutkan pada 13 hingga 16 April 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi dasar sebagai pembina pramuka yang profesional dan berkarakter.

    Dalam upacara pembukaan, Sekretaris Prodi PGSD UPY, Bahtiyar Heru Susanto, M.Pd., menyampaikan harapan agar seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh serta memperoleh pembinaan yang optimal dari para pelatih.

    “Kami berharap kakak-kakak dari Pusdiklatcab Bantul dapat membimbing para peserta KMD ini menjadi pembina pramuka yang berkualitas, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi nyata di dunia pendidikan,” ujarnya.

    Sambutan tersebut disampaikan dalam rangkaian pembukaan yang juga dihadiri oleh jajaran pengurus kepramukaan. Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Kwartir Cabang Bantul Bidang Pembinaan Anggota Dewasa (Binawasa), Budi Priyono, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara UPY dan Pusdiklatcab Bantul.

    “Terima kasih kepada Prodi PGSD UPY yang telah melakukan kerja sama dengan Pusdiklatcab Bantul. Kami menerima 257 calon pembina untuk mengikuti KMD ini,” ungkapnya.

    Secara resmi, kegiatan KMD dibuka oleh Budi Priyono yang ditandai dengan penyerahan panji kursus kepada Aslan Hadi, S.Pd., selaku pimpinan kursus. Penyerahan tersebut menjadi simbol dimulainya rangkaian pelatihan serta tanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan.

    Melalui kegiatan ini, Prodi PGSD UPY berharap para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan dasar kepramukaan, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam praktik pendidikan di sekolah. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya UPY dalam mencetak calon guru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi kepemimpinan, karakter, dan keterampilan kepramukaan.

    Sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan organisasi kepramukaan ini diharapkan terus berlanjut sebagai langkah strategis dalam menyiapkan generasi pendidik yang profesional dan berdaya saing.

  • Indonesian–Philippine Folklore Storytelling Competition Tutup Rangkaian Bridging Cultures Week PBI UPY

    Indonesian–Philippine Folklore Storytelling Competition Tutup Rangkaian Bridging Cultures Week PBI UPY

    Program Bridging Cultures Week yang diselenggarakan pada 14/11 yang lalu, dalam rangka pelaksanaan SEA-Teacher antara Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) dan Mariano Marcos State University (MMSU), Filipina, ditutup dengan kegiatan Indonesian–Philippine Folklore Storytelling Competition.

    Kompetisi ini melibatkan mahasiswa dari UPY dan MMSU untuk menampilkan cerita rakyat dari masing-masing negara. Mahasiswa UPY membawakan legenda Indonesia seperti Nyi Roro Kidul dan Roro Jonggrang, sementara mahasiswa MMSU menampilkan kisah terkenal dari Filipina, termasuk cerita mengenai Aswang.

    Walaupun pelaksanaan kegiatan hanya singkat, kompetisi berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Para peserta menunjukkan kreativitas, keberanian, serta kemampuan berbahasa dalam menyampaikan folklore dari budaya asal mereka. Melalui kegiatan ini, peserta dan audiens mendapatkan kesempatan memperluas wawasan tentang kekayaan budaya Indonesia dan Filipina.

    Kompetisi ini menjadi penutup yang berkesan bagi rangkaian Bridging Cultures Week, sekaligus mempertegas komitmen UPY dalam mendukung pertukaran budaya dan kerja sama akademik melalui program SEA-Teacher.

  • HMP Pendidikan Sejarah UPY dan IKIP PGRI Wates Gelar Napak Tilas Makam Giriloyo

    HMP Pendidikan Sejarah UPY dan IKIP PGRI Wates Gelar Napak Tilas Makam Giriloyo

    Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) berkolaborasi dengan HMP Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Wates menyelenggarakan kegiatan Napak Tilas Makam Giriloyo pada Sabtu, 20 Desember 2025. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pukul 09.00 WIB bertempat di Kompleks Makam Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta.

    Napak tilas ini bertujuan untuk menelusuri jejak sejarah serta memahami nilai-nilai budaya dan makna historis yang terkandung di kawasan Makam Giriloyo, yang dikenal sebagai salah satu situs penting peninggalan Kesultanan Mataram Islam. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk belajar langsung di lapangan sebagai bagian dari penguatan pembelajaran sejarah berbasis situs.

    Rangkaian kegiatan diawali dengan pengantar sejarah Makam Giriloyo, dilanjutkan dengan penelusuran area makam, pemaparan mengenai tokoh-tokoh yang dimakamkan, serta diskusi reflektif terkait peran Makam Giriloyo dalam konteks sejarah politik, budaya, dan spiritual Mataram Islam. Suasana kegiatan berlangsung khidmat dan penuh antusiasme, dengan partisipasi aktif dari para mahasiswa kedua institusi.

    Kolaborasi antara HMP Pendidikan Sejarah UPY dan HMP Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Wates ini menjadi wujud sinergi antarmahasiswa dalam mengembangkan wawasan kesejarahan, sekaligus mempererat jejaring akademik. Diharapkan kegiatan napak tilas ini tidak hanya memperkaya pengetahuan sejarah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian situs-situs cagar budaya sebagai warisan sejarah bangsa.

  • HMP PPKn adakan Lomba Media Nasional

    HMP PPKn adakan Lomba Media Nasional

    Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (HMP PPKn) bersama Program Studi PPKn telah menyelesaikan rangkaian kegiatan Lomba Media Nasional yang ditujukan bagi siswa dan siswi SMA/SMK sederajat se-Indonesia. Kegiatan ini mengusung tema besar seputar kepedulian lingkungan, pelestarian budaya, serta penguatan kesadaran demokrasi sebagai wujud nyata penanaman nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda melalui media digital.

    Setelah melalui tahapan pendaftaran, pengumpulan karya, serta proses penilaian dan wawancara oleh dewan juri, panitia secara resmi mengumumkan para pemenang Lomba Media Nasional Gelombang 2.

    Karya para pemenang dinilai mampu menyampaikan pesan secara kreatif, informatif, serta selaras dengan tema yang diangkat. Sebagai bentuk apresiasi, para juara berhak mendapatkan sertifikat penghargaan, uang pembinaan, serta trofi ataupun piala.

    Pemberian penghargaan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para pemenang untuk terus mengembangkan kreativitas, meningkatkan kepedulian sosial, serta berperan aktif dalam menyuarakan nilai-nilai kebangsaan melalui media yang positif dan edukatif.

    Melalui Lomba Media Nasional ini, HMP PPKn dan Prodi PPKn berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai ruang pembelajaran dan aktualisasi diri bagi pelajar. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud komitmen pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan dalam membentuk generasi muda yang cerdas, kreatif, berkarakter, serta peduli terhadap lingkungan, budaya, dan kehidupan demokrasi. Salam Pancasila, Salam PPKn, Salam Toleransi.

  • “Bridging Cultures” Podcast, Antusiasme para Mahasiswa dalam mengikuti program SEA-Teacher

    “Bridging Cultures” Podcast, Antusiasme para Mahasiswa dalam mengikuti program SEA-Teacher

    Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) mengadakan sesi podcast pada 14/11 yang lalu dengan tajuk “Bridging Cultures: Stories from Yogyakarta, Indonesia, and the Philippines.” Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Bridging Cultures Week dalam program SEA-Teacher, yang melibatkan mahasiswa pertukaran dari Mariano Marcos State University (MMSU), Filipina.

    Podcast ini dipandu oleh Laser Romios, dosen Program Studi PBI UPY, dan menghadirkan dua mahasiswa MMSU sebagai narasumber. Melalui percakapan yang hangat dan informatif, para mahasiswa berbagi cerita mengenai pengalaman mereka selama mengikuti program SEA-Teacher di Yogyakarta.

    Beberapa topik yang dibahas meliputi proses kedatangan mereka ke Indonesia, kesan pertama terhadap lingkungan kampus dan budaya lokal, perbedaan kehidupan perkuliahan di Filipina dan Indonesia, serta tantangan sebagai mahasiswa internasional. Selain itu, narasumber juga menceritakan pengalaman culture shock, kebiasaan masyarakat yang mereka temui, hingga makanan Indonesia yang paling mereka sukai.

    Sesi podcast ini menjadi wadah dialog antarbudaya dan memberikan wawasan berharga bagi mahasiswa UPY dalam melihat perspektif internasional. Melalui kegiatan ini, UPY dan MMSU semakin memperkuat kolaborasi akademik dalam program SEA-Teacher.